Darah Merah

Darah Merah
Krairon - Erga (Vlll)


__ADS_3

TIGA!


Taring melihat ada semacam guci tanpa penutup tengah berbunyi bip! beberapa kali di atas batu tempat para Krairon di tahan. Dari dalam guci itu bersinar terang cahaya kekuningan yang mengandung radiasi merusak. Disampingnya ada semacam jam pasir yang sudah hampir kosong pada bagian atas, dalam beberapa detik lagi pasir pada jam itu akan menumpuk ke bawah seperti piramida.


DUA!!


Taring langsung mengumpulkan seluruh tenaga yang dia punya sebanyak mungkin. Dia mengerang beberapa saat lalu muncul dua sayap hitam besar dari belakang sampai merobek baju. Secepat kilat dia bergerak mengambil guci membawanya ke langit malam yang kelam. Dia lempar guci bom itu sejauh mungkin ke angkasa agar para Krairon tak terkena dampak ledakan.


SATU!!!


BOOOM!!!!


Langit malam berubah menjadi kuning terang akibat ledakan dari guci. Dentumannya membuat bumi bergetar hebat. Seluruh hewan yang ada disana berlari kocar-kacir kaget mendengar suara yang begitu memekakkan telinga.


Seolah ada matahari yang tiba-tiba muncul, seluruh Krairon bermandikan cahaya emas dengan rasa syukur yang luar biasa. Mereka bisa selamat dari ledakan maut. Baru kali ini, ada cahaya yang bisa menandingi sinar bulan biru di langit. Sekalipun ukurannya besar, tapi ledakan dari guci mampu mengusir sinar biru itu untuk beberapa saat sekitar sepuluh detik.


Taring turun begitu ledakan sudah reda. Dia menarik napas terengah-engah sambil bercucuran keringat. Semua lega, sekarang tak ada bahaya lagi. Bagi Krairon, mereka bagai sedang melihat dewa turun dari langit disertai cahaya suci di belakang membuat siluet sempurna dengan sayap besar. Percikan-percikan bunga api yang tersisa ikut memperindah tubuh kekar milik Taring.


Sekali lagi, Krairon merasa kalau orang ini adalah utusan yang selama ini mereka tunggu-tunggu selama sepuluh tahun yang bisa menyelamatkan mereka dari tirani Werewolf. Semuanya memberi hormat kepada Taring begitu dia menyentuh tanah dengan membungkuk.


“Terima kasih yang mulia Pangeran Taring. Jasamu pada negeriku tak akan pernah kami lupakan seumur hidup. Aku bersumpah akan menceritakan dan mengabadikan tindakan heroikmu ini sampai ke generasi berikutnya,” kata Larga yang masih menunduk memberi hormat.


“Kita belum selesai. Krairon dan Erga masih belum sembuh semuanya. Apalagi orang yang menjadi kunci dari semua ini sedang tak sadarkan diri sekarang.”


Ilfina terkulai lemas digendong Badak. Dia masih belum sadar sebab kehabisan tenaga. Dia terlalu bekerja keras seharian ini. Taring mendekat lalu merapikan sehelai rambut dari wajahnya, “seandainya aku bisa mendapat darah dalam jumlah yang cukup, aku bisa memberikan tenagaku padanya.”


“Oh, mengenai itu,” kata Miria riang, “kami bisa membantumu.”


Dia mengeluarkan sebilah pisau, lalu menyayat kecil tangannya hingga beberapa tetes darah jatuh ke dalam mangkuk yang dipegang Larga. Kali ini giliran Larga yang menyayat tangan. Lalu berpindah ke salah satu Krairon di sebelahnya, lalu berpindah lagi terus sampai mangkok itu kini penuh dengan darah.


“Kalian rela berkorban demi kami, setetes darah tak akan cukup untuk membayar hutang kami pada kalian. Jadi kumohon yang mulai Taring, silahkan.”


Taring menerima semangkok cairan merah itu dengan hormat. Dia belum pernah mendapat hadiah darah sebanyak ini secara suka rela. Air mata jatuh mengalir dengan lembut dari pipi kemudian menetes ke tanah, “terima kasih kalian semua.”


Dia meminumnya. Mangkok itu kering dalam hitungan detik. Taring memejamkan mata merasakan seluruh indra dan kekuatan dalam tubuhnya bangkit. Dia sudah terisi lagi. Badan lemas yang tadi kehabisan tenaga kini sudah berdiri dengan kokoh siap menghadapi apapun yang datang. Bahkan bahaya sebesar apapun dia tidak takut.

__ADS_1


Tapi dari pada menantikan bahaya, dia lebih memperdulikan temannya. Taring menyentuh kening cantik Ilfina dengan lembut. Dari jarinya keluar semacam aura kemerahan diserap oleh Ilfina. Kening gadis itu kini ikut bercahaya. Taring memberikan tenaga sebanyak yang dia butuhkan agar bisa bangun. Dia tidak keberatan jika Ilfina sampai menghabiskan seluruh energinya seperti yang dia lakukan tadi pagi. Dia rela pingsan demi Ilfina.


Sekitar dua menit menyerap tenaga, kelopak mata Ilfina terbuka juga. Dia menarik napas dengan lesu melihat semua kerumunan Krairon menatapnya khawatir. Menengok sedikit ke atas, dia melihat wajah tampan bak seorang pangeran tengah menatapnya balik. Setelah puas menilik wajah tampan nan elok itu dia sadar kalau orang itu adalah Taring.


“Taring?”


“Syukurlah kau sudah sadar.”


Badak menurunkannya secara perlahan. Kepala Ilfina masih sedikit pusing tapi sudah cukup untuk berdiri dengan benar.


“Apa yang terjadi?”


“Aku memberikan tenagaku padamu. Kita berhasil menyelamatkan seluruh Krairon, bahkan Istara juga sudah kita kalahkan.”


“Oh iya, aku baru ingat--”


Keplak!


“Hei kenapa kau menamparku?”


“Aku baru saja menolongmu dan kau memberiku sebuah tamparan? Terima kasih.”


Ilfina tersenyum nakal dengan sangat imut, “sama-sama!”


“Apa mereka berdua selalu seperti ini?” Dari balik kerumunan Miria berbisik mengumpat dengan Larga.


“Kurasa begitulah cara mereka menunjukan kepedulian masing-masing. Aku rasa itu romantis,” Larga berkedip.


Akhirnya kejadian menegangkan malam itu berhasil di atasi dengan kemenangan bagi Taring dan kawan-kawan. Kini Istara sudah tak ada lagi. Tinggal menyembuhkan kembali mereka yang belum sembuh dari virus Mantha. Esok harinya seluruh Krairon kembali bergotong-royong membuat serum penawar.


Ilfina menguapkannya pada awan dengan meminjam kekuatan milik Taring lagi. Dia menyeret awan hijau itu secara merata ke seluruh kerajaan Krairon-Erga tanpa terlewat satu tempat pun. Seluruh monster baik itu monster tangan enam dan pohon pembunuh satu-persatu kembali ke diri mereka lagi. Sekitar seminggu kemudian semuanya sudah sembuh total dan negeri indah ini kembali pada rutinitas lamanya tanpa teror.


Para Erga sudah menumbuhkan kembali dedaunan hijau pada ranting mereka. Sebelumnya sifat yang garang dan bengis itu telah hilang. Pemandangan hijau asri kembali memenuhi setiap tempat sejauh mata memandang. Tak ada lagi rawa menyeramkan. Tak ada lagi lembah penuh monster. Semuanya hijau-aman-damai-tentram.


Raja Atalus, yaitu pemimpin Erga ternyata adalah pohon beringin yang sangat rindang sekali, mungkin dia pohon terbesar yang ada di sana, memberikan penghormatan kepada Taring, Ilfina dan Badak sebagai pahlawan.

__ADS_1


Krairon-Erga membuatkan patung mereka bertiga dari logam Kraiman pada kemudian hari untuk mengenang jasa-jasa yang telah mereka berikan. Juga cerita keberanian mereka diabadikan dalam syair dan kitab yang disetarakan dengan keberanian para leluhur mereka melawan penjajah dari luar.


Tapi ada satu masalah kecil yang belum bisa menyempurnakan kisah kepahlawanan mereka. Tanah Krairon-Erga tak bisa bertahan dengan kondisi alam yang seperti ini, dimana siang jauh lebih singkat dari pada malam. Erga memerlukan cahaya matahari sebagai sumber kehidupan, dengan kondisi langit yang tak adil seperti sekarang, nutrisi yang mereka serap sangatlah kurang. Tapi nampaknya mustahil bagi mereka bertiga bisa mengatasi masalah yang satu ini.


“Aku bisa mengatasinya,” kata Iflina.


Apa? Dia bisa mengembalikan kondisi alam menjadi normal? Bagaimana mungkin dia kembali menyeret siang agar berimbang dengan malam?


“Aku bisa melakukannya asalkan aku bisa mendapatkan semua material yang dibutuhkan.”


“Apa itu?” Tanya Taring.


“Kita hanya perlu membuat matahari buatan, dengan begitu sinar matahari masih bisa mereka nikmati sekalipun hari sudah malam. Untuk itu aku membutuhkan beberapa komponen yang sangat sulit. Gas hidrogen dalam jumlah besar, baja yang sangat keras, beberapa biji emas dan uranium. Ah ya, aku juga butuh kristal yang mampu menahan radiasi nuklir. Dan terakhir, aku butuh tiga Inti Leluhur.”


Semuanya seketika terdiam mendengar penuturan Ilfina. Dimana mereka bisa mendapatkan semua itu? Apakah mungkin?


“Untuk hidrogen,” kata Ilfina, “kita sudah punya beberapa tangki. Kami sempat masuk ke laboratorium Istara yang ada di jantung lembah dan menemukan tangki yang terisi penuh hidrogen. Aku rasa dia tengah mengembangkan senjata pemusnah masal.”


“Oh bagus kalau begitu!” Miria bertepuk sekali dengan keenam tangan kegirangan, “untuk baja, kalian beruntung kami adalah Krairon. Kami ahli mengolah logam Kraiman yang kerasnya enam kali dari titanium. Kami punya banyak.”


Larga menimpali, “untuk uranium dan emas juga tidak perlu khawatir. Ada beberapa dari kami yang bertugas menambang biji nuklir, sebab membuat dapur untuk mengolah Kraiman kami memakai nuklir. dimana ada uranium di atasnya pasti ada emas. Juga kristal yang nak Ilfina butuhkan, kami siap menyediakan.”


“Baiklah kurasa semua bahan yang dibutuhkan sudah cukup. Kecuali dimana kita bisa mendapat tiga Inti Leluhur sekaligus?” Kali ini Taring yang memberikan pertanyaan mustahil untuk dijawab, “aku jujur punya satu. Tapi dimana kita akan menemukan dua sisanya?”


“Aku juga punya satu,” kata Miria mengangkat tangan, “Inti leluhur Krairon-Erga terlahir padaku. Aku siap berkorban jika memang diperlukan.”


“Kurasa dua tidak akan cukup, ya kan Ilfina? Kemana lagi kita harus mencari? Mungkin saja saat ini semua Inti Leluhur yang tersisa sudah ada di tangan pimpinan Werewolf.”


“Tidak, kau salah Taring.”


“Apa maksudmu?”


“Masih ada Inti Leluhur dari bangsa Elf. Aku memilikinya.”


...-- Bersambung --...

__ADS_1


__ADS_2