Darah Merah

Darah Merah
Ruas Takdir (V)


__ADS_3

“Badak, berhentilah mengikutiku.”


Setelah berjalan cukup jauh ke dalam hutan Taring sadar kalau dia tidak berjalan sendirian. Badak dari tadi mengekor dirinya berjalan di balik bayang pepohonan berusaha menyembunyikan tubuh besarnya. Padahal Taring sudah siap berpisah dengan seluruh teman-temannya tapi entah kenapa Badak terus mengikuti kemana dia pergi. Ini situasi yang sulit.


“Badak!”


“Tidak, aku tidak mau meninggalkan teman yang sedang terluka.”


“Aku sudah sembuh. Lihat, semua lukaku sudah tidak ada lagi.”


“Tapi hatimu masih terluka.”


“....”


“Saat ini kau sedang butuh teman. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri.”


“Memangnya dengan mengikutiku akan membuat semuanya lebih baik? Ini semua salah Ilfina. Jika saja aku tidak pernah bertemu dengannya, bertemu denganmu, semua ini tidak akan terjadi.”


“Memangnya apa yang akan terjadi jika tidak bertemu dengan kami?”


“Aku bisa hidup bebas tanpa dikekang. Semenjak bertemu kalian aku selalu dikendalikan ini dan itu. Tak ada yang mengizinkanku mengambil keputusan sendiri. Semuanya terasa sempit.”


“Sebelum bertemu dengan kami, bagaimana kehidupan Taring?”


“Aku bahagia, hidup bebas di dalam hutan sejak kecil sendirian. Ketika aku keluar gerbang semuanya jadi kacau begini. Aku nyaris mati dibunuh manusia serigala, aku dijual dengan emas, aku diburu oleh penduduk desa, lalu aku bertemu dengan Ilfina.”


“....”


“Saat itulah titik awal semua kejadian ini. Jika saja aku tidak menuruti kemauan orang itu semuanya akan berakhir berbeda. Ilfina benar-benar orang paling menyebalkan yang pernah aku temui.”


“Yah, aku bisa lihat kalian sering bertengkar.”


“Kami memang tidak pernah akur. Dia orang yang kasar, suka memutuskan sesuatu seenaknya sendiri. Sering panik karena hal yang tak jelas. Begitu panik dia pasti meledakkan sesuatu.”


“Yah, aku ingat Krairon yang dia lempar waktu bangun dari pingsan.”


“Dia sangat menyebalkan. Dia juga jarang sekali tersenyum sekali pun aku berbuat baik padanya.”


“Oh, tapi senyumnya manis ya ketika sedang senang.”


“Manis, tapi jarang sekali terlihat.”


“Menurutku itu senyum termanis yang pernah aku lihat pada manusia.”


“Menurutku juga begitu. Malah mungkin yang paling manis dari semua wanita.”


“Aku setuju, cemberut pun dia juga kelihatan imut.”


“Yah, apalagi ketika dia menggembungkan pipi,” Taring mulai tersenyum.


“Oh! Ingat waktu dia bilang ingin menyentuh dahimu tapi tak sampai? Dia juga menggembungkan pipinya waktu itu.”


“Yah, padahal waktu itu aku memikirkan hal yang lain. Ternyata dia cuma mau menyentuh keningku. Menyebalkan sekali!”


“Memangnya waktu itu Taring mikir apa?”

__ADS_1


Taring memalingkan wajah dengan pipi memerah, “bu-bukan apa-apa.”


“Hmm...?”


“Kau tau Badak, selama aku hidup sendirian di balik Gerbang Hitam tidak ada orang yang membuatku jengkel, emosi, tersipu, malu, apalagi takjub. Aku hidup seorang diri hanya makan daging mentah dan minum darah selama sepuluh tahun tanpa teman. Pada dasarnya hidupku memang sudah kacau sedari aku lahir. Ilfina, dia....”


“Dia...?”


“Dia menyebalkan. Dia orang pertama yang membuat aku merasa jengkel. Tapi sekali pun menyebalkan aku tak pernah berusaha menghentikannya, bukankah itu aneh?”


“Kok bisa? Itu aneh sekali.”


“Aku tau! Harusnya aku memberi dia pelajaran agar berhenti bertingkah seperti itu. Dia sering menamparku, melemparku, bahkan pernah meledakkanku sekali. Tapi aku tidak pernah marah.”


“Aku tidak mengerti, seharusnya kau marah.”


“Aku tau! aku sering kesal terhadapnya tapi tidak dengan emosi. Seperti melihat matahari di langit, lalu bersin karena silau. Mengganggu tapi melegakan, bukan begitu?”


“Oh ya, aku juga sering melakukannya. Rasanya ada sesuatu yang menyengat di hidung lalu brush!”


“Aku tau! Rasanya enak setelah itu. Ilfina telah mengajariku banyak hal. Dia orang pertama yang mengajariku memasak makanan, dia orang pertama yang membuatku takjub dengan sihir, dia orang pertama yang membuatku takjub dengan kecantikan wanita. Dan dia ... dia adalah orang pertama yang bisa membuatku merasakan rindu.”


Taring berhenti berjalan.


“Perasaan rindu tak ingin berpisah. Seperti rindu seorang anak pada orang tuanya. Rindu akan kasih sayang.”


“Aku rindu dengan Ilfina sekarang. Aneh padahal kita baru saja pergi sekitar setengah jam.”


“Ya, aneh sekali.” Taring berbalik memandang kembali pegunungan tempat di mana Ilfina dan Ula berada.


...***...


“Menyebalkan sekali itu orang! Kesal! Kesal! Kesal!” Ula menghentakkan kaki kecilnya beberapa kali ke tanah seperti anak kecil yang lagi ngambek.


“Perdebatan kalian intens sekali tadi,” Ilfina tersenyum masam masih dengan menyeka air mata.


“Dia benar-benar orang yang tidak berperasaan sekali. Apa dia tau apa saja yang telah kita lakukan untuk menyelamatkan dirinya? Dan sekarang malah pergi lagi seperti tak berdosa? Kurang ajar sekali!”


“Kurasa iblis tak perlu merasa berdosa.”


“Benar! Dia itu iblis. Iblis haus darah yang kerjanya cuma jadi barbarian kanibal di hutan.”


“Dia pernah ingin memangsaku sekali.”


“Benarkah? Lalu apa yang kau lakukan?


“Tentu saja aku membantingnya jauh-jauh.”


“Ah ya, tipikal Ilfina hahaha!”


“Itu waktu pertama kali aku bertemu dengannya di hutan. Dia sedang makan daging rusa mentah sambil berlumuran darah. Aku kira dia orang gila yang sedang nyasar di hutan makannya aku menyerang dia.”


“Apa waktu itu kau tau kalau dia seorang Vampir?”


“Tidak, aku sadar begitu melihat taring dan kukunya. Ketika sadar kalau dia Vampir aku mengikatnya hingga tak berdaya. Aku masih tak percaya bisa menemukan salah satu keturunan Vampir yang terakhir.”

__ADS_1


“Apa yang kau pikirkan waktu itu?”


“Tentu saja aku langsung melihat kesempatan dan harapan disaat yang bersamaan. Vampir satu-satunya yang bisa mengalahkan Werewolf akhirnya muncul lagi setelah sepuluh tahun punah. Apalagi dia membawa Inti Leluhur.”


“Begitu ya. Tapi sekarang sepertinya semua itu sirna. Dia orang yang tidak berguna, bagaimana mungkin bisa menjadi harapan untuk memenangkan perang ini. Dia berbeda sekali dengan ayahnya. Satu-satunya kelebihan yang dia miliki hanyalah wajah tampannya.”


“Hahaha ... yah, aku setuju. Wajah tampannya.”


“Yup, sekali pun punya wajah seperti pangeran tapi kalau perilakunya mirip Orc begitu tidak ada gunanya, ya kan?”


“Jadinya pangeran Orc dong kalau begitu?”


Mereka berdua kemudian tertawa terbahak-bahak bersamaan. Akhirnya wajah ceria milik Ilfina kembali lagi dengan air mata yang bersih. Senyum manis itu telah balik ke tempatnya semula.


“Padahal kita sudah berjuang sekuat tenaga tapi malah berakhir di sini.”


“Ilfina, semua belum selesai, kau masih punya Inti Leluhur. Yang berarti Bourga akan mati-matian memburumu.”


“Kurasa inilah yang dirasakan Taring setiap waktu.”


“....”


“Wajar saja bocah seperti dia sampai stres berkat merasakan teror yang tak henti-henti mengintai dirinya. Sekarang karma datang padaku.”


“Tenanglah, kau tidak sendirian menghadapi ini,” Ula bersender pada bahu Ilfina.


“Terima kasih. Kita bisa sampai sejauh ini sebenarnya karena kita berlima bisa bekerja sama dengan baik sebagai tim. Sekarang setelah semua terpisah, kita akan rentan untuk diserang. Aku pun tidak akan sanggup pada akhirnya menahan gempuran terus-menerus dari Bourga.”


Kembali, air mata jatuh membasahi pipi Ilfina.


“Taring kau tega sekali,” Ula mengusap rambut ungu panjang gadis itu yang sedang menangis kembali. Kali ini giliran Ilfina yang bersender pada bahu kecil Ula, “kenapa kau harus pergi.”


“Ilfina....”


“Aku takut, Ula. Aku takut sekali saat ini.”


“Hei tenang, aku sudah melihat kemampuanmu yang luar biasa. Kau pasti kuat.”


“Tidak bisa. Selama ini Taring yang selalu melindungi aku dari belakang saat ada bahaya besar mengancam. Saat kami diserang oleh Istara waktu itu aku pasti sudah mati kalau bukan karena dia. Tapi kali ini aku sendirian. Aku benar-benar ketakutan.”


“Bagaimana mungkin? Kau saja sanggup mengalahkan Bourga tadi. Kau bahkan mengalahkan para Broden raksasa dan mengancam akan menghancurkan kota mereka, bukankah kekuatanmu luar biasa besar?”


“Aku hanya bisa bicara saja. Kalau aku mengeluarkan sihir yang terlalu besar seluruh energiku akan habis dan aku tidak akan berdaya. Dan saat aku tidak berdaya, Taring yang biasanya menolong. Sekarang orang itu telah pergi meninggalkan aku. Taring, kau kejam sekali.”


Ilfina membenamkan wajah ke pangkuan Ula menangis tersedu-sedu. Baru pertama kali Ula melihat Ilfina bertingkah seperti ini. Menangis merengek seperti anak kecil. Dia juga tak tahu harus berbuat apa untuk menghiburnya. Pada akhirnya Ula ikutan meneteskan air mata sambil mengusap rambut halus milik Ilfina.


...***...


Bourga sedang menyiapkan sesuatu di ruang bawah tanah istana Bumi Tengah. Ada berbagai macam tabung besar berisi cairan hijau bergelembung. Di dalam air hijau itu ada banyak sekali makhluk-makhluk aneh tak jelas dengan rupa sama tak jelasnya. Semua monster mengerikan tersimpan dalam satu ruangan ini. Perut Bourga yang terkoyak tadi kini sudah sembuh tanpa meninggalkan bekas.


Di hadapan Werewolf itu ada seseorang yang sedang menghadap memberi hormat. Mungkin kata 'orang' kurang tepat sebab wujudnya akan lebih masuk akal jika disebut monster. Tubuhnya memang mirip dengan manusia tapi wajahnya ... tak punya mata. Bahkan hidung saja juga tak punya. Hanya ada mulut. Mulut besar menganga penuh dengan gigi-gigi tajam melingkar sampai ke tenggorokan. Monster tanpa wajah ini sedang mengambang di udara statis seolah kakinya tak bisa menginjak lantai.


“Meldo, dengan ini aku mengutusmu untuk mencari Mage pemilik Inti Leluhur Elf. Dapatkan segera dengan cara apapun sebelum bulan purnama. Karena kau seorang Mage juga seharusnya ini pekerjaan mudah. Tunjukkan sekuat apa kemampuanmu padanya.”


“Baik, Paduka.”

__ADS_1


“Sudah saatnya melawan api dengan api.”


...-- Bersambung --...


__ADS_2