Darah Merah

Darah Merah
Perpisahan


__ADS_3

Setelah mendengar pertanyaan Taring, orang itu malah tidak menjawab. Dia terus berjalan tanpa rasa takut kepada Taring sekalipun dia mengeluarkan cakar.


“Siapa kau?” Sekali lagi dia bertanya.


“Tenanglah, kau sudah selamat sekarang.”


“Huh?”


“Semua baik-baik saja, aku telah menyelamatkanmu dari burung raksasa itu. Apa kau terluka?”


Dia menjulurkan tangan membantu Taring berdiri, “dengar, kenapa kau berpikir aku sedang dalam bahaya?”


“Bukannya tadi kau sedang ditangkap burung itu?”


“Aku yang menangkap burung itu. Jika saja kau tidak asal memanah, kepalaku tidak akan benjol begini.”


“Oh ...,” dia bingung, “maaf, kupikir kau sedang dalam bahaya tadi. Namaku Doni ngomong-ngomong.”


“Taring.”


“Taring, hmm nama yang aneh. Sepertinya kau bukan manusia biasa ya, bisa mengendarai makhluk bersayap itu, kau pasti punya kemampuan tinggi.”


“Kau sendiri bagaimana?”


“Aku hanya manusia biasa kok.”


Doni memanjat pohon untuk menjangkau bangkai burung di atas kepala mereka. Dia menyayat pisau, lalu membelah isi perut si burung. Dia merogoh sesuatu di dalam sana, lalu tangan itu keluar dengan menggenggam semacam organ.


“Ini adalah jantung burung Simian, banyak sekali kegunaan dari benda ini. Harganya sangat mahal dipasaran.”


“....”


“Ayo ikut aku ke desa, kau pasti bisa populer dengan mudah di sana begitu orang-orang dengar kau habis mengendarai salah satu Simian.”


“Tidak, aku sedang mencari teman-temanku. Saat ini aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang.”


“Kau pasti bercanda, kan? Lihat tempat ini. Tempat ini pulau yang sangat terpencil, nyaris tak ada jalan masuk kecuali dari jalur udara seperti yang kau lakukan tadi. Tak mungkin teman-temanmu bisa menemukanmu, tidak di sini. Jika bisa, pastilah dia seorang Mage yang bisa sihir teleportasi.”

__ADS_1


Taring tersenyum kemudian, “baiklah, aku akan ikut denganmu. Tapi ada yang beberapa hal yang harus aku lakukan lebih dulu.”


Taring memotong sebatang pohon lalu membuat papan kecil menggunakan pisau Doni. Dia menulis pesan di sana lalu ditempelkan kepada salah satu bebatuan. Semoga saja, Ilfina dan yang lain bisa membaca pesan itu. Pastinya jika takdir memang sedang memihak pada Taring, Ilfina akan berteleportasi ke sini dan mereka bisa berkumpul bersama lagi.


“Baiklah, semua beres.”


“Meskipun kau menulis pesan seperti itu, tak mungkin mereka bisa mendapatkannya.”


“Kita lihat saja nanti.”


Boom!


“Suara apa itu?”


Dari arah kejauhan terdengar suara ledakan. Rasanya seperi sebuah batu raksasa hancur menghantam tanah. Taring hanya menatap ke arah lautan di seberang sana dengan nyalang. Dia tak bereaksi apa-apa. Lalu mereka berdua pun melanjutkan kembali perjalan menuju desa tempat tinggal Doni.


...***...


Ilfina, Badak, Miria dan Ula kini sudah berada disebuah pulau yang berbeda. Mereka tengah dikepung segerombolan burung Simian yang berjumlah sekitar dua puluh ekor di atas kepala. Para Simian yang ada di sini memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada Simian yang menculik Taring tadi. Mereka terus memutari gunung tinggi mencuat yang menjadi sarang mereka. Dengan kedatangan tamu tak diundang membuat mereka menjadi ribut riuh di angkasa. Suara mereka sangat memekakkan telinga.


Bukankah situasi ini gawat?


Ilfina membuka dinding pelindung. Dia mengayunkan tangan dengan sangat cepat lalu muncul bola energi berwarna hitam pekat dengan suhu panas. Dia lemparkan kepada pemimpin Simian hingga dia berkeok kesakitan lalu terbakar jatuh ke tanah. Melihat pemimpin mereka mati dilalap api para Simian yang lain mengamuk! Mereka secara serempak menyerang. Ilfina tidak gentar, dia malah kian memanas dan terus melayangkan serangan mematikan lainnya.


Sihir pelindung sudah hilang, Badak dan Miria mau tak mau harus menghindari terkaman burung dan sihir Ilfina jika tak ingin menjadi korban. Badak mengeluarkan kapak besar, satu sabetan kuat berhasil mengoyak sayap salah satu Simian hingga terpental sangat jauh. Miria dengan tangan enamnya, mengeluarkan enam pedang sekaligus. Dia menari berputar sangat cepat sehingga setiap kali Simian menyerang, langsung terbelah oleh pedang hitam itu. Ula sendiri mencari tempat berlindung di bawah batu kecil.


Satu per satu jumlah Simian yang ada di langit perlahan berkurang. Mereka bertiga membasmi para monster bersayap itu dengan beringas. Tapi yang paling banyak menghabisi para Simian adalah Ilfina. Dia tak henti-hentinya mengeluarkan sihir tingkat tinggi sedari tadi. Semakin banyak bola-bola sihir yang terus dia lemparkan. Setiap bola sihir yang dia tembakkan ke langit meledak dengan sangat dahsyat. Entah apa yang merasuki Ilfina, tapi tempat itu sudah seperti dibom oleh puluhan rudal sekaligus.


Salah satu bola sihir mengenai puncak gunung hingga batu runcing itu patah. Batu-batu dalam jumlah besar menggelinding dengan sangat cepat siap menghantam mereka.


“SEMUANYA BERLINDUNG!”


Badak dan Miria ikut bersembunyi ke tempat Ula di bawah batu. Kecuali Ilfina, dia telindungi berkat sihir aura keunguan miliknya. Batu yang menimpa dirinya hancur secara instan. Seluruh Simian yang ada di langit bersih, semua mati menjadi bangkai di bawah kaki gadis itu.


Ilfina masih terengah-engah dengan kewaspadaan masih belum mereda. Dia bagai sedang kerasukan iblis. Semua yang memandang gadis bercadar itu sedikit merasa takut melihat air mukanya yang begitu gahar.


“Ilfina...?”

__ADS_1


Badak coba mengajaknya bicara, tapi seketika Ilfina menghunuskan seruling emasnya pada Badak seolah tengah mengancam musuh.


“..., Ilfina ... ini aku, Badak.”


“Badak?”


“I-iya ini aku. Kau sudah tenang?”


“Maaf.”


Semenjak Taring hilang gadis itu semakin bertingkah aneh. Dirinya selalu dikendalikan oleh amarah dan rasa cemas. Semua yang hadir di sana hanya bisa memaklumi. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menemukan Taring secepat mungkin. Itu satu-satunya jalan agar bisa membuatnya kembali seperti sedia kala.


Sementara itu, si bocah yang dicari sedang berjalan bersama remaja yang mungkin berusia sembilan belas tahun. Mereka berdua memasuki sebuah desa yang dikenal Desa Barat Daya. Tapi untuk seukuran desa, tempat ini makmur sekali. Bagai sebuah kota mini yang sangat mewah. Beda sekali dengan kota kumuh dimana Taring sempat membantai seluruh penghuninya waktu itu.


“Selamat datang di Kekaisaran Barat Daya.”


“Woah! Mewah sekali tempat ini. Apa benar ini desa?”


“Yah, dari jumlah penduduknya kami masih tergolong desa karena area kerajaan ini begitu sempit. Semua penghuninya manusia biasa jadi tak usah khawatir.”


“Dimana rumahmu?”


“Arah sini. Kita akan menuju ke istana di atas bukit itu.”


Desa ini khas gaya kerajaan dari dinasti-dinasti Cina zaman dulu. Rumah-rumah merah dengan beberapa gantungan juga hiasan kepala naga ada dimana-mana. Semua sibuk berlalu-lalang sambil tertawa ceria. Pakaian yang mereka kenakan juga sangat sopan tertutup dan penuh dengan renda-renda bagi pakaian wanita. Tapi aneh, ada patung Orc berdiri di tengah desa. Malah sebenarnya banyak sekali ukiran-ukiran dan patung yang menyerupai para Orc.


Taring tak henti-hentinya menganga melihat keindahan tempat mewah ini. Ini mungkin tempat terindah dan termewah yang pernah dia lihat dalam hidupnya.


...***...


...Teruntuk kalian yang mencariku, tenang saja tak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Aku saat ini sedang bersama seorang manusia yang mengajakku ke tempat tinggalnya di desa. Ikuti langkah kaki kami berdua dan kalian akan sampai disebuah desa yang tak jauh dari sini. ...


...Taring....


Kira-kira begitulah bunyi pesan yang di tulis oleh Taring di atas sebilah papan. Saat ini, Ilfina sedang membaca pesan itu. Dengan senyum manis, juga diikuti beberapa tetes air mata bahagia, dia akhirnya bisa bernapas lega.


Syukurlah kau baik-baik saja.

__ADS_1


...-- Bersambung --...


__ADS_2