Darah Merah

Darah Merah
Krairon - Erga (Vll)


__ADS_3


Akhirnya setelah seharian mengitari tempat kekuasaan serigala jadi-jadian, dia menemukan mereka juga. Pastinya Werewolf ini tidak senang dengan apa yang telah diperbuat Taring dan kawan-kawan. Jika mereka cerdas, seharusnya sudah memprediksi ini akan terjadi. Tapi sayang tak satupun dari mereka membuat rencana antisipasi terhadap petaka yang sudah pasti mereka temui.


“Kalian manusia kurang ajar! Rasakan ini!”


Gebuk!


Dengan kecepatan yang sangat luar biasa si Werewolf menyerang Badak dan Ilfina secara bersamaan. Tinjunya melemparkan mereka berdua ke tebing di belakang dengan Badak menggencet tubuh gadis itu seperti serangga.


“Arrgg!” Darah melompat keluar dari mulut Ilfina. Cadarnya sampai terlepas.


Taring tak bisa berbuat apa-apa dalam kecepatan yang tak bisa dia ikuti dengan mata barusan. Dia hanya mematung melihat Ilfina dan Badak terpental. Ilfina tak bisa bangkit, tubuhnya terlalu kelelahan sebab seharian penuh dia menggunakan sihir tanpa henti. Tenaganya diambang batas.


“Inilah akibat jika suka mencampuri urusan orang!” Si Werewolf yang pastinya dia adalah Istara tertawa jumawa melihat mereka berdua kelimpungan.


Beda dengan Badak, sebab kulitnya keras dia hanya mengalami lecet-lecet tak sampai terluka. Dalam kondisi kedua temannya dihajar dalam satu kali serang, Taring malah berjalan menghampiri Werewolf dengan santai, “heh! ada apa? Kau mau juga?” Kata Istara.


Tapi Taring bagai sedang tuli tak mendengar apapun yang barusan dia dengar. Pria itu menunduk ke kaki Istara. Si pemilik kaki yang merasa kalau Taring hendak berlutut menyeringai lebar.


“Tolong angkat kakimu,” kata Taring dingin. Senyum dari wajah Istara memudar sebab apa yang dia bayangkan tak kunjung terjadi. Ternyata Taring cuma memungut cadar yang sedang diinjaknya.


“Kalau aku tidak mau—“


Keplak!


Satu kali tamparan cukup melemparkan Werewolf itu ke tebing yang ada di belakangnya. Kali dia bisa merasakan rasa sakit yang diterima oleh Ilfina. Taring berjalan perlahan mendekati kedua temannya sambil menyembunyikan ekspresi mengerikan di balik helai rambut panjang. Ilfina bisa merasakan ada aura berbahaya keluar dari Taring.


“Kalian tidak apa-apa,” kata Taring sambil menyodorkan cadar kepada Ilfina, “tunggulah disini. Badak, kau jaga dia selagi aku menghadapi Werewolf itu.”


“Aku akan membantu—“


“Jangan!” Teriak Ilfina sambil menarik tangan Badak, “sebaiknya kita jangan ikut campur.”

__ADS_1


“Apa Taring bisa mengalahkannya sendirian?”


“Aku tidak tau, tapi ... aku belum pernah melihat dia semarah itu.”


Mata Taring menatap tajam ke arah Werewolf yang tengah susah payah bangun dari tumpukan batu menimpa dirinya. Mata yang berapi-api penuh amarah serta dendam. Tak perlu masuk mode Vampir untuk membunuh hewan buas yang bertingkah seperti manusia. Cukup dengan tenaga biasa disertai amarah akan mampu menghempaskan setiap arogansi milik Istara.


“Hooo ... hebat juga kekuatanmu Anak Muda,” Istara melihat ke langit sebentar, awan mendung yang dikumpulkan Ilfina kini hilang dan bulan muncul dalam keadaan bersih.


Cahayanya memandikan setiap bulu milik Istara, “terakhir kali ada yang berani memukulku saat aku masih anak-anak di akademi. Anak itu kini tak punya mulut dan harus makan lewat selang kecil seumur hidupnya. Dan aku belum pernah dipermalukan lagi, sampai sekarang,” selagi mengatakan itu tubuhnya kian membesar sampai dua kali lipat.


Lalu Isatara mengeluarkan semacam alat suntik yang berisi cairan merah, “para Krairon itu sangat berguna sebenarnya. Tapi sayang, berkat kalian mereka semua akan binasa seperti kaum Vampir sepuluh tahun lalu.”


“Apa yang kau lakukan pada mereka?” Taring bertanya.


“Selama ini aku tahu kalau Krairon bersembunyi di dalam bukit di belakangku. Aku sengaja tak mengusik mereka sebab masih bisa aku gunakan. Tapi sejak aku tahu kalian ikut campur, mereka kini dalam bahaya. Dalam waktu dua menit, aku siap meledakan mereka semua sampai berkeping-keping hingga tak ada lagi yang tersisa.”


Istara menyuntikan semua cairan merah itu ke leher dan matanya langsung berubah merah terang. Tubuhnya kian membesar dengan otot membengkak secara instan. Kini tubuhnya sudah empat kali lipat lebih besar hampir setinggi pohon. Taring harus mendongak untuk melihatnya.


Sedang Taring sebaliknya, dia justru hanya berdiam diri di tempat tak melakukan apa-apa. Dia juga tak mengeluarkan taring, cakar, atau semua hal spesial di dalam dirinya yang berkaitan dengan Vampir. Kecuali tatapannya kini yang kian menghujam tajam bagai sedang mengoyak jiwa Werewolf yang tengah dia tatap.



Taring berguling ke samping menghindari serangan maut itu. Beruntung tak satupun dari serangan Istara yang kena. Tapi fatal baginya, sembari berguling manusia serigala kembali melayangkan serangan kedua yang lebih mematikan lagi. Kaki besar seukuran nampan siap menghantam Taring dengan tenaga penuh.


Taring panik, dia cepat berganti posisi lalu melompat sangat tinggi ke udara. Saat itulah pertahanannya lengah dan langsung dimanfaatkan Istara dengan melayangkan pukulan telak ke arah punggung Taring sewaktu di atas angin. Taring terpental sangat jauh ke dinding tebing, mulutnya berdarah.


"Gagh!"


“Apa hanya ini kemampuanmu?” Kata Istara dengan angkuh.


Dalam keadaan tertimpa batu, Taring perlahan kembali berdiri. Kepalanya tertunduk ditutupi oleh rambut putih panjang menyembunyikan wajah iblis. Begitu dia mendongak, matanya sudah berubah merah, taring di mulut keluar dan kuku di tangannya menjadi sama panjang dengan milik Istara.


Taring menggeram, lalu—

__ADS_1


Cebrats!


Tiga cakar Taring mengoyak dada musuhnya dalam sekejap mata. Kecepatan itu membuat Istara kaget setengah mati. Dia benar-benar tak menyangka kekuatan Taring berubah begitu besar dalam waktu singkat. Sekarang posisi sudah berbalik. Istara sedikit ketakutan.


Manusia serigala kemudian tak main-main lagi. Dia menyerang Taring membabi buta dengan segala kekuatan yang dia punya. Seluruh tempat mereka bertarung hancur berantakan dan menyisakan lobang-lobang dalam akibat hentakan Istara. Taring belum mencoba menyerang, dia hanya menghindar berusaha menjaga jarak dari setiap serangan, sesekali membentur pukulan dengan pukulan. Istara sadar dia tengah dipermainkan dan Taring tidak serius mengeluarkan semua kekuatannya.


Gap!


Istara menangkap kaki Taring lalu melemparnya ke udara siap menghajar dengan tinjunya. Dalam pikirannya dia mengira kejadian sebelumnya akan terulang kembali. Tapi yang terjadi justru diluar perkiraan, Taring malah menggaet leher Werewolf itu dengan cakar menembus kulit berbulunya. Dia berdiri di atas bahu Istara siap mengakhiri pertarungan .


Gigi-gigi tajam menyeringai keluar dari mulut Taring. Kemudian dia menggigit leher Istara sampai terkoyak. Lengkingan kesakitan berderu dari mulutnya disertai darah bersimbah membasahi tanah. Dia hendak menggapai Taring yang berdiri di atas tubuhnya tapi tetap saja tangannya tak sampai.


Belum puas dengan mengoyak leher, cakar panjang Taring merogoh ke dalam luka besar itu menyentuh tulang leher.


“TARING JANGAN!” Ilfina berseru di kejauhan.


Brak!


Sudah terlambat, tulang leher makhluk buas itu tertarik keluar sampai tulang belakangnya ikut terlepas sepaket dengan kepala Werewolf. Taring mengangkat kepala Istara tinggi-tinggi diikuti roboh tubuhnya berdebam ke tanah sambil berpose kemenangan seraya bermandikan darah. Kali ini dia tidak berani meminum darah sembarangan mengingat pengalaman yang telah dia alami sebelumnya.


Matanya sudah kembali normal. Setelah pertarungan selesai dia menghampiri Badak dan Ilfina di tepi tebing. Kedua orang yang dihampiri malah sedikit merasa takut melihat wujud Taring yang mirip dengan monster yang pernah mereka temui sebelumnya. Seluruh badan dari kaki sampai ujung rambut penuh cairan merah milik Istara.


“Taring ...?” Kata Ilfina ragu.


“Kalian tidak apa-apa?”


“Ya kami baik-baik saja. Oh tidak! Para Krairon!”


Dengan sisa tenaga terakhir Ilfina mengeluarkan sihir teleportasi. Dia mengayunkan tangan dengan sangat cepat lalu terbentuklah lingkaran emas di bawah kaki mereka bertiga. Perlahan lingkaran itu mengecil sekitar seperempat persen dan—


Zeb!


Mereka sudah berpindah ke atas gunung. Ilfina terjatuh pingsan kehabisan tenaga. Taring tak sempat menangkap tubuh gadis itu sebab matanya kini tertuju pada puluhan Krairon yang tengah terikat di batu.

__ADS_1


Di atas mereka ada semacam bom yang terus berbunyi bip! siap meledak kurang dari lima detik!


...-- Bersambunh --...


__ADS_2