
“Apa yang terjadi padamu?” Kata Ilfina sambil berlari mendekat dari belakang kerumunan.
“Entahlah, kurasa ini berkat serum yang kau buat terlalu kuat.”
“Tidak mungkin, aku membuat serum itu dalam takaran yang sempurna. Sepertinya serum yang kau minum tadi bukannya membunuh virus, tapi bekerja sama dengan virus untuk membuka seluruh potensi kekuatan dalam dirimu.”
Taring tak menjawab. Dia kebingungan sama seperti bingungnya Ilfina melihat tubuh pria itu berubah menjadi lebih menggoda dan aduhai. Pada akhirnya Taring hanya mengangkat bahu pertanda dia tidak tahu. Mereka berdua mendekati kumpulan Krairon yang masih dalam kondisi berlutut. Bahkan Badak juga ikut-ikutan melakukan pose yang sama.
“Tidak-tidak, semuanya ayo berdiri. Jangan menyembahku seperti ini,” merasa dirinya lebih tinggi dari yang lain benar-benar membuat tidak nyaman. Tubuhnya kini sudah kembali norma, sayap, mata dan taring di mulutnya sudah hilang. Kecuali rambut yang masih berwarna putih.
Lalu berjalanlah mereka beriring-iringan masuk kembali ke dalam goa. Badak tinggal di pintu masuk menjadi satpam jaga bersiap kalau nanti ada monster yang datang.
Mulailah para Krairon bergotong-royong membuat serum yang diracik oleh Ilfina. Mereka mengumpulkan seluruh tenaga yang ada termasuk seluruh Krairon yang berada di bukit seberang juga dibawa Ilfina ke goa tempat mereka tinggal agar bisa bekerja dengan lebih baik. Seluruh lumut dan jamur yang tumbuh di pinggiran sungai bawah tanah mereka kumpulkan sebanyak mungkin.
Ilfina dan Taring memberi arahan atas apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Semalam suntuk mereka semua bekerja sama dengan giat tanpa lelah membuat serum penawar sampai pagi hari.
“Baiklah, kurasa ini sudah cukup,” kata Ilfina puas dengan hasil kerja mereka.
Ada sekitar tujuh buah gentong raksasa yang terbuat dari besi hitam terisi penuh oleh cairan hijau. Rupanya serum yang mereka hasilkan jauh lebih banyak dari perkiraan Ilfina. Pasti dengan jumlah sebanyak ini mampu memulihkan seluruh warga Krairon dan Erga. Tapi ada satu masalah kecil.
“Bagaimana cara agar kita bisa membuat para monster minum serum ini?” Ilfina berpikir.
“Yah, aku juga hendak menanyakan hal yang sama. Jangan berpikir aku harus menangkap mereka semua satu-satu ya.”
“Itu terlalu buang-buang waktu,” Ilfina kemudian menatap langit pagi yang cerah. Sinar matahari kekuningan luar biasa indah berada di ujung cakrawala langit timur.
Para monster yang terkena cahaya ini menjauh berlari sampai ke jantung lembah di dasar gunung seolah merasa kalau cahaya matahari adalah hal yang bahaya. Saat sedang menikmati mentari pagi, gadis bercadar itu mendapat ide. Dia menatap Taring.
“Taring, maukah kau meminjamkan kekuatanmu?”
“Tentu, apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
“Energimu, aku butuh energi dari pemilik Inti Leluhur untuk menggunakan sihir tingkat tinggi.”
“Begitukah?”
“Ya, sihirku tidak harus memakai pengucapan mantra yang aneh-aneh untuk bekerja, tapi melalui gerakan khusus. Aku butuh energi besar untuk memakai sihir yang satu ini. Kita akan menguapkan seluruh serum ke awan yang ada di langit. Jika hujan, mau tidak mau para monster akan meminum serum ini dengan sendirinya.”
Mulailah Ilfina mengumpulkan awan sebanyak mungkin. Perlahan gumpalan-gumpalan putih kapas di angkasa berkumpul pada satu titik. Gadis bercadar itu sedang mengayunkan tangan ke kiri dan ke kanan secara lembut bergantian seperti melakukan tarian hujan.
Gerakannya indah untuk dilihat, seperti sedang berdansa dengan angin, sebab desiran halus dari angin beberapa kali terus membelai rambut indah Ilfina.
Sekitar beberapa menit melakukan gerakan, awan mulai mendung menutupi seluruh area pegunungan. Sinar matahari yang menjadi senter raksasa pengusir gelap tadi pun kini hilang di telan awan.
“Nah, persiapan sudah selesai,” Ilfina berjalan mendekati Taring, “selanjutnya ...,” kata-kata dari mulut gadis itu tak terdengar jelas.
Eh, ada apa ini? Pipinya tiba-tiba memerah, matanya tak berani menatap Taring, sedang ibu jarinya dia gigit. Gadis itu sedang malu.
Ya Tuhan! Betapa manisnya melihat ciptaan seindah Ilfina berekspresi tersipu malu-malu kucing. Taring perlahan juga ikut menjadi tersipu tak mengerti apa yang harus dilakukan bahkan para Krairon juga ikutan terpesona akibat tingkah Ilfina.
Ilfina menarik napas beberapa kali, kali ini dia memaksakan diri menatap mata Taring dengan tajam secara langsung, “bi-bisakah kau menunduk sebentar? Tanganku kesulitan menyentuh dahimu.”
“Yah, kau akhir-akhir menjadi semakin tinggi saja. Aku sudah tidak sampai lagi buat menyentuh dahimu. Sudahlah ayo menunduk sekarang,” dia cemberut. Tapi masih dengan pipi yang merah merona.
Untuk sesaat, Taring merasa kecewa entah karena apa. Dia lalu berdiri dengan kedua lutut, dengan begini posisinya dengan Ilfina lebih bisa sejajar, “aku berlutut, lalu apa?” Taring ikutan cemberut.
Telunjuk dan jari tengah kanan milik Ilfina menyentuh keningnya, sedang telunjuk dan jari tengah kiri dia angkat di depan dada sambil berkonsentrasi. Dari tempat yang Ilfina sentuh, muncul cahaya kemerahan seperti warna aura yang Taring keluarkan tadi malam. Jidat gadis itu pun juga ikut bercahaya hanya saja dengan warna berbeda, kuning emas. Aura merah milik Taring mengalir dengan lembut masuk ke dalam diri Ilfina.
Gadis bercadar merasakan kekuatan yang besar sedang masuk ke dalam dirinya. Perlahan bibirnya tersenyum di balik cadar merasakan nikmat setiap energi yang masuk. Lain dengan Taring, dia makin lama justru makin lemas. Badannya kehilangan tenaga seperti sedang diserap habis-habisan. Malah kini badannya gemetar hebat kehilangan energi lalu tersungkur ke tanah. Dia bahkan tak punya tenaga untuk berdiri.
“Il-Ilfina, berapa banyak kau menyerap energiku?” Taring gelagapan.
“Oops!” Ilfina seketika membuka mata, “maaf aku kebablasan. Terima kasih Taring, sekarang aku bisa mengeluarkan sihirnya.”
__ADS_1
Dia menatap Taring yang kini sedang tersungkur di bawah kaki sambil terengah-engah kesulitan bernapas, lalu berkedip nakal sebelum berjalan mendekati gentong.
Ilfina mengibaskan tangan kanan, lalu dari bawah gentong-gentong keluar cahaya kuning terang. Gentong bergetar secara bersamaan menerima guncangan energi dari bawah. Perlahan air yang ada di dalamnya menguap menuju langit diserap awan. Uap hijau menari-nari keluar dari gentong layaknya tentakel panjang tengah menjangkau langit.
Tapi belum habis semua serum di dalam gentong, awan di atas kepala sudah berubah kehijauan. Setetes demi setetes mulai berjatuhan air hujan dengan warna serupa.
“Sial, awannya tidak cukup. Aku harus segera membawa awan ini ke kumpulan monster yang ada di bawah sana. Badak, bantu aku.”
Ilfina langsung menunggang Badak sambil menarik awan di atas kepalanya menuju kumpulan monster yang tengah berkerumun di bawah menghindari sinar matahari. Taring ikut menemani mereka berdua dengan berlari, kini lari Badak kalah cepat olehnya.
Begitu ada awan besar di atas langit muncul, para monster merasa kegirangan sebab sinar matahari sudah tak mengenai mereka lagi. Ilfina meremas tangan kanannya di udara.
Gelegar!
Kilat menyambar sekali, lalu turunlah hujan deras berwarna hijau. Ketika para monster tengah senang melihat langit, semua air hujan itu langsung masuk ke dalam mulut mereka. Mereka berguling-guling merasa kepanasan terkena efek dari serum, lalu terbaring lemas beberapa saat kemudian.
Perlahan mereka yang terkena air hujan sudah bisa kembali berpikir dengan jernih walaupun rupa mereka tidak berubah. Satu-persatu mengajukan pertanyaan yang sama kepada yang lain.
Yup, mereka sudah sembuh. Selanjutnya Ilfina bergerak ke dalam jantung hutan di dasar lembah pegunungan sambil menyeret awan. Seharian penuh mereka bertiga berkelana mengitari kerajaan Krairon–Erga tanpa kenal lelah sedikitpun. Pada malam hari awan yang dari tadi mereka bawa kemana-mana kehabisan air dan sudah tidak berwarna kehijauan lagi.
“Serumnya habis,” kata Ilfina menatap sang awan, “sebaiknya kita beristirahat dulu malam ini. Besok kita lanjut lagi.”
Taring mengangguk. Dia juga ingin segera menyantap sesuatu sebab dari pagi dia belum mendapat makanan. Dia tidak mau kejadian sebelumnya terulang lagi hanya karena dia kelaparan.
Mereka bertiga keluar dari jantung hutan menuju perbukitan tempat markas Krairon bersembunyi. Ilfina sedari tak enggan turun dari atas Badak sebab merasa nyaman, sedang Taring berjalan di samping mereka bagai mengawal seorang putri. Yah, menyebut Ilfina seorang putri juga tidak ada salahnya.
“Hei! Berhenti kalian semua!”
Suara seorang pria memanggil mereka bertiga dari atas tebing. Taring, Ilfina, dan Badak terkejut bukan main melihat siapa pemilik suara itu. Tubuhnya dipenuhi oleh bulu, mulut moncongnya menunjukkan deretan gigi yang sangat tajam, cakar di tangannya meremas batu hingga meninggalkan bekas. Suara geraman layaknya harimau tak henti-hentinya keluar dari mulut.
Itu adalah Werewolf!!!
__ADS_1
...-- Bersambung --...