
Setelah menjenguk kak kinan enam hari yang lalu di rumah sakit, kami pun kembali sibuk dengan aktivitas kami yaitu bersekolah dan mempersiapkan ujian kenaikan kelas.
“Huft. Gila bi, ini soal apa kode rahasia. Susah banget”
Lira menghembuskan napas jengah menatap soal matematika yang ada di hadapannya. Sejujurnya lira anak yang pintar. Matematika, fisika, kimia dan pelajaran yang berhubungan dengan hitungan bisa ia kerjakan. Tapi ketika telah menghadapi soal yang amat sangat rumit, otaknya menjadi tak bisa diajak bekerjasama.
“Mau bagaimana lagi, ini tugas dari pak hartono yang harus kita kerjakan, kalau tidak dikerjakan memangnya kamu mau tidak mengikuti ujian matematika?”
Lira lagi-lagi hanya menghembuskan napas dengan berat dan kemudian berbaring di lantai putih dekat meja yang kami tempati menulis.
“Rumahmu sepi sekali bi”
Lira menatapku, dengan rasa penasaran. Kali ini ia yang mengunjungi rumahku, sejujurnya ia telah meminta untuk bermain ke rumah. Tapi aku selalu menolaknya dengan alasan aku sibuk dan rumahku juga tak sebesar rumahnya dan beberapa alasan tak logis lainnya yang selalu ku lontarkan ketika ia meminta untuk diperbolehkan bermain ke rumah. Sayangnya, aku terlalu takut membawa teman ketika ayah dulu masih berada di rumah, peristiwa itu masih membuatku trauma dan aku tidak ingin lira bernasib sama seperti dia.
“Ibuku berjualan makanan di pasar lira, ia bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Jadi kalau siang begini beliau pastinya masih ada di pasar. Kalau adikku ia pergi mengaji, kemungkinan pulang jam 12 atau jam 1 nantinya”
Lira hanya mengangguk.
“Dan ayahmu?”
Aku meletakkan pena yang sedari tadi kugunakan untuk mencorat-coret kertas, pertanyaannya sedikit membuatku kaget.
“Ayahku bekerja sebagai tukang kuli bangunan, ia sedang ke kampung sebelah untuk menyelesaikan proyek pembangunan rumah”
Aku menunduk memperhatikan kata yang tercetak di buku paket matematika milikku, dan berpura-pura sibuk membacanya. Kuharap lira percaya.
“Ibumu pasti orang yang pekerja keras bi, buktinya ia rela membantu ayahmu untuk menafkahi keluarga. Aku salut dengan ibumu”
Lira tersenyum tulus. Ibuku memang orang yang baik lira, sampai-sampai ia rela disiksa setiap hari karena kebaikannya kepada ayah. Aku membatin sendiri sampai sebuah suara dari luar membuat kami tergerak untuk melihat ke arah pintu.
“Kak, lintang pulang”
Lintang mendekat ke arahku, dan tersenyum. Sebelum kemudian ia pergi ke kamar untuk mengganti seragamnya.
“Adikmu cantik bi, matanya sipit sepertimu. Aku heran jangan-jangan kamu ada keturunan cinanya”
Aku menggeleng, ibu dan ayahku orang pribumi mana mungkin ada darah cina yang mengalir dalam diriku. Nenek serta kakekku pun yang kutau orang asli indonesia juga.
“Namanya siapa?”
“Lintang aurelina putri”
__ADS_1
Lira hanya mengangguk merespon ucapanku dan detik selanjutnya kami kembali fokus mengerjakan soal matematika walau dengan jawaban yang pastinya aku yakin itu salah. Daripada tidak mengikuti ujian. Lebih baik mengerjakan dengan semampunya.
....
Sore menjelang, dan lira masih berada di rumahku. Ia terlihat asik bercengkrama dengan adikku. Wajar saja lira anak tunggal ia pasti kesepian di rumah karena tak mempunyai saudara yang bisa diajak berbicara ataupun bermain.
“Nah ini yang kakak gambar namanya dinosaurus, hewan ini sudah punah dari sekian juta tahun yang lalu. Badannya besar dan gigi-giginya tajam. Hewan ini ada yang jahat tapi ada juga yang baik”
“Gambar kakak bagus sekali. Aku boleh simpan ini”
“Tentu boleh”
Lintang mengangguk dengan antusias dan senang. Sedang lira hanya tersenyum dan kembali menggambar. Tugas kami sudah selesai dari tadi, walau mengerjakannya dengan kapasitas otak yang tidak terlalu memadai. Aku berharap nilaiku masih bisa berada di kategori baik. Suara tawa lintang terdengar renyah di penjuru rumah, aku tersenyum memperhatikan mereka dari dapur. Kebahagiaan itu terasa nyata sekarang setelah kepergiannya. Dan kuharap ia tak pernah kembali, walau itu hanya sebuah pengharapan yang mustahil.
“Ini minum dulu pasti kalian haus”
Aku menyodorkan nampan yang berisi dua gelas minuman. Beserta dengan kue kering dan kue basah yang ibu simpan untuk aku dan lintang tadi pagi. Aku melirik jam yang tergantung di atas meja makan. Sudah jam 3 lewat beberapa menit, sebentar lagi ibu pasti pulang. Aku sudah berniat ingin menyalakan televisi di hadapanku hingga suara ketukan di pintu mampu menghentikan langkahku seketika.
“Biar lintang saja yang buka kak”
Lintang berlari kecil menuju pintu dan tepat saat tangannya menarik pegangan pintu suara teriakannya yang menyambut ibu langsung terdengar lemah.
...
“Kalau begitu aku ke dapur dulu untuk buat minum”
Aku bergegas ke dapur dan meninggalkan kak kevin dan dion yang masih tak mengucapkan satu kata pun semenjak kedatangan mereka.
“Jadi untuk apa kakak dan dion kemari? Apa untuk mendiskusikan misi lagi?”
Suara lira menyapa indera pendengaranku.
“Tidak, tapi kami punya berita penting untuk kalian berdua”
Kak kevin menatapku yang baru saja meletakkan nampan di ats meja.
“Berita penting apa kak?”
Aku menatap dion dan kak kevin bergantian. Sedang yang ditatap hanya kembali memasang ekspresi yang tak kumengerti.
“Kemarin malam kami dari sekolah”
__ADS_1
Lira menutup mulutnya, sedang aku hanya bisa menatap dua orang yang ada dihadapanku dengan raut wajah tidak percaya. Apa mereka sudah gila.
“Kakak sama dion mau cari mati yah?”
Lira menaikkan sedikit intonasi suaranya.
“Dengarkan dulu penjelasan kami”
Aku memperbaiki posisi dudukku dan lira pun sama, berusaha untuk fokus akan apa yang kak kevin sampaikan berikutnya.
“Jadi setelah kami, dari rumah sakit dan menjenguk kinan. Aku dengan dion sepakat untuk kembali ke sekolah. alasannya? Karena ingin membuktikan perkataan kinan tempo hari yang lalu. Bukan hanya itu saja, tapi tentunya kami ingin mengetahui siapa yang kinan sebut sebagai dia itu”
Kak kevin menghentikan ceritanya dan menghirup oksigen pelan.
“Setelah kami sampai di sekolah, aku dan dion kembali menyelinap menggunakan cara yang kita gunakan tentunya dengan membawa tali agar kami bisa memanjat tembok itu. suasana sekolah sudah sangat sepi. Bayangkan saja kami berdua pergi jam 11 malam”
Lira hanya menggelengkan kepalanya pelan, mungkin jengah dengan tingkah laku kak kevin dan dion yang terlampau berani.
“Kami langusng menuju ruangan yang sekarang dijadikan gudang itu, pintu yang tidak terkunci memudahkan kami mengakses ruangan itu dan masuk, mencari sesuatu yang kami pun tau bahwa apa yang kami cari tidak mungkin di dapat secara cuma-cuma. Menangkap makhluk astral siapa yang bisa”
Tawa renyah kak kevin langsung mendominasi seisi ruang tamu. Apanya yang lucu, mereka baru saja menceritakan aksi nekat yang berujung malapetaka bagi diri mereka sendiri. Dan ia malah tertawa. Benar-benar gila.
“Kami menunggu beberapa menit di rungan itu, tapi hasilnya nihil tak ada sesuatu pun yang kami dapat. Setelah jam menujukkan angka pukul 12, kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum kaki kami melangkah keluar sebuah suara langkah kaki dari luar membuat kami mau tak mau harus bersembunyi dalam ruangan itu untuk sementara waktu. Atau tidak kami akan tertangkap basah”
Kak kevin menghirup oksigen kembali. Sedang aku hanya menatapnya dengan perasaan gugup, apa mereka ketahuan.
“Langkah kaki itu semakin dekat dengan ruangan, dan benar saja dugaanku bahwa ia memang ingin ke ruangan itu. Pintu berderit pelan, menandakan seseorang itu telah memasuki ruangan. Dengan bantuan cahaya bulan dari luar, dan pintu yang dibiarkan terbuka. Aku bisa melihat seseorang itu. Dia adalah...”
Kak kevin menjeda kalimatnya membuatku dan lira semakin penasaran akan apa yang akan ia katakan selanjutnya.
“Dia adalah penjaga sekolah, dan kalian tau apa yang lebih parah dari itu. Di tangannya, ada sebuah nampan yang berisi bunga melati dan bahan untuk sesajen”
.....
Note :
Terimakasih telah membaca karya saya. Tetap dukung karya ini dengan memberikan komentar, kritik dan saran yang membangun. jangan lupa juga untuk tekan tombol favorit dan like.
cerita ini saya usahakan terbit setiap hari jadi nantikan terus yah.
Thank's all. I hope you like it and enjoy read my story.
__ADS_1