
Aku masih berdiri dengan kedua kaki yang sudah tak bisa menopang tubuh, pikiranku tak tentu arah sekarang, di satu sisi aku memikirkan keadaan kak naisyah sedang disisi lain aku masih heran saja kenapa wening malah mengganggu kami. Sampai akhirnya dion langsung menarikku untuk berlari menuju ke area panggung. Kerumunan warga masih berkumpul ingin melihat langsung apa yang terjadi. Pertunjukannya memang sudah selesai tapi ketika berbalik ingin kembali ke area belakang panggung tiba-tiba kak naisyah pingsan, itu kesimpulan yang dapat kutangkap dari pembicaraan dua orang ibu-ibu yang sekarang ada di dekatku.
“Kesini bintang”
Suara dion langsung membuatku berbalik dan menuju ke arahnya, aku dan dion melewati samping kiri panggung dan disana beberapa meter di depan kami pak wayan, pak hasan, dan bu anih serta teman-teman yang lain sudah berkumpul.
“Kakak tak apa kan?”
Aku memandang kak naisyah dengan perasaan lega, syukurlah dia sudah sadar. Aku sudah menduganya dari awal, bahwa sosok wening tidak akan membiarkan acara kami berlangsung dengan baik. Entah karena sebab apa. Dan alasan kenapa kak naisyah sama sekali tak menampilkan senyumnya seperti biasa adalah karena sosok wening yang menguasai tubuh dan raganya. Hal itu aku tahu beberapa saat kejadian setelah kak naisyah pingsan. Kalau aku tahu dari awal mana mau aku menanyakannya kepada lira yang jelas-jelas saja tadi tidak mendengar suaraku.
“Lebih baik kita pulang saja sekarang. Pasti kalian butuh istirahat, apalagi nak naisyah ia kelihatan pucat sekali”
Setelah mengatakan hal itu kami semua akhirnya pamit kepada pak wayan, dan beberapa pemain alat musik tadi tentunya juga kepada penari ronggeng tersebut.
“Kepala kakak pusing?”
Lira menanyakan hal tersebut kepada kak naisyah yang hanya dibalas dengan gelengan kepala darinya. Kak naisyah mana mungkin akan mengatakannya dengan lugas alasannya sangat klise yaitu tidak ingin membuat kami semua khawatir kepadanya. Sungguh anggota tim yang bijak. Rombongan kami akhirnya sampai ke rumah bu anih. Setelah membersihkan kaki di kamar mandi akhirnya kami semua pun pergi ke tempat tidur masing-masing.
“Kak, apa kakak merasakan sakit di bagian tubuh tertentu?”
Aku menanyakan hal tersebut yang langsung mengundang perhatian fika dan lira untuk mendekat ke arah kami.
“Iya di bagian sini dan disini”
Kak naisyah menunjuk kepala dan beberapa bagian tubuhnya. Itu berarti sosok wening masih ada di dalam tubuh kak naisyah, apa yang harus kulakukan sekarang.
“Kalau begitu istirahatlah dulu kak. Kalau besok badan kakak masih sakit aku akan menyampaikan hal tersebut kepada bu anih. Siapa tau beliau ada obat untuk itu”
Kak naisyah mengangguk lantas kemudian membaringkan tubuhnya di dekat fika. Ia memegang kepalanya dan menarik-narik rambutnya sesekali, aku sangat kasihan sekali melihat hal itu.
“Bintang, apa yang sebenarnya terjadi pada kak naisyah?”
Lira berbisik pelan di dekatku, berusaha memelankan suaranya karena takut fika dan kak naisyah mendengar percakapan kami.
“Sosok wening sekarang ada di tubuh kak naisyah”
__ADS_1
Lira menutup mulutnya dan matanya membelalak kaget.
“Terus apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Aku juga tidak tahu lira. Tapi semoga sja sosok wening segera pergi dari tubuh kak naisyah atau kalau tidak....”
Lira masih menatapku dari tatapannya sudah sangat jelas ia penasaran sekali dengan kalimat apa yang akan aku sampikan berikutnya.
“Atau kalau tidak kak naisyah akan berbuat sesuatu hal yang aneh”
...
Pagi menjelang kembali, aku agak terlambat bangun dari biasanya. Tapi ada yang lebih aneh dari hal yang kualami, kemana perginya kak nasiyah.
“Pagi bintang”
Aku berbalik dan di ambang pintu sudah ada kak naisyah yang tersenyum.
“Pagi kak”
Ia duduk di kursi kayu panjang yang ada di kamar wening. Aku ragu-ragu mendekatinya.
“Sudah tidak lagi. Kakak merasa seperti beban berat itu hilang, ketika bangun badan kakak juga sudah tidak ada lagi yang sakit-sakit”
Kak naisyah membuka jendela kecil yang ada di dekat tempat yang kami duduki sekarang, dan menghirup aroma pagi melalui jendela kecil tersebut.
“Kak?”
Kak naisyah yang mendengar panggilanku secara refleks berbalik dan menatapku dnegan serius.
“Ada apa? Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?”
Aku mengangguk dan kak nasiyah masih terus memandangku. Tanganku berkeringat dingin sekarang, apa yang harus kulakukan. Jika aku mengatakan hal itu apa kak naisyah akan percaya? Apa kak naisyah akan memaklumi hal itu? apa dia tak akan menjauhiku? Segelintir pertanyaan itu terus menggema di dalam pikiranku. Aku kembali menatap kak nasiyah yang masih duduk di dekatku dengan tatapan penuh tanya. Apakah saat yang tepat untuk mengatakan hal tersebut. Kak naisyah mungkin akan tidak suka dengan hal yang akan kusampikan kepadanya tapi demi sebuah kata tim yang selalu ditekankan pikiranku kepada diriku snediri aku akan memberitahukan hal itu kepada kak naisyah. Satu hembusan nafas ku keluarkan sebelum akhirnya aku mengatakan yang sebenarnya.
“Sebenarnya kakak sedang digan.....”
__ADS_1
“Lira kamu di panggil bu anih”
Aku tersentak kaget mendengar suara dari dion, sedang si pelaku hanya cengar-cengir tidak jelas di ambang pintu.
“Iya aku akan tempat bu anih sekarang? Dimana beliau? Kak kalau begitu bintang ke tempat bu anih dulu”
“Di halaman rumah, tadi bu anih ada di bawah pohon mangga menyapu halaman”
Aku mengangguk dan lantas meninggalkan ka naisyah yang tengah serius menatap pemadnagan bukit yang kmai lewati sewaktu kesini. Aku berjalan di sendirian menuruni tangga, suara berderit di setiap pijakan kakiku membuatku agak takut terjatuh apalagi rumah panggung bu anih yang tangganya sangat tinggi. Aku melihat bu anih yang sedang meletakkan potongan buah mangga untuk dijemur.
“Bu, ibu memanggil saya”
Suaraku yang muncul secara tiba-tiba membuat bu anih mengelus dadanya.
“Aduh ibu kanget”
Bahkan jika bu anih tidak mengatakn hal tersebut aku sudah tahu akan hal itu.
“Ada apa bu?”
“Ibu ingin tahu hal apa yang sebenarnya terjadi pada nak naisyah? Apa wening yang melakukan semua hal itu?”
Bu anih tanpa mengalihkan pandangannya dari buah mangga tersebut bertanya kepadaku.
“Iya bu, sebenanrnya sosk wening kemarin yang membuat kak naisyah sampai pingsan”
“Kenapa ia melakukan hal itu nak?”
Aku menggeleng, untuk hal itu aku masih belum tahu dengan jelas apa yang membuat wening menjadi seperti itu.
“Tapi karena wening pernah menjadi penari ronggeng, siapa tahu dia memanfaatkan tubuh kak naisyah untuk itu bu”
Bu anih terlihat berpikir sebentar lalu mengangguk menanggapi perkataanku.
“Bisa jadi karena hal itu, kecintaannya pada tari roggeng memang sangat besar”
__ADS_1
Dan pada akhirnya niatku yang tadinya ingin menyampaikan sebuah kebenaran kepada anggota satu timku terhalang kembali. Apa yang harus kami lakukan selanjutnya. Tuhan bantulah kami agar segera bisa menyelesaikan teka-teki yang seperti tak berujung ini.
...