
Aku tak akan membiarkan mu menggenggam tangan orang lain. Cukuplah diriku satu-satunya pria yang bisa menggenggam tangan mu. Aku akan egois kali ini. Aku akan keras kepala kali ini. Terserah, apa kata dunia tentang aku yang mengurung mu. Karena hanya aku yang merasakan pedihnya hidup tanpa dirimu. Bram.
Desiran angin pantai menyapu rambut panjang Aqilla yang tengah berdiri di atas balkon sebuah rumah megah. Rumah megah milik Bram yang digadang-gadang dirinya dengan sebutan rumah kita pada Aqilla.
Mata Aqilla menatap jauh ke depan, entah apa yang ia lihatnya kini, yang pasti pikirannya sedang melayang-layang entah kemana. Banyak hal yang ia pikirkan saat ini, diantaranya adalah pekerjaannya, juga jenjang pendidikannya yang akan terbengkalai, jika ia terus berada di sini. Meskipun di hati kecilnya. dia sangat merasa nyaman dan damai berada di tempat ini.
Sepasang tangan kekar tiba-tiba saja melingkar di pinggangnya, ia tersentak dan sadar dari lamunannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan Qilla?" Tanya Bram yang menyembunyikan wajahnya di curug leher Aqilla.
"Mas Bram, sampai kapan kita di sini?" Tanya Aqilla yang menghentikan Bram yang sedang menyesap aroma tubuh Aqilla.
"Kenapa? Apa kau tak betah berada di rumah kita?" Tanya Bram yang membalikkan tubuh Aqilla agar menatap dirinya.
"Bukan aku tak betah, aku hanya ingin kembali bekerja dan melanjutkan pendidikan ku." Jawab Aqilla apa adanya.
Bram membalas dengan tawa sinisnya, membuang pandangannya sekilas lalu kembali menatap Aqilla.
"Jangan bilang jika kau ingin mengurungku di sini Mas?" Tebak Aqilla yang membaca raut wajah tak suka dari Bram.
__ADS_1
"Aku tak mau kehilangan mu, jika aku biarkan kau pergi maka kau pasti akan meninggalkan ku, Qilla. Perlu kau tahu Qilla, hari-hari yang aku jalani tanpa dirimu sungguh tak mudah," Jawab Bram dengan wajah sendunya.
"Mas, aku tak akan pergi lagi dari mu, aku janji. Kita bisa kembali ke rumah ini setiap waktu liburku," Aqilla menggenggam tangan Bram. Ia mencoba menyakinkan Bram agar mengizinkan ia kembali ke ibu kota.
"Bolehkah aku egois? Bolehkah Qilla?" Tanya Bram yang seakan tak mengizinkan Aqilla untuk pergi dari rumah ini.
"Mas Bram, percayalah pada ku, aku tak akan meninggalkan mu, aku janji. Aku hanya ingin bekerja demi kelangsungan hidup ku."
"Tanpa kau bekerja, aku masih bisa menghidupi mu Qilla."
"Ya, mungkin untuk saat ini, karena orang tua mu tak mengetahui hubungan kita. Tapi jika mereka sudah mengetahuinya. Mereka pasti akan mencabut semua fasilitas yang kau miliki sekarang." Ucap Aqilla yang membuat Bram tersenyum getir mendengarnya.
"Aku tak sebodoh itu Qilla." Balas Bram yang malah pergi masuk ke dalam kamar. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang dengan
Melihat Bram terbaring di ranjang. Aqilla datang menghampirinya. Ia duduk di tepi ranjang dimana Bram membaringkan tubuhnya.
"Aku harus berbuat apa agar kau mau percaya jika aku tak akan meninggalkan dirimu, Mas?" Tanya Aqilla yang mulai meraba paha Bram.
Aqilla mulai menggoda Bram dengan memberikan sentuhan-sentuhan lembut di pahanya yang sedikit membuat Bram menikmati sensasi geli yang diberikan Aqilla padanya, namun bukannya menerima Bram malah menolak sentuhan Aqilla.
__ADS_1
"Aku bukan Dito yang butuh kepuasan di atas ranjang Qilla. Hentikan pergerakan tangan mu!" Ucap Bram yang kemudian bangun dari posisi tidurnya.
"Jika kau tak ingin sentuhan tubuh wanita kotor ini, lalu apa yang kau mau dari diriku, Mas?" Tanya Qilla yang tersinggung dengan penolakan Bram.
Baru kali ini Aqilla merasakan penolakan seorang pria yang ingin dia sentuh.
"Qilla, aku mencintai mu, aku juga menghargai mu sebagai seorang wanita. Tidak mungkin aku menyetubuhi wanita yang ku cintai sebelum aku nikahi." Balas Bram yang malah membuat Qilla menangis.
"Aku ini wanita kotor Mas, apa masih pantas aku menikah dengan pria sesempurna dan sebaik dirimu? Jika dirimu menerima ku belum tentu kekuargamu menerima ku," Tanya Qilla dengan deraian air mata.
Ia masih merasa tak pantas, jika harus bersanding dengan Bram. Tentunya keluarga Bram tak akan merestui dirinya, menjadi salah satu anggota keluarga mereka.
"Kenapa kamu selalu menyebut dirimu kotor Qilla? Padahal kamu adalah wanita yang tangguh dan mandiri. Kaulah yang terlihat sempurna di mataku, sedang aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu," ucap Bram yang membelai pipi putih mulus Aqilla.
"Aku akan mengizinkan mu pergi dari sini, asal kau bisa memenuhi syarat yang ku berikan pada mu." Ucap Bram lagi yang memberikan penawaran pada Aqilla.
"Apa itu? Katakanlah Mas?" Tanya Qilla yang begitu antusias. Ia seakan ingin mengabulkan semua syarat yang akan diberikan Bram padanya asal ia bisa terus bekerja dan menuruskan pendidikannya.
"Syarat yang kuberikan sungguh mudah Qilla." Jawab Bram seraya tersenyum manis menatap Aqilla.
__ADS_1
"Apa cepat katakan Mas?" Pinta Nayla yang tak sabar Bram menyebutkan syarat yang ia berikan.
"Menikahlah dengan ku," jawab Bram dengan senyum yang tak terlepas dari wajah tampannya.