Darah Merah

Darah Merah
Penerus yang Rusak! (lll)


__ADS_3

Kota yang kumuh gaya abad pertengahan dimana kata makmur adalah kurang tepat untuk menggambarkan betapa yang hidup menderita jauh lebih banyak dari mereka yang punya uang dan kekuasaan. Gelandangan, rumah-rumah peyot serta serangga terbang menjadi parasit yang hidup menghiasi kota malang ini. Mari sepakat agar jangan pernah berkunjung ke sini jika hendak berlibur.


Di tengah kota, Mirna menggandeng seorang anak kecil setinggi bahu dengan senyum ramah selalu dia tebarkan setiap saat. Saat bertatap muka dengan orang lain senyum itu kian melebar memberikan kesan menyenangkan bagi mereka yang melihatnya. Taring–nama yang dia berikan kepada si anak–hanya memperhatikan sekitar dengan seksama. Baginya semua yang terjadi di sini sama sekali baru.


Belum pernah dia melihat manusia sebanyak ini dalam satu tempat. Semuanya berlalu-lalang sibuk mengerjakan urusan mereka masing-masing. Ada paman-paman yang beberapa kali hilir mudik membawa balok kayu besar di atas bahu, ada ibu-ibu yang membawa ember penuh dengan air, ada si penjaga toko sibuk mengusir lalat yang sedari tadi terus menyerang dagangannya, dan beberapa orang tidur terkapar di tanah dengan jumlah lalat yang jauh lebih banyak ikut memperindah suasana.


“Nah, selamat datang di rumah Tante. Ayo masuk.”


Mereka berdua akhirnya sampai ditempat yang Mirna sebut rumah. Tak banyak yang bisa dikagumi, tempat itu hanya berupa pondok sederhana dengan tanah yang menjadi lantai, kursi kayu, ada kasur untuk dua orang, serta tungku perapian yang masih menyala di bagian tengah ruangan. Oh ya ada satu ruangan kecil di belakang yang beroperasi sebagai tempat produksi pangan, dalam hal ini adalah dapur. Atap terbuat dari jerami kering, tapi cukup kokoh untuk menahan guyuran hujan. Dinding terbuat dari kayu keras dengan lobang di sana-sini.


“Maaf kalau tempat ini kurang nyaman, Tante tak biasanya tinggal di rumah. Ayo, kamu duduk dulu.”


Taring duduk di kursi menurut. Di bawah kaki ada tungku perapian yang masih hangat, karena tertarik dengan benda bertemperatur itu dia jongkok menikmati setiap hawa panas yang masuk ke dalam dirinya. Dia tersenyum kecil merasakan sensasi aneh yang baru pertama kali ia rasakan. Belum pernah dia menemukan api dalam hidupnya sedekat ini, paling dia pernah melihat api kala ada petir menyambar menghantam sesuatu dan itu pun sekilas saja.


“Maaf sudah menunggu,” kata Mirna keluar dari dapur membawa sepiring makanan dan juga air susu hangat, “kamu pasti lapar kan? Nih, Tante bawa makanan.”


Taring mengangguk, memang benar dia masih belum kenyang sejak terakhir dia meminum darah manusia serigala tadi. Tapi apakah makanan yang dibawa oleh wanita itu sesuai dengan dirinya? Apakah makanan biasa mempan terhadap Vampir yang sedang tumbuh? Yang biasanya minum darah kini berubah menjadi susu?


Taring mencomot sepotong paha ayam bakar dari piring walau ada keraguan. Begitu masuk ke mulut tiba-tiba saja air mata bocah itu keluar tanpa sebab.


Belum pernah dia merasakan makanan selezat ini selama hidupnya. Baginya daging hanyalah bangkai segar dari hewan yang mati kehabisan darah setelah dia bunuh, tapi kini dia mencicipi sensasi lezat nikmat menari di atas lidah. Tak pernah dia duga kalau daging ayam bisa selezat ini. Ternyata perbedaan daging mentah dan daging yang dimasak begitu kentara sekali.


“Eh-eh kok menangis? Ada apa?” Tanya tante Mirna sedikit khawatir.


“Enak sekali,” untuk pertama kalinya Taring tersenyum bahagia. Sekalipun menangis sesunggukan dia tak bisa berhenti mengunyah ayam panggang itu. Senyum polos yang akan menghangatkan hati wanita manapun yang melihatnya.


“Kamu belum pernah memakan makanan seperti ini ya?” Melihat reaksi bocah itu Mirna langsung tanggap, “silahkan nikmati sepuasnya, jangan lupa air susunya diminum ya.”

__ADS_1


Ada perasaan haru yang sempat singgah di hati Mirna terhadap anak yang dia temukan. Tapi entah kenapa perasaan sayang sementara itu dia usir sejauh mungkin agar jangan sampai termakan perasaan sendiri. Dia melenggang menuju pintu sambil sedikit mengusap mata. Mata yang sempat basah tentunya.


Hari sudah menjelang malam ketika dia keluar. Kesibukan di kota perlahan mulai senyap ketika mentari menuju ufuk barat membawa cahayanya menjauhi peradaban. Kini semuanya lebih tenang dengan masyarakat yang kembali ke rumahnya masing-masing bercengkrama bersama keluarga. Itu bagi mereka yang punya rumah. Sisanya hanya tetap melanjutkan baring seolah tak peduli pada dunia sekalipun dunia kiamat.


“Taring, Tante mau pergi dulu ya. Kemungkinan agak malam. Kamu bisa tidur duluan nanti kalau sudah selesai makan.”


Belum sempat Taring menjawab perkataan itu si tante sudah hilang dari muka pintu. Bocah itu juga tak ingin mengindahkan makanan lezat yang ada di hadapannya. Setiap makanan yang habis di dalam mulut dia masukkan lagi secepat mungkin jangan sampai ada tempat kosong di dalam alat pengunyah itu.


Sekitar tujuh menit melahap makanan tanpa ampun akhirnya piring menyisakan tulang. Lalu si anak beralih ke minuman putih yang disebut susu dan meneguknya sampai habis. Merasa kenyang dengan hati yang bugar ceria Taring tiba-tiba mengantuk, dia mengusap matanya beberapa kali tak tahan dengan kelopak mata yang sangat berat.


Bangun dari kursi, dia berjalan sempoyongan menuju kasur. Lalu menjatuhkan diri dengan nyaman berbaring di atas kasur peyot punya Mirna. Ada derit kecil ketika tubuh Taring memdarat. Tak sampai satu menit berada di sana dia sudah tertidur pulas layaknya anak kecil yang kelelahan sehabis bermain seharian.


...***...


Esok pagi. Suara khalayak ramai kembali meraba kesibukan serta bising dalam kota yang berarti pertanda waktunya untuk hari baru dengan pekerjaan yang sama. Taring masih terbujur kaku di atas kasur. Cahaya matahari sudah lebih dulu menjilat pipi manisnya ketika dia bangun.


Dari arah pintu terdengar langkah kaki orang yang sedang terburu-buru. Begitu masuk, orang itu ternyata tante Mirna yang gelagapan seolah sedang mencari sesuatu. Dia melihat Taring di atas kasur. Dengan cepat dia mengambil perban dari lemari sampai menjatuhkan beberapa barang, lalu melilitkannya pada kaki si anak yang masih belum sembuh total. Cara dia memasang perban sangat kasar dan acak-acakan. Taring merasa dia berbeda dari orang yang dia temui kemarin.


“Aduh, kenapa kamu banyak gerak. Lihat, lukanya berdarah kan?”


“Hei Mirna! Apa yang kau lakukan di dalam? Kenapa lama sekali?” Suara pria berteriak dari luar.


“Ya sebentar!”


Mirna sempat ingin mengganti perban itu tapi tak keburu lagi karena dia sudah dikejar waktu. Dia menyeret Taring keluar pintu untuk menemui pria yang memanggilnya tadi seperti domba yang diikat.


“Ini dia tuan, anak yang aku ceritakan sebelumnya,” kata Mirna ramah.

__ADS_1


“Oh, tubuhnya besar juga ya. Berapa umurnya?”


“Entahlah, mungkin enam belas tahun. Aku menemukannya kemarin di hutan sendirian. Kau tahu, dia sempat membunuh satu Werewolf loh, aku yakin tenaganya besar.”


“Oh benarkah?” Pria itu menyentuh pipi Taring dan memperhatikannya dengan seksama, “wajah yang gagah, otot yang bagus, dan mata yang tajam. Hmm menarik, tapi apa ini? Dia cacat!”


“Oh maaf, luka di kakinya itu akibat melawan Werewolf kemarin. Aku sempat mengganti perbannya tadi setelah perban yang kemarin rusak, itu sebabnya aku lama di dalam.”


Taring makin lama makin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Sejak kapan wanita itu memberinya perban kemarin? Dia baru saja membalut lukanya semenit yang lalu itupun asal-asalan.


Pria tinggi, janggut tipis, muka sangar, bertopi lebar ala koboy itu berjalan mengitari Taring sambil memperhatikan setiap aspek dari badannya, “baiklah aku akan mengambilnya. Tapi aku akan membayar setengah saja dari kesepakatan kita karena dia cacat. Ini ambil lima puluh keping koin emas, aku tak akan membayar lebih dari itu.”


Sekantung koin emas dia lemparkan ke bawah kaki Mirna. Langsung wanita itu memungut setiap uang koin yang jatuh seperti ****** biadab penuh *****.


“Apa ini?” Akhirnya Taring bersuara.


“Oh ya, mulai sekarang kamu akan punya rumah baru. Paman ini yang akan mengasuhmu, jangan khawatir.”


“Tapi aku tidak mau. Aku suka tinggal di rumahmu.”


“Ini bukan rumahku,” kata Mirna menunjuk gubuk peyot di belakang Taring, “tadinya rumah ini milik nenek tua yang mati keracunan. Aku meminjamnya sebagai bayaran karena dia tidak membayar hutangnya padaku.”


Pria bertopi Koboy mengambil tali pengikat dari tangan Mirna, pertukaran majikan, “ayo Nak, mari kita lihat rumah barumu. Kau harus mulai kerja hari ini juga.”


“Tante menukarku dengan benda berkilau itu?”


Mirna tak menjawab dan segera berlari masuk ke dalam gubuk. Taring hendak mengejarnya untuk meminta kejelasan lebih lanjut tapi apa daya dia segera diseret oleh pria topi koboy. Mau tak mau dia akhirnya mengikuti kemauan pria itu.

__ADS_1


Awas kau Mirna! Hati Taring berteriak dendam.


...-- Bersambung --...


__ADS_2