
Di kerajaan Bumi Tengah para Orc sedang berkumpul di depan istana milik Bourga dalam jumlah besar. Mungkin ribuan. Sebagian ada yang terluka, sebagian lagi berbaris rapi di tengah lapangan dikawal oleh prajurit Werewolf.
Lain halnya di dalam istana, Bourga dan Qimba, si raja Orc tengah berbincang serius. Masing-masing mengenakan pakaian kebesaran dari kerajaan, menunjukkan wibawa yang angkuh serta harga diri yang tinggi.
“Dimana Inti Leluhur bangsa Elf?” Kata Raja Bourga.
“Maaf kami belum bisa mendapatkannya. Anak buahku sudah mencari ke seluruh pelosok negeri Elf dan membantai siapapun yang mereka temui tapi tetap saja tak menemukan pemilik dari Inti Leluhur. Aku berjanji akan menyerahkannya padamu begitu kami menemukannya.”
“Kalau begitu kenapa kau menemuiku jika belum dapat?”
“Yang mulia Bourga, pasukanku sudah banyak habis dalam perang melawan Elf kemarin. Akan jauh lebih efektif jika engkau mau meminjamkan pasukan Werewolfmu pada kami. Setidaknya pencarian Inti Leluhur bisa dilakukan lebih cepat dengan korban yang sedikit.”
“Kau tau Qimba, aku menghargai bantuanmu yang secara sukarela mau beraliansi denganku. Tapi aku benci kegagalan. Kegagalan adalah bukti ketidakmampuan seseorang dalam berbuat sesuatu. Tak peduli seberapa banyak pengalaman yang kau dapat dari kegagalan, gagal tetaplah gagal,” Bourga datang menghampiri raja Orc, “tapi ada hal lain yang lebih aku benci dari kegagalan, kau tau apa itu?”
Raja Qimba hanya terdiam, dia terintimidasi oleh kuasa milik Bourga yang kini cuma beberapa sentimeter dari mukanya. Mata Bourga berubah meruncing seperti mata harimau menatap Orc di depan penuh amarah.
“Yaitu orang yang ingkar janji. Sebelumnya kau berjanji akan mendapatkan Inti Leluhur milik Elf sendirian dan kau secara terang-terangan mengaku mampu melakukannya. Tapi kau pulang dengan tangan kosong. Akan kuberikan sedikit bantuan dari prajuritku, tapi jika sampai kau menemuiku lagi dalam keadaan belum menemukan Inti Leluhur itu, aku akan memenggal kepalamu di hadapan rakyatmu sendiri, mengerti?”
Qimba tak bisa berkata apa-apa. Baginya ancaman Bourga adalah serius, dia bukan pria yang suka bermain dengan kata-kata. Tanpa banyak berbuat, raja Orc hanya bisa pergi meninggalkan ruangan dalam keadaan membisu.
...***...
Taring dan kawan-kawan mulai melakukan perjalanan ke dalam hutan. Sekitar tiga jam berlalu entah mereka masih di area kerajaan atau bukan tak seekor naga pun mereka jumpai. Hari sudah mulai sore dengan cahaya redup ke kuningan di barat. Padahal hari masih jam dua siang tetapi matahari sudah hilang tenggelam.
Saat itulah dari timur perlahan muncul cahaya baru yang sama terangnya dengan matahari. Itu adalah matahari buatan milik Ilfina. Sekalipun sudah sore dan matahari nyaris terbenam, nyatanya matahari buatan mini itu mampu mengusir malam yang tiba sebelum waktunya. Karena ketidakwajaran inilah maka matahari buatan diciptakan untuk membenarkan hari yang sudah terpotong durasi.
Ilfina tersenyum melihat ke langit mengetahui matahari buatannya bekerja dengan baik.
“Jadi ...,” kata Taring sambil melototi gadis itu, “kenapa kau memakai kain di wajahmu? Apakah ada sihirnya?”
“Maksudmu cadar ini? Tidak kok, ini kain biasa. Aku memakainya hanya sebagai simbol, simbol agar aku selalu menjaga mulut dan mengatakan hal yang baik-baik saja. Kenapa? Tidak suka ya aku pakai ini?”
__ADS_1
“Bukan itu, kalau memang fungsinya untuk menjaga bicaramu kurasa sebaiknya kau pakai cadar yang lebih banyak. Perkataanmu masih sering menyakitkan.”
Ilfina berhenti berjalan, pipinya menggembung kepada Taring seperti anak kecil tak kebagian es krim, dia ngambek.
“Tapi ...,” kata Taring sambil menyembunyikan wajah, “aku suka kok. Menurutku kau lebih seksi dengan memakai itu.”
Dari pipi menggembung itu berubah menjadi merah merona. Ilfina bagai diguyur seember air mendengar apa yang baru saja Taring katakan. Dia salah tingkah, malu dan kesal disaat yang bersamaan. Kepalanya kosong tak bisa banyak berpikir.
Bonk!
Saking kosongnya kepala, dia sampai menabrak badan Badak yang tiba-tiba berhenti berjalan. Hidung Ilfina memerah kena zirah.
“Aduh! Badak kenapa berhenti?”
“Makannya saling rayunya nanti dulu,” kata Ula marah di depan memimpin kawanan, “aku bilang sebaiknya kita istirahat dulu di sini. Perjalanan terlalu berbahaya jika dilakukan pada waktu malam. Matahari buatan itu hanya akan tahan beberapa jam saja sebelum pergi lagi.”
“Dia benar,” kata Miria, “ini bukan lagi kawasan Erga. Banyak monster dan binatang berbahaya pada malam hari. Kita berkemah di sini.”
Taring dan Ilfina saling pandang dengan tatapan mengernyit. Bukannya keberatan untuk berkemah, tapi tak setuju dengan salah satu kata dalam kalimat yang dilontarkan Ula barusan.
Tanpa Taring sadari—sebab terlalu asyik dengan Ilfina—mereka tiba di depan mulut goa mini. Di sampingnya ada aliran sungai kecil yang tidak terlalu deras. Badak mengumpulkan beberapa kayu bakar. Miria dan Ula melihat ke dalam goa apakah ada binatang beracun atau tidak. Setelah dikira semua aman mereka masuk dan mulai membersihkan jaring laba-laba yang memenuhi atap goa.
Miria membentangkan kain merah muda yang cukup untuk menjadi alas. Lalu dia melepas helmnya dan bersandar ke dinding menghirup udara dengan santai. Ula juga melakukan hal yang sama.
“Semua aman, kita bisa tidur disini malam ini,” kata Miria.
Badak masuk membawa tumpukan kayu bakar dalam jumlah banyak, lalu berkata, “sebaiknya kita cari makanan. Kalau tidak nanti Taring bisa mengamuk tengah malam.”
“Yah benar,” Ilfina membenarkan, “ada Vampir disini. Jaga darah kalian semua agar tidak kering di pagi hari.”
Semua menatap Taring penuh curiga. Mulut pria itu meruncing tajam mengejek Ilfina. Memang benar sempat ada insiden dengan kebiasaan haus darah milik Taring. Tapi entah kenapa saat ini dia merasa tersinggung.
__ADS_1
“Ya sudah! Aku mau memancing ikan saja di sana.”
Taring melengos pergi sambil menghentakkan kaki kuat-kuat. Sekalipun dia bilang ingin memancing, semua masih curiga apa benar dia mau memancing? Bahkan peralatan pancing saja dia tidak punya. Terutama Ilfina yang paling curiga, dia lalu berkata, “apa dia tau cara memancing?”
Semua serempak menggeleng tidak tahu. Ingat! Taring masih bocah berusia sepuluh tahun, dia masih kanak-kanak dengan sifat yang kadang masih 'kekanak-kanakan' juga. Selama ini dia hidup sebagai barbarian dengan makan daging mentah sejak bayi, tiba-tiba bilang ingin memancing? Wajar saja kalau Ilfina bertanya.
Ilfina lalu menyusul pria kekar yang berwajah anak-anak itu sendirian ke arah sungai. Dilihatnya Taring sedang menggali sesuatu di tanah dengan kuku. Taring sadar aroma khas milik Ilfina yang sangat harum berada di belakangnya sekalipun tidak menoleh. Begitu gadis bercadar mendekat, Taring menoleh ke belakang sambil memperlihatkan makhluk mengerikan yang tak ingin Ilfina lihat seumur hidupnya.
“Apa ini cukup?”
“KYA!!! JAUHKAN ITU DARIKU!”
GDEBOOM!
Suara ledakan terdengar dari arah sungai. Miria, Badak dan Ula reflek menoleh ke sumber suara, “apa itu?”
“Ah paling dua sejoli itu, sudah jangan dihiraukan,” kata Ula dengan ketus. Badak dan Miria hanya mengangguk saja.
Disisi lain wajah Taring malah hitam-legam-gosong sebab sesuatu yang dia pegang sudah meledak, “yah hangus deh, padahal susah payah aku kumpulkan cacingnya. Kenapa kau lakukan itu?”
“Ma-maaf aku tidak tahan jika melihat cacing. Aku benar-benar jijik dengan hewan itu.”
“Ohhh ... itu sebabnya kau takut dengan Krairon dan mengamuk waktu pertama kali bertemu mereka. Ternyata kau jijik ya ...,” Taring beropini masih dengan wajah hitamnya.
Lalu muncul sebuah ide, ide gila yang terpancar menjadi senyum iblis di wajah Taring, “wah ... ini kalau sampai putri Miria tahu bagaimana ya...?”
Tiba-tiba aura kehitaman mengelilingi tubuh Ilfina, matanya bercahaya sedang tangan menodongkan seruling emas kepada Taring. Pria itu langsung bergidik ngeri dan terdiam seketika, jika bicara mungkin dia bisa mati dalam sekejap.
“Jangan pernah kau katakan hal ini pada siapapun. Jika tidak, kepalamu yang akan meledak berikutnya, mengerti?” suara Ilfina mirip iblis betina yang tengah mengamuk. Taring hanya bisa mengangguk sambil berusaha menelan liur membasahi kerongkongan yang tiba-tiba kering.
Melihat pria itu mengangguk dengan susah payah, Ilfina menarik kembali seruling bersamaan dengan hilangnya aura hitam serta mata bercahayanya. Si gadis bercadar melemparkan sebatang alat pancing kepada Taring lalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Taring merasa habis diteror malaikat maut saja. Dia susah payah menarik napas sambil mengelus dada.
__ADS_1
Seram sekali wanita itu!
...-- Bersambung --...