Darah Merah

Darah Merah
Krairon - Erga (ll)


__ADS_3

“Sekitar tujuh tahun yang lalu,” kata Larga bercerita, “Werewolf menduduki posisi kepemimpinan dari Bumi Tengah. Dengan punahnya Vampir dari kerajaan yang selama ini mereka pimpin bersama, membuat Werewolf bisa bebas keluar masuk dari lima kerajaan besar. Negeri Erga tadinya lahan hijau yang sangat indah, semuanya hidup dan menghangatkan hati bagi siapapun yang berkunjung.”


“Sekalipun untuk Werewolf, mereka tiba di tanah kami dengan damai dan disambut hangat oleh Raja Liantar, pemimpin dari pada Erga zaman dulu. Tujuan utama dia berkunjung awalnya ingin bekerja sama dengan kami, dia ingin melakukan riset terhadap kondisi alam di negeri ini untuk keperluan di kerajaannya, sebab dulu di kerajaan Bumi Tengah lahan hijau yang dipenuhi pohon dan air semakin menipis akibat industri mereka maju pesat dalam dua tahun terakhir setelah Werewolf berkuasa.”


“Jika setuju, mereka juga akan membagikan pengetahuan serta beberapa barang temuan mereka yang mungkin berguna untuk kemakmuran bangsa kami. Dari dulu Erga memang hidup lebih primitif dibanding negara lain sebab mereka tak butuh zaman, secanggih apapun masa depan kelak tetap tak akan mempengaruhi mereka."


"Tapi mereka juga tidak punya alasan untuk menolak ajakan dari raja Werewolf. Maka dengan lapang hati tanpa curiga sedikit pun kami kedua bangsa penghuni kerajaan ini menyetujui kerja sama itu.”


“Raja Werewolf meninggalkan salah seorang dari mereka untuk tinggal di sini meneliti. Werewolf itu bernama Istara, dia mengaku yang terpintar diantara para kaumnya."


"Sebagai hadiah kedatangan, Istara menawarkan sebuah serum. Dia bilang, ‘wahai para Erga yang Agung, perkenankan saya menawarkan kepada Anda sekalian serum serbaguna untuk mempermudah hidup kalian semua.’"


“Tapi serum itu langsung ditolak Erga mentah-mentah sebab mereka tak butuh. Buat apa? Toh semua persediaan telah disediakan oleh alam. Sekali lagi, mereka tidak terpengaruh oleh zaman."


"Karena barang itu tidak laku maka diapun menawarkannya pada kami, dia sendiri yang mendatangi kami secara langsung ke dalam tanah, ‘bangsa Krairon,' katanya, 'saya tahu betapa suka sekali kalian semua bekerja. Nah dengan serum ini kalian tidak perlu khawatir lagi, kalian bisa bekerja seminggu penuh tanpa istirahat. Cukup tidur dua sampai tiga jam seminggu sekali maka tenaga kalian tidak akan ada habisnya.”’


“Kami bangsa Krairon memang suka sekali bekerja dan benci ketika habis tenaga sampai harus beristirahat segala. Karena hidup dalam tanah, hari tidak menjadi masalah bagi kami. Kami hanya bekerja ketika tenaga masih kuat dan istirahat ketika kelelahan."


"Mendengar perkaatan dari Istara, banyak dari kami terpengaruh untuk membeli serum itu. Hanya saja karena harganya sangat mahal, mereka yang memiliki harta lebih saja yang sanggup membelinya. Tapi ironisnya justru kami yang tak sanggup beli inilah yang bisa selamat.”


“Apa yang dikatakan Istara benar adanya. Serum itu membuat mereka yang memakainya menjadi sangat prima. Layaknya kerbau yang tak kenal lelah, selama seminggu engkau bisa terus bekerja non-stop tanpa beristirahat sama sekali. Pekerjaan menambang pun menjadi sangat mudah dilakukan. Semuanya berjalan lancar sampai dua tahun kemudian.”


“Setelah dua tahun berlalu, efek samping serum itu mulai kelihatan. Tingkah mereka mulai menjadi agresif, tak mau makan sayur tapi lebih suka daging mentah, bahkan tak mau lagi hidup dalam tanah karena tak tahan dengan panasnya udara di bawah sini."


"Satu-persatu dari mereka mulai merangkak keluar permukaan dan memburu semua binatang yang mereka temui. Tonjolan-tonjolan aneh tumbuh di badan yang lama kelamaan dari tonjolan itu berubah menjadi tangan ekstra. Gigi menjadi tajam dan tumbuh tak teratur. Hingga akhirnya rupa mereka seperti monster yang nak Taring temui tadi."

__ADS_1


"Setelah hewan habis tak tersisa, mulai mereka memangsa sebangsanya sendiri yaitu kami yang masih sadar jiwa raga. Karena itulah kami mengungsi kesini, ini adalah sisa dari kaum kami yang terakhir. Di gunung seberang masih ada lagi sekitar dua puluh orang.”


“Tunggu sebentar,” Taring menyanggah, “lalu bagaimana Erga juga terkena efek yang sama jika mereka tak memakai serum itu?”


“Karena serumnya ditolak oleh bangsa Erga, Istara memakai cara licik. Dia menebar serum itu ke seluruh permukaan tanah negeri ini sehingga ketika Erga menghisap nutrisi dari tanah mau tak mau serum itu akan ikut termakan. Sebab itulah mereka menjadi seperti sekarang. Area rerumputan hijau ini adalah tempat paling aman dari para monster itu sebab tempat ini paling dekat dengan sinar matahari jika terbit. Mereka semua benci dengan sinar matahari.”


“Jahat betul apa yang dilakukan para Werewolf itu. Lalu kemanakah orang yang bertanggung jawab atas semua ini?”


“Istara? Dia menjadi pimpinan dari semua makhluk monster pembunuh itu. Markasnya ada di dalam lembah, di sana ada kastil tempat dia melakukan eksperimen. Entah kenapa dengan Werewolf itu, semua monster di luar sana menyembah kepadanya. Kami masih tidak tahu bagaimana dia bisa mengendalikan mereka semua.”


Asyik bercerita bersama, tiba-tiba ada suara erangan kecil dari arah aula belakang. Taring nyaris lupa kalau ada orang yang dia kenal tengah terbaring di sana, Ilfina mulai sadarkan diri. Paru-parunya perlahan mengisi udara dengan tenang menyadarkan kembali mata, telinga, hidung dan indra lainnya. Begitu semua berfungsi dengan baik, matanya menangkap sosok cacing raksasa dengan badan manusia.


“Aaaaa!!!” Ilfina berteriak histeris.


Dboom!


Taring tak mengerti apa yang menyebabkan gadis itu mengamuk. Itu adalah tindakan yang sangat tidak wajar bagi orang yang baru bangun dari pingsan.


Begitu dia menjenguk Ilfina, wajahnya masih pucat pasi seperti tadi kecuali tenaganya sudah pulih total. Tangan kanannya terangkat sangat tinggi sambil memegang seruling, ada semacam aura keunguan mengitari dirinya. Begitu Taring hendak mendekat, dia tak sengaja membentur energi tak kasat mata keunguan itu. Ilfina sedang memakai sihir pelindungnya.


“Hei Ilfina, tenanglah kau sudah aman sekarang,” Taring berteriak.


“Taring ...?” Perlahan Ilfina mulai mengenali pria dengan rambut panjang itu.


Dia lalu menghilangkan sihir dan mendekatkan dirinya kepada Taring bersembunyi seolah semua makhluk berhidung panjang di depan akan memakannya hidup-hidup. Reaksinya saat ini benar-benar imut seperti anak kecil sedang berlindung ketakutan di balik badan sang ayah.

__ADS_1


“Taring, dimana kita? Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Kau sudah baikan? Mereka orang-orang Krairon, yang telah menyelamatkan kita. Dan orang yang kau serang tadi, dia yang dari tadi merawatmu sampai siuman.”


Mata besar Ilfina berkedip beberapa kali, “benarkah? Oh jadi seperti inikah rupa bangsa Krairon.”


Perlahan Ilfina keluar dari balik badan Taring dengan malu. Reaksi malu itu benar-benar manis sekali jika dilakukan oleh orang secantik dirinya, “maaf semuanya, aku tidak bermaksud kurang ajar. Aku punya trauma dengan cacing jadi tadi itu aku hanya panik, murni ketidaksengajaan.”


“Oh tidak apa-apa,” kata Larga maju mendekat dengan ramah. Tubuh Ilfina masih gemetar begitu bertemu dengannya, “banyak yang bilang begitu ketika pertama kali bertemu dengan kami. Itu sebabnya kalau ke permukaan kami tak pernah melepas helm pelindung. Apa kamu sudah lebih baik sekarang?”


“Yah, aku sudah tidak apa-apa. Apa benar ini kerajaan Erga?”


Larga mengangguk. Setelah ketegangan singkat itu, mereka semua kembali ke aula. Ilfina ikut gabung dengan disuguhi beberapa potong roti dan air teh hangat. Dia memakannya dengan lahap sambil malu-malu mengingat dia baru saja melempar orang yang telah merawatnya, dan orang itu kini hanya duduk menatap Ilfina tajam dengan tangan diperban. Larga mengulang tentang apa yang terjadi dengan negeri tercintanya seperti dia bercerita kepada Taring tadi.


Ilfina mendengarkan dengan seksama. Dia merasa prihatin akan ulah jahat para Werewolf yang tega melakukan tindakan sekelas iblis seperti itu. Mereka yang masih memiliki hati manusia tidak akan pernah melakukan kejahatan yang bahkan iblis sendiri tak punya referensi untuk melakukannya.


“Yah, kalian bukan satu-satunya yang mengalami kejadian pahit dengan mereka,” akhirnya seorang wanita mungil yang sedari tadi duduk terdiam berbicara juga.


“Kau ...,” Ilfina coba menerka, “kau dari bangsa Lilua iya kan? Apa yang kau lalukan disini?”


“Sama denganmu kurasa. Pelarian.”


Ilfina tak menyambung pembicaraan itu. Seolah bertelepati, dia hanya mengangguk sambil tersenyum masam sebagai balasan.


“Nah Ilfina, kau yang membawa kami kesini. Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?” Kali ini giliran Taring yang bertanya.

__ADS_1


Ilfina meletakkan cangkir teh, dia menarik napas pelan lalu berkata dengan mantap, “Kita harus membantu mereka mengatasi masalah di negeri ini.”


...-- Bersambung --...


__ADS_2