Darah Merah

Darah Merah
Perburuan Naga


__ADS_3

“Tolong bantu selamatkan bangsaku.”


Ilfina coba menghentikan wanita mungil itu bersujud, “oh jangan, kumohon angkat kepalamu. Nah, iya begitu,” gadis bercadar itu menyeka air mata yang mengalir dari pipinya, “tenangkan diri dulu. Namamu siapa kalau boleh tau?”


“Nama saya Ula, istri dari mendiang tetua bangsa Lilua bernama Luat. Telah lima tahun bangsaku dikuasai oleh para Werewolf. Mereka datang ke negeriku untuk mengambil Inti Leluhur yang ada pada anakku."


"Saat ini aku tidak tahu apakah putraku masih hidup atau tidak. Aku bisa selamat sebab aku berhasil melarikan diri menggunakan kapal yang biasanya mengangkut bahan-bahan tambang dari negeri Krairon–Erga. Itu sebabnya aku bisa berakhir disini. Aku telah menyaksikan sendiri kekuatan kalian, kumohon hanya kalian satu-satunya harapanku.”


Ilfina tersenyum selembut sutra bagai seorang ibu yang mengasihi anaknya, “ aku tahu betul apa yang engkau rasakan. Jangan khawatir, kami akan berusaha semampu kami untuk membantu kalian.”


Gadis itu kemudian menoleh ke Taring, “lagi?” kata Taring begitu bertatapan dengan Ilfina.


Taring menghela napas panjang. Percuma berdebat dengan orang yang mampu membuat matahari mini jika dia sudah memutuskan sesuatu. Sekalipun Taring bersikeras, pasti mereka akan berdebat panjang yang ujungnya malah akan membuat mereka bertengkar seperti sebelumnya dan Taring sedang tak ingin hal itu terjadi.


Di pikiran Ilfina, dengan membantu mereka yang tertindas, berarti sama dengan melakukan gerilya secara diam-diam. Dia ingin menunjukan kalau masih ada warga pemberani yang akan menentang segala kekejaman para Werewolf. Karena itu dia akan dengan suka rela membantu siapapun yang bisa dia bantu.


“Raja Atalus yang terhormat,” kata putri Miria, “saya mohon ijin untuk ikut dalam perjalanan mereka membantu bangsa Lilua. Saya takut jika terus berada di kerajaan ini para Werewolf nantinya akan melakukan serangan dalam jumlah besar untuk mendapatkan Inti Leluhurku. Akan jauh lebih aman jika aku bersama mereka.”


Membicarakan hal seperti itu kepada sang raja sewaktu makan memang kurang sopan, tapi Raja Atalus bukanlah raja yang kaku, “jika berkehendak demikian kurasa memang lebih baik kamu ikut dengan mereka. Aku yakin nak Taring, Ilfina dan Badak mampu melindungimu. Aku juga akan melatih beberapa prajurit yang siap bertempur mempertahankan kerajaan kita. Aku merasa perang besar nantinya cepat atau lambat akan segera terjadi.”


Setelah acara makan, Taring, Ilfina, Badak, Miria dan Ula pergi menuju goa tempat tinggal para Krairon sebelumnya. Di gerbang istana milik raja Atalus, Taring sempat melihat ada beberapa patung yang sedang di pasang di sana, yaitu patung mereka bertiga yang terbuat dari logam hitam. Taring berpose telanjang dada dengan gagah sedang Ilfina sendiri berdiri dengan anggun layaknya dewi yang di puja oleh para pengikutnya. Badak berada di samping mereka berdua bagai kuda sang kesatria.


Tidak buruk, pikir Taring.


Sesampainya di goa, Miria bertemu dengan Larga untuk membicarakan sesuatu. Kali ini mereka masuk ke dalam tanah jauh lebih dalam dari sebelumnya sampai membuat udara semakin sedikit untuk dihirup.


“Aku mengerti,” kata Larga begitu mendengar penuturan Miria.

__ADS_1


“Selama aku pergi, kau yang akan mengambil alih kepemimpinan di bangsa Krairon. Kau tidak keberatan kan?"


“Dengan hormat aku akan menerima tanggung jawab ini. Sebelum itu, aku punya beberapa hadiah kecil untuk teman seperjalananmu.”


Larga menyerahkan setumpuk baju besi hitam kepada Taring, Ilfina dan Badak, “ini adalah baju Antruma yang dimodifikasi menjadi zirah. Fungsinya tak jauh beda dengan baju sebelumnya tapi lebih kokoh untuk berjaga-jaga jika nanti kalian menghadapi pertarungan yang tak diinginkan.”


Mereka bertiga menerima baju itu dan pergi ke kamar masing-masing untuk memakainya. Saat hendak memasuki kamar--


“Woah apa itu?” Taring terkejut melihat binatang besar di belakang Larga.


“Oh ini adalah Trondalo, sejenis naga yang biasa kami pakai untuk menggali tanah. Pernah dengar istilah bumi berongga? Nah itu semua berkat binatang ini.”


“Ada banyak jenis naga di dunia,” Ilfina menjelaskan, “berbeda dengan naga yang ada di permukaan tanah, naga jenis ini jinak dan tak punya kaki maupun sayap. Bentuk mereka lebih mirip dengan ular dan tak bisa mengeluarkan api dari mulutnya, ya kan?”



Sekitar lima menit kemudian mereka semua kembali berkumpul dengan memakai zirah masing-masing. Sekarang mereka kelihatan jauh lebih tangguh dari sebelumnya.


Taring kelihatan gagah dengan memakai zirah hitam. Ada sedikit campuran emas menghiasi baju besi itu menimbulkan kesan mahal. Ditambah baju itu pinya mekanika khusus pada bagian belakang, dimana ketika dia mengeluarkan sayap, zirah otomatis akan terbuka sehingga sayap Taring bisa keluar bebas tanpa merobek baju.


Punya Ilfina sedikit lucu, ada semacam bulu tebal melingkar di lehernya berwarna putih, dibandingkan memakai zirah, miliknya lebih mirip baju fashion kekinian ala model-model kerajaan. Tetap dengan cadar tak lepas di wajah.


Badak sendiri kelihatan jauh lebih tangguh dan jantan sekali. Selain badan, cula di hidungnya juga dilapisi semacam logam berwarna keemasan yang menyala. Ada kapak lipat portabel yang bisa disimpan di sabuk pinggang.



Lain halnya dengan Miria, wajahnya kini tak kelihatan sebab ada helm pelindung yang menutupi. Tubuhnya kini benar-benar habis dilahap oleh baju besi hitam dengan garis-garis emas. Walaupun dengan tangan enam dan badan yang sangat besar, semua zirah itu menempel dengan kokoh di badannya. Semua yang hadir di sana kecuali Larga sedikit kebingungan kenapa dia memakai zirah sebanyak itu.

__ADS_1


“Oh kalian pasti heran ya? Di luar sana aku tidak bisa menghirup oksigen terlalu banyak makannya aku butuh helm ekstra. Ditambah tak banyak makhluk permukaan yang terbiasa dengan rupa kami para Krairon, siapa tahu nanti ketika melihat wajahku mereka malah panik dan aku tak ingin mereka sampai melemparku ke udara.”


Ilfina yang paling tersinggung mendengar kata-kata Miria. Wajahnya memerah mengingat kejadian sewaktu dia pertama kali melihat wujud Krairon di goa ini hingga menyebabkan insiden patahnya tangan salah satu dari mereka.


“Emmm ...,” Ilfina menutupi wajahnya tak tahan dengan rasa malu. Dia mengeluarkan suara tinggi lucu seperti anak kecil. Semua yang hadir di sana seketika tertawa terbahak-bahak.


Mereka kemudian keluar goa dengan penampilan yang sudah mumpuni menghadapi bahaya. Di atas bukit nampak empat orang berpakaian penuh lapis baja kelihatan tangguh sekali. Tapi ada satu masalah kecil, bagaimana mereka akan pergi ke kerajaan Lilua di utara sana?


“Pakai sihir Ilfina ya kan?” Kata Taring.


“Apa kau tidak ingat kejadian kita sewaktu tiba disini? Bagaimana jika nanti aku berteleportasi ke sana lalu kita tiba di tempat yang berbahaya? Aku pasti akan kehabisan tenaga duluan sebelum kita berhasil menyelamatkan diri.”


“Yah, dalam keadaan normal kami biasanya menggunakan jalur laut untuk mengantar bahan tambang,” Larga menimpali.


“Masalahnya sekarang keadaan sedang tidak normal. Jalur darat juga tidak mungkin. Pasti para Orc akan mendapatkan kita lebih dulu.”


“Hanya tersisa satu cara,” kata putri Miria menyita perhatian semua orang, “kita akan pakai jalur udara.”


“Huh? Bagaimana caranya? Aku tidak mau mengangkut kalian semua ke sana sekalipun aku punya sayap loh.”


“Bukan itu, kita akan memakai naga yang bisa terbang.”


Lalu dimulailah perburuan naga yang bisa mereka jadikan kendaraan terbang untuk sampai ke tanah para Lilua. Tadinya semua mengira kalau misi mencari naga akan lancar sebab ada pawang yang ahli dalam menaklukan mereka yaitu Miria. Tapi itu untuk urusan naga bawah tanah yang jinak. Mereka belum melihat kemampuan naga permukaan yang sudah berevolusi dari zaman ke zaman. Senjata sekuat apapun tak mampu menembus kulitnya, belum lagi napas api yang siap memanggang mereka hidup-hidup.


Tak ada yang sadar kalau misi mereka kali ini adalah misi bunuh diri!


...-- Bersambung --...

__ADS_1


__ADS_2