
Sore hari untuk yang kedua kalinya, Taring menyudahi kegiatan memancing dan berkumpul kembali bersama dengan teman-teman. Hasil pancingan itu ternyata sangat banyak bila Taring lihat dari jumlah ikan yang dia tangkap, mungkin delapan ekor ikan seukuran paha. Dia membopong ikan di belakang punggung sambil berjalan pulang ke goa.
Sesampainya di tempat kemah, Taring melihat setumpuk daging tengah menggantung di atas api. Daging kancil, rusa, antelop, kelinci, tupai dan banyak lagi tengah berjejer dalam posisi terpanggang. Ilfina, Miria, Ula, dan Badak menyambut kedatangannya sambil membawa ikan yang juga tak kalah banyak.
“Taring sudah kembali, ayo sini kita makan,” kata Badak.
Taring menaruh ikan, lalu berkata, “bagaimana kalian bisa mendapat daging sebanyak ini?”
“Oh, tadi kami berburu sebentar di sekitaran sini,” kata Miria dengan tangan enam menjelaskan, “tapi sebagian besar daging ini hasil tangkapan Ula. Dia jago sekali memasang perangkap loh.”
“Ah, itu belum seberapa kok."
“Kalau tau kalian bisa dapat daging segini banyak aku tidak perlu repot-repot memancing.”
“Siapa juga yang suruh mancing?” Kata Ilfina ketus.
“...,” Taring melotot ke gadis bercadar. Mereka berdua saling tatap seakan bermusuhan.
Miria mau tak mau harus menjadi penengah, “sudah-sudah, hasil pancingan Taring juga tak kalah banyak. Sini kita bersihkan dulu.”
Taring menyerahkan hasil tangkapannya pada Miria, tetapi dengan mata yang masih belum berpindah dari melototi Ilfina.
Ula menatap mereka berdua seperti anak kecil yang sedang bertengkar. Sekalipun sering melontarkan kata-kata menyakitkan, tak satu pun dari mereka yang benar-benar mengujarkan kebencian satu sama lain. Lebih seperti gurauan. Sebab itulah wanita dari bangsa Lilua itu hanya bisa memutar bola mata melihat mereka berdua bertingkah seolah sedang mencari-cari perhatian satu sama lain.
Setengah jam kemudian ikan yang dibersihkan oleh Miria sudah ikut bertengger bersama jajaran daging yang sedang dipanggang. Hari sudah malam. Nyamuk serta beberapa serangga lainnya mulai menjadi liar mengganggu telinga mereka yang sedang berkemah dekat goa. Telinga Badak naik turun sejak tadi.
Beberapa potong daging rupanya ada yang sudah matang lebih dulu. Mereka bagi porsi dengan rata menjadi empat bagian sebab seperti biasa, Badak hanya makan rumput yang telah tersedia di tanah. Setelah memberi bagian pada Taring, Miria memberikan sesuatu yang lain.
“Taring, ini silahkan.”
“Darah siapa ini?”
“Ini darah dari hewan yang sedang kita masak. Aku menyimpannya untuk berjaga-jaga kalau nanti kamu butuh.”
__ADS_1
“Oh ... terima kasih. Kalian tahu, sejujurnya saat ini aku sedang tidak terlalu ingin minum darah. Entah kenapa tapi belakangan nafsuku akan darah sedikit berkurang. Aku justru lebih ingin makan daging panggang ini saja. Tapi aku menghargai kepedulianmu, Miria.”
“Itu karena kau sekarang sedang dalam kondisi baik,” kata Ilfina masih dengan mulut ketus, “semakin baik Vampir mengendalikan emosi mereka, semakin bagus pula mereka mengendalikan naluri haus darahnya. Itu sebabnya para Vampir sering dijadikan pemimpin dan bangsawan karena kepiawaian mereka dalam mengendalikan diri. Tapi aku tidak yakin kau cocok menjadi pemimpin sekalipun rasa haus darahmu hilang.”
“....”
“....”
“....”
Semua terdiam. Satu-persatu mulai menimbulkan pertanyaan, sebenarnya ada masalah apa dengan mereka berdua ini?
Kembali Miria mencarikan suasana tegang, “Ilfina, boleh aku bertanya sesuatu?” Katanya setelah menyodorkan seonggok daging rusa panas.
“Boleh.”
“Bisa kamu ceritakan mengenai Inti Leluhur kepada kami? Aku tahu kalau benda ini untuk menjamin keturunan agar tidak punah, tapi kenapa fungsinya bisa sangat dahsyat? Apa ada kegunaan lain?”
Si gadis bercadar meletakan kembali makanannya ke samping. Dia belum ingin memakannya sebab merasa akan bertutur cerita cukup panjang mengenai asal-usul sumber kekacauan ini yang menyebabkan Bourga si raja Werewolf sampai mati-matian untuk merampas benda itu dari mereka. Makannya nanti saja.
“Berkat es dan api yang terus berjatuhan ke Bumi Tengah, tiba-tiba tumbuh sebuah pohon. Pohon itu lama-kelamaan kian membesar dan memiliki buah. Buahnya ada enam, yang dari masing-masing buah itu lahir lah manusia. Mereka adalah leluhur umat manusia dan dewa yang kita sembah sekarang ini.”
“Keenam saudara ini untuk beberapa saat tinggal di bawah pohon kehidupan yang melahirkan mereka. Mereka masih bingung tak tahu harus melakukan apa sebab mereka tak bisa kemana-mana. Mau memulai kehidupan pun susah. Akhirnya mereka sadar, jika ingin memulai kehidupan pohon besar itu harus mereka tebang. Setelah ditebang muncul semburan air yang sangat dahsyat dari bawah pohon yang menyapu seluruh permukaan bumi.”
“Air itu sampai membuat banjir ke seluruh penjuru dunia yang sekarang kita kenal dengan Tragedi Banjir Besar. Dari banjir itu muncul lima pulau tambahan. Lalu mereka sepakat untuk berbagi pulau itu dan memulai kehidupan di sana.”
“Si kakak yang tertua mengambil pulau di barat. Tempat itu tadinya merupakan tempat yang diisi oleh lahar panas. Adik pertama mengambil pulau di utara, tempat yang sebelumnya beku tertutup es dan salju. Adik kedua mengambil tempat di timur. Sedangkan adik ketiga mengambil pulau di selatan. Si adik keempat dan si bungsu mendiami Bumi Tengah bersama.”
“Setelah mendapat tempat masing-masing, mereka mulai mengkloning* manusia agar bisa menjadi penghuni dari masing-masing pulau. Mereka membuat manusia dari tulang rusuk dan menggabungkannya dengan bahan-bahan yang mereka temukan di tempat hunian masing-masing. Kakak tertua mencoba membentuk manusia dari bahan-bahan api dan lahar. Alhasil terlahir lah Orc pertama, sifat dari manusia yang dia ciptakan mengikuti sifat api, keras, barbar, kuat, dan sulit diatur.”
[*] Kloning \= Pembuatan manusia
“Adik pertama yang mendiami bumi utara melahirkan seorang raksasa yang sangat besar setinggi gunung. Itu adalah asal mula dari bangsa Lilua.”
__ADS_1
“Eh, tunggu sebentar,” Ula menyela, “bagaimana bisa leluhur kami dulunya adalah raksasa?”
“Ceritanya belum habis. Adik kedua kemudian melahirkan Elf dan adik ketiga melahirkan bangsa Krairon. Masing-masing dari manusia yang mereka ciptakan memiliki kekurangan. Seperti para Orc yang barbar, Lilua yang terlalu besar dan Krairon yang tak bisa bernapas di permukaan hingga harus tinggal di dalam tanah. Satu-satunya yang berhasil menciptakan manusia sempurna adalah si adik kedua, dia bisa menciptakan Elf dengan sempurna dan memiliki umur panjang.”
“Kakak tertua kemudian menciptakan Orc Alfa agar bisa memimpin manusia barbar di bagian Bumi Barat. Alhasil sekalipun seperti monster setidaknya mereka bisa diatur. Adik pertama juga perlu membuat solusi untuk rakyat raksasa miliknya. Setelah mengamati para raksasa hidup selama beberapa abad akhirnya dia sadar, kalau area Bumi Timur terlalu sempit jika diisi oleh makhluk yang besar-besar. Maka dia pun membuat sebuah pusaka yang mampu menciutkan badan mereka menjadi normal, yaitu Blerit."
“Tapi dia tak bisa menakar berapa besar kekuatan yang dibutuhkan Blerit agar bisa membuat ukuran Lilua menjadi pas dengan manusia normal. Akibatnya dia menggunakan kekuatan alat itu secara berlebihan sehingga badan raksasa yang hendak dinormalkan malah menjadi terlalu kecil.”
“Tapi dari kesalahan si adik pertama, dia memperhatikan sumber daya dari kepulauan Bumi Utara sangat mencukupi dengan ukuran rakyat mereka yang kecil. Karena pada dasarnya area yang dia dapat di bumi utara jauh lebih sempit dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Jadi dia biarkan saja rakyatnya bertubuh mungil mendiami pulau itu.”
“Oh ... jadi begitu asal-usul Blerit dan leluhurku,” Ula mengangguk.
“Untuk adik kedua yang mendiami Bumi Selatan merasa ciptaannya lah yang paling sempurna. Tapi setelah beberapa abad berlalu dia sadar kalau para Elf ternyata jauh lebih kuat saat siang hari ketimbang malam. Jadi dia mengubah sedikit DNA mereka agar bisa beradaptasi lebih baik terhadap cahaya bulan. Sebab itulah ketika malam tiba apalagi ada bulan purnama, Elf menjadi kuat.”
“Sama dengan Werewolf?” Tanya Taring.
“Tidak, Elf tidak sekuat para Werewolf ketika terkena cahaya bulan. Mereka hanya membuat indra kami jauh lebih tajam dan gerakan menjadi lebih gesit saja. Padaku mungkin tak terlalu kelihatan pengaruhnya, tapi pada keturunan utama Elf baru kentara sekali.”
“Terus?”
“Untuk si adik ketiga, dia mengalami masalah yang cukup pelik dari yang lain. Dia tidak menyangka kalau manusia ciptaannya ternyata tak bisa bernapas menghirup oksigen secara langsung dan harus hidup dalam tanah. Maka dia pun mulai bereksperimen. Dia menyuruh salah satu ciptaannya untuk membuat manusia baru tanpa adanya campur kekuatan dari adik ketiga. Salah seorang Krairon coba menggunakan tulang rusuk milik adik ketiga yang sekarang kita kenal dengan Inti Leluhur dengan salah satu tanaman.”
“Oh, jadi maksudmu Inti Leluhur itu adalah tulang rusuk dari para pencipta kita?”
“Yah, mereka yang menciptakan kita menurunkan tulang rusuk mereka pada masing-masing ciptaan yaitu leluhur kita sendiri. Itulah mengapa disebut Inti Leluhur, jika kau memilikinya itu sama dengan seluruh kekuatan DNA ras milikmu ada padamu.”
“Itu sebabnya pemilik Inti Leluhur begitu kuat,” Miria mengangguk memahami.
“Lanjut dari eksperimen adik ketiga tadi, terlahir lah makhluk baru yaitu pohon yang bisa bicara layaknya manusia. Si adik ketiga makin tak mengerti bagaimana lagi agar dia bisa membuat manusia normal. Akhirnya dia menyerah dan membiarkan dua makhluk itu hidup berdampingan bersama. Itulah asal-usul dari Krairon dan Erga.”
Semua terdiam sambil mengangguk. Sekarang mereka mengerti asal mula kejadian leluhur mereka dan sejarah yang selama ini tak pernah mereka ketahui. Tapi dari semua penuturan Ilfina, dia belum menceritakan tentang bagian Vampir dan Werewolf.
“Nah, untuk cerita kedua ras itu ada cerita khusus.”
__ADS_1
...-- Bersambung --...