
Taring terbaring pada kasur dengan selang impus kecil menempel pada lengan kanan di malam hari yang kelabu. Sepertinya Vampir itu sedang menerima transfusi darah sebab kejadian gagal yang dia lakukan tadi siang. Negeri Brodella ternyata tak seindah seperti yang terlihat pada siang hari. Ada kesan misterius berbahaya yang muncul di setiap sisi kota saat malam tiba. Lolongan serigala dari luar lembah sangat banyak begitu bulan setengah purnama muncul.
Taring membuka mata. Dia mendapati ada raksasa tengah menunggu di samping kasur yang dia tiduri dengan ukuran sama raksasanya. Itu adalah Lunda.
“Apa yang terjadi?” Kata Taring bangun sedikit tertatih.
“Kau gagal dalam ujian. Kelihatannya kau hanya mampu bersatu dan mengendalikan satu unsur elemen saja yaitu logam. Tapi tubuhmu belum siap sehingga terjadi penolakan. Untunglah jantungmu tidak pecah.”
“Sekarang kau sudah lihat sendiri, aku bukan Yang Terpilih.”
Taring melihat selang kecil berwarna merah yang menempel di tangan. Dia mengira sedang ada pasokan darah yang mengalir masuk dari kantung impus berisi cairan kehidupan di atas kepalanya. Setelah diperhatikan dengan seksama kantung darah itu semakin lama semakin terisi bukannya semakin berkurang. Darah Taring sedang disedot habis-habisan bukannya menerima transfusi. Wajar saja kepalanya pusing bukan main bersamaan dengan badan lemas tak bertenaga ketika terbangun.
“Apa ini?”
“Taring, aku sudah bilang sebelumnya kalau negeriku ini punya sisi gelap. Tadinya aku mengira dengan hadirnya keturunan Vampir terakhir bisa menyingkirkan sisi itu. Tapi setelah menyaksikan kejadian tadi siang aku sadar tidak ada harapan lagi. Kau membuat aku tidak punya pilihan.”
“Sudah cukup, Lunda!” Tangan besar berbulu dan bercakar tajam menarik Lunda seperti melempar sekarung beras tanpa bobot ke belakang. Tangan itu milik Werewolf, “Akhirnya, putra Kysta, kita bertemu juga.”
Werewolf itu berubah pada wujud manusianya lagi, Taring dengan keringat bercucuran berkata kemudian, “siapa ... kau?” Kepalanya sudah setengah kosong dengan darah yang semakin menipis.
“Aku adalah Bourga, raja Bumi Tengah pemimpin para Werewolf. Sudah sepuluh tahun aku mencarimu kemana-mana. Aku yakin kau punya sesuatu yang menjadi milikku.”
Begitu Taring melihat lebih jelas ke segala ruangan, ternyata tempat itu dipadati oleh sekumpulan prajurit Werewolf. Hanya Lunda seorang yang merupakan Broden di sana.
“Lunda, bisa kau beritahu siapa nama pemuda gagah ini?”
“Paduka, nama dia adalah Taring.”
“Pastinya nama lengkap dia adalah Pangeran Taring Vampirelia Astarius. Jika kau belum tahu nama margamu, yang tadi itu seharusnya menjadi nama belakang yang bagus.”
__ADS_1
“Lunda ... kau bersama si keparat ini?”
Gebuk! Keplak!
Mulut Taring berdarah, "hati-hati kalau bicara."
“Argh!”
“Aku sudah bilang padamu, negeri ini punya sisi gelap. Kami sudah lama dijajah menjadi budak oleh para Werewolf. Aku tadinya berharap kau bisa membebaskan kami. Tapi aku salah. Ketika kau masuk kota ini, seluruh mata sudah tertuju padamu. Kau tidak sadar, ada beberapa Werewolf sedari tadi siang mengamatimu baik dari dalam maupun dari luar kota. Tapi kau terlalu terlena dengan kemegahan tempat ini sampai tak menyadari itu semua.”
Taring coba bangkit ingin menghajar raksasa tua itu.
“Cukup!”
Gebuk!
“Kau ... Lunda ... adalah orang pertama yang memberitahu nama ayahku. Aku kira kita bisa berteman.”
“Maaf Taring. Satu-satunya alasan aku memperlakukan dirimu dengan baik adalah karena kami tahu kekuatanmu. Kau terlalu kuat jika ditangani dengan cara biasa. Aku sudah bilang kalau ujian yang kau lakukan tadi siang menentukan nasibmu. Jika saja kau berhasil, aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk memasang alat penyedot darah itu dan kami para Broden akan berada di sisimu selamanya. Semua orang tahu darah memberikan kekuatan pada Vampir. Tapi itu juga memperjelas kelemahanmu sendiri.”
“Kerja bagus Lunda. Aku sudah bilang kalau orang ini tidak akan memberikan perubahan apa-apa pada kaummu. Dia ini bocah liar, monster, iblis tak beradab yang suka membantai warga, jika saja kau tidak melumpuhkan dia sekarang, kalian pasti sudah mati dibantai olehnya.”
Bourga mencekik leher Taring sampai terangkat tinggi ke udara. Tubuh pria rambut putih itu sudah tak punya tenaga lagi untuk meronta. Dia hanya terbujur lurus.
“Ada yang ingin kau katakah, bocah Vampir?”
Dengan kesadaran yang nyaris hilang, Taring berkata, “kemana pun aku pergi, aku selalu dijadikan bahan tukar-menukar. Ini yang ketiga kalinya. Tak peduli kemana pun aku pergi dunia ini sangat kejam sekali. Biasanya saat terkhianati seperti ini aku akan membantai kalian semua tanpa ampun. Tapi aku sudah bosan melalui plot yang sama sampai tiga kali. Lakukan saja apa yang kalian mau, aku tidak peduli lagi.”
Taring pingsan setelah mengatakan kalimat terakhir dengan mulut penuh darah. Darahnya nyaris kering saat ini. Bourga menjatuhkan kembali Taring seperti sehelai kain. Beberapa tulang patah sebab dipukuli oleh Bourga. Dia sedang koma saat ini sebab tak bisa melakukan regenerasi sel akibat kekurangan darah. Jika saja Inti Leluhurnya tidak ada, Taring pasti sudah mati.
__ADS_1
Beberapa Werewolf yang menjaga pintu langsung menggotong tubuh Taring keluar istana beramai-ramai. Ternyata di luar, jumlah Werewolf yang memakai baju besi jauh lebih banyak lagi jumlahnya sampai memadati kota. Untung saja istana Lunda sanggup menampung mereka semua.
Bourga pastinya paranoid sekali sebab membawa prajurit sebanyak ini hanya untuk menemui Vampir yang sudah tak berdaya. Pertempuran yang dia bayangkan sedari tadi ternyata jauh lebih cepat selesai dari pada perkiraan tanpa ada korban sedikit pun.
“Nah, Lunda, aku benar-benar berterima kasih padamu sebab aku tak perlu melakukan pertempuran apapun untuk menangkap anak itu. Teruslah setia padaku seperi ini, maka negeri indah dan megah ini tak akan pernah hilang dari sejarah.”
“Maaf Yang Mulia, bukankah ada sayembara, kalau siapa yang berhasil menemukan anak itu akan mendapatkan sebagian tanah kerajaan di Bumi Tengah?”
“Dan apa maksud dari perkataanmu itu, budak?” Mata Bourga berubah biru terang nyala di kegelapan secara tiba-tiba.
Lunda panik tak berani menatap dan langsung berlutut, “ti-tidak ada apa-apa. Maaf Yang Mulia.”
Setelah selesai dengan Broden besar itu, Bourga mengarahkan seluruh prajuritnya untuk kembali ke kerajaan Bumi Tengah. Dalam hatinya girang sekali sebab dia berhasil mendapatkan pemilik Inti Leluhur yang selama ini dia inginkan. Sekarang dia tak perlu khawatir lagi akan melewatkan bulan purnama tanpa Inti Leluhur milik Vampir. Sebab mencari Inti Leluhur yang lain jauh lebih mudah daripada menemukan milik putra Kysta yang sudah sepuluh tahun hilang tak ketemu. Untunglah usianya masih belia sehingga dia belum mengerti cara mengeluarkan kemampuan sebenarnya dari Inti Leluhur.
Bourga dan pasukan berjalan secara terburu untuk kembali ke kerajaan. Dia sangat takut Taring bangun dari pingsan dan tenaganya sudah pulih kembali. Sebelum semua itu terjadi, Inti Leluhur miliknya sudah harus di tangan Bourga.
Sekitar tiga jam berlari tanpa henti dari Lembah Brodella di arah barat daya sana akhirnya seluruh pasukan Werewolf itu tiba di kuil yang ada di tengah kota Bumi Tengah. Bourga langsung membawa Taring ke atap. Di sana sudah ada empat pasak tiang tinggi dengan kristal biru pada masing-masing ujung. Di bagian tengah ada tongkat besar yang berbentuk spiral terpancak dengan sangat kokoh.
Pada bagian ujung tongkat ada bola bulat bersinar, di setiap sisi bola itu ada bola cahaya yang lebih kecil lagi warna-warni. Bagian atas bola kecil seukuran kelereng berwarna biru, bagian kanan ada dua bola berwarna coklat dan hitam. Ada tiga bagian kosong yang masih belum terisi. Pastilah itu Inti Leluhur milik Vampir, Elf, dan Krairon-Erga yang belum terpasang.
Taring diikat pada salah satu tiang. Bourga siap melakukan ritual secepat mungkin sebelum kesempatan seperti ini lewat. Dia mengambil Blerit, lalu menyentuhkan ujung berbentuk bola itu pada kening Taring. Dari kening, muncul kilatan-kilatan cahaya merah terang yang sangat silau.
“Arrghh!” Taring menjerit kesakitan begitu sebuah bola kecil berwarna merah terang keluar dari keningnya.
Saat Inti Leluhur milik Taring sudah menempel pada Blerit, bulan bereaksi. Ukurannya kini menjadi lebih besar dua kali lipat dari sebelumnya. Sekarang masih setengah purnama, tapi sudah mampu menyaingi ukuran matahari. Jika sampai dia bisa mendapatkan dua Inti Leluhur lagi pada bulan purnama, tak akan ada lagi siang yang penuh sinar mentari. Cukuplah satu sumber cahaya yaitu dari bulan.
Malam kejayaan para Werewolf semakin dekat.
...-- Bersambung -- ...
__ADS_1