Darah Merah

Darah Merah
Sang Pangeran Darah (ll)


__ADS_3

“Katakan Felno, kau adalah jenderal dari pasukan utama kerajaan sekaligus penasehatku, apakah diluar sana ada sesuatu yang nampak berbeda?” Kata Raja Bourga yang sedang menatap kerajaannya dari luar jendela.


“Yah Paduka,” kata si penasehat kerajaan, “saya memang merasa kalau siang belakangan ini terasa lebih singkat dari pada malam. Juga di langit, bulan sabit raksasa tak pernah pergi, bahkan ketika bertemu dengan matahari pun sinarnya masih bisa menyaingi.”


“Kau tahu apa penyebabnya?”


“Tentunya karena permata Inti Leluhur yang Paduka telah kumpulkan.”


“Tepat, aku baru mengumpulkan tiga buah dan efeknya begitu dahsyat. Angkasa bereaksi terhadap perbuatanku. Bayangkan jika aku berhasil mengumpulkan ke enam batu itu, Werewolf akan menjadi predator puncak di atas kaum lain. Ini akan mempermudah kelima kerajaan besar untuk tunduk kepada kita."


"Tapi aku masih belum bisa menemukan Inti Leluhur milik Vampir. Kysta tak memilikinya sewaktu aku mengambil nyawanya di malam itu. Pasti telah dia berikan kepada anaknya yang baru lahir. Jika anak itu masih hidup sampai sekarang, mungkin umurnya saat ini masih sepuluh tahun. Aku telah mengirim tim penyelidik untuk mencari bocah itu ke segala tempat. Tapi sampai sekarang aku belum mendapatkan kemajuan. Dimanakah dia bersembunyi?”


“Soal itu Paduka, baru-baru ini saya mendengar kabar--”


“Tolong Felno, kau tau aku bukan tipe yang suka bergosip. Jangan bicara padaku hanya berdasarkan kata orang.”


“Maaf Paduka, jika memang tidak berkenan saya akan langsung ke faktanya saja. Ada kabar mengenai kejadian baru-baru ini di kota kumuh tepi kerajaan kita. Orang bilang ada monster yang menyerang kota itu. Jadi saya pun menyelidiki apakah kabar itu benar atau tidak.”


“Lalu?”


“Begitu aku sampai di sana, tak satupun penduduk yang masih hidup. Semuanya mati di tepi sungai dalam keadaan mengerikan. Aku yakin kabar mengenai monster itu benar adanya. Atau kalau bukan, mungkin ini ada hubungannya dengan Vampir yang Paduka sedang cari?”


“Tidak, Vampir bukan tipe barbar yang suka memakan mangsa mereka secara membabi buta. Mereka biasanya lebih elegan dengan menusukkan taring mereka pada korban lalu menghisap darah sampai kering. Dan lagi, Vampir yang sedang aku cari masih anak-anak sepuluh tahun, mana mampu membantai seluruh warga dalam satu malam. Dia mestilah lebih kuat dari pada aku jika dalam usia seperti itu mampu melakukannya. Aku rasa itu ulah monster dari hutan yang masuk ke kota.”


“Saya pun sempat berpikiran demikian. Maka saya lalu melanjutkan penyelidikan sampai ke hutan dekat dengan perbatasan hutan terlarang.”


“Sampai ke portal?”


“Yah, di sana saya menemukan bangkai Werewolf yang mati tertusuk kayu tajam di mata dan dadanya.”


“Apa? Siapa yang berani menyerang Werewolf di wilayahku?!”

__ADS_1


“Saya juga tidak tahu, tapi kemungkinan besar monster inilah pelakunya. Paduka sendiri tahu betapa berbahayanya hutan terlarang itu, banyak sekali monster-monster berbahaya terkurung dibalik portal, itu sebabnya kita memanggilnya Hutan Terlarang.”


“Aku tak peduli makhluk jenis apa dia, tapi membunuh sebangsaku di tanahku sendiri? Itu perbuatan yang tak bisa dimaafkan. Felno! Kirim tim khusus untuk menangkap makhluk bedebah itu, sepertinya dia perlu diingatkan siapa pemimpin sebenarnya dikawasan ini.”


“Baik Paduka.”


...***...


Sementara itu di tengah malam, bulan sabit tetap memancarkan pesona di samping bintang. Bulan adalah bintang pertunjukkan yang sebenarnya di malam hari. Seorang pria tengah mengunyah daging mentah hasil buruannya hari ini. Itu adalah rusa jantan.


Rambut panjangnya terurai ke depan menyembunyikan parasnya yang gagah. Tapi dalam keadaan berlumuran darah seperti itu, kata gagah bukanlah penggambaran yang tepat melainkan seram.


Sembari Taring menyantap daging besar hewan itu, tiba-tiba sekitar tujuh meter ke kanan ada cahaya terang. Dari atas tanah muncul lingkaran bercahaya kuning yang cukup besar. Lingkaran itu mirip danau mini dengan airnya terbuat dari cahaya. Lingkaran cahaya itu perlahan menyusut dari ukuran selebar enam meter menjadi kecil setidaknya tiga meter.


Zeb!


Lingkaran cahaya menghilang dalam sekejap, digantikan oleh pemandangan lain yang lebih cantik. Yaitu sosok tubuh ramping tiba-tiba muncul secara ajaib tengah berlutut. Sinar bulan membuat tubuh ramping itu berkilauan, lalu secara perlahan mulai berdiri menegakkan posisi badannya.


Wajahnya tidak bulat telur namun tidak juga berahang kotak, semuanya proporsional dengan mata memiliki bola berwarna agak keunguan. Kelopak tidak lebar maupun sipit, hidung mancung yang sangat pas dengan bentuk kepala dan tulang pipi, bibirnya memerah secara alami. Dia punya bentuk cantik yang tidak akan pernah membuat bosan untuk dilihat. Ada cadar kecil transparan yang menutup mulut serta hidungnya, tapi kain itu tak bisa menutupi indahnya bibir merah merona tersebut.


Hiasan tiara kecil bertengger di jidatnya yang sedang, menghiasi rambut berwarna perak keunguan dan tebal bergelombang dengan panjang sepunggung. Tubuh itu memiliki lekuk benar-benar sempurna, diselimuti pakaian ketat keperakan dengan hiasan warna ungu di sana-sini yang tidak mampu menyembunyikan keindahan tubuhnya, ukuran dada dan pinggul sangat seimbang, membuat pemandangan bagi setiap lelaki normal sangat sulit untuk berpindah.



Jari-jari tangan kiri lentik itu diletakkan di pinggang rampingnya, sedang tangan kanan memegang seruling emas dengan bulu merak juga beberapa butir mutiara bergantung menghiasi ujungnya. Kaki kiri sedikit terangkat ke atas, sedangkan kaki kanan lurus ke bawah. Dengan tubuh indah seperti itu benar-benar sebuah gaya yang sangat anggun dan sangat cocok dikatakan bidadari turun dari langit.


Dari pada mengatakan makhluk cantik itu wanita, lebih cocok kalau disebut seorang gadis. Setidaknya umurnya mungkin 18 tahun. Gadis itu memandang ke arah Taring dengan alis berkerut namun terlihat masih indah, ekspresi wajahnya heran kebingungan hanya saja itu malah menambah daya kesan manis diwajahnya.


Melihat ada pemuda penuh darah sambil menjuntai bangkai rusa, gadis itu langsung berubah menjadi siaga. Kaki dan tangan kirinya maju ke depan sedang tangan yang satunya terangkat sambil menggenggam seruling. Dia mengayunkan tangan dengan cepat lalu muncul sinar ungu keluar dari seruling menghantam tubuh Taring.


Taring terpental setidaknya dua meter lalu bangkit kembali. Dia memanjat pohon dan siap menerkam si gadis. Tapi belum sempat cakar berdarah itu menyentuh target dia sudah terpental kembali. Ada semacam dinding tak kasat mata.

__ADS_1


“Arrgh! Apa itu?” Taring perlahan kembali naik ke atas pohon berusaha menjaga jarak dari musuh cantiknya.


“Ini perisai ghaib,” suaranya benar-benar merdu ketika dia berbicara dibalik cadar hitam, “selagi ***** haus darahmu masih ada, jangan harap kau bisa menyentuhku.”


“Omong kosong!”


Taring kembali melompat siap menyerang. Tapi lagi, seolah ada penghalang dirinya terpental sangat jauh berbanding lurus dengan tenaga yang dia kerahkan. Merasa dirinya dipermalukan, karena ini kali pertama ada yang bisa mengalahkan kekuatannya, dia mulai serius. Taring memejamkan mata, memfokuskan seluruh kekuatannya secara merata ke seluruh tubuh, matanya berubah merah dan taring panjang keluar dari mulut.


Melihat wujud Taring di bawah sinar rembulan, gadis itu menyadari sesuatu. Dia langsung mengubah kuda-kudanya menjadi diam ditempat. Tubuhnya sangat lurus kali ini, lalu menghempaskan serulingnya ke arah Taring. Dengan ajaib muncul gelombang energi berwarna kuning menabrak tubuh Taring, dirinya tak bisa bergerak akibat energi kekuningan itu seperti mengikat dirinya. Dia tak bisa apa-apa.


“Kau ... apa yang kau lakukan?”


“Jawab aku dengan jujur, apakah kau Vampir?”


Taring mencoba meronta, “setiap orang yang bertemu dengan wujudku seperti ini selalu berkata begitu. Mungkin ya aku memang Vampir, atau apapun itu. Sekarang lepaskan aku!”


“Tidak mungkin, aku—“


Dari samping terdengar langkah kaki seekor hewan sedang berlari mendekat dengan kecepatan penuh. Mungkin seekor kerbau besar. Begitu suara itu semakin mendekat, ternyata pemiliknya bukan kerbau, MELAINKAN SEORANG MANUSIA BERWUJUD BADAK!



Melihat cula panjang di hidungnya berlari ke arah mereka berdua, gadis itu melompat di udara sambil salto sedang Taring berguling ke belakang. Manusia hewan itu lewat begitu saja bagaikan gerobak yang lepas kendali. Tak bisa mengontrol kecepatan lajunya, si manusia badak sampai menubruk batang pohon.


Si pohon yang ditabrak tumbang begitu saja tak bisa menyaingi kekuatan momentum yang diterima. Makhluk bercula itu kemudian berbalik melihat kedua manusia yang tengah bertengkar.


Semuanya saling melihat satu sama lain. Posisi mereka bertiga dalam keadaan siaga dengan Taring yang sudah terlepas dari ikatan magisnya. Tak satupun yang berniat menyerang lebih dulu, semua masih dalam posisi masing-masing.


Lalu secara serempak mereka semua berkata; “Siapa kalian ini?”


...--Bersambung--...

__ADS_1


__ADS_2