DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Hal Aneh Mulai Menghampiri


__ADS_3

Kami merenggangkan badan, setelah mencuci piring dan membersihkan sisa makanan. Kami pun menyusul bu anih serta yang lainnya di ruang tamu. Mereka semua menyabut kedatangan kami dengan senyum kecualikan dion dan kak kevin yang menatap kami biasa-biasa saja.


“Kami sudah selesai membersihkan pirirng kotornya bu, dijamin pekerjaan kami 100% ampun dan bersih”


Lira kembali melontarkan kalimat aneh yang mampu membuat kami tertawa. Seketika beban yang kami rasakan karena melakukan pekerjaan tadi menghilang. Aku dan lira akhirnya duduk meleseh di atas lantai kayu rumah bu anih. Televisi kecil yang dihadapan kami terlihat sibuk menampilkan berita dengan topik terhangat, apalagi kalau bukan musim hujan, apalagi sekarang sudah akhir bulan sekaligus akhir tahun.


“Kalian akan menginap berapa hari di isni”


“lima hari pak”


Lira menjawab dengan cepat, seperti takut jatah menjawabnya diambil orang lain.


“Bapak kira kalian akan tinggal satu minggu atau lebih untuk berlibur”


“Tidak pak, karena kami juga harus mempersiapkan persiapan sekolah kami dan kak kevin juga harus persiapan untuk tes di perguruan tinggi”


Pak hasan menggangguk.


“Saya jadi teringat wening”


Kami semua saling tatap kecuali bu anih dengan pak hasan yang menampilkan raut wajah sedih. Ini kesempatan kami untuk bertanya. Aku langsung menyenggol lengan lira dan ia hanya merespon senggolanku dengan anggukan kepala.


“Saya juka turut berduka cita pak, maaf waktu itu lira dan orang tua lira tidak sempat hadir”


“Tak apa nak”


Bu anih mengelus lengan lira, dan membelai puncak kepalanya.


“Sudah takdirnya wening meninggalkan kami dengan cepat, walaupun kami juga tak ingin ia meninggal dengan seperti itu”


“Sebenarnya apa yang terjadi pada kak wening bu”


Bu anih menatap penuh kasih kepada lira yang ada di dekatnya.


“Ibu juga tidak tau lira, apa yang sebenarnya terjadi pada wening. Suami ibu juga hanya diberitahu kepada pihak sekolah bahwa wening ketika selesai mengurus beasiswanya langsung pamit pulang. Tapi, sampai sekarang wening tidak pulang ke rumah”


Aku menatap iba pada bu anih beserta suaminya, ditinggal anak semata wayangnya yang mereka sudah rawat dengan penuh kasih malah pergi dan sampai sekarang tak kembali. Dan naasnya lagi anak mereka tak pernah ditemukan jasadnya dan malah menghantui sekolah. Aku juga tak mungkin memberitahu bu anih dan pak hasan perihal permasalahan itu.


“Sabar bu, doakan saja semoga kak wening bisa tenang di alam sana”

__ADS_1


Lira mengusap lengan bu anih dan kembali merebahkan kepalanya di pangkuan wanita paruh baya itu. Sedangkan bu anih hanya tersenyum sambil mengusap lembut rambut lira. Setelah beberapa menit rumah ini lenggang, suara dari fika langung mengintrupsi telingaku.


“Aku tiba-tiba ingin buang air besar bintang. Kamu bisa temani ke bawah tidak? Aku takut sendiri”


Aku mengangguk setelah fika berbisik pelan kepadaku.


“Ibu ada senter, saya ingin ke kamar mandi”


Bu anih mengangguk dan lantas berdiri untuk mengambil senternya. Tak berapa lama kemudian beliau kembali sambil membawa senter dengan ukuran sedang di tangannya.


“Ini nak”


Aku mengambil senternya dan langsung mengantar lira ke kamar mandi.


“Kamu jaga di situ ya bintang. Jangan tinggalin aku”


Fika mengucapkan kalimat itu dan langsung pergi ke kamar mandi dengan terburu-buru. Aku masih di ambang pintu di bagian rumah bawah bu anih. Karena memang letak kamar mandinya terpisah dengan rumah, walaupun tidak terlalu jauh mungkin hanya lima langkah dari rumah tapi itu cukup membuat takut apalagi kalau malam hari dengan suara jangkrik dan kodok yang saling bersahut-sahutan. Aku menepati janjiku kepada fika dan tetap menunggunya di ambang pintu. Beberapa menit berlalu dan fika masih belum keluar kakiku pegal ditambah lagi nyamuk yang terus saja bertambah dengan jumlah yang semkin banyak. Aku langsung masuk ke dalam rumah tapi tak menutup pintunya. Aku menunggu fika di ranjang yang kami tempati tidur tadi siang. Aku masih bisa melihat kedatangan fika dari sini, setidaknya aku tidak meninggalkannya. Aku melirik jam di atas tempat tidur sudah pukul sembilan lewat beberapa menit, udara dingin dan nyaman di daerah ini membuatku mengantuk lebih cepat dari biasanya, aku menguap lebar dan setelah itu menutup mataku lama. Ada sedikit cairan di mataku, tapi itu bukan karena menangis melainkan karena efek mangantuk.


“Aku sudah selesai, mari naik”


Aku tersentak kaget dan membuka mataku, fika sudah ada di depanku dengan tiba-tiba. Tapi aku tidak mendengar suara dari langkahnya. Ah biar saja. aku hanya ingin langsung tidur, aku langsung mengikuti langkahnya yang berjalan mendahuluiku.


Aku kembali menuruni anak tangga dan buru-buru berjalan untuk menutup pintu. Untung saja aku ingat pintunya belum ditutup. Bisa-bisa kodok yang berbunyi tadi masuk ke dalam sini. Dan tepat saat aku sudah akan sampai di dekat pintu tiba-tiba saja...


“FIKA”


Aku mengerjapkan mataku berulang kali dan mengucek mataku.


“Kenapa kamu bisa ada disini. Bukanya tadi kamu....


“Kamu kenapa jahat sekali bintang. Aku kan sudah bilang tunggu aku disini. Kenapa kamu malah pergi. Untung saja nyaliku sedikit berani, jadi aku dengan langkah seribu sambil menutup mata bisa sampai kesini”


Aku mengusap wajahku pelan. Berusaha mengatasi pikiranku yang semakin kacau. Aku jelas-jelas melihat fika yang berjalan di depanku, aku masih ingat dngan jelas bagaimana ia mengajakku ke atas rumah. Tapi.. tapi kenapa fika bisa ada di ambang pintu. Apa yang terjadi.


“Ayo cepat naik bintang, aku takut”


Fika buru-buru menutup pintu rumah dan menguncinya.


“Lain kali jangan seperti itu bintang, aku takut sekali”

__ADS_1


“Tapi....”


Aku menggeleng percuma memberitahu fika, ia pasti hanya akan ketakutan atau mungkin tidak percaya kepadaku. Tapi yang aku alami tadi adalah benar-benar suatu kenyataan.


...


Aku dan fika kembali bergabung di ruang tamu bersama dengan yang lainnya. Pikiranku masih tertuju kepada hal yang baru saja aku alami. Hingga suara dari bu anih mengambil alih sedikit perhatianku.


“Nak, kalian yang perempuan kalau mau tidur nanti tidurnya di kamar yang ada disitu.


Bu anih menunjuk kamar yang tepat ada di dekatku.


“Kalau saya dan kak kevin bu?”


Dion menatap bu anih dengan ramah.


“Kalian tidur di kamar ibu dan bapak saja”


Dion mentap kak kevin sedang yang ditatap hanya menggelengkan kepala pelan.


“Tidak usah bu, biar kami tidur disinisaja. Di depan tv itu juga tidak apa-apa”


“Yasudah kalau begitu bapak ambilkan kasur dulu di dalam kamar”


Pak hasan langsung menuju kamarnya dan sekembalinya beliau, sudah ada satu kasur lebar dan panjang yang mungkin muat untuk empat orang yang ia bawa.


“Ini selimut dan bantal untuk kalian”


Bu anih menyodorkan masing-masing satu selimut kepada dion dan kak kevin yang yang dibalas dengan ucapan terimakasih. Kami semua akhirnya memilih untuk tidur, aku dan teman perempuan yang lainnya masuk ke dalam kamar itu yang ternyata adalah kamar sri weningsih anak dari pak hasan dan bu anah sekaligus sosok di ruangan sekolah kami. Aku meneguk salivaku rasa dingin di tengkukku langsung menajalar hebat dan kejadian tadi kembali tergiang di kepalau. Apakah ia wening yang menjelma menjadi fika? Pertanyaan itu terus tergiang di kepala, dan yang bisa kulakukan hanya berusaha untuk tidur, berharap aku bisa melupakan kejadian tadi walaupun itu adalah suatu kemustahilan besar.


...


Curhatan Author mohon untuk dibaca dan dipahami.


Untuk yang sudah menunggu cerita DARAH KELULUSAN terbit, author sangat berterima kasih banyak. Tugas-tugas yang menumpuk serta kemalasan yang melanda membuat author membutuhkan waktu yang lama untuk meng-up cerita ini. Tapi, sebagai gantinya author menghadiahkan tujuh bab sekaligus untuk readers setia yang telah menunggu. Bukan hadiah sih, tapi ini sudah kewajiban.


Oh iya, jangan lupa untuk selalu dukung cerita DARAH KELULUSAN agar bisa menang dalam contest horor yang diadakan mangatoon/noveltoon. Sekali lagi terimakasih kepada pembaca sekalian yang telah setia meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini.


Bagi yang ingin bertanya seputar hal tentang cerita DARAH KELULUSAN langsung saja ditanyakan di kolom komentar ya, InsyaAllah akan author jawab. Atau masih ada yang bingung dengan cerita ini monggo silahkan ditanyakan bagian/bab berapa yang membuat kalian bingung. Sama sekalian bantu untuk mengoreksi bagian yang typo nya guys.

__ADS_1


Sekian sudah curhatan hati seorang author, Jangan pernah bosan untuk selalu memberi dukungan kepada cerita DARAH KELULUSAN. See you di next chapter. Bye All.


__ADS_2