Darah Merah

Darah Merah
Krairon - Erga


__ADS_3

Taring, Badak dan Ilfina terdampar di padang rumput yang sangat luas. Mereka semua masih berusaha menenangkan diri akibat nyaris saja mati di terjang sekumpulan Orc. Kecuali Badak yang masih kebingungan khasnya orang baru bangun dari pingsan.


"Ilfina, apa ada yg ingin kau katakan? Seperti, kenapa kita tiba-tiba bisa diserbu ratusan monster barusan?"


Ilfina tak menjawab, sebaliknya kelopak matanya terbelalak dengan lebar sambil sedikit menganga, mukanya sangat ketakutan saat melihat ke belakang Taring.


Taring ikut menoleh, penasaran apa yang sedang dilihat gadis itu. Ternyata sebuah batang pohon raksasa hitam sedang menatap mereka bertiga bagaikan makanan, lalu berteriak sangat keras sampai harus menutup telinga sekuat tenaga. Pohon hitam itu kemudian mengayunkan ranting tajamnya kepada Taring.


Brazt!


Taring berguling ke samping diikuti oleh Ilfina dan Badak. Mereka lari terbirit-birit setengah takut melihat pohon yang bisa bergerak nyaris melubangi kepala mereka. Yang lebih aneh lagi ternyata pohon itu mampu berlari mengejar juga.


Tangan-tangan tajam makhluk itu hampir menggapai Ilfina, Badak memutar badan lalu berlari sekuat tenaga dengan empat kaki menubruk pohon. Tak ayal pohon pun terpental jatuh ke jurang yang ada di belakang. Badak mengendus angkuh membuktikan siapa yang lebih kuat.


Ternyata pemandangan di belakang mereka tidak terlalu indah seperti padang rumput yang sedang mereka injak saat ini. Ada lembah yang sangat menyeramkan tepat bersebelahan. Lembah itu penuh dengan rawa-rawa plus pohon hitam yang sudah tak memiliki daun lagi.


Semuanya memberikan kesan horor dimana kejadian pembunuhan adalah hal biasa terjadi di tempat seperti ini. Berbeda sekali dengan pohon-pohon di sekitar padang rumput yang masih kelihatan sangat hidup nan hijau.


Batang-batang pohon seram bergerak beriring-iringan sejauh mata memandang layaknya zombie ditambah dengan perawakan mereka yang sangat menyeramkan akan membuat anak-anak berteriak. Di langit barat ada bulan sabit raksasa yang sangat terang, ini menjadi penambah yang manis untuk membuat tempat itu makin menyeramkan. Ada sungai panjang berwarna kebiruan di sepanjang jalan curam menuju ke bawah.



Selagi melihat pemandangan kontras itu, ada monster dengan enam tangan melompat tepat di hadapan mereka bertiga secara mengejutkan. Taring kaget bukan main sampai terjatuh. Monster itu berteriak seperti suara kera dengan perawakan mirip manusia, tetapi lebih berotot. Ada tiga pasang tangan ekstra di samping, sedang wajahnya mirip dengan cacing berhidung panjang besar penuh dengan gigi tajam mencuat keluar dari bibir. Dia melihat Taring dan Ilfina sambil menggeram marah.


Badak menyeruduk monster itu hingga jatuh kembali ke dasar lembah, “ayo naik ke atasku!”


Sadar Ilfina sudah tak kuat lagi berlari begitu juga dengan Taring. Badak melakukan inisiatif. Setelah keduanya naik ke atas, Badak berlari menjauhi lembah berbahaya itu menuju sinar matahari yang tengah terbit di timur secepat mungkin.

__ADS_1


Layaknya Koboy yang sedang menunggang kuda, mata Taring menyisir sekitar apakah ada tanda-tanda manusia yang masih terlihat seperti manusia normal. Paling tidak mereka bisa menemukan tempat berlindung yang aman karena tempat ini luar biasa bahaya. Sudah berapa kali mereka nyaris mati.


Tapi lagi-lagi yang mereka temui cuma monster dengan rupa yang sama seperti sebelumnya. Badak harus menghindari mereka semua jika tak ingin menjadi sarapan. Namun ancaman bukan hanya datang dari monster, pohon-pohon kayu yang bertingkah seperti iblis nyaris menginjak mereka beberapa kali.


Sebenarnya kemana Ilfina membawa kami? Pikir Taring.


Di atas tebing yang paling tinggi ada sebuah goa yang tertutup oleh batu besar. Perlahan batu yang menutup jalan bergeser sedikit lalu ada kedipan cahaya beberapa kali dari dalam sana. Dengan silaunya sinar matahari yang bersaing dengan kedipan di dalam goa itu, Taring tak bisa melihat terlalu lama untuk mengetahui apa maksudnya. Jadi dia memerintahkan Badak untuk mendatangi goa.


Begitu sampai di sana dia mengetuk pintu goa beberapa kali, “halo! Apa ada orang di sini?”


Batu besar perlahan bergeser menimbulkan getar di atas tanah, rasanya seperti terjadi gempa. Dari kegelapan kemudian muncul sebuah sosok layaknya manusia. Kaki, tangan, badan, semuanya normal, tapi tertutup armor pelindung, kecuali wajah. Dan di sanalah letak ketidakwajarannya, wajah itu bukan milik manusia, lebih mirip dengan cacing. Taring langsung awas kalau-kalau makhluk yang satu ini juga akan menyerang seperti monster di bawah sana.


“Siapa kalian?”


“Kau bisa bicara? Baguslah, ada apa dengan tempat ini? Kenapa berbahaya sekali?”


Tak banyak yang bisa Taring lakukan apalagi menolak ajakan pria itu. Ilfina sendiri sudah tak punya tenaga lagi, dia sedari tadi tak turun dari atas Badak sedang wajahnya pucat sekali. Keringat dingin bercucuran dari wajah cantiknya.


Pria cacing mengambil sebatang obor untuk menerangi jalan dalam gelapnya goa. Setelah berjalan cukup jauh, mereka sampai ke tempat yang sangat luas layaknya aula yang terbuat dari batu. Di sana ramai sekali penuh makhluk sejenis, manusia yang berwajah cacing dengan armor menutupi seluruh badan mereka.


Kecuali ada satu orang yang berbeda, dia wanita dengan tubuh imut mungil, duduk sendirian di tengah. Mereka semua muram, tak satupun yang terlihat bahagia.


Tatkala Taring memasuki aula mata mereka semua terangkat ke arah dirinya. Semua hanya termenung tak bereaksi melihat kedatangan tamu tak diundang tiba-tiba masuk ke dalam kerumunan.


Gubrak!


Belum sempat Taring memberikan sapa hangat, Ilfina terjatuh dari badan Badak. Dia pingsan kehabisan tenaga, wajahnya berkeringat dingin dan pucat pasi. Badak kemudian menggendongnya seperti tuan putri dengan lembut.

__ADS_1


“Apakah ada tempat untuk beristirahat?”


Hadirin yang hadir menjadi panik, mereka segera menyediakan tempat untuk Ilfina memulihkan tenaga. Salah satu dari mereka mengantar Badak meletakkan gadis itu di ranjang yang ada di bagian belakang aula.


Setelah mendapat perawatan yang memadai, seorang pria cacing yang Taring temui tadi bertanya, “siapakah kalian ini wahai Pemuda gagah?”


“Kami ...,” Taring sempat berpikir memilih kata lebih hati-hati, “namaku Taring, kami sedang dikejar oleh Orc dan tak sengaja masuk ke daerah ini.”


“Oh tidak, kalian juga ya, kasihan sekali. Tapi bagaimana kalian bisa sampai kemari dengan selamat?”


“Sebetulnya teman kami yang sedang pingsan itu punya kekuatan sihir yang bisa memindahkan kami dalam sekejap mata. Aku juga tak tahu tempat apa ini, kami hanya mengikutinya saja.”


“Mage, pantas saja, normalnya tak ada manusia yang sanggup bertahan hidup lebih dari sepuluh menit begitu masuk daerah ini.”


“Sebenarnya ini dimana?”


“Nak Taring, seperti yang kamu lihat tadi banyak monster di luar sana. Pohon-pohon yang menyerang kalian barusan adalah kaum Erga, mereka keracunan virus yang membuat mereka menjadi berbahaya dan tak terkendali.”


“Dan monster tangan enam itu?”


“Itu Krairon, kaum kami sendiri yang telah terinveksi virus yang sama. Semua yang hadir disini adalah satu-satunya yang belum terinveksi, seperti yang kamu lihat tak banyak yang tersisa dari kami. Namaku Larga, selamat datang di tanah neraka Krairon-Erga.”


“Melihat dari apa yang barusan kami alami, wajar kau menyebutnya tanah neraka. Kenapa semuanya bisa seperti ini? Aku yakin dulunya tempat ini tidak seperti sekarang, ya kan?”


Larga kemudian menghela napas panjang, “memang benar, tadinya tempat ini begitu indah nan hijau. Semuanya bermula ketika Werewolf berkunjung ke tanah kami.”


...--Bersambung--...

__ADS_1


__ADS_2