Darah Merah

Darah Merah
Penerus yang Rusak (lV)


__ADS_3

“Kau pasti tidak menyangka kalau wanita itu akan menjualmu ya kan?”


Taring tak menanggapi pria dengan topi Koboy yang coba mengajaknya bicara selama diperjalanan, “jangan marah begitu. Asal kau tau, Mirna jauh lebih berbahaya dari kelihatannya. Dia sengaja mencari anak-anak yang hilang tersesat di dalam hutan untuk kemudian dia jual kepadaku. Gubuk yang baru saja kau diami, pemilik sebelumnya mati akibat Mirna sendiri yang meracuninya agar dia bisa mendapatkan tanah gubuk itu sebab si nenek telat membayar hutangnya. Semua rela dia lakukan demi uang.”


Lagi, Taring masih tak menanggapi. Dengan tangan yang masih diikat bola matanya menatap tajam penuh dendam kepada siapapun yang dia temui, terutama ke pria yang dari tadi menyeret dia layak binatang ternak. Mereka berdua berjalan ke arah perbatasan kota menuju hutan yang berbeda dari hutan tempat Taring dan Mirna bertemu sebelumnya.


Terdapat patok-patok dengan obor yang menerangi jalan disepanjang hutan. Siapapun yang lewat bisa dengan mudah melalui hutan ini tanpa tersesat bahkan di malam hari. Tapi begitu tiba ditengah hutan, Taring tiba-tiba berhenti. Pria topi Koboy terus menarik tali pengikat berkali-kali sekuat tenaga tapi bocah yang ditawan masih bergeming ditempat. Tenaganya kalah besar.


“Hei ayo jalan! Kenapa kau berhenti?” Dia melihat wajah Taring, lalu nampak olehnya sepasang bola mata merah dengan dua gigi ekstra panjang mencuat dari dalam mulut.


Pria topi Koboy langsung melompat ke belakang sejauh lima meter, “ah aku mengerti. Pantas saja kau mampu membunuh Werewolf, ternyata kau seorang Vampir. Aku kira mereka sudah punah sepuluh tahun yang lalu.”


Brak!


Tali pengikat ditangan Taring robek. Si pria topi Koboy mengeluarkan celurit berkilau yang sangat tajam guna bersiap menghadapi pertempuran yang sebentar lagi akan terjadi.


Taring melompat ke angkasa siap menerkam seperti binatang buas. Satu ayunan besar dari si pria mencoba menghantam bocah itu sewaktu di udara. Tapi gerakan Taring jauh lebih cepat, dia menangkap tangan pria itu sebelum celurit sempat mengoyak dirinya dan menghempaskan orang itu ke pohon sekuat tenaga. Darah merah melompat keluar dari mulut pria topi Koboy bersamaan dengan erangan kesakitan.


Setelah mendarat ke tanah sehabis menabrak pohon, Taring berlari menggigit leher pria itu dengan taring di mulutnya sampai robek.


“Arrrggh!!!” Erangan sekali lagi menandakan kematian.


Setelah jeritan selesai Taring meminum semua darah pria itu sebanyak mungkin sampai kenyang. Luka di kaki yang sebelumnya dibalut perban berdarah kini sudah sembuh total. Dengan pasokan darah sebanyak itu tidak hanya membantunya meregenerasi luka, tapi memberikan tenaga luar biasa besar. Rasanya Taring seperti berapi-api penuh energi. Dia bisa mengalahkan apapun yang dia hadapi tak peduli seberapa kuat musuhnya.


Hanya saja kali ini dia lebih bisa bersikap bijak, dia simpan semua energi itu sebagai cadangan jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam keadaan terdesak. Matanya kembali normal dengan taring yang sudah tak nampak lagi. Semua hal spesial ditubuhnya kini sudah kembali ke keadaan semula layaknya manusia normal. Dia tau kapan harus menggunakan energi itu dan kepada siapa harus dia kerahkan.

__ADS_1


Setelah pertempuran singkat tadi Taring justru kembali berjalan masuk ke dalam kota kumuh. Dengan badan penuh darah, semua yang melihatnya merasa waspada akan penampilan horor yang tiba-tiba hadir di tengah kota.


Kali ini Taring tidak kembali ke gubuk Mirna. Dia terus saja berjalan sampai ke pinggiran kota. Ada beberapa orang jahil yang mengganggu diperjalanan. Ada anak-anak seumuran dengannya yang mengejek karena penampilan aneh penuh darah, ada beberapa preman yang memukulnya sebab tak sengaja kena senggol di jalan.


Anak itu benar-benar ter-bully. Kota ini sungguh bobrok sekali dengan moral, pantas saja peradabannya diambang kehancuran.Tapi dia tak membalas semua perbuatan jahat yang dia terima. Padahal jika mau, Taring bisa menghabisi siapapun yang mengganggunya dengan mudah.


Dia justru kembali ke hutan tempat dia dan Mirna sebelumnya bertemu. Di sana Taring berdiam diri menunggu seseorang di dalam semak belukar dengan niat membunuh bagai iblis mengintai mangsa. Tempat dia bersembunyi tak jauh dari tempat dia membunuh Werewolf sebelumnya.


Di balik semak, dia mencoba mencari posisi senyaman mungkin untuk menunggu seseorang. Seseorang yang kemungkinan besar akan lewat dari situ dan di sanalah Taring akan membunuhnya. Perasaan dendam yang baru kali pertama dia rasakan dalam hidupnya. Perasaan berkobar-kobar membara ingin menghajar orang itu habis-habisan sampai dia kapok telah menjual dirinya bagai barang. Untuk sesaat, bagi orang seperti Taring juga bisa merasakan kalau perbuatan wanita itu keji dan melukai hatinya. Dia sedang menunggu Mirna.


Jika apa yang dibilang si topi Koboy itu benar, besar kemungkinan wanita itu akan lewat sini untuk mencari anak kecil lain yang bisa dia culik. Kali ini perbuatan kejam itu tak akan terjadi lagi. Taring pastikan perbuatan kejam wanita itu akan berhenti sampai di sini.


Sekitar dua jam menunggu di dalam semak, Taring akhirnya mendengar suara langkah kaki menginjak dedaunan kering di atas tanah. Dia yang tadinya sempat mengantuk karena bosan langsung menajamkan kembali indra yang dia punya untuk mendeteksi apapun yang datang. Begitu dia menerawang sekitar, dapat ia lihat seorang wanita yang sedang memperhatikan bangkai Werewolf di depan gerbang portal hitam. Wanita itu mengenakan pakaian serba putih, syal merah melingkar di leher dan alas kaki berupa sandal kulit.


Yah, Taring kenal sekali dengan sosok itu. Mirna. Seketika amarah yang sempat hilang sebelumnya kembali menguasai diri Taring. Bocah itu melompat keluar untuk menemuinya secara langsung.


“Oh!” Kaget bukan main, Mirna terlonjak begitu namanya terpanggil oleh suara yang familier, “Taring? Kok kamu masih disini? Mana paman Baron?”


Basa-basi itu tak mengubah apapun. Itu justru semakin memancing amarah Taring yang berkobar-kobar. Sekali lagi, dia menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya, mata merah dengan taring panjang, “kulihat kau punya benda berkilau lain ditangan kananmu.”


“Ah ini, Tante habis membelinya tadi sewaktu kalian pergi — eh tunggu, Taring kenapa matamu? Kok merah? Dan kenapa tiba-tiba gigimu jadi panjang.”


Taring hanya tersenyum lebar, sambil menebarkan deretan gigi siluman yang kini bersarang di mulutnya.


__ADS_1


Ya, itu adalah senyum iblis. Bukan hanya mata dan gigi, kuku di tangan Taring sekarang juga menjadi sangat panjang dan tajam. Dia membuka lebar kedua tangannya lalu perlahan berjalan mendekati Mirna. Wanita itu merasakan bahaya sedang mendekat.


“He-hei Taring, kamu membuatku takut. Tolong hentikan ini. TARING!”


Ceprat!!!


Satu sayatan lebar di leher Mirna dari cakar super panjang. Dengan kuku tangan yang masih bersimbah darah, Taring menjilati semua darah itu sampai kering, “ah rasanya menjijikan. Masih lebih baik susu putih yang kauberikan kemarin.”


Mirna menjatuhkan lututnya ke tanah dengan tangan berusaha menahan semua darah yang terus keluar dari lehernya sekuat tenaga, “ke ... napa ... kau ... Vampir.”


“....”


Setelah selesai berucap, Taring mengumpulkan seluruh tenaganya ke tangan kanan. Otot di tangan itu membengkak hebat terisi penuh energi. Taring mengambil ancang-ancang.


Gebuk!


Dia meninju wajah Mirna yang sedang mati dalam posisi sujud hingga jasadnya hancur berkeping-keping. Darah bercucuran ke angkasa membuat senja kala itu menjadi merah kelam, Taring melihat indahnya butiran-butiran merah di atas kepalanya dengan senyum hangat. Dia bahagia sekali. Perlahan senyum itu berubah menjadi tawa. Tawa mengerikan layaknya psikopat gila sehabis menghabisi mangsanya.


“AHAHAHAHA, Pertama kali aku merasakan kebahagiaan seperti ini! Ternyata balas dendam begitu menyenangkan.”


Sang iblis telah terbangun di dalam diri anak itu. Setelah membunuh dua orang sekaligus dalam satu hari, membuatnya merasa ketagihan. Apalagi dia sangat menikmati cairan merah yang keluar dari tubuh korban begitu tubuh mereka luka atau hancur.


Dia menikmatinya. Momen ketika manusia mati dihadapan dirinya tak berdaya. Dia ingin merasakan lagi perasaan ini, dengan membawa iblis bersamanya, Taring berjalan kembali masuk ke dalam kota tempat Mirna tinggal.


Disana para warga akan mendapati teror baru yang menghantui tempat mereka tinggal. Dan sadar kalau ada sosok haus darah, seorang pangeran Vampir hadir mengintai siapapun yang berani membuat masalah dengannya. Berharap saja, semoga masih ada yang selamat dari hasrat Taring yang haus akan darah.

__ADS_1



...----Bersambung----...


__ADS_2