
...MONOLOG...
...Ditulis oleh Raja Vampir...
...--Penyesalan--...
...Selama ini aku berusaha mencegah akhir dari negeriku yang sudah terlihat jelas sejak lama. Tak peduli seberapa keras aku berupaya mencegah malapetaka yang terjadi selalu muncul masalah baru. Semuanya mengarah pada kehancuran....
...Akhirnya aku sadar keadaan ini tak mungkin bisa aku perbaiki lagi. Setiap hari darah tertumpah semakin banyak pada kerajaan yang aku cintai. Pada dasarnya kami para Vampir memang menyukai darah, tetapi jika yang tertetes adalah hasil dari sengketa dan pertempuran aku pun kini mulai membenci cairan merah itu....
...Sejak muda aku rela melakukan apapun demi mendapatkan kekuatan. Aku sadar kekuatan yang besar tak mungkin bisa didapat tanpa pengorbanan. Dan aku siap mengorbankan apapun....
...Aku bodoh, naif dan masih terbakar gairah masa muda tak menyadari setiap cahaya kebesaran seseorang menimbulkan bayangan pada yang lain. Aku rasa, aku sudah mendapat karma dari orang-orang yang selama ini terkekang dalam bayangan milikku....
...Untuk kalian para penerus dari kerajaan ini, aku mohon jangan ulangi kesalahan para pendahulumu. Aku sudah tak terselamatkan lagi. Semoga masih ada masa depan untuk kalian para jiwa muda di kemudian hari....
...Maafkan aku....
^^^Kysta Vampirelia Astarius^^^
...**********************************************...
"Berjuanglah Ivana, kau pasti bisa!" Desak sang suami mencoba memberi semangat pada istri yang sedang berusaha melahirkan.
"Ayo! Atur napasmu. Keselamatan bayi kita tergantung padamu."
Namun Ivana tetap menghirup udara dengan rakus. Perkataan suami sama sekali tak digubris. Satu dorongan kuat dari Ivana, sangat kuat hingga wajahnya memerah. Tapi sang bayi masih belum keluar. Suaminya menunjukkan wajah tegang seolah-olah maut sedang mengejar mereka.
"Auuuuhhhhh...!!!"
Benar saja, maut benar-benar mengejar mereka. Mendengar lolongan itu Kysta tahu pasti siapa yang akan datang ke kastilnya. Saat dia melihat ke luar jendela segerombolan manusia serigala (Werewolf) terlihat sedang menuju kemari. Jumlah mereka sangat banyak, mungkin ratusan ekor. Mata mereka nyalang tajam memburu sesuatu. Mereka benar-benar mencari waktu yang tepat untuk menyerang. Mereka tahu kalau pertahanan Raja Kysta akan sangat lemah saat istrinya sedang melahirkan.
__ADS_1
"Aaaahhhh!" suara tangis bayi memecah konsentrasi raja dari apa yang dia lihat.
Segera ia menghampiri istrinya untuk memastikan apakah dia baik-baik saja bersama si bayi. Keadaan Ivana sangat lemah, bagaikan seluruh uratnya putus.
Sang istri hanya tersenyum lega mengetahui bayi mereka selamat sekalipun sedang diintai oleh bahaya. Setelah bayi dibersihkan, ayahnya langsung mendekap dengan bercucuran air mata.
Ivana bilang, "Suamiku, cepat bawa dia pergi dari sini. Aku tidak akan selamat."
"Tidak! Aku tidak akan pergi tanpamu."
"Cepat pergi! Jika tidak maka anak kita yang akan mati. Percayalah aku akan selalu berada di sampingmu."
"Ivana ...," air matanya sudah tak bisa dibendung lagi. Tangisannya pecah ketika mendengar kata-kata itu.
"Sebelum itu, izinkan aku menciumnya," permintaan terakhir dari sang istri, Raja Kysta berjalan perlahan dan memberikan bayi itu ke dalam dekapan ibunya untuk yang terakhir kali.
Ivana berbisik kecil pada bayi yang sudah mulai terlelap, "Anakku, Ibu harap bisa menghabiskan waktu lebih banyak untuk melihatmu. Semoga kita bisa bertemu lagi. Sekarang Kysta! Bawa dia pergi. Apapun yang terjadi kau jagalah dia. Dia pasti akan menjadi pria hebat sepertimu," sekali lagi anak itu berpindah pangkuan ke ayahnya.
DAR!
Sedangkan yang ditanya hanya tersenyum kecil seolah tak menghiraukan ancaman yang sedang dihadapi dan berkata, "kau terlambat."
Dengan kesal Werewolf itu menusuk jantung Ivana dan mengoyak leher hingga putus. Benar-benar sadis gerombolan Werewolf ini. Istri Kyata meninggal dalam keadaan tersenyum damai dikala lepas dari segala beban kehidupan.
Masih dengan perasaan kesal Werewolf yang membunuh Ivana bertengger sebelah kaki di jendela dan berkata pada manusia serigala yang lain, "mereka tidak ada di sini. Dia pasti sudah lari ke hutan dengan bayi itu. Semuanya ayo pergi!"
Sementara itu di tengah hutan Kysta sedang lari tergopoh-gopoh sambil menggendong bayi mungil yang sedang tertidur dengan pulas. Wajahnya menunjuk perasaan sangat cemas.
aku akan selalu berada di sampingmu, kata-kata itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Semoga apa yang kau katakan benar Ivana. Berjanjilah untuk selalu berada di sampingku hingga kita bisa bersama-sama membesarkan anak kita," gumam sang raja sambil terus berlari.
Wajahnya tak henti-henti bersikap tegang. Entah ia sedang waspada atau putus asa. Tapi yang jelas ia tidak ingin para Werewolf menangkap anaknya yang baru lahir ke dunia untuk dibunuh.
__ADS_1
Butuh lebih dari sekedar keberuntungan untuk bisa selamat dari kondisi seperti ini. Kastil, yaitu istana yang sudah dibangun ribuan tahun lalu oleh leluhur Vampir sama sekali tak dipikirkannya. Tak peduli jika istana dari leluhurnya hancur, yang penting anak ini bisa selamat. Bahkan istri tercintanya terpaksa ia tinggalkan.
"Itu dia! Jangan sampai dia lolos!!!!"
Deg! ... Deg!
Mendengar suara itu dari belakang membuat ia terbangun dari duka. Sadar akan posisinya sudah terkejar Kysta memejamkan mata dengan konsentrasi tinggi. Tunggu apa ini? Dalam keadaan dikejar maut ia masih bisa berkonsentrasi dengan tenang? Sulit dipercaya. Namun semua ini normal bagi Vampir karena itu adalah salah satu kekuatannya.
Sedetik kemudian Kysta membuka mata. Bola matanya sudah tidak hitam lagi melainkan merah sedangkan giginya mulai bermunculan taring yang sangat panjang dan tajam. Seketika ia mendapatkan energi besar yang entah dari mana.
Kakinya mulai bergerak lebih cepat, sangat cepat hingga tak terlihat di permukaan tanah. Para Werewolf yang mengejarnya sudah memperkirakan Kysta akan menggunakan kekuatan Vampir. Mereka masih berlari dengan kecepatan yang sama sedangkan sang raja sudah jauh meninggalkan mereka.
Sepertinya para Werewolf ini sedang merencanakan sesuatu untuk mengimbangi kekuatan Vampir yang mereka kejar.
Tak lama kemudian rembulan mulai menampakkan diri dengan utuh tanpa dihalangi awan. Werewolf yang berada di bawah sudah menantikan saat ini dengan segenap hati agar bisa bersaing kecepatan dengan Kysta. Terkena sinar bulan tubuh mereka menjadi dua kali lebih besar dari sebelumnya. Mata mereka berubah dari hitam menjadi biru. Yang paling depan mungkin pemimpin mereka melolong panjang dengan suara khas serigala.
Seketika kecepatan lari mereka bertambah cepat sama seperti Kysta yang kini sudah jauh di depan.
Raja Kysta terus menambah kecepatan lari sehingga setiap dedaunan yang ia lewati tersibak sangat kuat. Untungnya tidak keluar api. Ia sudah kehabisan akal, kemana lagi harus pergi membawa anaknya ke tempat yang aman? Dengan bulan purnama seperti ini pasti para Werewolf itu akan dapat dengan mudah mengejarnya.
"Tidak ada cara lain, aku harus membawanya keluar perbatasan," Kysta menambah kecepatan lajunya.
Lebih dari satu jam berlari seperti itu akan membuat siapapun pingsan kelelahan dengan kaki yang sudah mati rasa. Namun tidak dengan Kysta, ia tidak rela jika anaknya akan menjadi korban hanya karena dirinya beristirahat.
Akhirnya ia tiba di depan sebuah gerbang yang sangat besar dan tinggi. Di balik gerbang itu tidak lain hanyalah sebuah ruang hitam yang kosong. Tak ada apapun di dalamnya. Dengan memberanikan diri ia melangkah masuk ke dalam. Tubuhnya seolah-olah ditelan gerbang hitam.
Para Werewolf yang tadi mengejarnya tiba-tiba berhenti di tengah hutan.
Pimpinan mereka berkata, "aku sudah tidak bisa merasakan keberadaan Vampir itu lagi."
Salah satu dari mereka menimpali, "aku juga. Baunya juga tiba-tiba hilang"
"Dia pasti sudah pergi jauh. Ayo kita cari dia di kerajaan sebelah!" Mendengar komando dari pemimpin mereka para Werewolf langsung tancap gas meninggalkan hutan.
__ADS_1
...-- Bersambung --...