Darah Merah

Darah Merah
Krairon - Erga (X)


__ADS_3

Keplak!


Taring menampar dirinya mencoba menyadarkan kembali pikiran yang sudah terambil alih oleh sosok cantik Ilfina. Tapi tetap saja itu tak banyak membantu. Matanya masih terpikat tak bisa berpaling sekalipun dia sudah berusaha keras.


Wajar, karena mengeluarkan tenaga berlebih Ilfina tak sengaja melepaskan unsur pheromone* bersamaan dengan aura miliknya. Maka siapapun yang terkena aura Ilfina akan merasakan efek yang menyenangkan. Dalam kasus lain, bahkan mampu memikat hati seseorang yang membuat mereka tak bisa berpaling begitu terkena efek pheromone. Dan sepertinya Taring menerima efek samping paling parah dari yang lain.


[*] Pheromone \= sejenis zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat seksual pada jantan maupun betina.


Ilfina sendiri menikmati momen itu. Momen dimana Taring kelimpungan berusaha menolak kecantikan dirinya tapi tak mampu sekalipun pipinya sudah merah sebelah.


“Berhenti melakukan itu!” Kata Taring kesal.


“Melakukan apa?”


“Itu! Berhenti bertingkah sok cantik di depanku.”


“Oh ...,” Ilfina datang mendekati wajah Taring menatap matanya langsung, “apakah aku tidak cantik?”


Deg!


Wajah Taring memerah dengan spontan. Aliran darah melaju dengan sangat kencang diluar kendali, bahkan beberapa tetes keringat sempat jatuh. Pria itu berusaha sebaik mungkin menjaga dirinya agar tidak kehilangan kesadaran.


Ilfina tersenyum kecil melihat ekspresi aneh milik Taring.


Baiklah kurasa sudah cukup. Pikirnya.


Gadis bercadar itu merentangkan tangan ke udara. Seluruh aura kuning yang bertebaran di sana terserap masuk ke dalam tubuh Ilfina melalui kening. Begitu semuanya sudah masuk, perlahan mereka yang hadir di sana menjadi diri mereka lagi. Efek pheromone Ilfina sudah hilang, ini membuat Taring bisa kembali berpikir jernih. Untuk sesaat dia seperti sedang dikutuk oleh penyihir kejam.


Taring dan Miria duduk di atas tanah dengan lemas kehabisan tenaga. Seluruh Krairon dan Erga kemudian bertepuk tangan dengan penuh sorak kemenangan kepada Ilfina atas jasa yang telah dia lakukan. Berhasil membuat matahari mini adalah pekerjaan yang tak pernah terpikirkan oleh siapapun sebelumnya dan ternyata bisa dilakukan oleh manusia. Di pikiran mereka hanya dewa yang bisa melakukan mukjizat seperti itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian Ilfina juga ikutan duduk dekat Taring dan Miria. Ternyata dia juga kehabisan tenaga. Para kerumunan yang sedang bersorak tak memperdulikan mereka bertiga yang kini kelelahan. Mereka masih sibuk menikmati kemerdekaan yang sudah lama sekali mereka angankan.


Taring kemudian mendekat ke Miria berbisik, “maaf tuan Putri, bolehkah aku minta makan? Aku kelaparan.”


“Oh,” Miria tergelak, “tenang saja, itu semua sudah diurus.”


Sehabis bersorak ria mereka berbondong-bondong pergi ke istana milik Raja Atalus yang ada di jantung hutan untuk merayakan kemenangan. Agar bisa memasuki hutan, para Krairon harus memakai baju khusus yang lebih tebal lagi sebab udara di hutan begitu kaya oksigen dan mereka tidak bisa menghirupnya secara langsung.


Sesampainya di istana, Taring, Ilfina, dan Badak terpukau hebat melihat kemegahan bangunan yang super besar. Mungkin ukurannya dua kali lipat lapangan bola. Istana penuh dengan gedung bertingkat dan atap meruncing ke atas berwarna hijau terang.


Masuk ke dalam istana mereka semua disambut dengan meriah bagai raja. Karpet merah di tebar dengan kelopak bunga berhamburan di udara. Terompet serta alat musik lainnya berbunyi hebat menyambut kedatangan pahlawan mereka. Anehnya semua yang hadir di dalam istana adalah tumbuhan, beberapa bunga teratai berdiri berjejer di samping karpet merah seperti pagar tanaman yang indah. Pohon-pohon pisang menjadi pemain alat musik disudut ruangan.


Raja Atalus memimpin jalan menuju ruang makan istana. Pohon beringin besar itu malah tak menyentuh singgasananya sama sekali begitu kembali ke pusat kerajaan.


“Marilah wahai Pahlawan negeriku, silahkan nikmati sesuka kalian.”


Masuk ke dalam ruang makan yang juga sangat besar, di atas meja panjang sudah disediakan makanan yang sangat banyak dari ujung ke ujung. Makanan berdaging, salad, sampai minuman tersedia dengan porsi yang sangat besar. Taring menganga tak percaya bisa melihat makanan sebanyak ini. Padahal sebelumnya mereka hanya makan roti di dalam goa yang sempit dan kelam, sekarang mereka bisa makan mewah sepuasnya.


Paha ayam menempel di mulut sedang mata Taring melirik ke belakang melihat Raja Atalus dengan malu, “jangan khawatir nak Taring. Silahkan nikmati sepuasnya. Jamuan ini memang kami sediakan untuk kalian.”


Untuk seorang raja, Atalus lebih bersikap fleksibel. Itu mengurangi rasa canggung para hadirin di sana. Seluruh Krairon yang tadinya hidup kelaparan di dalam goa juga ikut nimbrung menjamu makanan. Kecuali para Erga, mereka hanya meminum beberapa air di atas meja tanpa menyentuh makanan sedikit pun.


Ingat para Erga adalah pohon, mereka tidak perlu protein hewani untuk makanan mereka. Karena sudah ada matahari buatan yang membantu fotosintesis, semua makanan yang mereka butuhkan sudah tersedia dari alam itu sendiri, mereka hanya perlu minum saja.


Betapa besar jasa Ilfina, Taring dan Badak pada dua bangsa ini.


Ilfina dengan sopan bak seorang ratu mengambil secangkir teh. Dia minum dengan sopan dan enak dilihat. Sedang Taring bagai orang kerasukan, Wajahnya penuh dengan saos dan krim akibat makanan yang dia masukan ke mulut tak muat lagi.


“Oh enak sekali ...,” Taring mendesah.

__ADS_1


“Kalian bertiga termasuk Badak sudah sangat berjasa pada negeriku. Terutama engkau nak Ilfina, penggunaan sihirmu luar biasa sekali. Pastinya butuh pengalaman lebih dari seratus tahun untuk menguasai sihir seperti tadi, ya kan?” Kata raja Atalus memuji Ilfina.


“Seratus dua puluh delapan tahun lebih tepatnya.”


“Huh!” Taring kaget, mulutnya menyembur dengan paha ayam masih melekat di bibir.


Ilfina menarik paha ayam itu, “jangan bicara kalau sedang makan!”


“Tunggu sebentar, usiamu lebih dari seratus tahun? Bukannya kau bilang delapan belas?”


“Sejak kapan aku bilang begitu? Kau sendiri yang menerka.”


“Ya tuhan, dengan wajah imut belia seperti itu siapa yang tidak akan salah sangka? Ternyata kau sudah nenek-nenek rupanya.”


“Oh, itu kata bocah yang baru berusia sepuluh tahun kepadaku.”


Perkataan Ilfina telak. Taring tak bisa berkata apa-apa lagi sedang Raja Atalus hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Mulut Taring meruncing hebat. Miria menepuk pundaknya seolah mengatakan kepada Taring untuk sabar. Tapi kesabaran pria itu malah kian memanas.


Oh ya, ada seorang dari bangsa Lilua yang dari tadi keberadaannya nyaris tak disadari. Dia berada di ujung meja berhadapan dengan Taring. Tubuhnya agak pendek untuk meja, jadi harus duduk di kursi tambahan. Dia tengah menghirup sup daging dengan wajah diam tanpa ekspresi. Kontras sekali dengan orang-orang di sampingnya yang penuh dengan kegembiraan. Bahkan Badak yang ada di seberang meja menikmati saladnya dengan lahap.


“Kau wanita dari bangsa Lilua, apa kau sedang ada masalah? Dari tadi aku lihat cemberut terus?” Kata Taring.


Wanita mungil itu kemudian meletakan sendok ke dalam sup. Turun dari kursi lalu datang menghampiri Ilfina.


“Ada apa?” Jawab gadis bercadar.


Tanpa diduga wanita dari bangsa Lilua itu bersujud sambil menangis tersedu-sedu. Semua yang hadir di sana tersita perhatian dan bertanya-tanya apa yang terjadi.


Dengan air mata berlinang dan wajah menyentuh lantai dia akhirnya berkata, “To-tolong bantu selamatkan bangsaku!”

__ADS_1


...-- Bersambung --...


__ADS_2