
Ilfina mengangkat tinggi tangan ke udara. Dari tangan itu keluar semacam bola cahaya dua warna, putih dan gelap keunguan di saat bersamaan membentuk simbol yin-yang. Angin tiba-tiba berhembus dengan kuat mengitari tubuh Ilfina dan Taring seolah berada di tengah-tengah tornado. Badak mau tak mau harus mundur karena terseret kuatnya tekanan angin.
Tapi ditengah semua kejadian dahsyat berkat sihir Ilfina, Taring justru jatuh terkapar seketika. Tubuhnya perlahan kini kembali ke wujud manusia sedia kala. Taring, mata merah, cakar panjang, semua lenyap begitu saja. Ilfina mengerutkan kening. Dia tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, sebab dia belum mengeluarkan jurus apapun. Baru sebatas gerakan awal saja.
“Ilfina ...,” badan Taring tertunduk lemas ke tanah. Dia coba bangkit melihat bola cahaya di tangan gadis itu untuk meyakinkan dirinya kalau dia tidak apa-apa.
Ilfina menurunkan tangan, secara ajaib bola energi dan angin beliung mini menghilang begitu saja, “kau ingat siapa dirimu?” Kata Ilfina dingin.
“Apa maksud pertanyaanmu?” Taring malah menjawab sambil tertawa.
“Jawab dengan benar! Apa kau sudah sadar sepenuhnya?”
“Ya ini aku! Ya ampun tidak perlu sekasar itu juga.”
Seruling yang tadinya menghunus ke tenggorokan Taring kini sudah kembali ke pinggang Ilfina. Gadis itu membantu pria rambut panjang bangun dengan pemakluman tinggi seolah mengerti betul apa yang terjadi pada Taring. Tapi saat hendak berdiri, kaki Taring kehilangan tenaga, dia sampai tersungkur ke tanah. Rasanya kaki, tangan, dan inderanya nyaris tak bisa berfungsi dengan benar.
“Taring ada apa?”
“Ti-tidak tau, biasanya sehabis meminum darah sebanyak tadi tubuhku dipenuhi oleh tenaga. Tapi sekarang, aku nyaris tak bisa berdiri,” perlahan gigi pria itu bergemeretak kedinginan diikuti tetesan keringat yang beberapa kali jatuh ke tanah.
“Badak! Cepat bawa dia kembali ke goa.”
Tanpa banyak bertanya, Badak langsung menuruti perintah Ilfina. Gantian kali ini giliran Taring yang digendong seperti tuan putri olehnya. Taring dibawa ke tempat dimana Ilfina sebelumnya dirawat di bagian belakang aula. Begitu sudah mendarat di kasur dengan aman, Ilfina langsung meneliti tubuh Taring dengan sihir.
Bola mata gadis itu bersinar dalam gelap. Di mata Ilfina, dia mampu melihat jaringan syaraf milik Taring dengan jelas. Bahkan sampai ke aliran darah yang kini dia lihat kurang teratur disebabkan infeksi sesuatu. Dia melihat ada virus yang terus menggerogoti bagian dalam tubuh Taring. Virus ini tidak lain adalah virus—
“Virus Mantha iya kan?” Kata Larga menyerobot masuk. Ilfina yang masih mengamati tubuh Taring langsung buyar konsentrasi akibat belum terbiasa dengan perawakan Krairon.
“Oh, kalian tahu tentang virus ini?”
“Tentu, kami baru mengetahuinya sekitar beberapa bulan lalu ketika salah satu ilmuwan dari Krairon menemukannya.”
“Dimanakah beliau sekarang? Aku harus bertemu dengannya.”
Larga menggeleng, “dia sudah mati. Orang itu adalah pamanku. Dia mati dibunuh oleh Istara sebab dia tak ingin kami mengetahui tentang virus itu. Tapi ternyata, kematian jauh lebih bisa di dengar.”
“Apakah tidak ada berkas, catatan atau apapun yang ditinggalkan pamanmu tentang virus ini?”
__ADS_1
“Tidak ada. Semuanya habis dihancurkan oleh Werewolf bajingan itu. Jika saja pamanku sempat memberikan semua hasil penelitiannya padaku pasti sekarang kami tidak perlu hidup sembunyi-sembunyi seperti ini.”
Ilfina berpikir keras, dengan segala sumber daya yang terbatas dia harus bisa menemukan obat untuk Taring.
“Virus ini berasal dari ulat besar Mantha," kata Ilfina pada dirinya sendiri, "Istara menggabungkan cairan ulat itu dengan pheoromone-nya agar bisa mengendalikan orang-orang yang terinfeksi. Cukup dengan mencium bau dari badannya saja para monster bertangan enam itu akan patuh padanya."
"Taring menghisap darah dari monster yang sudah terinfeksi. Sekarang efeknya mungkin belum berbahaya, tapi jika sampai Istara tau ada keturunan Vampir terakhir yang terinfeksi virus buatannya, Taring bisa dijadikan budak.”
“Apa nak Ilfina bisa menyembuhkannya?”
“Penawar untuk virus ini tidak mudah. Dimana aku bisa menemukan ulat Mantha?”
Lagi, Largha menggeleng pilu, “ulat itu sudah punah akibat dipakai Istara untuk keperluan serum. Jika pun masih ada yang tersisa, pasti para monster itu yang akan memakannya. Mereka paling menyukai ulat itu karena membuat mereka bertambah kuat.”
Sialan! Makhluk berkepala cacing ini tak membantu sama sekali, gerutu Ilfina.
Kembali gadis itu memutar otaknya mencari solusi. Dengan kondisi yang nyaris tak memadai seperti ini tak banyak yang bisa dia lakukan, bahkan untuk seorang Mage sekalipun, “apakah ada makanan yang tak disukai oleh para monster itu?”
Largha akhirnya bereaksi positif. Dia mengajak Ilfina masuk ke goa bawah tanah lebih dalam lagi. Setelah mencapai kedalaman nyaris tiga puluh meter mereka tiba di suatu ruangan yang penuh dengan lumut-lumut hijau dan beberapa jamur. Ada aliran sungai mini di seberang ruangan.
Ilfina mengambil segenggam tanaman hijau yang menempel di dekat aliran air. Lalu diperasnya lumut itu sampai keluar air dan meneteskannya ke mulut Taring yang tengah tertidur. Taring langsung menggeliat hebat tak terkendali.
“Arrg!!! PANAS!”
Tak tahan dengan rasa sakit di tenggorokannya Taring sampai meninju dinding disampingnya hingga roboh. Untunglah kerusakan beton itu tidak menyebar.
Ternyata memang benar, efek dari virus itu luar biasa. Taring yang baru terinfeksi sedikit saja kekuatannya sudah berlipat ganda. Ilfina mau tak mau harus menggunakan jurus pengikat pada Taring. Jika terus dibiarkan orang ini akan berbahaya.
Ada semacam energi berwarna ungu tengah mengelilingi tangan, badan, dan kaki Taring seolah mengikatnya kembali ke atas kasur yang sudah robek. Ilfina kembali memindai badan pria itu dengan sihir pada matanya. Hebat sekali gadis ini, bisa menggunakan dua jenis sihir disaat yang bersamaan. Pastilah penguasaannya dalam ilmu tenaga dalam sudah tak perlu diragukan lagi.
Ilfina mendapati reaksi virus terhadap jamur. Semua virus di dalam tubuh Taring mati, tapi karena adrenalin yang begitu besar di tubuhnya, virus itu beregenerasi dan hidup kembali. Setelah kejang beberapa saat, Taring kembali sadar. Dia sudah tak merasakan sengatan luar biasa di lehernya. Bahkan sebenarnya dia sudah tak merasakan apa-apa lagi. Semua rasa sakit akibat virus Mantha sudah hilang.
“Taring kau tidak apa-apa? Bagaimana perasaanmu?”
“Aku baik, rasanya tenagaku telah pulih kembali.”
“Hmmm ... aneh, virus di dalam tubuhmu belum hilang tapi kau tidak merasakan sakit lagi. Mungkin karena lumut inilah yang menyebabkan virus itu melemah.”
__ADS_1
Ilfina melepas tali pengikat pada Taring. Pria itu turun dari kasur dengan semangat seolah mendapat tenaga yang luar biasa banyak entah dari mana. Dia melompat beberapa kali, melakukan peregangan, meninju, menendang, dan sejenisnya membuktikan kalau dia sudah tidak apa-apa.
Geblar!
“Oops!” Salah satu tendangan mengenai kasur sampai ringsek menghantam dinding, “maaf.”
“Virus itu meningkatkan kekuatanmu, tapi lama-kelamaan virus itu akan pulih kembali, jadi sebaiknya kau—“
“Ya-ya-ya terima kasih atas bantuanmu. Sekarang aku ingin mencoba kekuatan baru ini kepada monster.”
“Hei Taring!”
Taring sudah hilang dari hadapan Ilfina dalam sekejap mata. Dia berlari dengan kecepatan yang sangat dahsyat sampai sulit dilihat oleh mereka yang hadir di aula ke arah pintu keluar. Karena terlalu bersemangat Taring tak bisa ngerem hingga dia terpaksa meninju batu besar di mulut goa.
Keprak!
Batu itu hancur berkeping-keping terkena tinju yang sangat kuat dari Taring. Kecepatannya masih belum berkurang hingga dia harus melompat ke salah satu batu untuk mengurangi momentum dan jatuh ke dasar bukit.
Ilfina dan seluruh bangsa Krairon panik bukan main. Mereka berbondong-bondong keluar dari goa untuk kedua kalinya. Pintu goa sudah hancur tak karuan, ini menambah kepanikan mereka, bagaimana jika nanti ada monster menyerang? Tapi itu semua tak mereka pedulikan, mereka hanya fokus mencari kemana Taring pergi.
Rupanya pria rambut panjang itu tengah berduel dengan salah satu monster tangan enam. Ilfina turun ke dasar bukit sambil berkuda, kuda yang ditungganginya sedikit tak lazim dengan cula besar di hidung.
“Taring! Hentikan itu berbahaya!”
Monster tangan enam melompat siap menghantam Taring dengan keenam tangan. Pria Vampir langsung bergerak ke bawah monster itu dalam sekejap lalu melompat menemuinya di udara. Semua itu Taring lakukan dalam waktu tak sampai satu detik. Monster kaget begitu target yang hendak dia geprek tiba-tiba pindah di depan mata.
Taring mengerahkan sedikit tenaga ke tangan kanan. Lalu—
Keplak!
Alih-alih meninju, dia justru menampar monster di udara sampai terpental sangat jauh dan pingsan. Monster itu tak sadarkan diri begitu mendarat ke tanah tepat di bawah kaki Ilfina dan Badak berada. Semua yang hadir tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Taring mengalahkan monster itu dalam hitungan detik hanya dengan satu tamparan. Mulut Ilfina menganga dibalik cadar.
“Nah, kurasa satu monster sudah cukup agar kau bisa membuat penawar virus, ya kan Ilfina?"
Ilfina tersenyum kecil sambil memalingkan wajah, dia tersipu. Ternyata Taring mau membantunya menolong bangsa Krairon dan Erga. Kini selesai sudah permasalahan diantara mereka berdua.
...-- Bersambung --...
__ADS_1