
“Siapa kalian?” Semuanya secara serempak bertanya demikian.
“....”
“....”
Terdiam untuk beberapa saat, semuanya masih dalam posisi siaga siap menangkis segala macam serangan yang mungkin akan muncul entah dari siapa. Sekarang ada tiga orang yang beradu masalah, gadis bercadar, Taring si manusia Vampir, dan seekor badak yang secara sembrono ikut nimbrung.
Taring akhirnya mengalah dan berkata, “aku Taring, aku adalah Vampir. Atau setidaknya begitulah kata wanita ini.”
“Tapi itu mustahil,” sanggah si wanita, “Vampir sudah punah sepuluh tahun yang lalu, bagaimana mungkin masih ada?”
“Kalau begitu aku bukan Vampir.”
“Tidak, dengan rasa haus darah dan wujudmu seperti itu jelas semua akan sepakat kalau kau itu Vampir.”
“Apa kau sengaja cari masalah denganku? Dari tadi kau terus menyanggah semua yang aku katakan bahkan ketika aku setuju denganmu.”
“Tapi itu kenyataannya, kau si hidung besar, pasti juga setuju kalau orang ini Vampir ya kan?”
“Ya aku juga ingin mengajukan pertanyaan yang sama,” kata si manusia badak, “apa itu Vampir?”
“Tanya dia, aku juga tidak tahu apa itu.”
“Astaga ini pertama kalinya aku keluar dari negeriku sendiri dan malah bertemu dengan orang yang bahkan tidak tau kaumnya sendiri,” si gadis memijat keningnya, “Vampir adalah makhluk terhormat yang suka sekali dengan darah. Mereka biasanya berdiri sebagai pemimpin dan tinggal di kastil-kastil besar sebagai bangsawan. Setidaknya itu yang aku dengar, aku tidak tahu ada yang sebodoh kau, apalagi sampai makan daging mentah sebagai makan malam di tengah hutan sendirian.”
“Oh ya, aku juga pertama kali melihat wanita secantik dirimu dengan mulut tajam,” untuk sesaat gadis itu bingung harus bereaksi seperti apa, dia sedikit tak menduga Taring akan memuji dan mengkritiknya disaat yang bersamaan, “kenapa tadi kau menyerangku?”
“Seorang wanita melihat pria berlumuran darah dengan cakar panjang sambil menjuntai bangkai binatang? Apa yang kau harapkan? Tentu saja aku akan menyerangnya.”
“Yah, cukup masuk akal kurasa. Dan kau makhluk besar, kau siapa? Kau ini apa tepatnya?”
Si besar yang dari tadi menjadi penonton akhirnya mendapat giliran berbicara, “aku badak.”
“Ya, aku pernah melihat badak sebelumnya, tapi tidak ada yang berbicara dan berdiri dengan dua kaki sepertimu.”
“Aku lahir di hutan ini, besar di hutan ini, kalian yang harusnya kutanya, apa yang kalian lakukan disini? Aku belum pernah melihat kalian sebelumnya.”
“Aku sedang makan malam sampai wanita bercadar itu menyerangku.”
“Aku sedang kabur dan tak sengaja berpindah kesini. Tadi itu aku hanya sedang panik, semuanya murni hanya salah paham. Jika kau muncul dalam keadaan bersih dan sedikit tersenyum mana mungkin aku akan menyerang.”
Taring hanya menatap si wanita dengan tajam sambil berlalu ke arah belakangnya. Taring dan matanya sudah kembali normal begitupun dengan kuku di tangan. Dia memungut kembali daging rusa yang tak sengaja dia lempar sangat jauh tadi. Dagingnya sudah setengah dia makan omong-omong.
“Apa yang kau lakukan?”
“Melanjutkan makan malam. Jika tidak keberatan kalian bisa pergi sekarang, jangan ganggu aku lagi.”
Gadis bercadar memutar bola matanya sambil mendengus kecil. Dia mendatangi Taring dan mengambil rusa itu dari tangan tanpa permisi. Si pemilik hewan hanya kaget kebingungan tak tahu harus berbuat apa.
Sempat ingin mengambil kembali daging itu tapi dia lebih penasaran dengan apa yang akan dilakukan si gadis. Dia mengambil beberapa batang kayu, satu dia tancapkan ke daging rusa siap untuk memanggang. Sisanya dia tumpuk di tanah untuk membuat api.
Lima menit kemudian hutan kembali senyap. Perdebatan sengit yang sempat heboh tadi hilang seketika menyisakan suara burung hantu dan desiran angin menggoyang dedaunan bambu. Kali ini ada tungku api kecil tengah menyala menerangi setitik bagian di hutan gelap nan kelabu ini.
Di pinggiran api ada daging rusa tertancap kayu yang sudah setengah dimakan. Taring duduk di sana untuk menghangatkan diri. Dua orang lainnya (jika bisa disebut orang) ikut melingkari si api dengan tatapan curiga satu sama lain.
“Apa kau selalu makan daging mentah seperti ini?” kata si gadis bercadar. Nadanya masih tetap tak bersahabat.
“Mau bagaimana lagi? Aku hidup sendirian di hutan dari dulu, tak ada yang mengajariku cara memasak.”
“Api hangat,” manusia badak kegirangan melihat api di depan matanya menari-nari. Dia menatap api itu dari dekat seolah pertama kali melihat benda bersinar itu.
__ADS_1
“Jadi Taring ya ... kau adalah Vampir terakhir?”
“Aku tidak tahu, kau sendiri siapa?”
“Aku Ilfina, seorang Mage keturunan bangsa Elf. Penampilanku mungkin terlihat lemah tapi aku bisa menggunakan sihir. Jadi jika kau berencana menghisap darahku, tolong pikirkan lagi jika tak mau kepalamu hilang ke dalam tanah.”
“Cih! Jadi itu kemampuan aneh yang kau pamerkan tadi. Berpindah tempat, pelindung magis, pengikat tak kasat mata, aku mengerti sekarang.”
“Kau belum lihat semua kemampuanku.”
“Oh Elf, pantas cantik. Telingamu tidak runcing?” kata manusia badak sambil menunjuk Ilfina.
Ilfina tersenyum kecil, “hanya keturunan utama saja yang bisa menjadi Elf sejati dan punya telinga runcing. Aku cuma punya sebagian darah mereka saja. Bagaimana denganmu, punya nama?”
“Aku ...,” dia sedikit berpikir sejenak, “aku tidak punya nama, ibuku mati saat aku masih kecil.”
“Yah,” kata Taring, “simpelnya kita panggil dia Badak saja. Itu cocok kurasa.”
“Oh, aku suka nama itu,” Badak tersenyum.
“Kenapa kau menyerang kami tadi?”
“Aku tidak menyerang, ini rutinitasku sewaktu malam. Aku selalu berlarian mengitari hutan sampai aku lelah lalu kemudian tertidur. Sesekali menubruk pohon kalau lagi mau.”
“....”
“....”
Kedua orang yang mendengarkan tak bisa berkomentar. Hanya tatapan bengong dengan tanda tanya besar terpampang di masing-masing wajah. Tak ada yang bisa dikatakan.
“Kenapa tak berlari lagi sekarang?” Tanya Taring jenaka.
“Tidak, aku lebih suka sendirian.”
“Hei dengar Taring, kau adalah Vampir terakhir yang masih hidup. Kau tidak tau betapa berharganya nyawamu. Kau satu-satunya kunci untuk menghentikan Werewolf. Jika sampai mereka mendapatkanmu maka habislah sudah tak ada harapan lagi.”
“Werewolf? Manusia serigala? Aku sempat membunuh satu sebelumnya.”
“Itulah yang aku maksud, kau mampu mengalahkan mereka. Saat ini raja Werewolf rela melakukan apapun untuk mendapatkan Inti Leluhur dari lima negara besar. Kau pasti memilikinya iya kan?”
Taring tak menjawab apapun. Dia hanya termenung menatap mata indah Ilfina. Lalu jari lentiknya menyentuh jidat Taring. Tak lama kemudian sempat keluar cahaya redup dari tempat yang dia sentuh, Ilfina memejamkan matanya, “sudah kuduga, Inti Leluhur ada dalam dirimu. Itu sesuatu yang berharga.”
Banyak sekali yang ingin Taring tanyakan dari penuturan Ilfina barusan. Tapi dia bukan tipe yang suka bicara banyak, terlebih rasa ingin menyanggah semua perkataan jauh lebih besar dari pada ingin mendengarkan dan itu akan membawa perdebatan lebih jauh lagi. Dari pada emosi sendiri melayani gadis itu dia akhirnya hanya diam saja.
Selagi berdiskusi, daging panggang yang sedari tadi kehilangan perhatian dihadapan mereka sudah matang. Ilfina mengambilnya dari api dan membagi rata menjadi tiga bagian, “oh Badak tidak usah, aku makan rumput disini saja.”
Tanpa sadar ternyata Badak sudah minggat dari tempat duduk dan merumput dekat bambu sejauh lima meter. Kali ini dia bertingkah seperti badak pada umumnya. Porsi daging rusa menjadi lebih banyak bagi Taring dan Ilfina yang hanya dibagi menjadi dua. Ilfina secara anggun melahap rusa panggang dengan perlahan bagai seorang ratu. Sedang Taring, dia membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigit daging itu sebanyak mungkin yang bisa ditampung mulut.
Perlahan air mata jatuh dari pipi Taring, mulut yang tadinya mengunyah tiba-tiba terhenti. “Ada apa?” Tanya Ilfina khawatir.
“Ti-tidak ada, aku hanya tidak menyangka bisa makan-makanan seenak ini lagi. Selama ini aku hanya makan daging mentah. Hanya dulu sekali aku pernah merasakan daging seenak ini sampai aku lupa rasanya.”
Melihat gelagat pria itu yang dari tadi tidak wajar memunculkan sebuah pertanyaan di benak Ilfina, Berapa sebenarnya umur orang ini? Dia nampak baru keluar dari goa tanpa tahu tentang dunia luar.
“Taring, berapa umurmu jika boleh tau?”
“Hmm? Menurutmu berapa?”
“Yah, dari kelihatannya umurmu mungkin sekitar 24 atau 26 tahun.”
“Dan kau paling tidak berbumur 18 tahun ya kan?”
__ADS_1
Ilfina tidak berkata lebih lanjut. Dia hanya memalingkan wajahnya dan lanjut menyantap daging panggang yang ada dipangkuan.
Setelah puas makan malam dengan perut masing-masing telah kenyang, mereka membuat kemah dadakan. Badak tidur tertelungkup di atas tanah, Taring bersandar pada sebatang pohon, sedang Ilfina sibuk mondar mandir disekitar mereka. Dia sedang mengeluarkan semacam sihir pelindung yang mampu menjamin keselamatan sampai pagi hari.
Lalu setelah selesai dia kembali duduk di atas batu, kelopak dengan bulu mata lentik itu perlahan tertutup dan tidurlah dia dengan posisi tidak berubah. Taring melihat semua rutinitas tak biasa yang dia lakukan tapi tidak bereaksi apa-apa. Tubuh Ilfina duduk tegap di bawah sinar bulan dengan latar belakang batang-batang bambu yang perlahan bergerak ke kanan dan ke kiri dibelai angin. Dirinya mirip patung Budha yang tengah bermeditasi. Posisi yang aneh untuk tidur.
...***...
“Semua berhenti!” Sekumpulan Orc dalam jumlah besar berhenti tepat dihadapan Taring yang tengah tertidur, tapi pria itu masih belum membuka mata.
“Ada apa Bos?” Kata salah satu Orc yang lebih kecil kepada pemimpin mereka.
“Aku mencium aroma daging panggang, juga bau asap.”
Berkat sihir Ilfina, semua yang ada dihadapan Orc nampak tak ada apa-apa. Semuanya kosong melompong walau sebenarnya ada tiga orang yang tengah tertidur pulas dan bekas tungku api sekitar dua langkah dihadapan kaki. Ilfina yang masih dalam posisi duduk ternyata sudah terbangun dari tadi menatap ratusan Orc.
Mata ungu itu menghujam tajam siap menanti setiap mala petaka yang akan mereka hadapi.
“Aku juga mencium hal yang sama, tapi tidak ada apa-apa disini. Kurasa sumber aroma ini masih jauh ke arah sana.”
“Mungkin saja, pastilah manusia yang membuat aroma seperti ini. Ayo kita segera periksa sebelum mereka pergi.”
Ratusan Orc akhirnya hanya lewat di depan mata Ilfina. Tak satu pun dari mereka sadar akan keberadaan ketiga orang dibalik pelindung magis tak kasat mata. Matahari masih belum muncul, tapi berkat derapan langkah kaki yang sangat banyak membuat Taring terbangun dari tidurnya.
“Huaaaah ...,” dia menguap, “suara berisik apa itu?”
Ilfina dengan cepat menutup rapat mulut Taring. Sayang gerakan gadis itu kurang cepat, ada satu Orc yang sempat mendengar ucapan itu dan berhenti seketika, lalu dia berbalik dan berkata, “hei Bos! Rasanya aku mendengar sesuatu.”
Dengan satu komando, seluruh Orc berhenti berlari dan kembali mendatangi tempat yang sempat hendak mereka tinggalkan. Pemimpin Orc yang paling besar badannya maju mengamati kembali lebih teliti. Matanya mungkin bisa menipu, tapi tidak dengan penciuman monster ini, mereka sangat peka.
Ketua Orc mengangkat kapaknya tinggi-tinggi lalu menghantam angin di hadapannya.
Prank!
Seketika terdengar pecahan seperti kaca dari benda tak kasat mata. Lalu nampaklah oleh mereka dua orang manusia dan seekor badak yang tengah tertidur.
“Sial kita ketahuan!”
“Serang!”
Kali ini Ilfina tidak kalah cepat, belum sempat para Orc menyerang, dia sudah menguntalkan bola cahaya berwarna hitam pekat kepada mereka. Seluruh Orc terpelanting kesana-kemari menjangkau setiap sisi hutan. Ilfina mengganti kuda-kudanya.
Dia mengayunkan seruling emas tiga kali ke kanan dan ke kiri lalu berputar dan secara ajaib muncul lingkaran terang dari atas tanah. Ada simbol yang tak dimengerti oleh Taring di tengah lingkaran cahaya itu.
Setelah para Orc kembali bangkit, mereka dengan serempak kembali menyerang Ilfina dan yang lainnya. Ilfina tersenyum kecil di balik cadar.
"Kalian terlambat."
"Cepat! Jangan biarkan dia lolos lagi!"
Zeb!
Hutan lebat nan gelap di sekeliling mereka tiba-tiba berubah menjadi padang rumput yang sangat luas. Bukit-bukit terlihat menggunduk di kejauhan serta matahari kuning indah tengah bangkit mengusir gelapnya malam. Seketika kejadian horor yang sebelumnya mereka alami berubah menjadi pemandangan indah di pagi hari yang cerah. Mereka selamat!
Jantung Taring berdetak sangat hebat dan masih belum berhenti sampai sekarang, “apa kita selamat?”
Ilfina tak menjawab, matanya masih menerawang sekitar dengan napas masih terengah-engah. Embun putih keluar secara bergantian dari bibir merah itu akibat udara dingin. Badak akhirnya terbangun dari tidur nyenyak, perlahan dia mengusap mata yang masih mengantuk sambil memperhatikan sekitar.
Dia bingung melihat muka kedua temannya yang terlihat panik lalu berkata, “apa yang aku lewatkan?”
...-- Bersambung --...
__ADS_1