Darah Merah

Darah Merah
Divulgarea de Sine


__ADS_3

Divulgarea de sine \= Pengungkapan Diri (Bahasa Transylvania, Rumania)


...**********************************************...


Dalam gelap malam di hutan belantara yang tak dikenal bermuara pada suara burung hantu saling bersahutan secara konstan, ditemani cahaya biru milik sang rembulan yang nyaris menjadi setengah lingkaran, Ilfina dan yang lainnya berjalan sedikit terburu-buru. Pastinya gadis itu tak sabar ingin segera keluar dari hutan ini untuk segera menemui Taring. Orang dari tadi membuatnya gelisah.


“Tidak,” kata Miria, “kita tidak bisa melanjutkan perjalanan.”


“Apa maksudmu?” Ilfina masih terus berjalan sekali pun kawanan di belakangnya berhenti.


“Ilfina, kita akan lanjutkan perjalanan esok pagi. Untuk sekarang, sebaiknya kita berkemah di sini.”


“Kita harus terus berjalan. Ayolah kita sudah semakin dekat dengan Taring, nanti kalau dia pergi lagi bagaimana?”


“Taring baik-baik saja sekarang, dia sendiri yang bilang. Jika terus memaksakan perjalanan yang ada kau membahayakan kami semua,” Ula menentang, “pikirkan keadaan kami juga, jangan hanya memikirkan perasaanmu saja.”


“Kata siapa aku cuma mementingkan perasaanku saja? Aku mengkhawatirkan orang yang satu-satunya bisa menjadi penyelamat—“


“Blablabla ... itu lagi. Kami sudah muak mendengar celotehmu itu. Selama diperjalanan ini kami terus mengikuti kemauanmu, tapi sekarang giliranmu mengikuti kami. Jangan terlalu egois.”


“Egois ... aku? Egois? Apa kalian pikir aku tidak mampu melindungi kalian pada malam hari seperti ini? Akuilah, tanpa diriku kalian semua pasti sudah mati sejak tadi. Jika aku mau aku bisa meninggalkan kalian semua saat ini juga—“


Keplak!


Miria menampar gadis bercadar itu, “Ilfina, maaf tapi kau sudah keterlaluan. Ini bukan dirimu yang kami kenal. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?”


Ilfina meremas tangannya menahan emosi, air mata tak tertahan perlahan jatuh menetes ke pipi. Dia menghambur memeluk Miria, “maafkan aku. Sejak tadi siang entah kenapa perasaanku tidak tenang. Aku cemas sekali. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menyingkirkan perasaan ini.”


Miria sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Tapi perasaan khawatir yang dia miliki tak sekuat yang dirasakan Ilfina. Sebagai sesama wanita, Miria memeluk erat Ilfina dengan keenam tangan berusaha meredakan emosi yang kini tak terbendung lagi. Satu tetes air mata pun ikut jatuh dari mata Miria tak lama kemudian.


...***...


Taring kini sedang ditandu oleh serombongan orang-orang berseragam jingga dengan penutup kepala meruncing ke atas seperti segitiga. Mirip sekali dengan anggota sekte-sekte sesat yang tengah melakukan upacara. Badan Taring tergantung pada tiang yang sedang dibopong oleh mereka menuju tepi jurang secara terbalik.


Kaki dan tangan Taring masih patah sedang badannya penuh luka bekas sayatan pisau. Begitu dia membuka mata, nampaklah olehnya sang Kaisar Hima sedang duduk di singgasana praktis yang kini juga dibopong oleh anak buahnya yang memakai baju sama. Kecuali posisi kaisar itu jauh lebih santai dengan duduk nyaman di atas kursi bergerak yang empuk.


Doni berjalan di samping Taring yang digantung terbalik. Setelah terperhatikan dengan baik ternyata anggota rombongan yang berbaris di belakang jauh lebih banyak dari dugaan. Semuanya berbaris rapi memenuhi jalan setapak di tengah hutan menuju tepi jurang. Ada yang membawa bendera kecil bergambar Orc berjalan di samping kaisar. Ada hubungan apa orang-orang ini dengan makhluk buas itu?

__ADS_1


“Oh, kau sudah sadar, ya?” Kata Doni.


“Kita mau kemana? Kenapa banyak sekali orang di belakang?”


“Ini hanyalah upacara adat bulanan yang biasa kami lakukan. Kami akan mengarak orang yang dijadikan persembahan menuju jurang yang ada di depan sana beramai-ramai. Ibuku paling suka dengan acara ini. Setiap kali kami memberi persembahan, Dia Yang Tinggi akan memberikan kaisar setumpuk emas dan makanan. Itu sebabnya kenapa desa kami begitu makmur.”


Setelah Doni berbicara mereka tiba di tepi jurang yang di bawahnya menyala lahar api berkobar-kobar penuh cahaya merah. Tandu kaisar diturunkan lalu beramai-ramai semua yang hadir membungkuk ke arah makhluk Agung yang berada di sebelah jurang.


Di sebelah jurang, ada dataran lebih tinggi yang bertengger duduk sebuah sosok hitam. Ada dua pengawal di kanan dan kirinya. Sosok besar itu sedang menginjak sebuah karung yang entah berisi apa. Malah sebenarnya di sekelilingnya banyak sekali karung-karung kembung tak jelas yang menambah kesan misterius.


Kaisar Hima berbicara dengan lantang, “wahai Vidlan, Orc yang Agung. Kami datang memberikan sebuah persembahan kepadamu secara sukarela pada malam ini. Kami harap Yang Mulia bersedia menerima persembahan kami.”


Orc yang ada di puncak tebing bertepuk tangan, dia tertawa, “Kra-kra-kra ... tidak pernah terlambat ya. Aku suka dengan loyalitas kalian. Ini ambil.”


Dia melontarkan dua karung emas dan beberapa tumpuk padi, gandum, serta biji-bijian ke arah kaisar. Untunglah semua yang dia lempar tak ada yang jatuh ke lahar, atau paling tidak mengenai sang kaisar itu sendiri. Kepalanya pasti remuk.


“Terima kasih banyak atas berkah yang telah engkau berikan Orc yang Agung. Bawa persembahannya kemari!”


Lalu Taring maju bersama dengan dua orang pengangkutnya, “Vidlan yang terhormat, aku persembahkan, Taring.” Kata kaisar sambil membungkuk.


Semua yang hadir di sana melirik Taring yang kini tertawa bahagia penuh sarkas dengan bergidik ngeri. Belum pernah ada yang terang-terangan menghina Orc Agung secara langsung di depan muka. Pastilah Vidlan akan marah besar sebab membawa bahan pengorbanan yang kurang ajar.


“Pantas saja aku melihat banyak sekali patung berwajah buruk rupa menghiasi desa. Apa kalian tidak punya model yang lebih baik lagi? Maksudku rupa makhluk ini akan membuat siapapun bermimpi buruk. Dan apa itu yang ada di hidung besarmu? Apa itu ingus?”


“KURANG AJAR!”


Vidlan melompat dari seberang tebing menghampiri Taring. Doni langsung menutup mulut pria berambut putih itu agar berhenti berbicara.


“Maafkan kami yang mulia. Orang ini memang tak punya etika. Dia bukan berasal dari desa kami, aku bertemu dengannya kemarin di hutan.”


Gebuk!


Doni terpental menerima tendangan dari kaki besar Vidlan, “jadi maksudmu, kalian mengorbankan orang dari luar desa? Begitu? Bukan ini kesepakatannya. Persembahan yang kalian bawa haruslah dari kalangan kalian sendiri! Dengan begitu bisa membuktikan seberapa setianya kalian semua padaku! Tapi apa maksudnya ini? Berani sekali kalian mengorbankan orang lain, yang mulutnya kotor dan menjijikan seperti ini. Kalian coba main-main denganku, ya?”


Hima maju melindungi putranya, “tidak Tuan, bukan seperti itu. Sebelumnya kami memang mengorbankan salah satu dari warga desa kami sendiri. Hanya malam ini kami—“


“Jangan dengarkan dia Yang Mulia,” Taring menyahut masih dengan tertawa, “mulut wanita itu penuh dusta. Jangan percaya padanya.”

__ADS_1


“DIAM! Aku belum selesai denganmu Rambut Putih. Kalian semua dengar! Aku sedang baik hati saat ini. Karena itu untuk menebus dosa kalian, malam ini aku meminta dua pengorbanan sekaligus. Jika tidak, aku akan mengirim pasukan esok pagi untuk meratakan rumah kalian semua. Dan kali ini aku akan memilih siapa yang pantas dikorbankan, yaitu kau, Doni putra dari kaisar.”


“APA? Tidak! Jangan putraku! Biar aku saja yang mengorbankan diri.”


“DIAM! Keputusanku tidak bisa diganggu!”


“Tidak apa-apa Ibunda. Jika memang aku bisa menyelamatkan desa, aku siap berkorban.”


Semua yang hadir di sana tersentuh dengan keberanian Doni sebagai pangeran dari kaisar. Dia mencium tangan ibunya sebagai anak yang berbakti lalu maju dengan gagah berani tanpa rasa takut. Adalah pemandangan indah melihat seorang anak muda yang rela berkorban menjadi pahlawan dengan mengorbankan dirinya sendiri. Bahkan Vidlan juga mengakui keberanian dari anak itu. Pemandangan yang menyentuh sekali. Kecuali Taring yang sedari tadi menahan diri agar tidak muntah melihat drama tak jelas muncul di waktu yang tidak tepat.


Melihat gerakan Doni yang bagai di slow-motion seperti di film-film membuatnya memutar bola mata.


“Nah, tunggu apa lagi? Ayo! Lompatlah kalian berdua.”


Doni dan Taring kini berada di tepi jurang. Mereka sempat saling bertatapan satu sama lain lalu melihat lahar panas di bawah kaki mereka yang bergelora. Sekalipun disuruh lompat, Taring sedikit kesulitan sebab dia masih terikat pada balok kayu. Dia berusaha maju mendekati mulut tebing dengan susah payah sampai melompat-lompat tak jelas. Tingkahnya membuat semua orang di sana menunggu cukup lama.


“Maaf semua, sepertinya aku butuh bantuan. Doni, kau keberatan?”


Doni memandang Vidlan, Orc itu mengangguk tanda mempersilahkan dia membantu melepaskan ikatan Taring. Saat hendak melepaskan tali, tiba-tiba—


Cratch!


“Argh!”


Taring menggigit leher Doni hingga putus. Seluruh darah yang dia minum membuat luka di sekujur tubuh sembuh secara instan. Semua luka lecet sudah menutup kembali tak menyisakan bekas sama sekali. Tangan dan kaki yang tadinya patah sudah bergemeretak kembali pada posisi masing-masing. Taring masuk dalam kondisi yang prima.


Brak!


Seluruh tali yang mengikat dirinya terkoyak dengan mudah. Dia mengeluarkan sayap lalu terbang tinggi ke langit. Matanya bercahaya merah di tengah kegelapan.


Sang kaisar yang melihat putranya putus kepala di depan mata tak bisa bereaksi apa-apa. Tubuhnya gemetar lemas sambil menutup mulut menahan diri agar tidak muntah. Berbeda dengan Vidlan, dia malah kagum dan sedikit takut melihat sosok kekar bersayap di atas langit yang penuh darah itu.


Dari mulutnya hanya keluar satu kalimat ..., “siapa kau sebenarnya?”


“Aku adalah Taring, sang pangeran Vampir, putra dari Raja Kysta.”


...-- Bersambung --...

__ADS_1


__ADS_2