Darah Merah

Darah Merah
Perpisahan (ll)


__ADS_3

Dalam kerajaan Bumi Tengah sedang ada acara di istana milik Bourga. Semua khalayak ramai memadati area tersebut sampai berhimpit-himpitan untuk menyaksikan pertunjukan. Semua yang hadir lebih di dominasi oleh Werewolf dan Orc daripada manusia biasa. Di tengah lapangan depan istana nampak sebuah kapak menggantung dengan Qimba, si raja Orc tengah berbaring di bawahnya siap mempersembahkan leher pada Bourga. Ya, ini adalah pertunjukan eksekusi di depan publik.


“Para rakyatku sekalian! Hari ini kita akan mengadakan eksekusi yang tidak biasa. Di sini, raja Orc, Qimba secara sukarela menyerahkan hidupnya sebab telah melanggar janjinya padaku. Dia juga akan menyerahkan seluruh pasukan miliknya sekaligus kepemimpinan para Orc kini berada di tanganku. Mulai sekarang, aku adalah raja dari dua kaum.”


Semua rakyat yang menyaksikan bertepuk tangan dengan meriah. Para Orc yang hadir di sana seperti tidak keberatan melihat pemimpin mereka hendak dipenggal hidup-hidup depan publik.


“Apakah engkau, Qimba temanku, punya kata-kata terakhir?”


Qimba tersenyum sambil menoleh ke Raja Bourga, “ada satu, aku ingin menyampaikan sebuah pesan. Sang pangeran Vampir, putra Kysta masih hidup sampai sekarang! Dan engkau, Bourga, akan dikalahkan olehnya. Bersiaplah!”


Mata Bourga merah padam mendengar ejekan sarkas itu. Seketika dia menjatuhkan kapak dan memenggal kepala Qimba dengan penuh emosi. Semua yang hadir kini mulai bertanya-tanya, apakah benar masih ada Vampir yang hidup?


...***...


Taring saat ini sedang duduk di samping singgasana milik kaisar, pemimpin daripada Desa Barat Daya. Ternyata dia adalah seorang janda yang sudah berumur tapi masih memiliki tubuh yang semok. Bajunya penuh renda berwarna merah muda dengan bagian dada agak terbuka. Dia terus memainkan kipas sedari tadi walaupun tidak kepanasan. Kukunya dicat merah dan panjang sekali.


Semua yang hadir di ruang istana tengah menikmati makan siang bersama. Doni ternyata anak dari kaisar. Taring diundang sebagai tamu kehormatan sehingga bisa duduk berdekatan dengan pemimpin desa dan anaknya.


“Hari ini, sepertinya kita kedatangan tamu istimewa. Silahkan perkenalkan dirimu,” kata kaisar janda dengan nada angkuh.


“Namaku Taring, aku tak sengaja bertemu dengan Doni sewaktu tersesat di hutan.”


“Doni adalah putraku. Namaku sendiri adalah Kaisar Hima Cheng Lau, selamat datang nak Taring.”


“Ibunda, aku bertemu Taring di hutan saat dia sedang mengendarai seekor burung Simian.”


“Oh, benarkah itu nak Taring?”


Taring mengangguk. Kaisar Hima kemudian turun dari kursi kehormatan lalu mendekati pria Vampir itu. Dia angkat belahan roknya agak tinggi hingga memperlihatkan sebaris paha mulus yang putih berkilau. Dia sengaja memamerkan tubuh eloknya untuk menggoda Taring.


“Katakan nak Taring, berapa umurmu?”


“Tanpa aku jawab pun kurasa Yang Mulia bisa menebak berapa umurku.”

__ADS_1


Hima menunduk, tentunya memamerkan buah dada besarnya yang terbuka dengan jelas berkat baju seksi itu. Taring sama sekali tak tergoda bahkan matanya konstan menatap mata si kaisar. Hima menarik dagu Taring ke atas, lalu berkata, “melihat wajah gagah seperti ini, kurasa umurmu masih 24 tahun. Hmm, umur yang menggoda tentunya.”


“Yang Mulia juga masih kelihatan muda.”


“Begitukah? Menurutmu, bagaimana ... apa kau tertarik dengan wanita yang lebih tua?”


“Maaf Yang Mulia, bukannya aku tak menghormati Anda. Tapi aku pernah bertemu wanita yang jauh lebih cantik dan lebih hebat darimu. Tolong cari laki-laki lain saja.”


Keplak!


“Dasar kurang ajar! Kau tidak tahu sedang berbicara kepada siapa! Pelayan!”


Seketika muncul sekumpulan pria berbaju besi berderap memasuki ruangan dengan gagap-gempita. Mereka semua memukul Taring secara bergantian.


“Argh!”


Kaki kiri dan tangan kanan pria rambut putih itu patah akibat dipentung oleh beliung besi. Mulutnya kini bercucuran darah. Sang kaisar nampaknya bisa bertindak kejam sekalipun posisi Taring sebelumnya adalah tamu yang diundang untuk acara makan, dalam posisi terhormat. Tapi sekarang dia malah menjadi bahan samsak agar bisa menjadi pereda amarah Kaisar Hima.


“Kau tau Taring, banyak pria di sini yang tergila-gila ingin menikahiku. Tapi tak satu pun dari mereka yang berhasil sebab seleraku terlalu tinggi. Kau harusnya bersyukur mendapat tawaran langsung seperti tadi.”


Gebuk!


“Argh!”


“Tadinya aku ingin menjadikanmu milikku. Sayang sekali, kau berhasil mencuri hatiku pada pandangan pertama. Tapi karena tingkahmu ini sudah kelewat batas, sebaiknya aku menjadikanmu sebagai bahan persembahan saja. Tapi ... aku dikenal sebagai Kaisar yang murah hati, jadi aku memberikanmu pilihan. Kau bisa menjadi suamiku dan membantu aku dalam mengurus desa ini, atau mati menjadi bahan persembahan? Apapun pilihanmu akan membantu desaku.”


“Hahaha ... apakah di sini ada cermin? Kau yakin menyebut dirimu sendiri murah hati dengan memperlakukan tamu seperti ini?”


“....”


Sang kaisar memandang Taring cukup lama tanpa mengatakan apapun. Lalu mengangguk kepada salah satu anak buahnya. Anak buah itu langsung menghajar kepala Taring sampai dia pingsan tak sadarkan diri.


Sejujurnya, Taring tak memiliki banyak pengalaman terhadap wanita. Tapi jika disuruh menilai soal kecantikan, dalam benak pria itu langsung muncul sebuah nama, Ilfina. Tak hanya cantik, tapi gadis itu juga sangat hebat dan bisa dihandalkan sekali pun bermulut tajam.

__ADS_1


Karena itulah pula, walau sang kaisar menggoda Taring dengan tubuh seksinya itu tak akan berhasil. Dia masih bocah sepuluh tahun, tentu tubuh wanita tidak akan menarik dimatanya. Bahkan jika ingin berbanding soal lekuk tubuh, milik Ilfina jauh lebih menarik baginya meskipun gadis itu selalu memakai pakaian yang tertutup.


Setelah pingsan cukup lama, Taring akhirnya bangun. Dia mendapati dirinya tengah dirantai. Pergelangan tangan dan kedua kakinya terkunci. Dia sedang berada di penjara bawah tanah. Di hadapannya ada Doni yang tengah tertunduk sambil minum jus anggur. Badan Taring telanjang dada dengan luka di sekujur tubuh. Kelihatannya dia habis disiksa habis-habisan ketika pingsan.


“Kau sudah bangun, ya?”


“Doni ... dimana aku?”


“Tadi siang ... kau cukup berani mengatakan semua hinaan itu pada kaisar di depan umum.”


Gebuk!


Doni meninju perut Taring. Mulutnya kembali mengeluarkan darah.


“Itu untuk ibuku. Aku mengundangmu ke sini sebagai tamu kehormatan, bukannya untuk menghina ibuku di depan umum. Kau tidak tau betapa malunya diriku saat kau menjelek-jelekan ibuku seperti tadi.”


Keplak!


“Dia sendiri yang mulai duluan ... uhuk! Jika saja dia tidak menggodaku pasti mulutku lebih bisa dijaga.”


“MENGGODA! KAU PIKIR IBUKU WANITA RENDAHAN YANG SEENAKNYA MENGGODA PRIA YANG BARU DIA TEMUI?”


“Kalau bukan, lalu apa?”


Gebuk! Keplak!


“Biar kuberitahu, dia melihat sebuah potensi besar dalam dirimu Taring. Ibuku tak pernah bertingkah seperti tadi pada siapapun sebelumnya. Sejak dia tahu kau bisa menunggang Simian dia sadar kalau kau punya kekuatan besar yang bisa membantunya dalam mengelola desa ini. Itu sebabnya dia terang-terangan meminangmu. Padahal seluruh pria di desa ini rela mengorbankan apapun agar bisa mendapat perhatiannya. Tapi kau malah merendahkan dia seperti tadi!”


Keplak!


Taring kembali tertawa, sekali pun dengan mulut yang terus bersimbah darah, “hahaha ... kalian ibu dan anak sama saja ya. Puih!”


Taring meludahi wajah Doni dengan darah. Remaja itu menjadi sangat emosi dengan muka merah padam ingin menghajar Taring dengan lebih keras. Tapi belum sempat melakukan apa-apa Taring malah kembali pingsan.

__ADS_1


“Tunggu saja, setelah ini kau tak akan bisa menghina ibuku lagi, Taring. Tidak saat kau akan mati menjadi persembahan bagi desa kami.”


...-- Bersambung --...


__ADS_2