
Pagi hari yang cerah. Taring dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju hutan untuk mencari naga yang bisa terbang. Tujuan mereka tidak terlalu jelas mengarah kemana, akan tetapi para naga sering berkumpul di tempat-tempat tinggi area bebatuan yang jauh sekali dari peradaban manusia. Bermodalkan kompas, mereka coba berjalan lurus ke arah barat.
Dedaunan yang basah terkena embun pagi beberapa kali meneteskan air segar sekali pun tak cukup untuk mengusir dahaga. Suara dari burung penghuni hutan menemani perjalanan mereka di sepanjang jalan. Sekitar setengah jam berjalan, bukannya menemukan perbukitan penuh batu mereka malah tiba di sebuah pantai.
Tempat ini penuh dengan pasir putih sebening kristal dan lautan biru yang sangat luas. Apa pun yang mereka cari, jelas sekali tak ada di sini. Alih-alih naga, yang terbang di atas kepala mereka hanyalah burung Camar. Semua masih enggan melanjutkan perjalanan, apakah tempat yang mereka tuju sudah benar?
Taring maju untuk melihat lebih jelas dimanakah mereka berada. Kakinya sedikit tenggelam begitu menginjak pasir sebab armor yang dia pakai begitu berat. Untuk sejenak dia merasa asing dengan gundukan pasir halus di bawah kaki, ini mungkin pertama kalinya bagi Taring melihat pantai dan laut. Dia berjalan mendekati muka air, lalu meminumnya sedikit. Langsung dia semburkan kembali sebab rasanya sangat asing menggigit di lidah.
“Asin! Apa benar ini tempatnya?” Kata Taring dari kejauhan.
“Kurasa bukan. Tak mungkin ada naga di tempat berpasir seperti ini. Ayo kita coba cari ke arah utara sana.” Miria mencoba mengikuti petunjuk dari kompas. Sebenarnya dia sendiri bingung tengah berada dimana sebab belum pernah dia menginjakkan kaki di tempat ini.
“APA YANG—“
GAP!
“TOLONG...!”
“Taring!”
Seketika tanpa peringatan dari langit muncul burung raksasa dengan panjang nyaris tujuh meter menangkap Taring dan membawanya ke angkasa! Semua langsung panik melihat satu-satunya keturunan Vampir yang harus mereka lindungi hilang di depan mata dalam sekejap. Ilfina mencoba berlari mengejar tapi terhalang oleh lautan.
Taringlah yang paling panik dari semua yang ada di sana. Dia tengah bergelut melepaskan diri dari cengkaraman burung raksasa itu. Namun tenaganya kalah besar. Cakar si burung tetap tak terbuka sekalipun dia sudah meronta sekuat tenaga. Si burung membawanya ke pulau yang ada di seberang lautan. Hewan bersayap itu terbang dengan kecepatan yang sangat cepat sekali. Ilfina dan yang lainnya sudah tak keliatan lagi hanya dalam hitungan menit dia terbang.
“Miria, apa yang barusan menangkap Taring?” Kata Ilfina khawatir.
“Aku tak tau. Itu burung terbesar yang pernah aku lihat.”
“Aduh, bagaimana ini?”
“Tenang Ilfina, kita ikuti kemana burung itu pergi. Kita bisa mengambil jalan memutar mengikuti garis tepi pantai ini.”
Rasa cemas gadis bercadar masih belum mereda. Mereka berlari menyusuri tepi pantai menuju ke tempat di mana burung itu pergi. Sedang Taring, yang dari tadi dibawa burung raksasa sekitar sepuluh menit di angkasa masih belum bisa meloloskan diri. Dia coba memejamkan mata mencoba berkonsentrasi. Ia memasuki mode Vampir.
__ADS_1
Taring panjang di mulutnya menggigit kaki si burung. Burung itu berkeok kesakitan. Teriakannya sangat keras seperti guntur, sampai menimbulkan riak di permukaan air. Taring terlepas dari cakar, lalu jatuh terjun bebas menuju lautan di bawahnya. Tapi dia tidak panik, dengan cepat dia mengeluarkan sayap dari punggung lalu kembali terbang ke angkasa. Dia kembali menemui monster yang telah menculiknya di atas kepala dalam sekejap mata.
Burung yang melihat Taring kembali dalam keadaan terbang di depan mata kaget. Dia seolah tak menyangka bisa melihat manusia bisa terbang. Taring lalu menggaet leher si burung dan menungganginya bagai sedang melakukan Rodeo*. Si burung merasa risih dan terus melakukan manuver untuk menjatuhkan manusia kurang ajar yang ada di punggungnya. Tapi si Taring tetap bergeming di tempat tak bergerak. Dia malah tersenyum merasakan berputar-putar bersama si burung seperti mendapat mainan baru.
[*] Rodeo \= Olahraga kompetitif yang muncul dari praktik kerja menggiring ternak di Amerika. Biasanya kerbau atau banteng yang ditunggangi.
Kesal dengan Taring, si burung coba menukik tajam terjun bebas ke arah lautan. Tapi sebelum sempat menyentuh air, Taring menarik lehernya hingga terdongak ke atas. Perlahan dia kembali terbang naik menjauhi air. Masih belum puas, Taring kembali menolehkan kepala burung ke kiri dan ke kanan secara bergantian.
“Hahaha ... asyik juga ya!”
Layaknya anak sepuluh tahun, dia malah sempat-sempatnya bermain dengan monster yang baru saja menculik dirinya. Pada dasarnya dia memang masih kanak-kanak jadi wajar jika rasa ingin bermain jauh lebih dominan di kepala.
Setelah puas bermain dengan si burung dia lalu berkata, “sudah cukup mainnya. Sekarang aku harus kembali menemui Ilfina dan yang lain. Mereka pasti khawatir.”
Taring menebar pandangan kesegala arah. Dia melihat ada pulau kecil yang tadi hendak di tuju oleh si burung. Di tengah pulau ada gunung tinggi mencuat yang di atasnya berkeliling sekumpulan burung serupa dengan ukuran lebih besar lagi.
“Ah, itu pasti sarangnya.”
Tapi Taring enggan menuju ke pulau itu, dia malah mengambil arah lain untuk segera berkumpul kembali dengan kawanan. Hanya saja....
Dia malah bingung harus pergi kemana. Tak ada petunjuk, semua yang ada di sana hanyalah lautan biru sejauh mata memandang. Dia coba pergi ke arah belakang karena sepertinya dia tadi datang dari arah sana. Sialnya, setelah terbang menunggang si burung sekitar setengah jam masih tak kunjung menemukan pulau juga. Dia tersesat.
Lalu coba berputar mengambil jalan lain ke arah kiri. Akhirnya dia menemukan pulau. Tapi itu bukan pulau yang dia cari, Taring mencari pantai yang berpasir sedang pulau itu malah penuh dengan batu. Karena sudah kepalang dia coba mendarat di sana mencari tahu apakah ada sesuatu. Siapa tahu ada naga yang sedang dia cari.
Beda cerita dengan Ilfina, Badak, Miria dan Ula yang berada di sisi lain pantai tengah berjalan dengan cemas. Dan yang paling cemas adalah Ilfina. Dia berjalan sedikit lebih cepat dari yang lain dengan pandangan mata tajam menilik sekitar. Jantungnya berdetak lebih kencang, sedang kaki menghentak kuat-kuat menginjak pasir pantai. Rekannya yang lain coba mengimbangi kecepatan jalan si gadis bercadar.
“Hei Ilfina, bisakah kau tenang dulu?” Miria menarik bahu Ilfina.
“Apa maksudmu?”
“Kau tak bisa menipu kami dengan wajah seperti itu. Tenanglah, Taring pasti baik-baik saja. Dia cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri.”
“Bukan itu yang aku khawatirkan. Dia satu-satunya harapan kita untuk melawan Werewolf, dia Vampir terakhir. Jika sampai dia tertangkap oleh pasukan kerajaan Bumi Tengah? Atau sampai tewas dimakan monster? Atau sampai—“
__ADS_1
“Ilfina ...,” semua diam memandang gadis itu. Ilfina berhenti bicara seketika, “kamu yakin hanya itu alasannya? Kami juga khawatir dengan Taring, tapi aku rasa kekhawatiranmu jauh lebih besar daripada yang kami milikki.”
“Yah, untuk sesaat kau terlalu bertingkah berlebihan.” Ula menimpali.
“....”
Badak kemudian ikut memberi tatapan yang sama kepada Ilfina. Memang benar dari tadi gadis itu bertingkah lebih dari biasanya. Dirinya yang kalem dan sedingin es kini lebih berapi-api dan penuh emosi.
Ilfina menarik napas dalam, lalu berkata, “mungkin kalian benar aku terlalu berlebihan. Sejujurnya, saat bersama Taring aku merasa seperti memiliki adik kecil yang perlu diasuh dengan benar. Melihat tiba-tiba dia ditangkap monster seperti tadi, aku sangat khawatir padanya.”
Miria maju mendekati Ilfina, “tenang saja, dia mungkin berusia sepuluh tahun, tapi dia bukan orang yang lemah. Dia Taring. Kita tahu tak mudah untuk mengalahkan orang seperti dia. Kita pasti akan menemukannya nanti. Berdoa saja agar semua pikiran burukmu itu tidak sampai terjadi padanya, mengerti?”
Ilfina mengangguk. Kini dirinya sedikit lebih baik dan tidak terlalu terbawa emosi seperti tadi. Taring memang masih kanak-kanak dan perlu seseorang untuk membimbingnya. Mungkin sebab itulah Ilfina ingin mengisi peran itu, menunjukan sisi terang kehidupan dengan sering membantu orang dan menjauhi sisi jahat. Jika Taring malah menjadi musuh bagi mereka nanti, Ilfina lebih baik tak pernah bertemu dengan dia seumur hidupnya. Dengan begitu akan jauh lebih mudah menghadapinya tanpa ada perasaan yang campur aduk.
...***...
Sementara itu, Taring sendiri tengah terbang mengendarai seekor burung raksasa di atas pulau yang penuh bebatuan. Setelah berkelana beberapa kilometer akhirnya ada juga hutan yang terlihat. Dia langsung mengajak burung itu pergi ke lahan yang jauh lebih hijau di depan sana.
Seharusnya Taring tak pernah pergi mengunjungi hutan itu, sebab begitu dia terbang di atasnya, ada sebuah anak panah melesat dari dalam hutan mengenai burung kendaraannya. Burung itu langsung terjatuh begitu juga dengan Taring yang kini panik tak sempat mengeluarkan sayap.
Gubrak!
Setelah membentur beberapa ranting pohon hingga patah, dia mendarat di tanah dengan kepala lebih dulu sedang burung yang dia tunggangi nyangkut di atas pohon. Kepala Taring sedikit benjol tapi hanya luka rringan
"Aw...."
Sambil mengusap kepala yang sakit dia menelisik siapakah yang bertanggungjawab telah menjatuhkannya dari langit.
Kira-kira lima meter ke depan, dari balik pohon muncul seorang pemuda yang terlihat seumuran dengan Taring sedang memegang busur, di belakangnya bertumpuk sekumpulan anak panah. Ada bulu burung elang menghiasi kepalanya. Dia melihat Taring dengan pandangan biasa.
Begitu si pemuda berjalan mendekat, Taring malah siaga dan mengeluarkan cakar panjang.
“Siapa kau?”
__ADS_1
...-- Bersambung --...