Darah Merah

Darah Merah
Divulgarea de Sine (lV)


__ADS_3

Raja Bourga tengah duduk dengan pikiran kusut di atas singgasana. Tangan kanannya memangku dagu penuh tenakanan lahir batin memikirkan perkataan dari raja Orc yang dia penggal kemarin. Jika dia tak segera menemukan Vampir itu sebelum malam purnama maka rencananya untuk membuat malam menjadi abadi akan gagal. Waktu sudah semakin mepet, sedang musuhnya, yaitu putra Kysta makin lama makin kuat di luar sana.


“Yang Mulia, Anda kedatangan tamu dari negeri Orc.” Kata salah satu pelayan.


Masuklah tak lama seorang Orc yang setengah histeris, “Paduka Bourga, tadi malam saya baru saja melihat iblis! Iblis bersayap yang sangat mengerikan! Tolong lindungi saya.”


“Jarang sekali aku melihat Orc takut seperti ini. Tunggu sebentar ... bukankah kau ini pengawal Vidlan, si pemimpin desa kecil di pinggiran area kerajaan Orc? Apa yang membawamu ke sini?”


“Saya membawa kabar untuk Paduka, tuan saya, Vidlan telah tewas semalam oleh seorang Vampir. Bukan hanya itu, dia juga membantai seluruh warga Desa Barat Daya semalam dalam sekejap mata. Saya satu-satunya yang berhasil selamat.”


“Vampir! apa dia anak Kysta?”


“Ya Tuan, dia mengaku sebagai putra Kysta.”


“..., bagaimana penampilannya?”


“Tinggi, besar, berotot, rambut putih dan punya sayap hitam yang sangat besar. Kukunya panjang dan dia kuat sekali. Aku rasa tuan kami Vidlan, juga tak akan selamat melawan iblis itu.”


Bourga tertunduk lemas di atas kursi. Dia berkeringat dingin mengetahui semua yang dia takutkan selama ini jadi kenyataan. Felno, tangan kanannya sampai sedikit khawatir melihat muka sang raja menjadi pucat pasi seketika. Dia sadar tak mungkin menang melawan Taring dalam adu kekuatan. Dia masih anak-anak dan sudah sekuat itu? Sampai mampu membuat Orc lari ketakutan? Apa yang dikatakan Qimba benar, dia tak punya kesempatan untuk menang.


“Yang Mulai, Anda baik-baik saja?”


“Hah? Yah ... aku baik-baik saja. Tolong berikan dia imbalan sesuai kesepakatan yang telah aku janjikan.”


Salah satu pelayan kemudian memberikan sekantung koin emas pada Orc yang tengah gemetar di tengah ruangan. Dia digiring keluar begitu sudah tak ada lagi yang harus dia katakan pada sang raja.


“Felno,” kata Bourga, “ingat dengan monster yang menyerang kota kumuh di tepi kerajaan? Aku rasa kita sepakat kalau itu bukan ulah monster, ya kan? Lihat tanganku gemetar seperti ini.” Bourga mengambil gelas dengan tangan tak biasa diam. Air di cangkir itu sampai tumpah ke lantai.

__ADS_1


“Tuan baik-baik saja?”


“Seharusnya saat ini usia anak itu masih sepuluh tahun, tapi dia bisa membantai seluruh warga hanya dalam satu malam. Dan sekarang dia melakukannya lagi, di depan Orc secara terang-terangan. Lihat tanganku! LIHAT! TUBUHKU MENGKHIANATIKU. Aku takut Felno, aku takut padanya.”


“Tuan, kita akan cari jalan keluarnya. Dia masih anak-anak, kita masih bisa memanfaatkan keadaan.”


“Yah ... kau benar. Segera buat sayembara. Siapapun yang berhasil menangkap Vampir dengan rambut putih akan mendapatkan sebagian tanah kerajaan ini. Sebutkan juga posisi dimana terakhir kali dia terlihat di Desa Barat Daya. Jika kita bisa menangkapnya lebih dulu, kurasa aku masih punya kesempatan.”


“Dan saya akan melipatgandakan pencarian mengenai Inti Leluhur yang lainnya. Tuan tidak sendirian dalam masalah ini.”


“Terima kasih, Felno.”


...***...


Ilfina, Badak, Miria, dan Ula ditemani dua ekor naga raksasa sedang mencari penghuni desa yang sedari tadi tak kelihatan. Mereka mengetuk setiap pintu yang ditemui tapi tak kunjung mendapat jawaban. Tempat ini bagai kota hantu. Padahal kondisi perumahan maupun ternak dan pertanian masih terjaga dengan sangat baik. Penduduk desa ini bagai hilang dalam semalam.


“Hei semua, aku menemukan jejak.”


Ilfina mengajak yang lain untuk mengikuti jejak yang masih segar ini. Mereka berjalan beriringan dengan kondisi sedikit menunduk ke tanah. Hutan penuh dengan embun pagi. Pohon-pohon yang ada di sekitar mereka hanya terlihat bayang-bayang hitam saja di balik kepulan asap putih berhawa sejuk itu.


Perasaan cemas mulai menghampiri mereka masing-masing. Tak hanya Ilfina, bahkan Miria pun kali ini ikutan cemas bukan main memikirkan keadaan Taring. Dalam pesannya, Taring mengatakan kalau dia mengikuti salah satu manusia yang tinggal di desa tersebut setelah diculik burung raksasa, tapi kenapa malah tak ada seorang pun di sana? Apa yang telah terjadi? Kemanakah Taring pergi? Apa dia selamat?


Semua pertanyaan itu menghantui pikiran mereka. Ilfina yang tadinya sudah mulai baikan perasaannya sekarang kembali gusar lagi. Padahal tidak mudah mengembalikan senyum manis gadis itu.


Jejak yang mereka ikuti berhenti di sebuah tepi jurang. Di dasarnya ada lubang mengerikan penuh lahar api yang mengalir sangat deras berkobar-kobar dengan merah. Tapi yang lebih mengerikan lagi adalah, tempat itu dipenuhi oleh mayat. Semua kepala mereka terpotong dengan darah yang menggenang dalam jumlah besar. Kepala mayat di sana pada terapung di atas lautan darah.


Ilfina menutup mulut kaget, Miria menutup mulut, Ula mengikuti, sedang Badak langsung muntah. Pemandangan yang sangat jijik untuk dilihat.

__ADS_1


“Apa yang terjadi di sini?”


Taring, kuharap ini bukan ulahmu. Pikir Ilfina.


Dia melihat ke tebing seberang. Di sana banyak lubang-lubang bekas jejak kaki juga ada beberapa bekas tetes darah. Sebagian pohon di hutan atas tebing sana ada yang patah. Ada tali emas terkapar di atas tanah. Ilfina mengajak yang lain berteleportasi ke bukit seberang menjauhi pemandangan mengerikan penuh darah itu. Gadis bercadar mengambil tali emas lalu dia perhatikan dengan seksama.


“Ada yang habis bertarung di sini semalam,” Ilfina meremas tali emas.


“Apa mungkin ... Taring?”


“Entahlah. Kurasa inilah penyebab kenapa aku gusar sekali tadi malam. Aku merasakan bocah itu dalam bahaya. Dan pagi ini perasaan itu hilang, kuharap dia baik-baik saja.”


“Aku juga merasakan hal yang sama. Mungkinkah ini efek dari pemilik Inti Leluhur?”


“Mungkin saja. Aku sering memakai kekuatan Taring jadi Inti Leluhur kami berdua mungkin sudah terikat satu sama lain, itu sebabnya aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. Aku juga pernah memakai kekuatanmu Miria, itulah mengapa apa yang aku rasakan, kau juga merasakannya. Sekarang mengerti kan, kenapa kita harus segera menemukan Taring secepat mungkin?”


Miria menunduk tak bisa berkata apa-apa. Jujur saja saat ini dia sedikit cemas kepada Taring. Tapi jika apa yang dikatakan Ilfina benar mengenai perasaannya, bocah itu kemungkinan tidak sedang dalam bahaya sebab Ilfina tidak segusar tadi malam. Tapi tetap saja, apapun bisa terjadi jika mereka tidak segera menemukannya.


Mereka berempat kemudian terbang melintasi hutan mengikuti beberapa batang pohon yang tumbang dan tercakar. Kemungkinan besar jejak-jejak ini akan membawa mereka kepada Taring.


Sementara itu di sisi lain hutan, Taring sedang berada di sebuah gunung penuh batu-batu runcing. Banyak sekali lobang-lobang di dinding bukit dengan ukuran yang sangat besar. Sepertinya ada penghuni yang mendiami gunung besar berbatu ini.


Dan yah, sepertinya Taring kini sudah bertemu salah satu dari mereka. Yaitu manusia besar, raksasa yang setinggi delapan meter tengah bertatapan satu lawan satu dengannya. Yang di tatap Taring mungkin satu, tapi yang menatapnya ada puluhan orang. Taring sedang dalam mode Vampir, dia terbang memakai sayapnya untuk menatap mata raksasa itu layaknya burung.


Sepertinya pertempuran akan segera terjadi, lagi.


...-- Bersambung --...

__ADS_1


__ADS_2