Darah Merah

Darah Merah
Krairon - Erga (V)


__ADS_3

Monster besar tangan enam, gigi-gigi tajam mencuat keluar dari bibir dengan tinggi badan nyaris tiga meter terbaring di atas meja batu di dalam goa bawah tanah. Ilfina sedang meracik ramuan yang terbuat dari cairan lumut hijau dan jamur yang tumbuh di pinggiran sungai dalam goa.


“Seharusnya ini cukup,” katanya mantap melihat cairan hijau di dalam tabung kaca.


Taring sedang bersiap memegangi keenam tangan monster itu berjaga-jaga dari segala kemungkinan buruk bersama Larga yang menjegal kaki. Ilfina menyiapkan sihir pengikat. Dua tetes dia jatuhkan cairan hijau ke mulut si monster. Masuk ke dalam kerongkongan monster itu terbangun dari pingsan dan meronta-ronta dengan sangat kuat. Untunglah Taring dan Larga mampu mencegah makhluk itu meninggalkan meja.


Ilfina menggunakan sihir pada mata. Dia melihat semua virus yang menghuni badan kini mati di setiap bagian organ tubuh si monster. Untuk mencegah si virus beregenerasi, dia memblokir adrenalin yang bisa membangkitkan kembali virus dengan sihir.


Kini gadis itu memakai tiga sihir disaat yang bersamaan. Untung saja itu hanyalah sihir tingkat rendah hingga bisa dipakai secara bersamaan.


“Hah? Apa yang terjadi? Dimana aku?” Ajaib! Monster itu sembuh berkat ramuan hijau milik Ilfina. Virus di dalam tubuhnya juga tak bangkit kembali, mati secara permanen.


“Kau sudah sadar? Kau ingat siapa dirimu?” Tanya Ilfina lembut.


“Aku Miria, dari bangsa Krairon,” sulit dipercaya ternyata dia adalah perempuan. Membedakan gender dari bangsa Krairon ternyata tidak mudah.


Hmmm, penawarnya bekerja, tapi tubuhnya tidak kembali seperti sedia kala, Ilfina berpikir.


“Oh, Andakah putri Miria?” Kata Larga yang sudah melepaskan kaki Miria, “maaf kami tidak bisa mengenali tuan Putri dengan penampilan seperti ini. Perkenalkan ini adalah Ilfina dan Taring, merekalah yang telah membantu menyelamatkan Anda.”


Miria menatap mereka berdua secara bergantian. Lalu tanpa sepatah kata pun dia turun dari batu dan tersungkur ke tanah tak mampu berdiri. Ilfina refleks menangkapnya.


“Tolong, siapapun hancurkan dinding ini,” kata Miria menunjuk salah satu tembok goa.


Taring maju ke depan. Dia mengambil ancang-ancang dan—


Keplar!


Tembok hancur berkeping-keping terkena satu kali tinju miliknya. Di balik dinding terdapat ruangan ekstra dengan berbagai macam peralatan, "aku sengaja menyimpan semua ini kalau-kalau ada penolong yang bisa membantu bangsa kami dari semua keterpurukan ini.”


“Tidak mungkin ...,” Larga melongo ketika memasuki ruangan, “semua ini ..., bukankah ini hasil penelitian dari pamanku?”


“Ayahku dan Raja Atalus, pemimpin bangsa Erga yang sekarang, menyimpan seluruh salinan dari pekerjaan pamanmu. Aku belum sempat memberitahumu saat Werewolf keparat itu menangkapku untuk dijadikan bahan eksperimen. Syukurlah dia tidak pernah menemukan tempat ini. Semoga ini bisa membantumu nak Ilfina, semua yang kamu perlukan tersedia disini.”

__ADS_1


Ilfina memberi hormat kepada tuan putri bangsa Krairon lalu mulai membuat ramuan penawar virus Mantha. Kali ini dia mengkombinasikan pembunuh virus dan pemblokir adrenalin dalam satu ramuan, dengan begini jauh lebih efektif.


Miria melihat Taring dengan seksama, dia merasakan kekuatan luar biasa dari pria itu. Taring mendapati dirinya ditatap langsung gelapan memberi hormat seperti yang dilakukan Ilfina barusan. Mereka bertiga bersandar melihat si gadis bercadar mulai bekerja dari belakang menunggu penawar virus Mantha jadi.


“Jadi ... nak Taring yah,” kata putri Miria, “aku merasakan sesuatu yang berbeda darimu."


“Yang Mulia, dia ini adalah keturunan Vampir terakhir.”


“Benarkah itu nak Taring? Seingatku Vampir punah sepuluh tahun yang lalu.”


Taring menarik napas panjang, dia semakin tidak enak ketika orang lain terus memanggilnya Vampir, “selama sepuluh tahun aku hidup sendirian di dalam hutan di balik portal hitam yang berada di Bumi Tengah.”


“Tunggu? Maksudmu portal hitam yang berada di pinggiran kerajaan? Bagaimana kau bisa hidup di sana? Tempat itu luar biasa berbahaya.”


“Entahlah, tapi sejak bayi aku memang tinggal di sana sendirian. Aku hidup dengan meminum darah dari setiap hewan yang aku temui, sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan monster seperti yang kalian bicarakan."


"Aku keluar dari portal itu karena sudah tak ada lagi hewan tersisa yang bisa aku makan. Pengalaman pertama ke dunia luar aku nyaris dimangsa oleh Werewolf yang sangat besar, tapi aku berhasil membunuhnya."


"Setelah itu aku dijual oleh tante-tante yang tinggal di kota seharga lima puluh keping koin. Pengalamanku beberapa minggu lalu benar-benar seperti mimpi buruk saja. Lalu aku kabur dari kota dan tak sengaja bertemu dengan Ilfina saat sedang mencari makanan. Oh ya, aku juga bertemu Badak di sana.”


“Bagaimana kau tahu semua itu?”


“Dulu sewaktu raja Werewolf, Bourga melakukan kudeta dia membantai seluruh keluarga Vampir sampai tak tersisa termasuk ayah dan ibumu di malam saat kau lahir sepuluh tahun yang lalu."


"Tapi Bourga tak pernah bisa menemukan anak terakhir dari raja Vampir. Dia terus mencari dan mencari sampai ke semua benua kerajaan tapi tak menemukannya. Dan kini, kau hadir di tanah kami sebagai penyelamat. Kau tidak tahu betapa berharga nyawamu nak.”


Taring tak bisa berkata apa-apa. Dia bingung bagaimana dia harus menanggapi perkataan yang sama seperti yang dilontarkan Ilfina waktu itu. Rasanya nyawa Taring kini sudah bukan miliknya lagi.


“Selesai!” Ilfina berseru penuh kemenangan dengan memegang botol terisi cairan hijau, “sekarang kita hanya perlu mengetesnya. Taring, kemarilah.”


“Hah? Kenapa aku?”


“Virus di dalam tubuhmu masih belum hilang. Cepat sebelum kau menjadi gila seperti tadi.”

__ADS_1


Dengan sungkan Taring menerima cairan hijau itu dan meminumnya. Tiba-tiba tubuhnya menjadi tegang.


Prank!


Botol kaca yang dia pegang terlepas. Matanya melotot tajam, lalu dia mencekik lehernya sendiri sebab tak tahan ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul. Dia terjatuh ke lantai berusaha mengatur napas.


Tidak bisa, rasa sakitnya kian menjadi-jadi tak tahu harus kemana lagi. Dia ingin meronta menghempaskan seluruh rasa sakit ini keluar tubuh. Tapi jika dia lakukan tempat ini akan hancur dan semua peralatan penting di sana terbuang sia-sia.


Lagi dia kembali berlari keluar goa. Di sana ada Badak yang tengah menjaga pintu masuk, dia melambaikan tangan begitu melihat Taring berlari ke arahnya. Tapi Taring tak memperdulikan Badak.


Ilfina, Larga, dan Miria mengekor dibelakang. Begitu keluar goa, dia tersungkur pada sebuah batu, bagian punggungnya sakit bukan main. Lalu dari rasa sakit itu perlahan muncul dua tonjolan yang sangat besar. Rambut Taring perlahan rontok dan berubah warna menjadi putih terang.


Debu merah pekat mulai menyelimuti dirinya. Kini Ilfina yang paling khawatir dari semua yang hadir di sana sebab tak bisa melihat tubuh Taring di balik kabut. Yang terlihat hanyalah gumpalan debu merah pekat.


Gumpalan itu perlahan terangkat naik ke langit. Semua mata melotot tak mau melewatkan kejadian luar biasa itu sedetikpun. Suara Taring berteriak sangat kencang mengguncang langit malam.


Semua monster yang hadir di bawah lembah melihat apa yang terjadi pada tubuh Taring di atas puncak pegunungan, tapi tak satupun dari mereka berani mendekat. Malah sebaliknya mereka bergerak menjauh dari pegunungan.


Mendengar keributan bukan main, orang-orang penghuni goa seberang juga ikut keluar melihat ada kejadian apa di atas kepala mereka.


Prash!


Gumpalan debu merah hilang dalam sekejap. Berganti dengan sosok badan kekar yang sudah tak berbaju lagi, otot dadanya berkilau ditabrak cahaya bulan, hanya bagian celana saja yang bisa menutupi badan agar tidak telanjang.


Rambut berubah putih dengan panjang sebahu, taring keluar dari mulut dan matanya berwarna merah darah. Ada sebuah sayap keluar dari punggung pria yang tengah mengambang di langit itu. Sayap hitam mirip dengan sayap kelelawar yang sangat besar. Wujud Taring berubah total saat dia memasuki mode Vampir.


“Kysta,” kata Larga seraya masih melihat ke langit.


“Yah, wujud itu mirip sekali dengan Kysta yang aku kenal,” Miria, air matanya perlahan keluar tak tertahankan melihat pemandangan nostalgia yang sudah lama ia nantikan, “sang raja Vampir telah bangkit kembali.”


Perlahan Miria dan Larga membungkuk memberikan rasa hormat kepada makhluk Agung yang mereka harap menjadi penyelamat dari tindak kekejaman Werewolf. Melihat mereka berdua melakukan itu, semua bangsa Krairon ikut menundukkan kepala mereka. Taring kini sudah bagaikan dewa yang disembah di atas langit.


Perlahan dia kemudian turun. Kaki menyentuh tanah, Taring melihat sekitar sambil mengernyitkan dahi tak mengerti kenapa para Krairon berlutut kepadanya.

__ADS_1



...-- Bersambung --...


__ADS_2