DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Gangguan Aneh dari Sosok Sri Weningsih


__ADS_3

Pagi menjelang, matahari sudah naik ke permukaan langit. Semua aktivitas sudah akan dimulai beberapa menit lagi. Aku menuruni anak tangga bergegas menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil dan mencuci muka.


"Segar sekali"


Aku menggumam pelan, dan kembali membasuh wajahku dengan air dingin di pagi hari. Setelah keluar dari kamar mandi aku bertemu dengan bu anih di luar rumah.


“ibu belum tau namamu nak”


Aku tersenyum dan melangkah lebih dekat ke bu anih.


“nama saya bintang bu, teman sekelasnya lira di SMA”


Bu anih tersenyum dan mengangguk.


“Namamu bagus, pasti ibumu sangat bersyukur ketika kamu lahir. Sehingga, memberi nama bintang untukmu”


Aku mengangguk membetulkan apa yang bu anih katakan.


“Bu, boleh bintang menanyakan sesuatu hal”


Bu anih tersenyum kembali dan mengajakku duduk di bangku dari bambu yang kami tempati beristirahat sejenak kemarin.


“Kamu ingin menanyakan apa?”


Aku memperbaiki posisi dudukku lantas mentap serius kepada bu anih.


“Apa ibu pernah mengalami kejadian aneh di rumah ini”


Bu anih membulatkan matanya, kaget mendengar kalimat yang baru saja ku lontarkan.


“Maksud nak bintang apa. Ibu tidak mengerti”


Aku tersenyum kepada bu anih, beliau berkilah terlihat dengan jelas dari raut wajahnya bahwa ia menyembunyikan sesuatu.


“Ibu tahu maksud bintang, jadi bintang mohon dengan sangat ceritakanlah apa yang ibu alami”


Aku mentap lembut kedua mata bu anih sambil menepuk-nepuk tangannya yang saling ditautkan.


“Ibu tidak bisa nak, kamu tidak akan percaya dengan apa yang ibu lihat atau ceritakan nantinya”


Aku menggeleng pelan.


“Apapun kalimat yang ibu lontarkan. Bintang pasti akan percaya”


Aku mencoba meyakinkan bu anih dan hembusan nafas berat darinya membuat perasaanku seketika merasa lega. Akhirnya beliau bisa dibujuk.


“Ibu, sudah beberapa kali mengalami kejadian aneh, satu bulan setelah kabar kematian wening kejadian itu mulai datang satu persatu. Seperti pintu rumah yang seperti ada yang mengetuk, suara tangga yang berderit seperti ada orang yang menaikinya, suara tawa yang berasal dari kamar wening dan nyanyian sinden dari kamar itu. Dan satu hal lagi mungkin kamu tidak percaya nak, tapi beberapa bulan yang lalu ibu hampir membunuh suami ibu karena kerasukan arwah wening. Dan malam kemarin ibu bermimpi, wening menghampiri ibu dengan seluruh tubuh yang penuh lebam dan darah yang mengalir dari tubuhnya yang tersayat-sayat”


Bu anih mengakhiri ceritanya dengan tangis, kalimat terakhir darinya mampu membuatku meneguk salivaku sendiri. Perasaanku menjadi tidak karuan setelah mendengar ceritanya, rasa takut dan sedih bercampur menjadi satu. Aku menatap perempuan paruh baya yang ada di hadapanku dan memberikan seulas senyum untuknya.

__ADS_1


“Ibu yang tabah”


Aku mengelus punggung tangan bu anih. Ia mengusap air matanya lalu mengangguk pelan kepadaku.


“Bu. Alasan kenapa bintang menanyakan hal ini adalah karena bintang juga mengalami kejadian aneh seperti ibu, bukan sama persis dengan yang ibu alami. Malam itu ketika bintang mengantar fika ke kamar mandi hal aneh itu muncul. Ada dua sosok fika yang bintang lihat, dan bintang yakin itu bukan suatu halusinasi. Bintang yakin fika yang satunya adalah sosok wening yang menjelma atau mengubah dirinya, apalagi setelah mendengar cerita ibu. Bahwa ibu juga sering mengalami kejadian aneh”


Bu anih mentapa iba kepadaku.


“Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa menolongmu. Ibu juga tidak tahu bagaimana mengatasi hal itu”


“Tak apa bu, tapi yang bintang herankan kenapa sosok wening malah merasuki ibu dan berusaha membunuh pak hasan?”


“Ibu juga tidak tau bintang. Tapi syukurlah waktu itu suami ibu langsung lari ke rumah orang pintar di kampung ini dan akhirnya berhasil mengeluarkan arwah wening dari tubuh ibu”


Bu anih tersenyum kecil dan berdiri.


“Ibu ingin menyiapkan sarapan nak, bisa tolong ibu?”


Aku mengangguk lalu berdiri dan melangkah mengikuti bu anih menuju ke atas rumah untuk menyiapkan sarapan.


...


Aku mulai menata piring dan lauk pauk lainnya di tempat yang sana dengan kemarin, yaitu di dekat dapur. Sedang bu anih pergi untuk membangunkan teman-temanku dan suaminya.


“Seperti biasanya, kamu selalu bangun pagi bi”


Aku tersenyum kepada lira yang baru saja sampai dan langsung duduk di dekatku.


Aku membenarkan kalimat lira, tidurku juga sangat pulas kemarin. Aku tidak terbangun pada pukul satu dini hari dan bahkan tidur lebih awal. Beberapa menit berselang kami semua akhirnya berkumpul untuk sarapan pagi. Tak ada percakapan yang berlangsung seperti tadi malam, kami semua khusyuk memakan makanan kami masing-masing dalam diam. Setelah selesai makan pak hasan berdiri berpamitan kepada kami dan juga bu anih untuk pergi ke sawah. Begitu pun kak kevin dan dion yang juga langsung berlari menyusul pak hasan setelah berpamitan kepada bu anih. Setelah membereskan peralatan makan kami akhirnya, turun ke bawah tepatnya ke bangku bambu milik keluarga bu anih.


“Aku bingung ingin melakukan apa”


Lira menghembuskan nafas dengan lesu di dekatku. Sedang kak naisyah dan fika hanya mengangguk menanggapi kalimat yang dilontarkan lira. Beberapa menit tak ada hal yang kami lakukan tiba-tiba lira berdiri dan tersenyum di hadapan kami semua.


“Aku tahu sesuatu yang menyenangkan, yang kita semua bisa lakukan”


Kami semua menatap lira dengan heran, ia memang tahu hal yang menyenangkan yang akan dilakukan tapi sebelum menyampaikan hal tersebut ia malah masuk kedalam rumah sambil memanggil nama bu anih dengan lantang. Dan setelah itu lira kembali bersama dengan perempuan paruh bayah yang tidak lain adalah bu anih.


“Mari ikut ibu”


Aku, kak naisyah, dan fika langsung berdiri dan menyusul bu anih serta lira yang telah berjalan mendahului kami.


“Kita akan kemana?”


Aku berbisik pelan kepada lira, sedang yang ditanya hanya tersenyum dan mengatakan.


“Ikut saja”


Aku mengangguk dan kemudian terus berjalan mengikuti langkah bu anih. Setelah melewati beberapa rumah warga kami akhirnya sampai ke sebuah tanah lapang yang di penuhi oleh rumput hijau, kecuali di depan sebuah panggung besar itu hanya tanah kosong tanpa rumput. Panggung itu sangat besar dan mewah, tirai motif batik itulah yang membuat panggung tersebut sangat mewah disertai dengan aksitektur kayu yang di cat seperti warna emas.

__ADS_1


“Ini tempat pertunjukan ronggeng”


Aku langsung berbalik dan menatap bu anih yang yang berjalan di sebelahku. Langkah kaki kami akhirnya berhenti tepat di depan panggung besar tersebut.


“Dua hari lagi, tepat perayaan pergantian tahun. Akan dilaksanakan pertunjukan ronggeng disini. Ibu dan suami ibu setiap pergantian tahun pasti melewatkannya bersama dengan warga di sekitar sini untuk melihat para penari ronggeng itu. Wening juga sering ikut menari bersama penari ronggeng disini, ia diajarkan sampai akhirnya bisa tampil di hadapan kami. pertama kali ia tampil disini pada saat umurnya lima belas tahun kelas 3 SMP pada waktu itu. penampilan pertamanya juga dilihat lira dan keluarganya yang saat itu juga berlibur ke daerah sini. Tapi sayang kesenangannya pada tari ronggeng harus terhenti karena ia sudah tak ada di dunia. Wening anakku yang malang”


Aku menatap bu anih, ia mendongak meantap langit berusaha menahan air matanya yang sudah akan terjatuh.


“Sabar bu”


Lira mengusap pelan punggung tangan bu anih, dan beliau lantas tersenyum.


“Tak apa nak, ibu akhir-akhir ini entah kenapa selalu saja terbayang-bayang wajah wening. Jadinya setiap kali mengingatnya membuat ibu merasa sedih”


Aku menatap iba kepada bu anih begitu juga dengan kak naisyah dan fika yang mencoba menghibur bu anih.


“Ibu jangan bersedih, kami disini akan menemani ibu selama beberapa hari. Nanti kita semua ramai-ramai menonton pertunjukkan ronggeng di malam pergantian tahun”


Bu anih tersenyum dan memeluk kak naisyah sambil menggumamkan kata terimakasih pelan.


“bu apa kami boleh naik ke ats panggungnya?”


Bu anih mengangguk lalu kami semua pun dengan antusias melepas sandal jepit yang kami gunakan. Lira berlari mondar mandir di atas panggung yang kami naiki sekarang ini. Terdengar suara berderit pelan akibat papannya yang saling bergesekan.


“Aku pernah belajar ronggeng waktu kecil di rumah nenekku, aku masih ingat gerakannya sedikit”


Kak naisyah berbicara pelan di dekatku, dan aku hanya tersenyum.


“Kalau begitu coba tunjukkan pada kami kak, jujur aku belum pernah melihat tari ronggeng itu seperti apa”


Fika tersenyum malu. Aku juga memang tak pernah melihat tari ronggeng secara langsung hanya melihatnya lewat televisi itu pun aku melihatnya saat umurku enam tahun, bayanganku saat itu tentang tari ronggeng adalah sesuatu yang mistis dan penuh misteri. Penarinya jarang sekali tersenyum, dan kalau tersenyum hanya sebuah senyum simpul menakutkan yang mereka perlihatkan. Dan entah kenapa aku selalu merasakan perasaan tidak enak ketika mendengar kata ronggeng, dan hal-hal yang berhubungan dengan ronggeng tersebut. Kak naisyah terus menari di hadapan kami yang duduk berjejer di belakangnya. Ia dengan luwes menggerakkan pinggul dan tangannya, walau beberapa kali hampir terpeleset.


“Aku sangat lelah”


Kak naisyah langsung membaringkan tubuhnya di dekat bu anih. Deru napasnya terdengar putus-putus dan keringat dari dahinya menetes bersusul-susulan. Bu anih yang ada di dekatnya hanya tersenyum.


“Kamu cantik dan pandai menari ronggeng, apa kamu mau ikut menjadi salah satu penari di panggung ini?”


Senyum kak naisyah merekah, ia belum menjawab pertanyaan bu anih tapi dari raut wajahnya sangat jelas sekali jika ia sangat ingin.


“Kalau kamu kamu ibu bisa beritahu pak wayan, pemain musik sekaligus yang punya panggung ini”


Dan dengan satu kali anggukan kepala kak naisyah menyetujui ajakan bu anih untuk menjadi salah satu penari ronggeng sementara di daerah ini.


...


Note :


Terimakasih telah membaca karya saya. Tetap dukung karya ini dengan memberikan komentar, kritik dan saran yang membangun. jangan lupa juga untuk tekan tombol favorit dan like. Cerita ini akan saya usahakan terbit setiap hari seperti dulu. Jadi nantikan terus yah.

__ADS_1


Thank's all. I hope you like it and enjoy read my story.


__ADS_2