
"Namanya sri weningsih. Angkatan tahun 2001. Seorang siswi yang banyak digilai oleh murid-murid lainnya di sekolah, bahkan anak dari sekolah lain sering menyempatkan diri atau malah bolos sekolah demi untuk melihat seseorang yang bernama sri weningsih tersebut. Bukan hanya cantik tapi ia juga sangat pintar dan berbakat. Ia selalu meraih juara pertama di kelasnya sampai akhirnya ia mendapat balasan atas semua prestasinya yaitu mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di luar kota. Setelah hari dimana ia mendengar bahwa pengurusan beasiswa itu sudah di buka, saat itu juga ia pergi. Bersamaan dengan pembangunan gedung baru di sekolah kita”
Aku berhenti bercerita, dan menatap lira dan kak kevin bergantian. Mereka hanya terdiam sambil terus menghujamkan tatapan ingin tahu kepadaku.
“Hanya itu yang kutahu kak. Tentang kematiannya aku masih tidak dapat melihat, yang ada hanya abu-abu dan gelap jika aku berusaha untuk menelusuri penyebab apa yang membuat ia sampai terbunuh atau mungkin bunuh diri”
Kak kevin mengangguk sedang lira hanya terduduk lseu di kursi dekat ranjang yang ditempati kak kevin.
“Aku...aku tahu orangnya”
Suara dari lira membuatku dan kak kevin sukses membulatkan mata, dan menatap lira penuh penjelasan.
“Apa yang kamu ketahui. Ceritakanlah. Supaya masalah ini bisa menjadi rampung”
Lira mengangguk, setelah memejamkan mata lama ia pun mulai bercerita.
“Ibunya pernah bekerja di rumah orangtuaku. Baliau orang yang baik ketika sudah menyelesaikan pekerjaannya di rumah ia akan ke kamarku dan membantuku mengerjakan tugas. Dari kebersamaan kami yang sering saling curhat, aku mengetahui bahwa beliau mempunyai anak yang bernama sri weningsih, ia biasa memanggil anaknya wening. Beliau juga sempat menunjukkan foto anaknya yang tidak lain adalah sri weningsih, wening itu memang sangat cantik sekali. Rambut hitamnya yang bergelombang dan kulitnya yang putih itu poin utama dari diri sri weningsih. Aku juga sempat melihat lionton cantik yang ia kenakan di lehernya. Saat itu hari terakhir bu anih bekerja di rumah setelah mendengar kabar bahwa anaknya telah meninggal dan jasadnya tidak ditemukan”
Aku memandangi lira, wajahnya menampakkan gurat kesedihan.
“Lalu, apa kamu tahu rumah orang tua sri weningsih?”
Aku mencoba bertanya dengan intonasi pelan, berusaha untuk tidak merapuhkan pertahanan diri lira. Sekilas ia mengangguk dan kembali terdiam.
“Bu anih sekarang tinggal di rumahnya bersama dengan suaminya yang ku ketahui seorang nelayan. Hal itu yang ibu beritahukan kepadaku setelah bu anih mengundurkan diri dari pekerjaanya di rumah. Alamatnya di daerah kamboja 12”
Aku mengangguk, aku pernah mendengar nama tempat itu dari pembicaraan ayah dan ibu, ketika ayah pergi bersama dengan teman kuli bangunan yang lain untuk menyelesaikan proyek pembangunan disana.
“Jadi namanya sri weningsih. Entah hal apa yang bisa menyebabkan ia terbunuh atau malah mungkin bunur diri. Tapi mungkin itu semua ada hubungannya dengan kematian lima orang siswi perempuan yang terjadi pagi tadi. Ditambah kematian kak renata”
Kak kevin menggemakan suaranya di ruangan putih itu membuat aku dan lira diam untuk mendengar kalimatnya.
__ADS_1
“Lalu apa yang akan kita lakukan untuk menyeldiki hal itu kak?”
Lira menatap penuh harap kepada kak kevin, mungkin di dalam pemikirnya tak lebih sama dengan apa yang ku kupikirkan sekarang ini.
“Setelah saya pulih kita akan ke rumah orang yang dulu bekerja di rumahmu. Mungkin berbicara sedikit dengan orang tuanya kita mampu melacak sedikit demi sedikit kejadian di masa lalu yag berhubungan dengan kematian siswi perempuan yang bintang sebutkan tadi. Saya akan mengajak semua anggota untuk ke sana, karena kalau kita hanya pergi bertiga, saya merasa tidak enak dengan anggota yang lain. Sedangkan kita berada dalam satu tim yang sama”
Aku dan lira hanya mengangguk dan beberapa menit setelah keadaan ruangan lenggang ibu kak kevin dan dion datang dengan sekantong makanan penuh di tangannya masing-masing, sore itu aku dan lira menghabiskan waktu di rumah sakit.
...
“Bi, apa menurutmu kita pergi ke rumah bu anih itu Ide yang bagus?”
Lira menghampiriku sambil memberikan sebotol minuman dingin.
“Entahlah lira. Tapi aku berharap kedatangan kita kesana tidak akan sia-sia. Semoga kita bisa mendapat infromasi yang kita butuhkan”
Lira mengangguk lantas duduk di sofa ruang tamu miliknya.
Lira tertawa setelah melontarkan kalimat tersebut kepadaku. Suara tawanya menggema di rumah besarnya yang di dominasi nuansa putih.
“Aku juga bersyukur setelah mengenalmu lira. Kamu teman yang tidak memandang betapa buruknya menjadi seseorang sepertiku, tidak memandangku dengan tatapan yang seperti ingin mengatakan bintang itu gila karena sering mengobrol sendiri dan tersenyum serta marah sendiri. Atau hal aneh lainnya. Kamu menerimaku sebagai teman yang berharga itu adalah salah satu hal yang sangat ku syukuri”
Lira kembali tertawa. Sedangkan aku hanya menatapnya dengan heran, apa ada humor yang ku selipkan pada perkataanku kurasa tidak. Tapi, kenapa lira jadi seperti ini setelah mendengar kalimat yang kusampaikan.
“Kamu pasti heran kenapa aku tertawa, iyakan bintang”
Aku mengangguk sedang lira langsung berhenti tertawa dan menatapku lamat-lamat.
“Ekspresimu sangat lucu bi, ditambah dengan perkataanmu yang mengatakan kamu sering mengobrol sendiri, tersenyum dan marah sendiri. Itu hal aneh yang lucu. Jadi, selama ini terbukti kalau kamu hanya berteman dengan makhluk astral. Dan aku menjadi sahabat pertamamu itu merupakan suatu kebangaan”
Sahabat pertama? Bukan, lira adalah saahabat keduaku di dunia nyata karena pada posisi pertama diisi oleh indah.
__ADS_1
“Tapi pasti kamu mengalami hari yang berat di sekolahmu bi. Ditambah lagi pemikiran kita yang pada saat itu belum terlalu mengerti betapa susahnya hidup dalam keadaan yang seperti itu. Dan mereka malah menjauhimu”
Aku tersenyum dan kembali menatap botol minuman yang kupegang.
“Daripada sedih saat itu aku hanya kecewa. Disaat aku butuh salah satu dari mereka untuk menghampiriku, malah kata-kata kasar yang kudapatkan. Bukan hanya itu mereka sering melaporkanku kepada guru-guru yang mengajar kalau aku menakut-nakuti mereka. Padahal aku hanya berusaha memperingatkan mereka agar tidak celaka akibat perbuatan makhluk-makhluk astral yang memiliki tipe jahat”
“Dasar bocah-bocah”
Aku kembali tersenyum. Bocah-bocah. Padahal kita seumuran kenapa lira harus menyebutnya bocah-bocah.
“Karena pemikirannya yang masih kekanak-kanakan padahal mereka sudah dalam tahap atau fase menghadapi remaja bintang”
aku mengangguk lira sangat tahu apa yang kupikirkan dan tanpa perlu kutanyakan ia telah menjawab pertanyaanku.
“Aku ingin kita berkemas-kemas mulai dari sekarang”
“Untuk apa”
Lira bangkit dari duduknya dan aku masih terpaku di tempatku.
“Karena kita akan berlibur di rumah bu anih”
“Kak kevin tidak mengajak kita untuk bermalam disana lira, kita hanya akan pergi sebentar kesana”
Lira hanya menggeleng, sedangkan aku masih menatap heran kepadanya.
“Mudah saja, kalau mereka mau pulang silahkan saja tapi kita berdua harus menginap beberapa hari di rumah bu anih”
Dan yang bisa kulakukan untuk merespon hal tak terduga yang lira ucapkan hanya gelengan kepala.
...
__ADS_1