Darah Merah

Darah Merah
Divulgarea de Sine (lll)


__ADS_3

Matahari pagi keluar membawa cahaya menyenangkan berwarna kuning emas di ufuk timur. Tanaman menyambut dia yang terang dengan suka cita sembari memantulkan butir-butir embun berkilau di atas dedaunan seperti kristal cantik. Di tengah hutan, ada bekas tungku api yang sudah padam menyisakan kepulan asap dengan batang kayu yang sudah gosong. Empat orang petualang masih terbaring kecuali satu orang duduk di atas batu terbangun sembari menguap mengejangkan seluruh otot siap menyambut hari baru.


Semua mengucapkan salam pagi masing-masing dengan muka bantal. Ilfina dengan kebiasaannya yang tidur dalam posisi duduk adalah yang paling bersemangat memulai hari. Tidak seperti sebelumnya, muka gadis bercadar itu lebih cerah pagi ini. Dia lebih bisa tersenyum manis secerah mentari yang menyinari mereka kepada semua teman-temannya. Beda sekali dengan tadi malam, dimana dia tampak kusut dan gusar sekali.


Dia menghirup panjang udara pagi mengencangkan kembali paru-paru yang sudah lama dia tidak olahragakan. Ilfina melakukan sedikit peregangan, melompat kecil, lalu berjalan mengitari teman-teman yang masih belum sadar sekitar sepuluh menit.


“Pagi semua.”


“Ilfina,” Miria menguap, “melihat senyummu di pagi hari seperti ini sungguh menyejukan hati. Bagaimana perasaanmu?”


“Jauh lebih baik dari semalam.”


“Nah, beginikan lebih enak,” kata Ula masih dalam posisi mengusap mata, “melihat perempuan cantik di pagi hari tersenyum manis memang beda yah. Daripada semalam, cemberuuut terus.”


Ilfina tersenyum kecil dengan pipi sedikit memerah, dia tersipu. Setelah sapa hangat selesai, mereka mulai berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan kali ini adalah sungai yang tak jauh berada di depan mereka. Suara air sungai yang bening deras memberi nuansa alam yang sangat asri sekali. Ilfina, Ula dan Miria mencuci muka dengan beberapa cipratan air. Badak sendiri malah membenamkan kepalanya ke dalam air sambil sekalian minum dengan puas.


Ada buah beri merah yang tumbuh di tepi sungai. Miria memetiknya banyak-banyak sebagai sarapan pagi hari. Sembari menunggu mereka makan, Ilfina memainkan seruling emas mengikuti alunan nada alam serta nuansa menenangkan yang ada di sekitar. Semua berkolaborasi secara teratur menyumbangkan suara-suara indah yang enak sekali di dengar kala bangun tidur.


Di tengah menikmati pagi yang tenang, ada sekelebat bayangan besar di atas kepala. Hewan besar raksasa bersayap dengan kepala lancip berlalu-lalang menimbulkan hembusan angin yang sangat kuat bagi mereka yang berada di bawah. Itu adalah naga!


Semuanya langsung menyudahi makan lalu berlari mengikuti kemana arah naga tadi terbang. Mereka kembali ke tepi pulau yang penuh dengan area bebatuan abu-abu. Tempat Taring meletakkan papan pesan. Ternyata ada seekor naga di atas sana yang tengah membuat sarang dengan melobangi salah satu bebatuan di dataran atas dengan api. Dia terbang konstan sambil berusaha menjaga agar apinya terfokus pada satu tempat.


Ilfina dan kawan-kawan masih melihat binatang besar itu dari bawah, belum mengambil tindakan apapun. Mereka berjalan di atas lereng pelan coba melihat lebih dekat. Semuanya berpikir bagaimana cara yang paling ampuh agar bisa menangkap seekor naga tanpa melukai mereka.


Debam!


Tapi saat sedang merangkak di tepi tebing, ada NAGA HITAM RAKSASA YANG TIBA-TIBA MUNCUL DI ARAH BELAKANG!


“LARI!!!”


Sang naga memekik sangat keras lalu menyemburkan api! Mereka berempat langsung terjun dari tebing menghindar agar tidak terpanggang hidup-hidup. Untunglah tebing yang mereka panjat belum terlalu tinggi. Mendengar naga hitam memekik, naga merah yang ada di atas kepala mereka melihat ke sumber suara. Dia lalu turun melihat keempat mangsa yang kelimpungan berada di lereng bukit.


Miria coba merangkak kembali masuk ke dalam hutan. Tapi langkahnya terhenti oleh naga merah yang tiba-tiba menghadang jalan dengan kaki besarnya. Kaki besar dengan kuku sepanjang pohon berada tepat beberapa sentimeter di depan muka. Dia lalu menoleh ke belakang hendak berlari. Lagi langkahnya terhenti sebab ada naga hitam yang kini menghadang.

__ADS_1


“Oh, sial!”


Ilfina berteriak, “Miria! Bagaimana cara menangkap naganya?”


“Kurasa maksudmu, bagaimana agar kita tidak tertangkap?”


Ilfina baru sadar kalau mereka tengah diapit oleh dua naga yang sedang kelaparan. Untuk saat ini, kedua naga itu bertatapan dan saling merentangkan sayap mereka selebar mungkin seolah menunjukkan siapa yang paling kuat. Saat ini mereka semua bagai sedang dijadikan bahan taruhan adu kekuatan.


Naga merah mendengus, naga hitam mendengus, satu menghempaskan ekor, satu lagi melakukan hal yang sama. Mereka berdua sedang melakukan intimidasi sebelum memasuki pertempuran yang sebenarnya. Naga merah berteriak, naga hitam berteriak, lalu keduanya maju secara beringas melayangkan serangan masing-masing. Ilfina, Badak, Ula dan Miria lari secepat mungkin masuk ke dalam hutan bagai serangga yang nyaris terinjak sepatu.


Semuanya memperhatikan pertarungan mematikan kedua hewan buas penguasa langit. Mereka saling mencakar, menendang dan menyabet dengan ekor. Bola-bola api dari mulut keluar beberapa kali menghanguskan sebagian hutan. Sulit untuk mengatakan siapa yang lebih unggul, kedua naga ini imbang dalam kekuatan. Jika saja tak ada pelindung magis, pasti mereka semua sudah hangus sejak lama.


“Apa yang harus kita lakukan, Miria?”


“Aku tidak tahu.”


“Apa? Bukannya kau bilang bisa menjinakkan naga?”


“Itu naga tanah, biasanya saat bertemu dengan kami para Krairon, mereka tidak akan menyerang. Aku tidak tahu apapun soal naga permukaan, apalagi sekarang jumlahnya ada dua.”


“Maaf.”


“Sebaiknya kita lihat saja dulu mereka bertarung.”


Kedua naga itu sama-sama terpental kena sabetan dari ekor masing-masing. Keduanya kelimpungan menjaga keseimbangan. Setelah kembali berdiri tegak, keduanya saling bertatapan dalam jarak dekat. Mereka membuka mulut lebar-lebar secara bersamaan lalu muncul dua buah bola api raksasa pada masing-masing mulut siap dilemparkan sebagai serangan penghabisan.


“SEMUA BERLINDUNG!”


Kaboom!


Ledakan api yang sangat dahsyat meratakan hutan di sana dalam sekejap. Bagai letusan gunung berapi, semua hitam legam dan hangus. Batu serta pohon berubah menjadi merah api seketika memancarkan radiasi panas yang sangat berbahaya. Untunglah Ilfina dan yang lainnya selamat berkat sihir pelindung si gadis bercadar. Kedua naga yang saling serang tiba-tiba roboh secara bersamaan dengan kulit sedikit gosong. Tapi anehnya tak ada luka bakar, keras sekali sisik pada kulit itu bahkan ledakan seperti tadi saja tak berpengaruh.


Setelah semua mereda, mereka yang bersembunyi mulai keluar mendekati naga. Kedua naga itu masih hidup, tapi lemas sekali kehabisan energi.

__ADS_1


“Berapa naga yang kita butuhkan?” Kata Ilfina sambil membelai sisik naga merah.


“Kurasa dua sudah cukup.”


Miria menyentuh kedua hidung naga secara bersamaan. Dari kening, muncul cahaya kehijauan berkedip beberapa kali. Makin lama cahaya itu makin menjalar keseluruh tubuh termasuk tubuh si naga. Mereka bertiga kini diselubungi cahaya aura hijau terang milik Krairon tangan enam itu tanpa ada perlawanan dari naga. Miria tersenyum di balik helm.


Tak lama kemudian kedua naga membuka mata dengan lesu. Mereka berdua berdiri masih dengan tubuh lemas.


“Nah, selesai. Sekarang mereka berdua mau membantu kita.” Kata Miria.


“Apa kau baru saja berbicara dengan naga?”


“Begitulah. Mereka bilang mau membantu kita asal kita mau membantu mereka.”


“Caranya?”


“Sembuhkan mereka, bisa?”


Ilfina coba menyentuh sisik keras kedua naga di depannya dengan ragu-ragu. Dia coba alirkan energi sihir kepada mereka berdua secara bersamaan. Tubuh raksasa itu kembali diselimuti aura sihir tapi dengan warna berbeda, kuning emas. Ciri khas aura milik Ilfina. Perlahan keduanya bisa bernapas dengan lebih teratur, bahkan sesekali keluar letupan-letupan api kecil dari hidung berkumis mereka.


Sekitar dua puluh menit kemudian naga hitam dan naga merah sudah bangkit kembali. Mereka berdiri dengan gagah seperti pada sedia kala penuh energi. Jika saja dalam kondisi biasa, mereka berempat pasti sudah mati menjadi makan siang dalam sekejap. Tapi para naga ini malah menundukan kepala mereka pada Miria layaknya hewan peliharaan yang patuh. Kini misi mereka mencari naga sudah selesai.


Selanjutnya mereka harus mencari Taring. Dengan kendaraan terbang perjalanan dalam mencari bocah itu jauh lebih mudah dilakukan. Ilfina dan Ula menaiki naga merah yang mereka namai Radia, sedang Badak dan Miria menaiki naga hitam bernama Ruba. Untuk pertama kalinya Badak merasakan sensasi menyenangkan ketika terbang di atas udara. Biasanya dia yang ditunggangi, tak pernah terbayangkan kalau dia akan terbang menunggangi naga. Dia celingak-celinguk tersenyum melihat pemandangan hutan di bawah.


“Itu dia! Aku melihat desa di sana.”


Semuanya pergi mengikuti komando Ilfina menuju desa yang berada sekitar lima puluh meter di depan. Ada gerbang yang ditujukan untuk menyambut mereka yang berkunjung ke desa. Di sana tertulis—


“Desa Barat Daya, kurasa Taring berada di sini.”


Ilfina turun dari punggung Radia melihat lebih jelas ke dalam gerbang. Desa itu kosong. Tak ada orang sama sekali. Semuanya sepi senyap tanpa ada tanda-tanda kehidupan manusia. Hanya ada kucing dan anjing yang berjalan mondar-mandir di jalanan. Patung Orc bertengger di setiap sisi menjadi hiasan bersama dengan merahnya dinding serta atap perumahan yang mendominasi.


Ilfina bertanya-tanya, “apa yang terjadi dengan tempat ini?”

__ADS_1


...-- Bersambung --...


__ADS_2