
Upacara yang kami semua lakukan di hari senin selesai dengan khidmat. Suara langkah kaki terdengar bergemuruh disertai dengan detak jantung yang berpacu semakin kuat.
“Kamu kemarin belajar sampai jam berapa sih bi? Waktu aku mau ke kamar mandi lampu kamarmu masih menyala”
“Sampai jam satu”
Lira membulatkan matanya dan menatapku selama beberapa detik.
“Astaga, kok kamu bisa kuat begadang. Kalau aku mana bisa bertahan sampai jam satu dini hari. Jam sebelas malam saja, kepalaku sudah terasa sakit”
Lira mengggeleng-gelengkan kepala dan menatapku tak percaya.
“Tadi malam aku sudah tidur jam sepuluh, tapi terbangun jam dua belas malam”
“Kamu belajar? Pasti nanti nilaimu tinggi sekali bi. Aku yakin itu”
“Aku tidak belajar, cuma duduk saja”
Lira menatapku tidak percaya.
“Mana ada orang yang terbangun di tengah malam, terus hanya berdiam diri saja di kamar tanpa melakukan apapun. Itu mustahil bi. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku”
“Tidak ada”
Aku hanya menggeleng dan berjalan dengan cepat menuju kelas.
“Ayo cepat lira, pengawas ujian sudah dekat dengan kelas”
Lira berlari menyusulku yang sudah ada di ambang pintu.
"Baik anak-anak, ujian akan segera dilaksanakan mulai dari bapak membagikan kertas ujian dan kertas jawaban. mohon untuk tidak meletakkan sesuatu di meja selain pena, dan tas-tas yang kalian gunakan baiknya di simpan di depan. MENGERTI?”
“MENGERTI PAK”
Semua siswa(i) berhambur meletakkan tasnya di depan tepatnya di bawah papan tulis yang tergantung.
“Baik sebelum memulai ujian kita pada pagi ini, mari kita berdoa menurut ajaran agama masing-masing. Berdoa dimulai”
Kami semua menunduk patuh dan mulai berdoa. Setelah itu hanya suara goresan pena yang terdengar di dalam ruangan.
...
Aku dan lira berjalan menuju ke suatu tempat, tetapi langkah kami terhenti dikarenakan sebuah suara yang memanggil nama kami terdengar dari arah belakang.
“BINTANG...LIRA..”
Aku dan lira berbalik, dan mendapati fika serta dion yang berlari tergopoh-gopoh ke arah kami.
“Ada apa?”
Lira memegang pundak fika yang membungkuk berusaha mengambil pasokan oksigen di sekitarnya.
“Senin depan pengumuman kelulusan kakak kelas, terus kak kevin ingin kita berkumpul sebelum acara dimulai”
“Berkumpul? Untuk apa?”
“Entahlah, ia hanya menyampaikan itu kepada kami, iyakan dion?”
__ADS_1
Dion yang ada di sebelah fika mengangguk, membenarkan kalimat yang disampaikan fika kepada kami.
“Kita harus berkumpul dimana?”
“Dimana lagi, kan tempat “SURGICAL GLASSES” hanya ada satu. Kamu lupa?”
Aku menggeleng, siapa tau kak kevin ingin kita berkumpul di tempat baru.
“Yasudah. Kalian mau kemana”
Aku memandang lira, dan yang ditatap hanya menatap balik.
“Kita...mau ke kantin. Iyakan bi?”
Aku menatap lira heran, bukannya tadi ia mengajakku ke perumahan guru yang ada di belakang gedung baru.
“Ah iya kita mau ke kantin. Kalian ingin ikut?”
Satu cubitan pada lenganku mampu membuatku sadar dan mengikuti arah pembicaraan lira.
“Aku dan dion ingin ke perpustakaan. Kalau begitu kami duluan”
Aku mengangguk dan lira hanya sibuk melambaikan tangan kepada dion dan fika yang mulai menjauh dari tempat kami berdiri.
“Astaga, bintang. Kamu itu bisa tidak sih, tidak usah terlalu serius menganggapi sesuatu hal. Hampir saja kita ketahuan tadi”
Lira mangecak-acak rambut bobnya dan aku hanya memasang tampang bersalah kepadanya.
“Maaf”
“Yasudah lah. Lebih baik kita ke perumahan guru sebelum waktu ujian kedua tiba. Ayo bergegas”
“Kamu yakin tidak ingat bagaimana bentuk rumah itu ataupun warna cat rumahnya?”
Lira menatapku sambil terus berjalan dan berusaha menyingkirkan rumput liar yang mulai tumbuh di sekitarnya.
“Aku tidak ingat lira. Saat itu aku kaget dan minimnya pencahayaan membuat ku tidak sempat memperhatikan detail perumahan yang kami masuki”
Lira menghembuskan napas pelan, sedangkan aku hanya bisa memperhatikan setiap perumahan yang kami lewati.
“Bagaimana kalau kita membuka perumahan itu satu persatu?”
Aku menatap lira, wajahnya menampakkan keseriusan dan semangat.
“Tapi lira, rumah-rumah ini pasti terkunci. Mana bisa kita masuk ke dalam sana”
“Terus kamu dan kak kevin masuk melalui apa waktu itu?”
“Aku tidak ingat, yang pasti kami keluar melalui jendela samping dari rumah itu. Hanya hal itu saja yang aku ingat. Tentunya hal mengerikan itu juga termasuk”
Lira mengangguk dan mengusap dagunya, berusaha berpikir keras untuk masuk ke dalam belasan rumah di hadapan kami sekarang.
“Lebih baik kita kembali ke kelas saja lira, kurasa hal yang kita lakukan ini akan sia-sia saja. Lagipula permasalahan utama yang kita cari ada di gudang. Bukan disini.
Aku berhenti mengikuti langkah lira dan ia hanya berbalik sekilas kepadaku.
“Aku tau bi, hanya saja aku merasa kalau hal yang kamu dan kak kevin lihat malam itu pasti ada hubungannya dengan permasalahan utama yang kita sedang cari”
__ADS_1
“Itu hanya karena rasa penasaranmu saja lira. Bisa saja itu kelakukan orang iseng”
Lira menghentikan langkahnya dan menuju ke tempatku.
“Kelakuan orang iseng katamu? Bintang..bintang mana ada orang iseng yang akan melakukan hal sekeji itu kepada hewan yang tidak bersalah. Orang iseng mana yang akan melakukan hal itu Ha?”
“Tapi bisa saja hewan itu membuat kesal si pelaku”
“Dengar ya bintang. Kucing itu binatang, sebanyak dan berkali-kali pun kita mengajarinya hanya sebagian saja yang otaknya mampu tampung. Sedangkan manusia otaknya mampu bekerja dan menerima berkali-kali lipat sebuah pelajaran. Dari apa yang kusampaikan kamu bisa menyimpulkan sendiri kan yang seharusnya bersalah itu siapa?”
Lira menekankan kata siapa tepat di depan wajahku. Dan aku hanya bisa mundur beberapa langkah.
“Terserah kamu lira, tapi aku ingin kembali ke kelas sekarang”
Aku melangkah meninggalkan lira yang masih brdiri di tempatnya.
“Kamu tidak seru bi. Aku kan hanya ingin tahu siapa pelakunya”
“Aku juga ingin mengetahui itu lira. Hanya saja bagaimana kalau kita tertangkap basah sedang mencoba untuk masuk ke dalam rumah itu? bisa-bisa penjaga sekolah ataupun petugas kebersihan menaruh curiga kepada kita kalau yang datang ke sekolah pada malam itu tenyata...”
“Sedang apa kalian disini?”
Aku tersentak dan langsung berbalik begitu pun juga dengan lira.
“Maaf pak tadi...kami tanpa sadar berjalan ke arah sini”
Petugas kebersihan itu menatap kami lama, membuat jantungku memompa lebih cepat dari biasanya.
“Hati-hati nak, disini tempatnya angker. Sudah ada beberapa siswa siswi juga yang sering begitu”
Lira kembali mencubit lenganku, dan aku hanya bisa mengangguk akan kalimat yang disampaikan petugas kebersihan sekolah kami.
“Aduh, kalau begitu kami duluan ya pak. Takutnya terlambat masuk kelas. Permisi pak”
Lira langsung menarik lenganku dan kami pun menginggalkan petugas kebersihanyang masih terpaku menatap kami dari kejauhan. Untung saja beliau tidak curiga kepada kami.
“Gila. Jantungku hampir copot tadi bi”
Aku dan lira berhenti di samping gedung baru dan bersandar di temboknya yang sudah tercoret disana-sini.
“Aku kan sudah memperingatkanmu tadi lira. Tapi kamu tetap bersikeras ke tempat itu”
“Aku kan penasaran bi”
“Iya dan rasa penasaranmu hampir saja membuat kita tertangkap basah oleh petugas kebersihan”
Lira hanya menatapku dan cemberut mendengar perkataanku.
“Iya, aku minta maaf”
“Yasudah, kita ke kelas saja”
Aku melangkah menuju kelas diikuti lira yang berjalan dengan malas di belakangku. Andai saja kita bisa dengan mudah menemukan pelaku hal keji itu, pasti beban yang ada di pikiran kami akan sedikit berkurang. Atau malah bertambah karena mengetahui ternyata seseorang itulah pelakunya. Aku harus mencari tau siapa dalang dibalik kejadian di perumahan itu tentunya tanpa melibatkan siapapun dari kelompok “SURGICAL GLASSES”.
...
Note :
__ADS_1
Terimakasih kepada pembaca sekalian yang telah mampir dan membaca cerita ini. Terus dukung cerita DARAH KELULUSAN dengan memberikan like dan komentar yang baik.
Jangan bosan untuk menunggu next partnya. Sekali lagi terimakasih kepada readers yang telah membaca cerita ini.