
Lunda duduk di depan pintu istana dalam keadaan merenungi perbuatan yang baru saja dia lakukan. Dia sadar seharusnya dia tidak pernah menyerahkan Taring kepada Bourga begitu saja. Dia sadar Taring adalah harapan agar bisa mengembalikan dunia kepada siklus alaminya. Dia sadar telah membuang kesempatan. Dia sadar telah berdosa. Dan dia sadar kalau dirinya harus dihukum.
“Apa yang telah aku lakukan?” Lunda meninju tanah sembari tertunduk penuh penyesalan.
Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk menghentikan perasaan bersalah yang sangat mendalam tertinggal dalam hati. Tubuh dari para Broden memang besar tapi tidak dengan hati mereka. Seharusnya Bourga bisa dengan mudah mereka ***** dengan badan sebesar itu, tapi faktanya, Werewolf punya kekuatan yang jauh di atas manusia biasa. Tubuh besar Lunda saja bisa dengan mudah dilempar oleh Bourga seolah tak memiliki beban sama sekali. Broden hanyalah manusia biasa dengan tubuh raksasa. Tak lebih.
Sembari memikirkan ketidaberdayaan yang dia miliki, dari langit tiba-tiba muncul sekelebat bayangan hitam yang sangat besar di hadapan sang bulan. Dua ekor naga sedang terbang dengan kecepatan supersonik melaju menuju area lembah di balik pegunungan. Mata Ilfina bersinar di tengah gelapnya malam menelisik ke segala tempat dalam kewaspadaan tinggi. Badak, Ula, dan Miria juga menebar penglihatan serupa ke penjuru hutan rindang di bawah mereka.
Begitu lewat di atas negeri Brodella, Ilfina menukik lurus ke bawah bersama Radia. Miria dan Ula melakukan hal yang sama tanpa pikir panjang.
Debam!
Sehabis mendarat dengan sangat kencang sampai menimbulkan getar pada tanah, Ilfina langsung melompat menemui raksasa yang tengah tertunduk penuh penyesalan di depan pintu istana. Gadis bercadar itu mengeluarkan aura kehitaman berbahaya yang akan memberikan ancaman bagi siapa pun yang terkena. Mata dan mulutnya bercahaya dengan terang. Lunda, melihat ada dua naga jatuh berdebam di depan istana terlonjak kaget bukan main.
“Aku hanya akan bertanya satu kali, Raksasa,” kata Ilfina sambil menghunuskan seruling emas, “dimana Taring?”
“Siapa Taring?”
Debum!
Pintu depan istana hancur seketika hanya dengan satu ayunan kecil dari seruling Ilfina. Desiran angin kuat itu sampai menggores pipi Lunda, “jangan pura-pura bodoh di depanku. Aku tau kalau keturunan terakhir Vampir ada di sini. Sebelum kesabaranku habis, katakan dimana dia sekarang!”
“Jangan kau pikir karena punya naga kau bisa mengacau di negeriku. Aku dan pasukanku akan dengan mudah ******* kalian seperti kertas. Penjaga!”
Sejumlah pasukan berarmor datang dengan gegap-gempita membawa seluruh perlengkapan tempur mereka masing-masing. Lunda dengan sangat cepat terlindungi oleh pasukannya yang tiba-tiba datang memberi bantuan. Sekarang posisi sudah berbalik, Ilfina dan yang lainnya terkepung oleh puluhan raksasa tanpa bisa kemana-mana.
“Nah, Nona kecil, sebaiknya letakan seruling itu dan mari kita bicara.”
“Aku sudah lama menahan diri selama ini,” tubuh Ilfina terangkat perlahan ke angkasa. Biasanya jika dia berlevitasi seperti itu akan ada aura kuning emas mengelilingi tubuhnya, tapi kali ini auranya berbeda, ungu gelap, “kalian sial sebab berhadapan denganku saat aku sedang kesal.”
__ADS_1
Ilfina mendongak ke atas awan dengan mata terpejam. Begitu bulan menampakkan diri dari balik awan, dia tersenyum. Aura ungu pekat semakin tebal dengan keningnya bersinar terang. Angin berderu kencang mengitari tempat itu seperti beliung angin. Tanah bergetar hebat. Petir beberapa kali menyambar dari atas langit. Dari dalam tanah keluar semacam tentakel-tentakel yang terbuat dari lahar api, air, dan logam secara bersamaan. Semuanya berkumpul pada satu titik yaitu tangan Ilfina yang kini dia angkat tinggi ke atas.
Setelah ketiga elemen itu berkumpul menjadi satu, terciptalah bola plasma yang bersinar sangat terang menyaingi sinar bulan. Mata Ilfina juga ikutan bercahaya. Bola plasma itu kian lama kian memadat menjadi seukuran bola basket. Bola basket yang sangat silau.
“Aku katakan sekali lagi, dimana pangeran Vampir berada?” Suara gadis itu sudah mirip dengan iblis.
“A-aku tidak tahu, tadi—“
Geduar! Krak! Doom!
Ilfina melemparkan bola plasma itu ke tanah tempat para Broden berkumpul. Seluruh tanah di sana menjadi terurai membongkar apapun yang ada di dalamnya. Bagaikan batu yang dilemparkan ke dalam air, semua riak gelombang yang muncul membuat permukaan air yang tenang menjadi rusak. Dalam hal ini, seluruh tanah di depan istana Lunda seperti dihantam gelombang yang membuat tanah di sana terbalik. Bangunan yang sangat kokoh dan besar pada hancur luluh-lantak dalam sekejap termasuk istana pemimpin Broden.
Beberapa prajurit ada yang langsung mati terkubur di dalam tanah. Bahkan Ula, Badak, dan Miria juga ikutan terkena dampak dari ledakan itu, untunglah ada naga yang dengan cepat melindungi mereka. Lunda sendiri terpental masuk ke dalam reruntuhan istana miliknya yang sudah hancur.
Setelah semua reda, Ilfina menarik kembali aura mematikan miliknya dan turun secara perlahan ke tengah lobang raksasa yang telah dia buat. Tempat itu bagai habis dihantam oleh meteor raksasa. Lunda masih berusaha bangun dengan mengangkat salah satu balok kayu raksasa yang menimpa badannya.
“Di-dia ditangkap oleh raja Werewolf beberapa jam yang lalu. Jika saja kau datang lebih cepat, mungkin dia masih bisa diselamatkan.”
Deg! Deg!
Jantung Ilfina mencelus.
Lalu di langit, secara ajaib bulan yang tadinya sudah besar di angkasa menjadi lebih besar lagi dua kali lipat dari sebelumnya. Cahaya biru milik rembulan semakin membesar memberikan energi kehidupan pada Bourga dan seluruh kaum Werewolf. Sejujurnya Ilfina juga merasakan kalau tenaganya juga meningkat drastis saat ini.
“Oh tidak....”
“Sepertinya kalian terlambat. Raja Bourga sudah mendapatkan Inti Leluhur Vampir.”
Selesai dengan bulan, Ilfina kembali menujukan tatapan membunuh kepada Lunda. Dari seruling yang terhunus itu muncul sederet cahaya ungu bertemperatur tinggi. Dia siap membakar si raksasa hidup-hidup.
__ADS_1
“Hentikan Ilfina,” Miria berhasil mencegahnya, “jangan bunuh dia. Sudah banyak korban yang berjatuhan sebab seranganmu tadi. Sekarang kita sudah tau Taring ada dimana.”
Ilfina turun dari atas Lunda lalu berjalan ke salah satu dinding bukit.
“AARGG!!!”
Dia berteriak penuh kekesalan yang tak tahu harus dia lampiaskan kemana. Dari teriakan itu, muncul ledakan energi yang menghantam dinding tebing hingga bolong.
Miria bertanya pada Lunda, “bagaimana Taring bisa tertangkap oleh Bourga?”
“Salahku. Aku sudah tak tau harus bagaimana lagi. Jika kami tidak menuruti permintaannya dia akan menghancurkan tempat ini. Aku benar-benar berdosa, aku punya kesempatan untuk menyelamatkan orang yang satu-satunya bisa menghentikan semua ini tapi aku malah menyerahkannya. Aku sudah tak kuat lagi hidup sebagai pemimpin gagal seperti ini, kalian boleh membunuhku. Aku tidak keberatan.”
“TIDAK!” Ilfina berbalik, “urusanmu dengan kami masih belum selesai. Kau akan membantu kami menyelamatkan Taring dari Bourga di Bumi Tengah. Bagaimanapun kau harus bisa menyelamatkannya hidup-hidup, barulah aku akan membunuhmu, mengerti?”
Lunda menunduk.
Dengan persyaratan yang tak mungkin bisa ditolak, Lunda, Ilfina, Miria, Badak dan Ula berangkat menuju Bumi Tengah menaiki naga. Untunglah tubuh besar raksasa itu masih mampu untuk di ajak terbang. Kekuatan naga memang tak bisa dianggap enteng.
Sekitar dua jam kemudian, mereka telah memasuki area kerajaan Werewolf. Tujuan mereka kali ini adalah kuil yang berada di tengah kota. Para penduduk dan prajurit Bumi Tengah yang melihat naga terbang di atas mereka langsung kalang-kabut merasa ada bahaya mendekat. Dalam sekejap, area tengah kota yang tadinya tenang langsung dikelilingi oleh Werewolf lengkap dengan senjata dan armor. Tempat itu menjadi medan perang dalam sekejap mata.
Ilfina melihat Taring berada di atap kuil dalam keadaan terikat. Ada Bourga di sana yang sedang menancapkan Blerit kembali pada posisinya di area tengah. Ilfina langsung memerintah Radia untuk turun menyelamatkan pria yang tengah terikat dengan badan penuh darah itu.
“Ilfina, jangan bodoh! Kita butuh rencana untuk bisa menyerang.”
“Aku punya rencana, menyerang.”
Gadis itu langsung terjun bebas ke atas atap tempat Taring di tahan. Dia sudah menyiapkan aura kejam ungu miliknya. Kali ini dia tidak akan melepaskan bocah Vampir itu lagi.
...-- Bersambung --...
__ADS_1