Darah Merah

Darah Merah
Divulgarea de Sine (V)


__ADS_3

“Katakan Pemuda,” kata raksasa yang sedang bertatapan dengan Taring, “apakah engkau Vampir?”


“Menurutmu?”


“Tentunya dari penampilanmu sudah tak perlu diragukan lagi. Hanya saja aku ragu, sebab Vampir sudah punah sepuluh tahun yang lalu.”


“....”


“Kecuali kau adalah keturunan Vampir terakhir yang hilang di malam kelahiranmu sepuluh tahun yang lalu. Putra Kysta Vampirelia Astarius.”


“Itukah nama ayahku?”


Sontak seluruh raksasa yang hadir di sana membukuk memberi hormat ke hadapan makhluk kecil di depan mereka, “selamat datang di negeri Brodella, wahai Pangeran.”


“Baiklah, kalian tidak perlu menyanjungku berlebihan begitu. Siapa kalian ini? Kenapa besar sekali?”


“Kami dikenal dengan banyak nama, Titan, Troll, Tsamud, dan sejenisnya. Tapi kami sendiri lebih suka dipanggil kaum Broden. Kami hanya manusia biasa yang diberi tubuh lebih besar sebab menanggung tugas terhormat dari para leluhur. Nama saya Lunda, saya semacam pemimpin di sini.”


“Oh ... apa kalian tinggal di dalam gunung ini? Aku lihat banyak sekali lubang-lubang besar.”


“Ada pepatah dalam kitab yang berbunyi, ‘mereka dulu yang memahat gunung-gunung dan tinggal di dalamnya.’ Pernah dengar? Kamilah yang dimaksud. Tapi sejujurnya lubang itu hanyalah pintu masuk, mari ikuti saya untuk melihat keajaiban yang sebenarnya.”


Taring kembali menjadi manusia normal tanpa sayap. Dia dan seluruh Broden satu per satu masuk ke dalam lobang yang ada di dinding gunung dengan berjalan kaki beriring-iringan. Seluruh Broden memakai baju sederhana berupa kain yang dilibatkan pada tubuh berwarna putih terang. Mirip pakaian Ihram saat hendak pergi haji. Taring bagaikan anak kecil jika berjalan bersama rombongan-rombangan raksasa ini. Ia mengira tinggi para Broden ini sekitar sepuluh meter tadi, tapi setelah dilihat dari dekat tinggi mereka hampir sepuluh kali lipat dari ukuran dirinya. Ukuran yang luar biasa besar.


Tapi badan mereka bukan satu-satunya yang ajaib, begitu keluar dari goa, Taring melihat ada lembah yang sangat besar. Di dalam lembah tersebut ada kota yang sangat cantik sekali. Gedung-gedung sangat besar nan indah dengan arsitektur penuh seni tinggi. Sungguh modern sekali.



“Selamat datang di negeriku!”


“Woah....”


Besar. Semua yang ada di kota ini berukuran raksasa. Pohon-pohon, tanaman bunga, ada semacam penataan air mengalir dibentuk secara melingkar turun dan naik mengikuti prinsip gravitasi yang juga sangat besar, pastinya membuat siapapun yang melihat tertegun kagum. Burung-burung, kupu-kupu bahkan serangga sekali pun memiliki ukuran yang super bukan main. Kupu-kupu saja sudah seukuran layang-layang yang biasa dimainkan anak-anak.


“Luar biasa sekali,” Taring tak henti-hentinya menganga takjub.


Dia memperhatikan tempat pijakan kakinya berjalan yang juga tak kalah cantik. Lantainya mengkilap putih keras tapi bukan dari lapis logam, ada sedikit unsur elastis ketika diinjak oleh kaki. Oh ya, anehnya meski dengan dunia yang begitu modern, para Broden tak ada yang memakai alas kaki. Semua kaki yang berpijak di lantai adalah telanjang.

__ADS_1


Saat sedang menyusuri jalan setapak yang dia pijak, Taring kaget melihat ada hewan yang sangat besar lewat bersamaan dengan seorang Broden. Hewan tersebut juga berukuran sangat besar, gigi runcing tajam dan memiliki tangan kecil. Kulitnya mirip dengan kadal.


“Astaga, makhluk apa itu?”


“Oh salam Tetua Lundar.” Kata majikan hewan itu pada pemimpin Broden.


“Salam Inggro, sedang jalan-jalan dengan peliharaanmu?”


“Yah, cuaca sedang cerah saat ini, jangan disia-siakan. Kita tahu matahari cepat sekali hilang belakangan ini.”


Setelah mengatakan itu Inggro berlalu mengajak makhluk mengerikan yang dia sebut peliharaan tadi.


“Nah Taring, aku sudah bilang ada alasan kenapa tubuh kami besar-besar, ya kan? Sebab kami punya tugas untuk mengatur binatang Antalopharga, binatang besar yang kau lihat tadi. Sebagian ada yang menyebut binatang itu Dinosaurus. Jika tidak ada yang mengurus binatang buas dan besar seperti mereka, rantai makanan hewan-hewan di tempat ini akan kacau sekali dan akan berefek pada ekosistem hewan lainnya di luar lembah.”


“Oh begitu.”


Taring diantar Lundar ke hadapan gedung yang sangat besar dengan atap melingkar penuh kaca di tengah kota. Mudah sekali untuk menebak kalau tempat megah itu adalah istana miliknya yang sangat dia banggakan.


“Setiap yang datang ke tempatku selalu menunjukan wajah kagum seperti yang engkau lakukan Taring. Aku tak pernah bosan melihatnya, inilah kebanggaanku menjadi Broden. Selamat datang ke istanaku.”


Sekali lagi Taring berkata, “woah.”


Begitu masuk ke dalam istana, Lunda mengumumkan kedatangan pangeran Vampir, yaitu Taring sebagai tamu kehormatan. Kali ini benar-benar tamu yang dihormatkan sebagaimana yang seharusnya tidak seperti pengalaman mengerikan yang dia lalui di desa sebelumnya. Para Broden berbondong-bondong membawa jamuan dalam jumlah besar. Daging-daging serta minuman yang sangat banyak dalam ukuran jumbo terus berdatangan memadati singgasana milik Lunda di tengah ruangan.


Ketika tengah melakukan persiapan untuk pesta, Taring ditarik oleh salah satu pelayan wanita yang tentunya punya ukuran sangat besar menuju ruangan yang ada di sebelah kanan istana. Dia disuguhi semacam pakaian tambahan sebab Taring sedari tadi hanya telanjang dada. Pakaiannya hancur sebab dia mengamuk semalam, sedang armornya sendiri tertinggal di Desa Barat Daya.


Sekitar sepuluh menit berganti baju, Taring keluar dengan nuansa baru dan segar untuk dilihat. Dia nampak lebih kalem dengan balutan kain putih di sekujur tubuh layaknya biksu dengan rambut yang juga senada. Begitu masuk ke aula tengah, sebuah terompet yang sangat banyak berbunyi serempak menyambut kedatangannya.


“Wahai rakyatku! Hari ini kita kedatangan tamu spesial. Sang pangeran Vampir, satu-satunya keturunan Vampir yang tersisa, mari kita sambut, Taring! Ayo bergabunglah kemari.”


Taring menundukkan kepala memberi salam kepada semua yang hadir. Dia berjalan menuju kursi di samping Lunda yang sudah penuh dengan makanan di atas meja dalam porsi besar. Sembari menikmati makan, ada semacam pertunjukan di tengah aula oleh beberapa pemain akrobatik Broden. Disertai nyanyian dari para penyair dan musik indah memberi nuansa yang sangat menyenangkan untuk makan siang.


Bocah Vampir itu bertepuk tangan riah sambil mengunyah paha ayam melihat pertunjukan apik dari para raksasa lincah ini. Meskipun bertubuh besar, gerakan mereka sangat gesit dan juga lentur sekali. Tak kalah dengan bangsa-bangsa lainnya. Taring menjadi penasaran, siapakah leluhur dari mereka ini? Dia tidak pernah tau ada bangsa yang begitu beragam dari enam bangsa besar yang selama ini dia ketahui.


“Bravo! Bravo!” Sang pemimpin Lundar, bertepuk tangan meriah memberikan apresiasi pada pertunjukan hebat yang baru saja dia saksikan.


“Katakan Taring, apakah umurmu saat ini masih sepuluh tahun?”

__ADS_1


“Mungkin sulit bagi Tetua Lundar untuk percaya dengan tubuhku yang seperti ini, tapi yah, itu memang benar.”


“Tidak, aku percaya kok. Ukuran dan bentuk badan tidak mempengaruhi umur seseorang. Buktinya, ukuran bayi bangsa kami ketika lahir jauh lebih besar dari badanmu saat ini, ya kan?”


“Hahaha, ya benar sekali. Selama ini aku tinggal di dalam hutan seorang diri sejak bayi. Aku tidak pernah tahu ada tempat seindah negerimu ini wahai Tetua Lundar. Aku tersanjung.”


“Oh, kau berkunjung kemari dalam waktu yang tepat sehingga hanya melihat sisi terang dari negeriku. Setiap ada cahaya disitu ada bayangan. Aku menutupi sisi gelap di sini dengan memperlihatkan kemegahan dan juga keindahan. Meskipun banyak wajah bahagia penuh senyum seperti yang kau saksikan tadi, kami sebenarnya tengah dalam masalah serius.”


“Masalah apa itu?”


“Aku beritahu fakta mengenai kami para Broden. Kami cinta matahari. Setiap hari kami bahagia berjalan di bawah sinar matahari bahkan tanpa alas kaki sebab matahari memberikan kekuatan. Kulit kami tidak menjadi hitam karena panas ultraviolet, melainkan kami malah mendapat energi tambahan dari matahari.”


“Kita semua tahu kalau saat ini Bourga, raja Werewolf sedang berencana membuat malam menjadi abadi. Banyak sekali yang tidak setuju dengannya, termasuk kami bangsa Broden. Kami termasuk kaum yang bergantung banyak dengan matahari. Itu sebabnya, di luar tadi kau melihat wajah penuh suka cita melihat para Broden berjemur dengan peliharaan mereka.”


“Dengan keadaan dunia yang seperti sekarang kami sedikit kesulitan. Belum lagi cara Werewolf itu memimpin lebih banyak menindasnya daripada menolong. Banyak yang ingin melengserkan dia dari takhta. Tapi semua putus harapan sebab bangsa Vampir-yang satu-satunya bisa menghentikan Werewolf-telah punah.”


“Tapi sekarang dunia punya harapan lagi. Dengan kehadiranmu, peluang untuk menyingkirkan Bourga menjadi mungkin. Banyak yang mengira kalau engkaulah Yang Terpilih, akan menjadi penyelamat bagi kaum yang tertindas.”


“Maaf Tetua, aku tidak menangkap kemana arah pembicaraan ini.”


“Yang ingin aku katakan adalah, rakyatku percaya bahwa memang dirimulah yang selama ini kami tunggu untuk menjadi penyelamat. Engkau adalah Yang Terpilih.”


“....”


“Tapi maaf, beribu-ribu kali aku mohon maaf. Bukannya aku tidak percaya, hanya saja maukah engkau Pangeran Taring mengambil ujian dari kami para Broden? Hanya untuk mengetahui, jika lulus, berarti ramalan itu memang benar kau adalah Yang Terpilih.”


“Aku tidak mengerti Tetua, kenapa aku harus membuktikan semua itu padamu? Maksudku tak ada gunanya aku lulus atau tidak dari ujian itu. Jika memang takdir ramalan seperti yang engkau katakan tadi benar, maka memang begitulah jadinya. Sebuah ujian tidak membuktikan apa-apa. Aku sendiri ingin menjalani hidupku dengan tenang tanpa dikendalikan oleh orang lain.”


“Maaf, aku mengerti betul apa yang kau katakan. Tapi tolong, sudah satu dekade kami mengharapkan seorang yang bisa menyelamatkan kami, menyelamatkan kaum lain dari tindak kekejaman Werewolf. Paling tidak, kami masih punya patokan kepada siapa harus berharap sekalipun engkau bukan orang yang diramalkan. Kami sudah putus asa tak tahu harus bagaimana lagi, setidaknya dengan kehadiranmu kami punya sesuatu untuk diharapkan. Aku mohon jadilah simbol kekuatan kami untuk terus bangkit.”


Lundar menundukkan kepala di hadapan Taring. Begitu pun dengan para Broden lain, mereka semua dalam posisi bersujud mengharapkan sebuah keajaiban kepada Vampir itu dengan segenap hati.


Taring sadar, para raksasa ini sebenarnya tak butuh penyelamat untuk menolong mereka dari krisis yang telah terjadi secara berkepanjangan, mereka hanya butuh sesuatu yang bisa menjadi bukti agar mampu menyadarkan mereka kalau masih ada harapan untuk terus melanjutkan hidup. Sebuah simbol. Simbol harapan. Harapan untuk terus semangat. Jika Taring menolak, sama saja dengan membunuh tekad mereka secara harfiah.


Tak ada pilihan lain, dia harus mengambil ujian itu. Taring melepaskan kain putih yang melilit dirinya agar tidak rusak. Sayap dia keluarkan, taring panjang dia keluarkan, mata merah dan mencorong seperti harimau dia perlihatkan, lalu berdiri di atas kursi dan berkata, “wahai Broden sekalian. Aku adalah Vampir, putra dari Raja Kysta. Aku merasakan penderitaan kalian, tapi jangan terlalu berharap padaku sebab aku sendiri tak yakin apakah aku Yang Terpilih atau bukan. Maka dari itu, saya bersedia mengambil ujian dari bangsa kalian. Semoga hasilnya tidak mengecewakan.”


Ada dua sisi ketika seseorang melihat wujud Taring dalam mode Vampir. Sisi terang, yaitu rasa suka cita dan bahagia ketika dia hadir sebagai penyelamat yang selalu dinantikan oleh setiap orang. Mereka yang melihat wujud Vampirnya akan bersorak bahagia seperti yang dilakukan para Broden saat ini. Sisi lain ada sisi gelap, ketika bertemu dengan Taring dalam wujud seperti ini, itu berarti kematian. Tergantung dari bagaimanakah seseorang memperlakukan bocah Vampir itu akan melihat wujud yang sebenarnya dari dia dengan perspektif yang berbeda.

__ADS_1


Sosoknya tampil berdasarkan pilihan dari cerminan pribadi yang memperlakukan dirinya.


...-- Bersambung --...


__ADS_2