
“Aku adalah Taring, sang pangeran Vampir, putra dari Raja Kysta.”
“Jadi ... kaulah yang dicari oleh raja kami selama ini.” Kata Vidlan.
Semua yang hadir di sana berdecak kagum melihat satu-satunya keturunan Vampir yang ternyata masih hidup. Semua mengira kalau Vampir sudah punah sepuluh tahun yang lalu saat kudeta dimenangkan oleh Werewolf. Dan sekarang, makhluk bertaring tajam penghisap darah itu muncul kembali ke hadapan mereka sebagai seorang pemuda yang nyaris menjadi bahan pengorbanan. Pastinya Taring tak akan melupakan semua perbuatan yang telah mereka lakukan terhadapnya mereka dengan mudah.
Taring menukik turun dalam sekejap mata membunuh seluruh hadirin di sana. Semuanya satu per satu terlepas kepala berkat cakar dan sobekan dari taring setajam silet. Kaisar Hima yang masih belum tenang akibat melihat anaknya yang putus kepala kini harus memperhatikan seluruh rakyatnya mati. Melihat Taring mengamuk, semua berlari terbirit-birit menjauhi jurang pengorbanan termasuk para pengawal Vidlan. Tapi apa daya, belum sampai lima meter mereka berlari kepala mereka sudah hilang duluan. Tempat itu kini bergenang darah merah.
Gaun Hima sendiri sudah berwarna serupa terendam cairan manusia itu. Jari kakinya hilang terkubur dalam rendaman darah. Setelah puas membantai seluruh warga, Taring menyisakan kaisar Hima seorang diri. Hanya dia satu-satunya manusia yang hidup di sana. Badannya gemetar tak henti-henti sambil berkeringat dingin. Hari ini, malam ini, dia melihat sosok iblis yang sesungguhnya.
Taring membawa Hima ke langit untuk memperlihatkan wujudnya dengan lebih jelas ke bawah sinar bulan yang sangat terang. Sosok yang sejak tadi malam dia siksa hanya karena ditolak tak mau jadi pasangannya sekarang memperlakukan dia layaknya barang murahan dalam arti yang sebenarnya. Dia mulai menyadari kenapa Taring tak tergoda oleh penampilannya. Sekarang posisi sudah berbalik. Hima pucat pasi melihat wajah tampan berdarah milik pangeran Vampir.
“To-tolong ampuni aku ... aku menyesal, tolong ampuni aku, kumohon!”
“Ah, tipikal manusia. Baru tahu langit tinggi atau rendah setelah sadar akan posisi mereka yang lemah. Jika saja kau minta maaf saat sedang mematahkan kakiku, atau menyayat tubuhku, atau menggantungku seperti ternak tadi, akhir dari cerita ini akan berbeda.”
“..., apa kau akan menghisap darahku?”
“Hmm ... kurasa tidak. Aku orangnya pilih-pilih kalau soal makanan. Dan kau, bukan seleraku.”
Prak!
__ADS_1
Remuk sudah tulang leher wanita itu sebab cakar Taring. Dia mati menggantung di angkasa. Tak lama kemudian pria rambut putih itu menjatuhkan mayatnya ke dalam lahar api di dasar jurang. Tubuh Hima hangus tak tersisa.
Tempat upacara persembahan itu kini sepi melompong. Semua yang hadir tadi sudah berlarian masuk ke dalam hutan tak kelihatan lagi. Sekarang hanya ada Vidlan dan Taring. Orc dan Vampir. Tentunya mudah ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Jadi ... haruskah kita...?”
“Kurasa aku tidak punya kesempatan untuk menang melawan pemilik Inti Leluhur yang setara dengan kekuatan raja Werewolf. Tapi aku tidak akan menyerah tanpa perlawanan.”
“Aku berharap kau mengatakan itu.”
Vidlan tersenyum. Dia mengeluarkan kapak besar lalu menghancurkan tanah tempat mereka berpijak. Seluruh area di sana runtuh masuk ke dalam jurang penuh api cair. Taring mengangkat alis, dia tak mengerti kenapa dia malah mencelakai dirinya sendiri sebab Taring sadar dia punya sayap. Sekali pun jatuh dia bisa terbang.
“Ayo kita mati bersama.”
“Jadi begitu cara mainmu.”
Taring memejamkan mata berkonsentrasi tinggi. Seluruh kekuatan yang sudah dia dapatkan dari menghisap darah seluruh penduduk ia kerahkan sampai batas maksimal. Ototnya membesar, taring di mulutnya bertambah panjang, detak jantung menjadi dua kali lebih cepat, darah di nadinya terpompa dengan nada yang sama, pupil mata meruncing tajam seperti mata harimau. Dia mengerang coba merobek tali emas yang mengikatnya. Seluruh urat dan matanya seperti ingin meledak tapi tali emas itu tetap tak putus.
Alhasil karena usahanya gagal, dia melompat ke seberang tebing mencari pijakan yang aman. Orc yang memegang tali pengekang ikutan terlempar ke sana dan selamat. Dia menggantung di tepi jurang sedang Taring sudah berdiri stabil di atasnya. Vidlan coba menarik Taring jatuh ke jurang dengan bersusah payah. Sebaliknya, yang ditarik coba balik menarik Vidlan naik ke atas. Proses tarik-menarik ini terjadi cukup lama tapi tak membuahkan hasil apapun. Keduanya tak ada yang mau mengalah. Kesal karena Vidlan tak kunjung naik ke permukaan Taring memaksakan diri berjalan dengan tenaga terpusat pada kaki. Seluruh tanah yang dia pijak retak menimbulkan getar pada bebatuan di sekitar tempat itu. Tubuh Vidlan kalah tenaga dan mau tak mau harus ikut naik bersama jauhnya langkah kaki Taring yang kini sudah berada pada posisi aman.
Melihat Vidlan sudah naik ke permukaan, Taring berlari masuk ke dalam hutan dengan sangat cepat. Orc yang masih memegang tali ikutan terpental seperti ketapel sebab gerakan Taring begitu dahsyat. Sekarang siapa yang mengekang siapa? Dalam kondisi masih terpelanting begitu, Taring tiba-tiba berhenti diam tak bergerang. Orc yang masih dalam momentum tinggi akan bertabrakan dengan tubuh keras miliknya. Tapi sebelum menabrak dada kekar itu, sebuah kaki sudah lebih dulu menghantam wajah Vidlan hingga dia kembali terpental ke tepi jurang. Tali yang dia pegang pun terlepas.
__ADS_1
Salah satu gigi Vidlan patah setelah menerima tendangan tadi. Hidungnya berdarah. Dia sempoyongan berusaha bangun menjaga posisi tetap siaga. Tapi begitu dia mendongak, sosok pria rambut putih panjang dengan tubuh besar dan kekar sudah berada di hadapannya. Dia siap mengakhiri pertarungan.
“Silahkan, bunuh aku.”
“Aku baru tahu kalau Orc ternyata mampu bertarung cerdas seperti tadi.”
“Maksudmu curang, hah? Kami memang barbar, tapi kami mengerti tentang strategi bertarung. Saat adu kekuatan kalah, di sanalah otak berperan.”
Taring tersenyum salut, “maafkan aku yang telah memandang rendah kaum kalian. Engkau mendapat rasa hormatku.”
Taring menunduk sebentar. Vidlan hendak bangkit ingin mengambil kesempatan untuk menyerang, tapi lagi, kaki Taring lebih dulu menendang mukanya hingga terjatuh bebas ke dasar jurang. Tubuhnya hancur menjadi abu dalam sekejap mata kena suhu temperatur tinggi. Taring menang.
Identitas Taring kini sudah terungkap. Dia mengulangi lagi dosanya seperti waktu itu. Untuk kedua kalinya, dia membantai habis warga disuatu tempat dalam sekejap mata. Padahal Taring sudah tak ingin melakukan ini lagi, dia sudah mengerti sedikit paling tidak tentang nyawa seseorang. Tapi mengingat semua tingkah laku dari penduduk desa yang bobrok seperti ini, memang sebaiknya dihancurkan saja. Apalagi Orc yang mereka sembah kini sudah menjadi bahan persembahannya sendiri. Tak ada masa depan lagi yang bisa diharapkan dari Desa Barat Daya.
Bagaimana nanti jika sampai perbuatan keji itu terlihat oleh Ilfina dan teman-temannya? Apakah mereka masih berpikir Taring teman mereka?
Semua akan terjawab sebentar lagi. Sebab gadis bercadar itu, pada keesokan paginya sudah tiba di desa Barat Daya bersama kawanan. Seluruh desa sepi melompong tak ada orang. Setelah mengitari desa cukup lama masih tak menemukan satu sosok manusia pun. Dia, Miria, Ula, dan Badak mengajukan pertanyaan yang sama:
“Apa yang terjadi dengan desa ini?”
...-- Bersambung --...
__ADS_1