Darah Merah

Darah Merah
Penerus yang Rusak!


__ADS_3

Di tengah malam yang senyap, seorang pria berjalan di bawah pepohonan hutan rindang ditemani oleh cahaya rembulan kebiruan.


Sambil mendekap anaknya yang baru lahir Kysta satu-satunya makhluk hidup bergerak di tengah gelapnya nuansa dunia malam. Beberapa bunyi dari burung hantu di sana tak mampu memberikan kesan nyaman saat dia dihantui oleh teror makhluk jahat haus darah di luar sana. Beberapa binatang penghuni malam menatap dirinya dengan nyalang tanpa disadari.


Sadar membawa satu-satunya keturunan yang dia miliki, Kysta dalam kewaspadaan penuh bersiap menghadapi apapun yang ada di hadapannya. Mata merah itu selalu menerawang. Sang anak yang terlelap dalam dekapan ayah tak lagi rewel dengan tangisan melainkan kini tengah lelap dalam tidur dengan napas yang perlahan keluar masuk dari hidungnya.


Langkah kaki Kysta terhenti di depan sebuah gubuk kecil yang kokoh. Bagian dinding terbuat dari batu sedang atapnya dari jerami yang menggembung seperti kubah. Pintu depan gelap bukan main tanpa cahaya sedikit pun, tetapi menerang berkat obor yang dibuat Kysta dari sobekan jubahnya.


Dia membuka pintu dan masuk ke dalam. Di dalamnya tak banyak yang bisa dilihat kecuali gentong, tempat ini penuh dengan gentong di sana-sini memadati seluruh ruangan. Hanya menyisakan tempat kecil sesak di tengah ruangan lengkap dengan obor yang masih belum menyala.


Ada dipan kecil seukuran bayi yang ternyata memang untuk meletakkan bayi. Bentuknya mirip seperti tempat pemandian untuk pembaptisan bayi yang baru lahir di gereja. Fungsinya sama, hanya saja yang satu ini penuh dengan darah di sekeliling dan bukannya air.


Kysta menaruh anaknya dengan sangat lembut seakan tak ingin membangunkannya dari tidur. Tapi sia-sia belaka sebab begitu diletakkan bayi itu pun sadar dan membuka mata dengan lebar. Tak menangis. Dia hanya melihat sekeliling dengan penasaran. Kysta menyalakan kedua obor padam di samping pemandian. Dengan begitu dia bisa melihat wajah anaknya dengan jelas.


Senyum sayu merekah di wajah pria paruh baya itu perlahan diiringi dengan air mata. Tatapan itu seolah mengatakan inilah saat terakhir kali dia akan melihat anaknya yang sangat dia sayangi.


Mungkin memang itulah yang akan terjadi. Dalam genangan air mata, Kysta bisa melihat senyum anaknya berubah menjadi tawa begitu mata mereka bertemu. Samar senyum manis si bayi berganti menyerupai wujud Ivana, sang ibunda sekaligus istri Kysta. Ah ya, anak itu mewarisi senyum ibunya. Dia tak ingin melepaskan momen ini begitu saja, tapi apa boleh buat, delusi itu harus segera diakhiri bagaimanapun juga.


Bukan waktu yang tepat untuk merengek. Yang penting adalah keselamatan anaknya dan seluruh kaum Vampir. Kysta membuka mulutnya lebar-lebar, perlahan ada cahaya keluar dari sana. Lalu menggelinding jatuh bola putih bersinar dari mulut memberikan penerangan tambahan yang menyilaukan.


Sekarang giliran sang bayi yang buka mulut, Kysta memasukkan bola sinar ke dalam mulutnya dengan sangat lembut penuh kasih. Begitu sudah meluncur masuk ke tenggorokan si bayi, sinar bola itu belum lenyap. Sinarnya menembus mulut, hidung serta mata yang tiap-tiap dari sana mengeluarkan cahaya terang kemerahan. Tubuh bayi tiba-tiba mengejang hebat, punggungnya sampai terangkat dari tempat tidur.

__ADS_1


Sedetik kemudian sinar itu hilang bersamaan dengan tubuh bayi yang kembali terbaring lemas tanpa tenaga. Dia pingsan. Kysta kemudian mendekat mencium anaknya penuh sayang sambil sedikit terisak.


Perasaannya tak bisa dibohongi, dia masih ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan putranya yang baru lahir.


“Sampai jumpa anakku. Kelak, Ayah berharap kau mampu membangkitkan kembali apa yang telah hilang dari bangsa kita. Apa yang telah hilang dariku. Ayah akan segera menyusul ibumu.”


Setetes air mata sempat jatuh ke pipi bayi yang kini tengah tertidur lelap. Kysta memadamkan obor di samping tempat pemandian lalu melenggang keluar.


Aku bahkan belum sempat memberinya nama. Gerutu Kysta dalam hati.


...***...


Anak sang raja Vampir kini telah tumbuh. Anak yang tadinya ditinggal ayah di sebuah gubuk kecil dengan gentong sudah bukan bayi lagi. Tumbuh tanpa bantuan siapapun di hutan belantara yang penuh bahaya, anak itu menjadi sama berbahayanya dengan binatang atau makhluk apapun yang berdiam diri mendiami hutan ini.


Pasti heran bagaimana dia bisa bertahan hidup seorang diri? Sejujurnya gentong tempat gubuk anak itu tinggal penuh dengan darah. Itu adalah pasokan darah yang selama ini sudah disuplai oleh raja Vampir untuk keperluan mendesak. Dengan bermodalkan itu, cukuplah sudah untuk memenuhi nutrisi sang anak agar tidak mati kelaparan.


Tapi kini persediaan darahnya telah menipis. Dia perlu mengumpulkan sendiri makanannya agar tetap hidup. Setiap binatang yang ia temui di hutan dia bunuh tanpa ampun dan memeras darah mereka sebanyak mungkin.


Apa yang bisa diharapkan? Ditengah hutan seperti ini hidup seorang diri sejak bayi, tak ada yang bisa mengajarinya bagaimana cara memasak makanan, atau paling tidak berpakaian dengan benar. Tampang anak itu saja sudah mirip dengan Tarzan, hanya saja lebih buruk.


Wajahnya hitam penuh lumpur, rambut panjang yang kusut, badan lecet penuh luka dengan pakaian yang hampir tak terpakaikan pada tubuhnya. Miris sekali mengingat dia adalah seorang pangeran. Tapi dari semua sisi buruk itu, tubuhnya tak terlihat kurang makanan, alih-alih menjadi kurus, otot badannya terbentuk dengan baik akibat gemblengan dari alam secara langsung.

__ADS_1


Kelincahan, kegesitan semua sangat sepadan dengan tempat dia hidup saat ini. Wajar saja, dia selama ini hanya hidup berdasar insting, bahkan makan saja sudah mirip dengan binatang yang dia sedang makan saat ini.


Kijang? Rusa? Antelop? Entah binatang apa tapi saat ini dia sedang menyantap binatang itu mentah-mentah dengan lahap. Lebih tepatnya dia menancapkan taring ekstra panjang pada hewan malang itu sambil menghisap darahnya sampai kering. Binatang itu berhenti bergerak ketika darahnya tak tersisa lagi di tubuh.


“Ahhh ...,” si anak mengusap mulutnya yang penuh darah sambil mendesah puas.


Tadinya dia hendak melenggang pulang ke gubuk tempat yang dia panggil rumah. Tapi entah sadar atau tidak, dia berdiri tepat di depan gerbang besar. Di balik gerbang itu hanya ruang kosong hitam tak berisi apapun.


“Benda apa ini?”


Seolah tak pernah melihat gerbang sebelumnya, dia melangkah masuk tanpa pikir panjang. Kemudian tubuhnya hilang tertelan ke dalam portal hitam dalam sekejap. Begitu masuk tak ada yang bisa dilihat. Semuanya gelap. Perlahan setelah beberapa langkah ada cahaya kecil di ujung lorong menyilaukan. Dia berlari mendekati cahaya itu dan secara ajaib keluar dari portal hitam tiba disebuah hutan yang berbeda dari hutan sebelumnya.


Sebenarnya tak jauh beda dengan hutan yang baru saja dia tinggalkan, pohon ada dimana-mana, hanya saja tempat ini gelap, langit menghitam entah hari sedang malam atau siang tak bisa dibedakan. Bulan sabit bertengger dengan bebas menjadi primadona di langit yang tak ada bintang. Bulan itu menjadi satu-satunya sumber cahaya.


“Rrrrrrrhahh ...,” suara geraman.


Asyik menikmati langit, sang anak mendengar suara hewan buas dari samping. Begitu dia berputar, seekor Werewolf SETINGGI DUA METER SEDANG MENATAP DIRINYA DENGAN LAPAR!


Pertemuan antara Vampir dan Werewolf kembali terjadi setelah sepuluh tahun lamanya!


...-- Bersambung --...

__ADS_1


__ADS_2