
“Untuk ras Werewolf dan Vampir ada cerita khusus,” sambung Ilfina, “si bungsu dan kakak pertama mendiami bagian Bumi Tengah bersama-sama. Mereka membagi rata area tersebut menjadi dua bagian. Di bagian kanan yang biasa disebut Bumi Tengah Kanan di diami oleh si bungsu dan bagian Bumi Tengah Kiri ditunggu sang kakak.”
“Mereka berdua tak pernah akur, sebab si kakak tak puas dengan pembagian itu dimana area yang dia miliki punya sumber daya alam yang sedikit. Semuanya kering dan penuh oleh batu karena berseberangan dengan Bumi Barat tempat tinggalnya para Orc. Sedang si adik mendapat tempat yang rindang penuh dengan dataran hijau dan aliran sungai yang jernih sekali dikarenakan dia berseberangan dengan Bumi Timur tempat para Elf.”
“Mereka berdua membuat manusia memakai penggabungan antara Inti Leluhur dengan batang Pohon Kehidupan yang sebelumnya mereka tebang. Dengan mengikuti cara kakak mereka menciptakan para Elf, pembuatan manusia mereka berdua sempurna tak ada yang cacat. Hanya saja umur manusia yang mereka ciptakan lebih pendek tak seperti para Elf.”
“Sebab tak puas dengan lahan yang dia dapat, si kakak pertama mendapat ide untuk membuat makhluk ciptaannya jauh lebih kuat daripada milik si bungsu, maka dari itu dia tidak hanya menggabungkan Inti Leluhur dengan Pohon Kehidupan saja, tapi juga dicampur sedikit bahan lain dari negeri para Orc. Akibatnya, manusia yang tadinya normal berubah DNA dan mampu bertransformasi menjadi bentuk yang lain, yaitu serigala. Itulah asal-usul Werewolf.”
“Tapi karena ada bahan dari negeri Orc, para Werewolf tidak terlalu cekatan ketika siang hari. Berkat mencontoh data manusia dari negeri Elf, si kakak menaikan seluruh potensi kekuatan bangsa Werewolf terhadap sinar bulan hingga maksimal. Itulah sebabnya mereka begitu kuat begitu terkena cahaya bulan. Berbeda dengan kami para Elf, leluhur kami hanya menaikan kekuatan kami dalam tahap wajar saja untuk mengimbangi kekuatan kami pada siang hari yang lebih dominan.”
“Berkat modifikasi DNA milik si kakak, manusia ciptaannya jauh lebih kuat daripada ciptaan si adik bungsu. Setelah seabad penuh melihat seluruh ciptaan mereka hidup berdampingan, para Werewolf makin berkuasa dan sering membunuh manusia lemah yang tak punya kekuatan apa-apa untuk melawan. Si bungsu melihat kaum ciptaannya nyaris punah akibat para Werewolf, pun berinisiatif untuk melakukan modifikasi terhadap DNA mereka.”
“Dia mencoba menggabungkan Inti Leluhur dengan DNA milik kelelawar sebab hewan itu kuat pada malam hari. Alhasil terciptalah ras dengan perawakan seperti manusia tapi gemar meminum darah yang bernama Vampir. ‘Hai Kakakku!’ Kata si adik, ‘sekarang kaumku jauh lebih kuat dari milikmu. Tak akan kubiarkan lagi engkau berlaku semena-mena terhadap mereka.’”
“’Wahai Adikku, aku tidak percaya kau mampu menciptakan makhluk yang lebih kuat dari ciptaanku. Bagaimana kalau kita menguji ciptaan siapa yang lebih hebat?’”
“Lalu terjadilah perang pertama antara Werewolf dan Vampir. Peperangan itu sungguh sangat dahsyat sampai meluluhlantakan seluruh bagian Bumi Tengah hingga kacau balau. Para saudara mereka yang lain harus turun tangan untuk menghentikan perang mereka berdua. Tapi mereka terlambat, dalam perang itu si bungsu tewas. Semuanya menyalahkan kakak pertama karena telah memulai perang dengan adiknya sendiri.”
“Setelah tewas, tubuh si bungsu terangkat tinggi ke angkasa dan tersebar menjadi potongan yang sangat banyak hingga memenuhi langit malam. Itu adalah asal-usul bagaimana bintang bisa tercipta. Si kakak yang membunuh bungsu dihukum ke bulan dan dipenjara di sana. Saudaranya yang lain membereskan kekacauan di Bumi Tengah sampai sebaik mungkin hingga layak untuk dihuni lagi. Mereka melakukan pembersihan sekitar setahun penuh.”
__ADS_1
“Setelah semua aman kembali, keempat dewa bersaudara ini kemudian memutuskan agar kejadian seperti ini jangan pernah terjadi lagi. Maka akhirnya mereka menciptakan manusia normal untuk menjadi penghuni tetap di bumi. Manusia yang tanpa kekuatan, tanpa umur panjang dan tanpa sifat bengis haus darah. Dengan begitu bumi akan jauh lebih aman jika diisi dengan kekuatan yang lebih minimal.”
“Itu sebabnya, para manusia normal saat ini jumlahnya jauh lebih banyak dari kita yang punya kemampuan spesial. Setelah menciptakan manusia normal tanpa kekuatan, keempat dewa itu membuat perjanjian agar jangan pernah ikut campur dalam kehidupan manusia di bumi."
"Jika ada campur tangan dari mereka ditakutkan kejadian yang membuat si bungsu mati akan terulang kembali. Maka mereka berempat pergi ke langit dengan meninggalkan tulang rusuk mereka pada masing-masing ciptaan pertama mereka sebagai bekal untuk menjamin keturunan serta kehidupan di bumi aman terkendali dan tak pernah kembali lagi hingga saat ini. Itulah cerita sejarah mengenai Inti Leluhur.”
“....”
“....”
“....”
“Di kuil kami ada banyak catatan sejarah tentang masa lalu. Malah sebenarnya setiap orang diwajibkan mengenal bagaimana cerita leluhur mereka masing-masing.”
Akhirnya jelas sudah bagi mereka semua yang mendengar cerita panjang milik Ilfina. Kecuali Badak yang kini tengah tertidur pulas tertelungkup di atas tanah kekenyangan. Inti Leluhur adalah tulang rusuk para dewa yang tujuan utamanya adalah untuk menjamin keturunan. Tapi dengan memiliki Inti Leluhur itu berarti juga memiliki sebagian dari kekuatan dewa itu sendiri. Pantas saja kekuatannya sangat dahsyat.
Ilfina mulai menyentuh daging panggang miliknya yang sudah menjadi dingin. Hanya Ilfina kini yang masih belum makan, sedang Taring, Miria dan Ula, piring mereka sudah menyisakan tulang-belulang.
Setelah bercerita cukup panjang, ternyata hari sudah menjelang tengah malam. Cerita Ilfina cukup lama untuk di dengar jadi wajar saja kalau Badak sudah tidur lebih dulu. Miria dan Ula mulai menguap dan masuk ke dalam goa bersiap untuk tidur. Taring sendiri masih belum bergerak dari posisinya.
__ADS_1
Seusai memakan daging setengah bagian Ilfina meletakkan piring dan mengelap mulut di balik cadar. Nampaknya dia sudah kenyang. Alih-alih masuk ke goa mengikuti Miria dan Ula, dia malah duduk kembali di atas batu yang bermandikan cahaya biru rembulan sambil meraih seruling kecil di pinggang. Taring sepertinya sadar kenapa gadis itu begitu gemar sekali duduk di bawah sinar bulan pada malam hari. Dari cerita yang barusan Ilfina sampaikan, nampaknya bulan memang memberi dia energi lebih banyak ketimbang makan.
Padahal Taring sudah habis beberapa potong daging dan ikan tapi perutnya masih belum sepenuhnya kenyang. Bahkan jika diperbolehkan dia masih sanggup menghajar daging sisa milik Ilfina tadi.
“Kenapa? Mau?” Kata Ilfina begitu sadar Taring beberapa kali sempat mencuri pandang kepada daging sisa miliknya.
“Bolehkah?”
“Silahkan, aku juga sudah kenyang kok,” kali ini perkataan Ilfina jauh lebih bersahabat. Dia memberi senyuman manis yang tulus kepada Taring.
“Wah! Terima kasih!”
Dia langsung mencomot daging itu dari piring tanpa ragu dan mulai memakannya sampai habis. Seperti biasa, Taring memang tak bisa menahan daging panggang jika sudah ada di depan mata. Ilfina tersenyum geli melihat tingkah Taring seperti anak kecil. Entah kenapa kedua orang ini baru akur ketika tidak ada orang yang melihat.
Gadis itu duduk di atas batu sambil memainkan sebuah lagu. Lagu yang merdu dan cocok sekali untuk pengantar tidur di waktu malam. Meski begitu, tanpa lagu pun semua yang hadir di sana sudah tertidur lebih dulu kecuali Taring. Dia satu-satunya yang menjadi penonton mendengar permainan indah Ilfina.
Melihat gadis secantik Ilfina diterangi cahaya bulan sambil memainkan seruling, tak peduli berapa kali pun dia melihat pemandangan indah ini Taring tak akan pernah bosan. Bahkan dirinya yang tengah asyik bergelut dengan daging panggang sampai teralihkan fokus karena gadis itu. Bibir merah meniup seruling emas, jari lentik secara bergantian naik turun memainkan nada-nada indah, dan mata sayu dengan bulu lentik itu menjadi pemandangan yang berbahaya bagi jantung Taring.
Tanpa disadari, ternyata pipinya sudah merah merona sebab terpesona dengan sosok bidadari cantik yang tengah disorot oleh rembulan. Pemandangan yang indah sekali!
__ADS_1
...-- Bersambung --...