
Putaran waktu bergulir dengan sangat cepat, tak terasa kami akhirnya sudah akan pulang kembali ke daerah kami. Kami semua akan pulang dan mungkin akan butuh waktu yang sangat lama untuk bertemu dengan bu anih dan pak hasan serta warga daerah sini sepeti pak wayan, pemain musiknya dan tentunya para penari ronggengnya.
“Terimaksih karena telah bersedia mengijinkan kami menginap disini bu, pak?”
Suara lira sedikit tercekat di akhir kalimat, menandakan betapa tidak inginya ia pergi dari daerah sini.
“Iya, sering-seringlah datang kesini lagi. Ibu dan bapak pasti akan selalu menyambut kalian. Dan kalau ada kesempatan ajaklah ibu serta ayahmu kesini nak”
Bu anih mengusap pelan rambut lira yang sekarang duduk di dekatnya. Perasaan sedih langsung menggerayangi batinku. Aku tiba-tiba saja teringat dengan ibu, Apa kabarnya mereka disana. Atau jangan-jangan ibu sudah ada di rumah dengan lintang. Akhirnya setelah acara berpamitan itu pun kami semua menaiki mobil kak kevin yang melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan semua kenyamanan di daerah ini. Kabut pagi masih sangat jelas di daerah perbukitan di ats sana, jalan yang akan kami lalui nantinya. Tak ada percakapan yang kami lakukan di mobil semuanya terpusat pada pikiran dan kesedihan masing-masing. Kak naisyah dengan ekspersi sedihnya, fika dengan ekspersi yang sama dengan kan naisyah dan lira yang paling sedih disini, air matanya tak berhenti mengalir walau ia sudah beberapa kali menghapusnya. Aku sangat mengerti perasaanya sekarang pasti ia amat sangat sedih. Bu anih sudah seperti orang tuanya tapi jika tetap tinggal di daerah tersebut malah adalah keputusan yang tidak mungkin kami lakukan, karena kehidupan kami yang sebenarnya ada di daerah kami sendiri.
“Oh iya bintang, waktu itu kamu pernah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi karena dion yang tiba-tiba datang. Kamu masih ingat kan?”
Aku langsung berbalik ke arah kanan yang paling ujung tempat dimana kak naisyah sekarang berada. Aku meneguk salivaku, kenapa bisa-bisananya aku lupa akan hal itu.
“Aku sudah tidak Ingat apa yang ingin kukatakan kak”
Aku tertawa mengakhiri kalimatku, tawa yang jelas saja kubuat-buat untuk menutupi alibi dan kegugupanku yang sekarang ini. Sedang lira hanya menatapku dengan tatapan aneh.
“Jangan bilang kamu ingin memberitahukan hal tersebut kepada kak naisyah?”
Lira merapatkan dirinya kearahku dan berbisik dengan sangat pelan ke telingaku.
“Iya aku ingin mengatakannya”
“Kamu gila?”
__ADS_1
Aku menatap heran ke arah lira, sedang yang ditatap hanya memberikan ekspresi yang tak bisaku deskirpsikan dengan jelas. Apa hal yang akan kukatakan ke kak naisyah itu merupakan hal gila kurasa tidak toh kita dalam satu tim yang sama dan malam menyembunyikan hal-hal penting yang berhubungan dengan kasus. Kurasa pertanyaan lira kali ini aku tak perlu menjawabnya.
“Maaf bi, aku heran saja. Kamu kan kemariin-kemarin bersikeras untuk tidak memberitahukan hal apapun kepada anggota yang lain. Kenapa sekarang jadi berubah. Bukannya aku tak mendukung hanya saja walau kita dalam satu tim yang sama biarkan saja sesuatunya terjadi, terkadang tak semua hal bisa disampaikan kepada anggota tim yang lain. Apalagi ini menyangkut sesuatu yang aneh yang kamu miliki”
Sesuatu yang aneh? Maksudnya mungkin adalah kemampuanku ini. Aku mengangguk kepada lira dan mengucapkan kata terimakasih pelan. Mungkin ia ada benarnya juga, tak semuanya aku harus ceritakan biarkan anggota timku yang mengetahuinya seiring dengan berjalannya waktu. Toh kami semua masih akan berada di dalam tim yang sama dan memecahkan msteri itu bersama-sama.
...
Kami akhirnya sampai di rumah lira terlebih dahulu. Aku dan lira kemudian turun dari mobil kak kevin dan mengambil barang-baang kami di bagasi mobilnya. Lira melambai ke arah mobil kak kevin yang telah jauh pergi, kak kevin dan teman-teman yang lain memilih untuk langsung pulang dan alasannya adalah karena ingin mengistirahatkan tubuh. Padahal kemarin malam tidur kami masih sangat pulas.
“Aku hari ini akan ke rumahku lira”
Lira menatapku dari cermin besar yang ada dihadapannya, sekarang ia sedang menyisir rambutnya yang agak kusut.
“Kalau begitu aku juga akan pergi ke rumahmu”
“Untuk apa?”
“Untuk apa?”
“Kau boleh bermain ke rumahku masa aku tidak diperbolehkan main di rumahmu. Itu tidak adil bintang”
Aku mengangguk dan kemudian kami pun bersiap-siap untuk pergi ke rumahku. Lebih cepat lebih baik kan? Aku berharap kedua orang tuaku dan adikku lintang sudah ada di rumah ketika aku sampai. Semoga saja.
...
__ADS_1
Note :
Untuk readers sekalian, maaf kalau untuk chapter ini partnya hanya singkat saja. Dikarenakan ide untuk membuat cerita ini tiba-tiba saja menguar entah kemana alias hilang inspirasi/ide untuk menulis kelanjutan yang menarik. Author juga sekalian ingin hiatus dulu selama beberapa hari dikarenakan kesehatan yang sedikit terganggu. Terimakasih untuk kalian semua yang telah mendukung DARAH KELULUSAN dari part awal sampai saat ini. Mungkin itu saja yang auhtor bisa curhatkan. Terimakasih sekali lagi untuk dukungan kalian selama ini.
Selamat bekerja
Selamat liburan
Selamat beristirahat
Selamat makan
Selamat minum
Oh iya author ingin kalian semua komen salah satu dari ke-4 pilihan di bawah ini :
B aja
B banget
B spezing (spectacular+amazing)
B paket komplit
__ADS_1
Jadi ini tuh seperti kesan kalian setelah baca cerita DARAH KELULUSAN Ditunggu komennya yah readers sekalian. Bye sampai jumpa di lain hari.