Darah Merah

Darah Merah
Krairon - Erga (lll)


__ADS_3

Ilfina duduk di atas batu dekat mulut goa dengan mandi sinar rembulan yang sudah tak sabit lagi. Dirinya bagaikan puteri yang sedang bercengkrama dengan alam sekitar sambil menenangkan pikiran. Dia bermain suling begitu merdu sendirian dengan bebatuan dan langit yang menjadi penonton. Alunan nada-nada lembut bertebaran keluar dari alat musik tiup itu.


Meskipun tempat yang kini dia ketahui berbahaya, terutama diwaktu malam dia seperti tidak peduli. Baginya berada di luar goa jauh lebih bisa bernapas lega dari pada tinggal lama di dalam tanah dengan para Krairon. Taring dari tadi bersandar di dalam goa melihat gadis itu bermain seruling.


Jangan harap tatapan pria itu adalah tatapan kagum atau terpesona pada makhluk cantik di kejauhan sana, dia menatap Ilfina dengan tajam sambil mengerutkan kening. Yang ditatap bertingkah seolah tak peduli sekalipun dia tahu persis Taring sedang menatapnya dari tadi. Mereka berdua sedang bertengkar.


Perdebatan yang sempat terjadi antara mereka tadi sore masih belum selesai sepertinya.


Kejadiannya begini, setelah Ilfina memutuskan ingin membantu bangsa Krairon, pembicaraan menjadi tidak karuan.


“Hah? Kenapa kita harus membantu mereka?” Kata Taring tak mengerti.


“Anggap saja ini sebagai balas budi karena mereka telah menyelamatkan kita. Sekaligus permintaan maaf terhadap salah seorang yang tangannya diperban di sana yang sedari tadi terus melototiku dengan tajam.”


“Dengar, aku tidak tahu apakah kau sudah benar-benar pulih atau masih ngelantur. Sekalipun aku mau, bagaimana caramu untuk menyelamatkan mereka yang sudah menjadi monster di luar sana? Itu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh kita bertiga.”


“Kau lupa siapa aku. Aku adalah Mage, sudah menjadi tugasku membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.”


“Oh jadi kau sudah punya rencana?”


“Aku ...,” untuk sejenak Ilfina kehilangan kata-kata, “aku sedang memikirkannya.”


“O, kau sedang berpikir ternyata. “


Ilfina memutar bola mata, lalu menyeret Taring menjauh dari kerumunan ke dekat pintu masuk goa, “dengar Taring, ini mungkin bisa jadi kesempatan kita untuk menunjukkan kepada Werewolf kalau masih ada rakyat yang tak mau ditindas oleh mereka. Kita jangan mau membiarkan mereka terus bertindak semena-mena.”


“Oh ya? Dari apa yang aku lihat disini, kau hanya merasa bersalah kepada Krairon sebab tingkahmu tadi, sehingga muncul dalih yang menyebabkanmu punya ide untuk menyelamatkan keluarga mereka yang sudah menjadi monster, ya kan?”


Ilfina tak menjawab, dia hanya menatap mata Taring dengan tajam, “ya, itu juga salah satu alasannya. Kalau kau tidak mau membantu ya sudah biar aku sendiri yang melakukannya!”


Gadis itu berlari dengan menghentakkan kakinya kuat-kuat menandakan mood yang buruk. Dia berjalan keluar pintu goa lalu duduk disebuah batu besar menenangkan pikiran yang penuh dengan emosi.

__ADS_1


Tanpa disadari ternyata hari sudah sore padahal baru beberapa jam saja mereka tiba di kerajaan Erga. Mulut Ilfina meruncing tajam, sekalipun cemberut begitu justru memberikan kesan imut bagi siapapun yang melihat.


Dia memainkan seruling emas untuk menghibur diri. Taring hanya melihat tingkah gadis itu dari dalam mulut goa tapi dia juga tak tega meninggalkannya sendirian. Bagaimana pun di luar adalah tempat yang berbahaya, siapa yang tahu ada monster macam apa yang nanti akan menyerang dirinya tanpa disadari.


Dan sudah tiga jam berlalu mereka masih dalam posisi yang sama. Hari sudah menjadi gelap gulita sepenuhnya. Dari arah belakang, Badak datang sambil mengusap mata. Dari tadi ternyata manusia badak itu tertidur pulas sejak pagi hari dan baru bangun sampai sekarang.


“Hai Taring, ada apa?” Dia bertanya.


“Tidak ada. Kau gantian mengawasi dia, aku mau tidur sebentar.”


Taring melengos masuk ke dalam goa. Badak masih tak mengerti apa yang sedang terjadi antara mereka bedua, dia kebingungan bukan main tak tahu harus bertindak apa. Pasalnya mereka juga baru kenal kemarin dan tak tahu-menahu soal diri masing-masing. Jika dia tahu apa yang disukai oleh Taring dan Ilfina mungkin akan jauh lebih mudah memperbaiki suasana.


Lalu dia mendapat ide. Dia berlari masuk ke dalam goa dan sekitar dua menit kemudian kembali lagi.


“Hai Ilfina,” kata Badak sambil membawa sepiring roti, “mau makan bareng?”


“Terima kasih,” Ilfina mencomot satu roti dengan sungkan. Dia berhenti bermain suling lalu makan bersama Badak di tengah gelapnya malam.


“Apa kalian sedang bertengkar?”


“Oh ... Badak mau kok membantu teman.”


Ilfina tersenyum kecil sambil mengusap kepala besar Badak, “terima kasih. Setidaknya kau yang paling berguna disini.”


Telinga Badak naik turun kegirangan begitu tangan Ilfina mengelusnya lembut. Untuk sesaat bisa menghangatkan hati gadis itu, rasanya dia punya hewan peliharaan sendiri yang bisa membantu emosinya stabil.


Plar!


Dtoom!!


Boom!!!

__ADS_1


Dari dalam goa terdengar keributan yang luar biasa. Ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam sana. Ternyata itu ulah Taring, selagi berbaring tidur dia terus mengerang kesakitan seraya memegangi perut. Tangan dan kakinya terus membentur dinding goa dengan sangat kuat. Jika terus dibiarkan Taring akan meruntuhkan tempat itu.


Krairon yang melihat dia kesakitan tak tahu harus berbuat apa sebab tak mengerti penyebab dari sakit yang dia derita. Matanya terkatup rapat dengan keringat berucucuran seolah menahan rasa sakit hebat.


Taring panjang kemudian keluar dari mulut, matanya langsung berubah merah dengan bola mata mencorong tipis seperti mata harimau. Mata itu bercahaya di dalam kegelapan. Kuku di tangannya tiba-tiba menjadi panjang dan runcing. Wujud Taring sudah bukan manusia lagi melainkan Vampir.


Setelah semua muncul di badan, Taring melompat dari kasur berguling-guling di lantai. Krairon yang melihatnya semakin ketakutan dan mulai menjaga jarak sebab mereka merasakan bahaya luar biasa dari pria itu.


Taring menatap mereka satu persatu, seolah siap memangsa. Tapi kemudian kesadarannya berganti, dia menolak dorongan kuat untuk menghisap darah dari dalam dirinya. Dia bergulat hebat dengan diri sendiri sampai membentur dinding dengan lebih kuat lagi.


Suara benturan itu sangat keras sampai terdengar dari luar. Untunglah sejauh ini tak ada yang roboh.


“Semua! Tolong menjauh dariku!” Kata Taring berteriak kesakitan.


Tapi tak satupun Krairon di sana menurut, sebab tak ada tempat lagi yang bisa mereka pakai untuk kabur karena itu adalah satu-satunya ruangan di dalam goa. Kehabisan akal akhirnya Taring berlari ke arah pintu masuk dengan kecepatan yang tak masuk akal. Gerakannya menimbulkan hembusan angin yang sangat kuat hingga menyibak apapun yang berada di depan.


Ilfina melihat pintu goa terbuka dari dalam. Lalu melompat keluar sesosok iblis yang sempat dia temui di hutan semalam. Makhluk iblis yang ternyata Taring itu melompat ke dasar bukit mendatangi setiap monster yang ada di sana.


“Darah! Aku butuh darah!” Mata merah Taring nyalang mencari binatang yang bisa dia santap. Tapi tak lama sasarannya berpindah ke salah satu monster tangan enam yang dia temui di lapangan rumput.


Dia langsung menerkam monster itu pada leher, lalu mengoyaknya hingga putus. Taring bermandikan darah, lalu dari kepala yang dipegang dia minum semua darah sampai habis. Tak puas dengan kepala, dia beralih ke tubuh yang sudah tak bernyawa dan mengeringkan semua darah sampai kenyang.


Para Krairon keluar dari goa sedangkan Ilfina dan Badak sudah turun dari atas bukit mendatangi Taring. Semuanya menyaksikan perbuatan keji mengerikan yang dia lakukan.


“Apakah orang itu ... Vampir?” Kata Larga.


Sesampainya di sana, Badak dan Ilfina melihat pria berlumuran darah tengah memangsa seekor monster raksasa. Taring sudah bukan lagi manusia disaat seperti ini, melainkan iblis haus darah.



“Badak, mundurlah! Biar aku yang menanganinya,” Ilfina bersiap mengeluarkan sihir tingkat tinggi. Bagian tengah keningnya tiba-tiba bercahaya ungu. Di tangan muncul sebuah bola energi dua warna bercampur jadi satu dengan terang.

__ADS_1



...-- Bersambung --...


__ADS_2