
Malam biru terang dengan sinar rembulan raksasa menebar cahaya keseluruh penjuru dunia dalam balutan tragedi. Kelam yang gelap akan membuat siapapun bergidik ngeri saat keluar melihat langit terang. Dua orang sedang bersembunyi di dalam goa puncak gunung yang bersuhu sangat dingin. Taring bersender pada dinding goa dengan keringat bercucuran membasahi wajah. Dia bertelanjang dada sekarat akibat kekurangan darah. Apalagi kini seluruh tangan dan kakinya patah tak bisa melakukan regenarasi sama sekali.
Hilangnya Inti Leluhur milik Vampir akan membuat dia mati beberapa saat lagi jika tak segera ditolong. Ilfina mengusap pipi basah yang penuh dengan peluh itu. Matanya menunjukan keprihatinan mendalam terhadap pria yang selama hidupnya terus berada dalam bahaya dan sekarang maut akan merenggutnya sebentar lagi.
Taring, kumohon jangan mati sekarang kami membutuhkanmu.
Ilfina mengambil sebilah pisau, lalu menyayat kecil tangan kirinya hingga darah bisa menetes. Beberapa butir tetesan air merah itu dia jatuhkan langsung ke mulut Taring.
Ayolah Taring, bangun! Kepala Ilfina tertunduk di depan dada pria kekar itu.
Kerongkongan Taring bergerak. Dia merasakan ada darah meluncur masuk dari dalam mulutnya. Lalu secara spontan dia membuka mata dan menarik tangan Ilfina ke mulut untuk menghisap lebih banyak darah. Gadis pemilik tangan agak kaget ketika tangannya ditarik tanpa aba-aba dan langsung digigit oleh kedua gigi tajam. Ilfina mengerang kecil. Darah keluar lebih banyak sampai meluber ke pipi Taring dan jatuh membasahi tanah. Sekitar lima menit menghisap darah Ilfina dia akhirnya merasa puas.
Kesadaran Taring mulai kembali. Dia memandang ke sekeliling mencoba mengenali dimanakah dia berada saat ini. Lalu dia ingat tentang kejadian mengerikan yang sebelumnya dia alami bersama Bourga dan Lunda.
“Uwah! Menyingkir dariku!”
“Aw! Taring?” Ilfina sampai terjatuh di dorong Taring.
“Dimana aku? Apa yang terjadi?”
“Hei-hei tenang ... kau sudah aman sekarang. Tenang.”
“Kau ... Ilfina?”
Ilfina mengangguk. Dia hendak mendekati Taring tapi pria itu malah mundur menjaga jarak. Dia seperti merasakan bahaya.
“Jangan mendekat!”
“Huh? Ada apa?”
“Kau ... apa aku bisa mempercayaimu?”
“Apa maksudmu?”
__ADS_1
“Belakangan ini aku mengalami hari yang sangat buruk. Setiap orang yang aku temui berusaha membunuhku hidup-hidup. Aku ... aku tidak mau lagi merasakan sakitnya pengkhianatan, jadi tolong katakan dengan jelas padaku Ilfina, apa aku bisa mempercayaimu?”
Ula dan Badak muncul dari arah belakang sambil menaiki Radia si naga merah. Sebab pemilik dari Ruba yaitu Miria hilang, naga hitam itu sudah pergi entah kemana. Mereka berdua melihat Ilfina dan Taring sedang beradu tegang. Tak satu pun berani ikut campur dalam percakapan yang penuh emosi itu kecuali hanya menonton.
“A-aku ... tentu saja. Kenapa pula aku mau mengkhianatimu? Kau tau betapa berartinya nyawamu bagi kita semua?” Badak dan Ula ikut mengangguk.
“BERHENTI MENDEKAT! Bagaimana kau bisa bilang begitu? Kita baru kenal beberapa minggu yang lalu dan itu pun tidak sengaja. Hubungan kita semua tidak sedekat itu, kita bahkan nyaris bukan teman. Dan Ilifna, sikapmu padaku sangatlah dingin jadi aku ragu harus menganggap dirimu ini sebagai apa. Kau mau bersama denganku hanya karena aku punya Inti Leluhur Vampir, ya kan? Dan sekarang setelah benda itu hilang dariku apa kalian akan mengorbankanku juga?”
“Taring, tenanglah dulu. Kau masih belum sepenuhnya sadar. Sini biar aku obati dulu luka-lukamu.”
“Ilfina, jika kau pada akhirnya akan membuangku seperti yang dilakukan oleh orang lain, sebaiknya lakukan sekarang.”
“Hentikan omong kosongmu, kau baru saja selamat dari maut wajar kalau jiwamu terganggu. Kau masih belum bisa berpikir dengan benar.”
“Tidak. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat dengan jelas, semakin kuat ikatan dengan seseorang semakin sakit saat terjadi perpisahan. Aku sempat bertemu dengan beberapa orang yang aku kira bisa menjadi teman sebelumnya. Tapi ternyata hanya aku yang menganggap seperti itu. Pada akhirnya aku selalu menjadi yang dibuang.”
“Taring, setelah semua yang kita lalui bersama, apa kau masih perlu mempertanyakan itu? Kau teman kami yang berharga. Kejelasan apa lagi yang kau butuhkan agar bisa percaya?”
Keplak!
Hening.
Satu tamparan dan semua hening.
Ilfina menampar pipi Taring sampai membuatnya bungkam. Ekspresi gadis itu tak terlihat jelas sebab tertutup poni rambut. Tapi sempat ada beberapa butir air mata yang terjatuh.
“Inti Leluhur? Kau pikir karena benda itu kami semua bersusah payah menyelamatkanmu sampai kemari?”
“Kalau bukan, lalu apalagi?”
“Kau membuatku kecewa. Jika kau memang ingin pergi, PERGILAH! Aku tidak peduli lagi denganmu."
Ilfina menghentakkan kaki kuat-kuat keluar goa dengan perasaan membara. Biasanya gadis itu dikenal sebab kepandaiannya mengendalikan emosi sehingga semua orang yang mengenal dirinya tak akan pernah bisa menebak apa yang dia pikirkan. Tapi sekarang, bagai kertas transparan. Tak perlu telepati untuk mengetahui perasaan kecewa yang sangat perih itu. Ilfina adalah orang yang paling merasa terkhianati saat ini. Badak dan Ula hanya bisa terdiam mengekor mata keluar goa.
__ADS_1
Aku sudah sering dipukul oleh gadis itu sebelumnya, tapi kenapa ... tamparan yang tadi itu terasa sakit sekali, nurani Taring berbicara seraya memegang pipi.
“Taring, kau sudah keterlaluan. Kau tidak tahu apa saja yang dialami Ilfina demi mencarimu selama ini. Kau harus minta maaf,” kata Ula.
“Bukan aku yang salah. Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Hidup terus dikhianati seperti ini sangat menyiksa.”
“Aku hidup jauh lebih lama darimu. Dan percayalah kau belum bertemu yang terburuk.”
“Tidak usah sok mengguruiku.”
“Kaupikir hanya karena dikhianati kau sudah tau kejamnya dunia?”
“MENURUTMU APA YANG BARU SAJA AKU ALAMI SELAMA INI! Aku nyaris mati beberapa kali hanya dalam waktu tiga hari.”
“DAN APA MENURUTMU KAMI HANYA DUDUK SAJA TAK MELAKUKAN APA-APA? Kau pikir darah siapa yang ada di mulutmu saat ini? Ilfina beberapa kali nyaris membunuh kami sebab putus asa mencemaskan dirimu! Dia nyaris menghancurkan kota! Miria mati tertangkap saat menyelamatkanmu dari Bourga! Dan sekarang, setelah selamat kau malah mengatakan hal menyakitkan seperti itu tanpa merasa bersalah? Dimana hati nuranimu? Apa kemanusiaanmu benar-benar sudah hilang?”
“..., mungkin saja, selama ini orang-orang terus memanggilku iblis.”
"...."
"Dari awal aku memang tak pernah ingin ikut campur dalam urusan perang dengan Werewolf ini. Aku tadinya hidup bebas sampai bertemu Mage sialan itu dan menarikku ke dalam pertunjukkan aneh ini. Aku bersyukur Inti Leluhurku telah hilang."
Ula menatap Taring dengan tatapan jijik. Lalu berjalan pergi ke pintu masuk goa menyusul Ilfina.
Sebelum keluar dari goa Ula berkata, “Taring kau salah, jika kau iblis Ilfina pasti sudah lama membunuhmu.”
Ula pergi. Kini hanya tinggal Badak yang tersisa di dalam goa. Setelah selesai beradu debat, Taring langsung pergi menuruni bukit meninggalkan semua teman-teman tanpa berkata sepatah kata pun.
Dalam keheningan malam, ditemani semilir angin. Ilfina menatap kepergian Taring dari kejauhan dengan berlinang air mata. Dia tak kuasa menahan perasaan yang sudah lama dia bendung selama ini. Dia menutup muka dengan kedua berusaha menahan tangisan penuh perih yang tak tertahankan lagi.
*T*ak kusangka kau benar-benar pergi Taring.
...-- Bersambung --...
__ADS_1