Darah Merah

Darah Merah
Divulgarea de Sine (Vl)


__ADS_3

...-- Manuskrip Gigrandoor --...


...Suasana mendadak menjadi mendung....


...Tertutup oleh awan tebal bergulung....


...Diserai kilatan-kilatan cahaya petir sambung menyambung....


...Dengan suara gelegar semakin membumbung....


...Tanah dan logam tertarik mengapung....


...Di antara angin sebagai penghubung....


...Lima unsur pun mulai tergabung....


...Menyatu di dalam tubuh perkasa yang sedang terapung....


...Kekuatan semakin tinggi melambung....


...Pancaran sakti dari manusia ulung....


Begitulah bunyi gulungan yang Taring baca di dalam ruangan bawah tanah milik istana Lunda. Dia membacanya berulang kali sebab masih tak mengerti apa arti dari semua tulisan itu.


“Bagaimana?” Kata tetua Lunda.


“A-aku tidak mengerti.”


“Begini Taring, itu adalah ujian yang aku maksud sebelumnya. Engkau harus bisa mengeluarkan kekuatan Vampir milikmu agar bisa menyatukan kelima unsur alam, air, angin, tanah, api dan logam dalam tubuhmu dan menjadi raksasa sebesar kami. Jika berhasil, berarti ramalan dalam gulungan itu benar dan kau adalah Yang Terpilih.”

__ADS_1


“Hah? Aku harus menjadi apa? Raksasa seperti kalian?”


“Begitulah.”


“Itu mustahil. Kenapa juga aku harus menjadi raksasa?”


“Yah, menjadi Yang Terpilih berarti penyelamat bagi semua kaum yang ada, baik itu kaum yang besar atau yang kecil. Dengan melakukan Gigrandoor, kau bukan hanya bisa punya tubuh besar, tapi kau juga mampu mengendalikan seluruh bagian dalam tubuhmu sampai ke bagian yang terkecil sekali pun. Kau bebas memanipulasi tubuhmu, tidak perlu lagi khawatir dengan rasa haus darah, atau termakan oleh perasaan lagi. Semua terserah kehendakmu.”


“Memang bagaimana caranya agar aku bisa sebesar kalian?”


“Kau punya Inti Leluhur, ya kan? Satukan Inti Leluhur itu dengan kelima unsur alam. Jika berhasil menyatu dalam tubuh, tinggal terserah padamu mau membentuk tubuh yang seperti apa.”


Taring masih tak mengerti apa yang baru saja Lunda katakan. Dia hanya menggaruk kepala yang tidak gatal sambil terus membaca manuskrip itu berulang. Mereka berdua akhirnya keluar dari ruang bawah tanah menuju kembali ke aula utama.


Sehabis acara makan-makan tadi Taring diajak Lunda menuju ke bawah tanah untuk memperlihatkan isi gulungan yang katanya merupakan ujian yang akan dia lakukan. Taring mengira ujiannya berupa adu kekuatan atau ketangkasan, bahkan dia sendiri lebih siap jika yang diuji adalah kecerdasan. Tapi tak terpikirkan dalam kepalanya kalau dia harus berubah menjadi raksasa seperti kaum Broden. Sebenarnya ada keuntungan juga jika dia berhasil, dia tidak perlu lagi takut akan sifat haus darah yang suka mengambil alih dirinya dan berubah menjadi iblis mengerikan. Dia bisa bebas mengendalikan diri sepenuhnya. Jika saja itu mudah, dia pasti menerimanya dengan gamblang.


Taring maju ke tengah lapangan seorang diri. Di belakang banyak sekali manusia raksasa yang menonton dirinya. Dengan bermodalkan gulungan merah yang dia pegang, Taring masih tak mengerti apa yang sebenarnya harus dia lakukan. Menyatukan lima unsur alam dengan Inti Leluhurnya? Itu mustahil. Satu-satunya yang paling dia pahami dengan Inti Leluhur miliknya adalah, benda itu bereaksi dengan darah. Semakin banyak darah yang dia minum maka semakin kuat dirinya. Mungkin saja jika Ilfina yang melakukan ini, hasilnya akan berbeda. Punya gadis itu bisa menyerap kekuatan dari Inti Leluhur lain, bukan tidak mungkin dia juga bisa menyerap kekuatan dari alam, ya kan?


Taring memejamkan mata. Dia bertungku pada lutut menyentuh tanah dengan tangan. Dia coba merasakan seluruh alam dari semua indra yang dia punya. Air, tanah, api, udara, dan logam coba dia gapai melalui tanah yang dia sentuh. Tapi percuma, yang bisa dia rasakan hanyalah elemen logam yang terkubur di bawah. Dia tidak merasakan yang lain.


Wajar, sebab darah kaya akan zat besi. Taring hanya bisa merasakan darah, yang berarti hanya satu unsur saja yang mampu dia rasakan yaitu logam. Setelah sekitar setengah jam menyentuh tanah, Taring akhirnya menyerah untuk merasakan unsur alam yang lain. Dia hanya memakai logam.


Taring mengeluarkan seluruh tenaga yang dia miliki. Tangan muncul cakar, gigi menjadi panjang, mata berubah merah, dan ada sayap muncul dari punggung. Dia mengerang coba menarik unsur logam yang terkumpul di tanah ke udara. Aura merah serta kabut hitam menggumpal menutupi dirinya di tengah lapangan. Langit yang tadinya biru cerah secara cepat di datangi oleh awan tebal bergerak bagaikan sekumpulan miliyaran lebah yang hendak berkumpul pada satu titik.


Tubuh Taring yang diselimuti oleh awan hitam merah perlahan naik ke angkasa. Ada aura merah terang menyebar ke segala arah sampai mengenai para Broden yang ada di belakang. Angin berderu sangat kencang seperti tornado yang berpusat pada gumpalan awan hitam di angkasa sana. Tanah perlahan retak satu per satu, lalu muncul pusaran partikel hitam yang menyerupai tentakel-tentakel keluar dari tanah menuju ke langit bergabung dengan tubuh Taring. Itu adalah bubuk besi.


Petir beberapa kali menggelegar di langit. Para binatang yang ada di atas tanah berlarian kesana-kemari panik ketika kondisi alam di sana berubah total dalam waktu singkat. Matahari sudah tak terlihat lagi sebab tertutup badai. Taring terus coba menggabungkan logam-logam dari dalam tanah untuk menyatu dalam diri. Tubuh pria itu sudah nyaris membesar dua kali lipat dari ukuran aslinya.


“Arrgh!”

__ADS_1


Tapi tak lama kemudian Gigrandoor Taring terhenti. Seluruh tentakel elemen besi yang keluar dari tanah terputus akibat berhentinya kekuatan pria itu secara tiba-tiba. Aura merah yang ada di sekitaran juga mendadak menjadi hilang bersamaan dengan kepulan debu hitam di langit. Saat ini tubuh Taring sudah dua kali lebih besar dari sebelumnya tapi mulutnya berdarah. Jantungnya berdetak sangat kencang seperti ingin pecah. Tubuh bergetar hebat tak bisa digerakkan. Dalam keadaan menggantung di udara, tiba-tiba dia terjatuh bersamaan dengan hilangnya sayap dari punggung.


“Taring!”


Lunda melihat ini keadaan gawat sebab pria itu jatuh dengan posisi kepala di bawah dari posisi yang sangat tinggi. Si Broden besar langsung berlari secepat mungkin untuk menangkap tubuh Taring. Kecepatan larinya sangat dahsyat sampai menimbulkan hembusan angin bagai badai. Dan—


Gap!


Lunda berhasil menyambut tubuhnya. Taring dalam keadaan tak sadarkan diri dengan mulut terus mengeluarkan darah sangat banyak. Tubuhnya perlahan kembali menyusut ke ukuran semula selang beberapa saat kemudian.


“Gagal, ya?”


Dengan gagalnya logam berpadu dengan tubuh Taring, bukannya membantu proses mutasi DNA agar membuat tubuh menjadi lebih besar, logam-logam itu malah menyerang organ bagian dalam. Dalam hal ini adalah jantung. Untung saja jantung Taring tidak pecah sebab gagal melakukan Gigrandoor.


Dengan gagalnya ujian, berarti harapan yang para Broden inginkan juga ikut pupus.


...***...


Pada malam hari di kerajaan Bumi Tengah, seluruh penghuni istana sedang ribut berlarian kesana-kemari. Semua prajurit berlarian menyiapkan peralatan perang. Tombak, panah, pedang, meriam, dan senjata pembunuh lainnya mereka kumpulkan di depan istana bersamaan dengan ratusan prajurit yang sudah siap berjalan menuju peperangan. Bourga, si raja Werewolf berada di barisan paling depan siap memimpin.


“Felno, apakah semuanya sudah siap?”


“Siap Yang Mulia! Seluruh persenjataan dan prajurit siap berangkat.”


“Bagus, ayo kita berangkat sekarang! Jangan sampai kita kehilangan anak itu lagi.”


Dengan satu pecutan pada kuda, Bourga dan seluruh pasukannya berarak menuju barat daya untuk memulai pertempuran.


...-- Bersambung --...

__ADS_1


__ADS_2