Darah Merah

Darah Merah
Penerus yang Rusak! (ll)


__ADS_3

“Rrrroaargg!!”


Werewolf itu menerkam!


Sang anak segera melompat ke belakang tapi cakaran dari si buas berhasil mengenai punggungnya. Cakar besar itu mengoyak kulit memberikan luka dalam yang fatal. Darah bercucuran membasahi dedaunan di bawah kaki yang ia pijak. Merasa tak puas dengan mangsa yang berhasil lolos, manusia serigala itu berlari secepat kilat dengan niat membunuh yang sangat mengerikan ke arah anak raja Vampir.


Melihat maut segera mendatanginya, si anak berkonsentrasi penuh mengendalikan semua adrenalin serta detak jantung sebaik mungkin. Seluruh energinya dia pusatkan pada kaki. Mata tiba-tiba berubah merah dengan pergelangan kaki secara ajaib membengkak penuh dengan otot keras bertenaga.


“Roooargh!” Werewolf melompat!


Mulut haus darah itu menganga lebar di udara mempertunjukkan deretan gigi runcing setajam silet. Tapi dimata si anak gerakannya sangat lambat sehingga sebelum mendaratkan serangan dia sempat menghindar. Anak itu berguling di bawah kaki Werewolf yang sedang melompat di atas udara. Akibatnya sang Werewolfmalah menghantam pohon besar dengan mangsa yang berhasil lolos. Anak itu mencoba lari masuk ke dalam gerbang hitam secepat mungkin sebelum Werewolf kembali sadar.


“Arrrgg!!!”


Belum sempat dirinya masuk, Werewolf sudah menggigit kakinya. Taring binatang itu menancap sangat dalam sampai menyentuh tulang betis. Jika dia memaksa lari kaki anak itu akan putus. Dia berusaha menendang wajah Werewolf dengan kaki yang satunya lagi sekuat tenaga tapi tak berguna, gigitan itu terlalu dalam. Rasanya seperti diterkam oleh harimau.


Gelagapan, sang anak mencoba meraba menjangkau segala sesuatu yang bisa dijadikan senjata. Lalu dengan berkat dari alam dia menggapai sebuah batang pohon sepanjang dua meter dengan ujung meruncing seperti tombak. Tanpa banyak berpikir si anak langsung menusuk mata Werewolf itu sampai hancur. Serangan itu berhasil membuat kakinya terlepas dari mulut si predator.


Tapi seakan belum puas, si anak kembali mengambil ancang-ancang. Dengan satu hentakan kaki dia berlari menghunuskan tombak kayu itu langsung menuju jantung si manusia serigala dan menusuknya hingga mati. Darah muncrat ke udara diiringi dengan raungan kematian. Tubuhnya menggelepar di atas tanah mencoba meredam rasa perih tak tertahankan.


Setelah tenaga dan darah habis, badannya terkulai lemas tak bisa berbuat apa-apa. Sebelum matanya tertutup dia sempat menilik sang anak, dia melihat wajah penuh darah itu kini memiliki sepasang taring menyembul keluar dari mulut, dan matanya merah menyala.


Si Werewolf memberikan kalimat terakhir, “Vam ... pir.” Dia mati.


Mata buas itu terpejam untuk selamanya.

__ADS_1


Si anak menghela napas lega. Sadar telah selamat dari maut dia berbaring sebentar di sebelah mayat yang baru saja ia bunuh. Matanya kini telah kembali menghitam dan dua taring ekstra panjang di mulutnya sudah tak terlihat lagi.


“Arrrggh!”


Si anak pembunuh Werewolf mengerang kesakitan. Dengan terhuyung-huyung ia segera bangkit melihat kembali tubuh berbulu di sampingnya. Dengan sangat cepat seperti orang kesetanan dia menancapkan mulut pada leher si manusia serigala dan menghisap darahnya sebanyak mungkin sebelum semuanya terbuang sia-sia.


Dengan pasokan darah yang memadai bekas cakaran di punggung perlahan menutup. Luka-luka itu sudah tak terlihat lagi seperti kembali sedia kala. Begitu juga dengan kaki si anak yang sempat dimangsa seharusnya bisa terobati, tapi darah makhluk yang dia hisap telah habis sebelum seluruh sel di kaki sempat meregenerasi secara sempurna.


Bekas gigitan itu masih mengeluarkan darah hanya saja tidak separah tadi. Akhirnya ia bisa merasakan menjadi manusia kembali setelah menghadapi maut. Ia melihat langit sebentar menyaksikan bulan sabit yang menjadi saksi atas pertarungan yang baru saja dia menangkan.


Lima menit kemudian, dia telah sanggup berdiri dan siap kembali berjalan memasuki gerbang hitam. Sadar dunia ini jauh lebih berbahaya dari tempat dia tinggal sebelumnya, sang anak berencana kembali ke gubuk yang jauh lebih aman. Dia pincang, tapi masih bisa berjalan meskipun tertatih sebab rasa perih tak tertahankan belum hilang. Tapi--


“Hei kau yang disana!”


Siapa ini? Sesosok wanita paruh baya tak dikenal tiba-tiba memanggilnya dari belakang. Sontak si anak langsung menoleh ke sumber suara dengan kewaspadaan penuh seolah bersiap menyerang apapun yang hendak menyerangnya. Namun alisnya malah terangkat sebelah ketika mengetahui siapa pemilik suara itu.


Anak itu tidak mengatakan apa-apa, sebaliknya dia justru menoleh ke bangkai Werewolf yang jantungnya masih tertancap batang pohon tajam.


“Apa kau habis diserang Werewolf ini? Syukurlah kau masih hidup,” katanya sambil mengelap darah di wajah anak, “tak banyak yang bisa bertahan hidup setelah bertemu makhluk ini sendirian. Oh sayang, lihatlah kakimu terluka.”


“Argh!” Anak itu merintih ketika si wanita menyentuh kakinya.


“Kau sedang terluka seperti ini kenapa mau masuk ke sana?”


“Rumah,” jawab singkat.

__ADS_1


“Apa? Tidak mungkin rumahmu di sana. Itu adalah tempat paling berbahaya di dunia ini. Ayo ikut Tante, Tante akan merawat kakimu.”


Wanita itu menggandengnya dengan lembut menuju ke jantung hutan. Dengan jalan pincang si anak tak punya banyak pilihan selain mengikutinya. Tapi dia merasa ada yang janggal dari pernyataan wanita itu, berbahaya? Tempat di balik gerbang itu adalah rumahnya, selama ini dia bisa bertahan hidup di sana sendirian tanpa bantuan siapapun. Jika dibandingkan tempat ini, tempat ini jauh lebih berbahaya.


Belum sampai lima menit dia tiba di sini dan sudah hampir menjadi makan malam oleh anjing bajingan itu.


“Oh iya, dimana orang tuamu? Kenapa kamu sendirian di hutan?” Tanya si tante.


Tapi anak itu hanya menganga bingung, tak bereaksi apa-apa seakan tak mengerti bagaimana harus menjawab pertanyaan biasa tersebut.


“Kamu hidup sebatang kara ya, siapa namamu? Oh tidak punya ya? Kalau begitu Tante beri nama saja, bagaimana kalau ...,” dia berhenti sejenak untuk berpikir nama apa yang pas. Tak sengaja menilik dua gigi runcing di mulut bocah itu, ia lalu berkata, “ah bagaimana kalau Taring? Sepertinya itu cocok, bagaimana?”


Si anak yang diberi nama nampak tak keberatan, dia hanya mengangguk saja.


“Nama tante adalah Mirna. Sekarang Tante akan merawatmu,” kata Mirna sambil tersenyum licik.


Seandainya dia tau kalau anak yang dia gandeng adalah pangeran Vampir pasti mengerti apa arti dari dua taring panjang di mulutnya. Tapi itu juga beresiko karena para Werewolf akan langsung memburunya habis-habisan dan si anak yang diberi nama Taring itu tak akan bisa bertahan hidup bahkan sebelum dia menjadi dewasa.


Juga ada yang tak beres sedang terjadi di sini, biasanya Werewolf jalan dalam sebuah kelompok besar, tidak biasanya hanya ada satu orang dari mereka yang datang menyerang. Atau mungkinkah sejarah telah berubah dalam satu dekade terakhir?


Apakah yang menyebabkan langit malam jauh lebih lama dari pada siang hari?


Dan apakah yang menyebabkan fenomena bulan sabit raksasa di atas langit pada siang hari, yang cahayanya sama terang dengan matahari?


Semuanya akan terjawab pada waktunya. Dan fakta bahwa Taring sang pangeran Vampir ternyata dibawa oleh seorang wanita berbahaya-Mirna-yang seharusnya tak pernah dia temui dalam hidupnya.

__ADS_1


...-- Bersambung --...


__ADS_2