
Setelah perkataan lira kemarin, kami menjadi teman yang lebih akrab. Beberapa hari ini kami habiskan membahas topik misteri jeritan dan tangisan ruang peralatan olahraga. Konyol sekali, ketika teman-teman kami yang lain sibuk membicarakan artis yang terlibat skandal dengan artis lain kami malah membahas sesuatu yang dihindari orang lain. Tapi tentunya yang lebih mengejutkan adalah perkataan lira yang kemarin. Yang secara tiba-tiba ingin aku dan dia menjadi partner dalam memcahkan kasus itu. Padahal kan sebelumnya ia bilang ke tempatnya saja apabila ditemani ia tidak mau apalagi sendirian.
“Aku cuma, ngerasa ada yang ganjil aja gitu ta, semcam ada perasaan sedih yang aku rasain pas dengar suara tangisan itu”
Aku mengangguk mencoba memahami perkataan lira, tapi bukan hanya karena tangisan itu aku ingin menyelidiki kasus ini hanya saja sepertinya aku merasa bahwa jeritan itu mencoba memberitahukan sesuatu hal yang akan membuatku tercengang.
“Jadi langkah selanjutnya kita harus ngapain?”
Aku berpikir sambil mendongak menatap langit-langit kantin yang sepi. Karena ini sudah lewat dari beberapa menit kami pulang.
“Bagaimana kalau kita bentuk kelompok jurnalis gitu. Ajak teman-teman yang suka nulis buat gabung. Sekaligus jadi partner kita buat pecahin misteri ini. Gimana?”
Sebuah senyum terbit dari bibir mungil lira dan ia hanya mengangguk sambil terus tersenyum memikirkan ide selanjutnya.
“Papaku punya mesin ketik, aku bisa pinjam itu untuk kita sebar ajakan ke teman-teman yang lain melalui selebaran”
Ide yang cemerlang. Tak kusangka aku akan mendapat teman seperti lira. Bergaul pun dulu aku tak mau. Bukannya aku yang tak mau hanya saja setiap teman yang kukenal selalu saja menjauh karena alasan aku tak selevel dengan mereka. Atau mungkin karena hal lain.
.....
Esoknya, sesuai kesepakatan. Aku dan lira kembali ke kantin hanya saja kami memilih datang lebih awal ke kantin karena pagi-pagi sebelum masuk pelajaran pertama teman-teman akan membeli beberapa camilan dan minuman untuk mereka makan dikelas ketika istirahat. Supaya tak berdesak-desakan ketika jam istirahat tiba.
“Mau ikut kelas jurnalis kami?”
Aku memberikan selebaran itu kepada anak laki-laki berkacamata dengan lambang kelas 12 di samping kiri lengan bajunya. Ia kemudian mengambil selebaran yang kusodorkan dan mulai meneliti setiap kata dan kalimat yang tertuang disana.
“Kalian mau bikin kelas jurnalis atau mau selidikin misteri itu?”
Aku terperangah karena perkataannya yang terus menggema di telingaku. Bagaimana dia bisa tau, padahal di kertas jelas-jelas tak ada kata seperti itu. Tenang bintang, bisa saja karena ia main tebak saja.
“Kita emang mau bikin kelompok jurnalis kok kak, kan disekolah juga nggak ada. Kan bagus buat teman-teman yang mau berbagi karangannya buat dibaca”
“Kamu jago ekting juga yah, kenapa nggak jadi artis aja. Pasti keterima”
Kesabaranku beanr-benar diuji. Ini baru kali pertama aku membagikan selebaran ini dan malah mendapat respon tak terduga dari kakak kelas sok tau di hadapanku ini. Badanku sudah siap berbalik sebelum tangannya mencekal pergelangan tanganku.
“Kalau tujuan kalian benar-benar mau selidikin kasus itu. saya akan ikut”
Setelah mengatakan hal demikian, ia kemudian mengambil kertas selebaran itu dan menulis nama serta kelasnya di tempat yang disediakan.
__ADS_1
“Sampai jumpa. Partner”
Ia melenggang pergi setelah memberikan kertas dan pulpen milikku. Pasti ia tau sesuatu tentang misteri itu. Semoga saja. suara lira terdengar dari ujung kantin, segera saja aku menghampiri ia disana.
“Udah dapat berapa calon?”
Aku langsung menyodorkan satu lembar kertas ke arahnya. Sedang ia dengan bangganya menunjukka tiga kertas yang isinya sudah ada nama dan kelas yang tertera disana.
“Wow. kamu cocok jadi sales ra, pasti daganganmu laku kejual semua”
Lira memanyunkan bibirnya dan memukul pelan bahuku.
“Harusnya kamu tuh bersyukur. Seengaknya aku dapat tiga calon peserta. Tapi ngomong-ngomong apa nggak sebaiknya kita nggak usah terlalu banyak ngerekrut anggota?”
“Kenapa? Kan lebih banyak informasi kalau makin banyak anggota”
“Logikanya gini ta, kita kan sebenarnya bikin selebaran ini dan buat kelompok jurnalis untuk alibi doang. Supaya ada teman-teman kita yang bantu kita nantinya pecahin misteri itu. ketika semakin banyak orang yang kita rekrut. Maka semakin banyak orang juga yang tau kalau sebenarnya kita bikin kelompok jurnalis itu cuma buat pengalihan doang. Dan kalau sampe ada anggota yang kecewa atau apapun alasannya dia sampai keluar dan beberin berita kalau kita mau selidikin misteri itu. pasti pihak sekolah bakal yah kamu tau lah. Mungkin kita bakal dihukum atau di-skorsing”
Penjelasan panjang lebar lira, sangat benar. Aku tak memikirkan resiko itu sebelumnya.
“Dan satu lagi, dari lima orang yang kutawarin selebaran ini, tiga orang ini yang malah antusias supaya kita secara nggak langsung bentuk kelompok buat selidikin misteri itu. Hebat kan”
“Tunggu aku lihat profil mereka dulu”
Lira duduk di kursi kantin, sedang aku pun langsung duduk juga sambil memdengarkan dengan khidmat apa yang lira ucapkan.
Anggota pertama
Nama : Afika alista
Kelas : 10 A
Anggota kedua
Nama : Naisyah radika
Kelas : 11 C
Anggota ketiga
__ADS_1
Nama : Dion agraham
Kelas : 10 A
Anggota keempat
Nama : Kevin alanda samudra
Kelas : 12 C
Aku mengambil lembar pertama dari nama-nama yang telah dibacakan lira, jadi namanya kevin. Maksudnya kak kevin. Sepertinya ia memang tau sesuatu. Namanya unik kevin alanda samudra.
....
Aku pulang kerumah setelah berdiskusi kecil dengan anggota kelompok kami yang baru. Sayangnya hanya dua orang yang hadir yaitu dion dan lista yang memang satu kelas. dan jam pulang yang lebih awal. Sedang kak naisyah dan kak kevin ada kegiatan kelompok masing-masing. Tak ada pembahasan berarti yang kami bicarakan kecuali antusias dari dion dan lista yang menggebu ketika kami ingin menyelidiki kasus kejadian bunuh diri yang kemarin terjadi. Sayangnya dari sekian banyak orang yang berada di sekolah ini hanya aku lira dan kak kevin yang tau misteri tangisan dan jeritan itu. Entah bagaimana dengan kak naisyah semoga saja ada petunjuk darinya besok atau mungkin lusa. Perasaanku selalu mengaitkan pembangunan gedung itu dengan jeritan dan tangisan yang selalu kudengar setiap kali aku pergi ke ruangan itu.
“Kak bintang lagi mikirin apa?”
Suara lintang, adikku membuat aku sedikit tersentak, dan kemudian berbalik ke sumber suara. Disana ia sambil memeluk buku bersampul coklat datang menghampiriku dengan senyum.
“Ini buku kakak yang kemarin aku pinjam. Ceritanya seru banget. Aku mau jadi kayak detektif conan. Yang bisa bantu orang pecahin kasusnya”
Ia memperagakan kacamata pembesar detektif itu dengan bulatan tangannya. Lucu sekali.
“Kamu mau jadi detektif?”
“Kalau begitu cepat besar dan lulus supaya kamu bisa gabung ke kelompok detektif kakak”
“Kakak punya kelompok detektif?”
Aku mengangguk sambil tersenyum, sedang ia hanya menatapku tak percaya. Sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Tapi kalau emang kakak beneran punya. Aku mau gabung”
Aku mengulurkan tanganku pada adik kecilku yang sekarang telah bertumbuh.
“DEAL”
Anggota kelompok kami bertambah satu. Yaitu adikku sendiri. walau tak terlibat secara langsung. Akan kupastikan ia mendapat peran hebat dalam kelompok yang ku buat bersama lira. Aku jamin itu.
__ADS_1