
Taring berkedip beberapa kali tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, “ka-kau punya Inti Leluhur? Bagaimana bisa? Kau hanya separuh Elf.”
“Aku juga tidak tahu. Biasanya memang Inti Leluhur diturunkan pada keturunan utama tapi kali ini malah aku yang mendapatkannya. Ini sebabnya aku kabur dari negeri Elf sebab aku diincar para Orc. Pastinya teman dan keluargaku di sana tak ada yang selamat. Ingat waktu pertama kali kita bertemu? Mereka terus mengejarku bahkan ketika aku sudah pergi sangat jauh sampai ke Bumi Tengah. Makannya kita bisa berpindah kesini.”
“Pantas saja kau begitu kuat dalam hal sihir. Selama ini kau punya kekuatan yang setara denganku.”
“....”
Ilfina sempat sedih mengingat kembali kejadian yang mempertemukan mereka berdua. Luka yang lama berdarah kembali, “yah, dengan begini setidaknya kita sudah mempunyai seluruh bahan yang dibutuhkan, ya kan?” Taring mencoba optimis.
Ilfina tak menjawab. Dia hanya menunduk menyembunyikan ekspresinya.
Baiklah, mereka semua termasuk bangsa Krairon sudah punya kesemua komponen yang dibutuhkan oleh Ilfina untuk membuat matahari buatan. Mereka saling membahu satu sama lain mengumpulkan setiap bahan tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Mereka bekerja dengan giat tanpa istirahat. Para Krairon memang hobinya bekerja.
Tiga hari tiga malam mereka terus menyiapkan semua bahan-bahan sebanyak mungkin. Emas, kristal, Kraiman, sampai uranium semuanya telah tersedia dengan cukup.
“Sebelum mulai,” kata Larga, “kalian pakailah baju khusus ini. Ini adalah baju Antruma, baju ini mampu menjaga kalian dari suhu panas yang sangat tinggi. Bahannya terbuat dari Kraiman juga, tapi lebih dibuat fleksibel untuk dipakai sebagai baju.”
Mereka bertiga dengan baju putih kemilau dari logam yang kekuatannya enam kali titanium siap membawa seluruh persiapan ke padang rumput.
Logam Kraiman menjadi penadah di bagian dasar tempat meletakan energi yang nantinya akan terhasil dari uranium. Bentuknya seperti mangkok raksasa. Sedang di atas ada semacam kaca tebal menjadi atap yang terbuat dari kristal Quartz untuk memblokir adanya kebocoran energi.
Uranium dan emas mereka tumpuk di tengah mangkok Kraiman. Ilfina menjaga jarak sekitar dua meter jauhnya bersama dengan Taring dan Miria siap dalam posisi.
“Baiklah, Taring dan yang mulia Miria, tolong letakan tangan kalian di punggungku.”
__ADS_1
Taring masih ragu apakah dia boleh menyentuh tubuh Ilfina yang sangat elok itu, maka dia hanya menyentuh bagian belakang yang tertutup dengan rambut panjang keunguan miliknya. Miria menyentuh tulang belakang.
Si gadis bercadar berkonsentrasi penuh sambil memejamkan mata. Perlahan aura merah dan hijau dari kedua tangan di belakangnya masuk ke dalam tubuh Ilfina melalui jidat. Jidat Ilfina berwarna merah-hijau-kuning secara bergantian menyerap semua tenaga yang masuk. Tangki hidrogen dibuka oleh Larga, lalu—
Push!!!
Gas putih dingin keluar dari tabung. Telapak tangan kanan Ilfina terangkat ke atas mengumpulkan seluruh gas hidrogen menjadi bola energi, sedang tangan kiri dia letakan di bawah dagu dengan dua jari terangkat. Perlahan tangan kanan turun ke depan dada sambil memegang bola energi warna-warni membentuk simbol yin-yang yang sangat cantik. Bolanya seukuran bola kasti.
Makin lama bola kecil itu kian membesar. Dengan ukuran yang sudah melebihi bola bakset, simbol pada bola itu hilang dan berganti dengan sinar putih terang layaknya sinar matahari. Bola matahari mini, Ilfina masukan ke dalam wadah yang sudah dipersiapkan.
“Berisiaplah!” Ilfina beseru.
Tiba-tiba dia menarik energi dalam jumlah besar dengan sangat rakus dari kedua rekannya di belakang. Taring dan Miria berusaha keras supaya tak pingsan mempertahankan diri agar tak membuat kesalahan fatal.
Mata Ilfina terbuka dengan lebar. Matanya bercahaya kuning di ikuti angin kencang berderu keras. Semua yang ada disana menutup wajah menjaga mata agar tetap bisa menyaksikan pertunjukan cahaya yang tak mungkin mereka lupakan. Cadar Ilfina berayun kesana-kemari dihantam angin, sedang Taring bersama Miria berusaha keras menjaga tangan mereka tetap diposisi.
Wadah yang terisi dengan bola energi tadi makin lama makin bersinar terang dengan ukuran yang sudah sangat besar sebab bereaksi dengan uranium. Dengan bantuan beberapa bubuk emas, radiasi nuklir bisa diredam apalagi kristal Quartz juga ikut berperan mengamankan matahari mini ini agar tidak lepas kendali.
Dengan ukuran yang terus membesar, bola cahaya itu kemudian membumbung ke langit. Sekarang ukurannya sudah lebih besar dari pohon, lebih tepatnya lebih besar dari Raja Atalus.
“Miria!” Ilfina berseru dengan mata yang masih bersinar, “cepat bayangkan seluruh area dari kerajaan Krairon-Erga. Bayangkan kemanakah arah matahari ini akan berotasi!”
“Baiklah!”
Miria memejamkan mata. Kakinya mulai gemetar sebab kekurangan tenaga. Panas dari matahari buatan kini sudah sangat tinggi meskipun sudah berada jauh di udara. Ukurannya sudah mirip dengan matahari asli yang kini tengah bersinar terang di siang hari. Sekarang mereka punya dua matahari.
__ADS_1
Tiba-tiba kepala Ilfina menangkap sinyal yang dikirimkan oleh Miria melalui telepati. Kedua telapak tangannya dia hadapkan pada bola cahaya di langit seolah tengah memegang kendali. Dia gerakan tangannya ke arah barat secara perlahan dengan keringat mengucur deras membasahi wajah cantiknya. Matahari mini mengikuti arah pergerakan tangan gadis itu dan berarak dengan lembut menuju barat.
Ilfina menghentakkan kakinya dengan kuat—
Blaaaarrr!!!
Tubuh Ilfina meledakan aura kuning terang ke segala arah. Miria dan Taring sampai terpental sangat jauh dengan tanah yang diinjak Ilfina hancur lebur.
“Arrrggh!!!” Ilfina mengerang mengeluarkan seluruh sisa tenaganya sampai akhir. Seluruh langit tiba-tiba berubah warna menjadi kuning emas tertutup aura gadis itu.
Tubuh Ilfina ikutan naik terangkat ke udara sekitar lima meter dengan aura yang semakin pekat. Dia mengibaskan tangannya sekuat tenaga seolah sedang melempar sesuatu.
Angin bagai badai berderu dari belakang mengikuti hentakan tangan Ilfina. Bola putih terang di langit kemudian pergi menjauh menuju barat secara perlahan meninggalkan para Krairon. Nantinya bola cahaya itu akan kembali lewat di atas kepala mereka begitu matahari yang sebenarnya sudah terbenam. Dengan begini, mereka tidak perlu kekurangan sinar matahari lagi.
Ilfina menekuk lutut kelelahan akibat mengeluarkan tenaga diluar batas. Tubuhnya masih melayang di udara sambil bercahaya kelap-kelip sebab energi yang keluar dari tubuhnya masih belum terkondisikan dengan baik. Seluruh area kini berwarna kuning emas akibat Ilfina, sampai rumput yang tadinya hijau juga ikutan berubah.
Tempat itu kacau balau, tanah hancur lebur bekas hentakan kaki Ilfina. Tapi semua yang hadir di sana tidak ada yang marah, sebaliknya berkat aura milik gadis itu, hormon dopamin* dari semua orang ikutan naik menimbulkan perasaan senang nan damai. Semuanya perlahan tersenyum seolah mendapat berkah dari dewi hebat yang mampu mengendalikan alam. Ilfina turun perlahan dengan tubuh masih bercahaya.
[*] Dopamin \= Juga dikenal sebagai hormon perasaan baik, adalah salah satu zat kimia dalam tubuh yang berfungsi untuk menghasilkan perasaan senang dan damai.
Lain halnya dengan Taring, dia justru merasakan sesuatu yang lebih. Taring sangat terpesona dengan luar biasa kepada gadis itu. Dia merasa kalau Ilfina jauh lebih cantik dari sebelumnya. Di matanya, wajah Ilfina berkilau indah sampai membuat detak jantungnya tak terkontrol dengan baik. Malah kini mulutnya setengah terbuka dengan mata melotot hebat memandangi Ilfina yang perlahan turun ke tanah secara berlebihan.
Begitu menginjak tanah, Ilfina menyentuh dagu Taring dengan lembut lalu menutup mulutnya, “awas nanti kemasukan lalat,” kata Ilfina sambil berkedip genit.
Manis sekali!
__ADS_1
...-- Bersambung --...