
Tiga bulan kemudian. Dito mendatangi Aqilla di rumah sakit.
"Selamat pagi Dokter Aqilla." Sapa Dito yang sudah berada di ruang praktik Aqilla. Dia berjalan menghampiri meja kerja Aqilla dan berdiri tepat di samping kursinyang Aqilla duduki.
"Pagi Tuan, ada angin apa yang membuat Anda datang ke sini? Apa Anda ingin memeriksakan kesehatan jantung Anda?" Tanya Aqilla dengan wajah datarnya.
"Tidak, aku ke sini ingin membawa mu kesuatu tempat bersama Tita." Ucap Dito dengan seulas senyum yang begitu bahagia. Seakan telah melupakan semua kejadian yang telah lalu.
"Bersama Tita? Dimana Tita? Aku tak melihatnya." Tanya Aqilla yang sudah merindukan Tita yang sebulan lalu sudah pulang dari rumah sakit.
Aqilla tetap menjalankan janjinya menemani Tita selama di rumah sakit saat malam hari dan siang harinya ia bekerja, praktis ia jarang pulang ke rumah Sandra. Saat ia menemani Tita, Dito sama sekali tak ikut menemaninya seperti dahulu. Semenjak pertengkarannya kala itu, Dito menghilang bak di telan bumi, begitu pula dengan Bram.
Saat ini Tita masih menjalani pengobatannya dan keadaannya mulai membaik. Rencananya satu bulan lagi, dia akan melakukan operasi pengangkatan tumor di otak sebelah kirinya. Dan operasi besar itu akan melibatkan beberapa dokter spesialis, tak hanya Tania, tapi dirinya dan juga Angel.
"Dia ada di mobil. Ia sedang menunggu kehadiran dirimu di sana." Jawab Dito yang menarik lengan Aqilla agar ikut bersamanya.
"Aku masih ada pasien hari ini Mas." Tolak Aqilla namun tak membuat Dito melepaskan tangan Aqilla.
"Hari ini kamu cuti dan aku sudah meminta izin pada pemilik rumah sakit ini." Ucap Fito yang tak menerima penolakan Aqilla.
"Oh... baiklah. Beginilah nasib ku berada di tengah-tengah orang berkuasa seperti kalian." Ucap Aqilla yang bangkit dari duduknya dengan penuh keterpaksaan.
Dito menggandeng tangan Aqilla dengan senyum yang terus terukir di wajah tampannya. Ia seakan tak perduli dengan tatapan orang lain yang kini menatap dirinya dengan tatapan aneh.
"Tante Qilla," panggil Tita dengan wajah cerianya.
__ADS_1
"Hai sayang, gimana kabar kamu hum?" Tanya Aqilla yang menangkap tubuh Tita dalam pelukannya.
"Baik Tante, Tita sekarang sudah sehat." Jawab Tita yang nampak berbohong. Wajah pucatnya tak bisa membenarkan perkataannya saat ini.
"Sepertinya kita akan jalan-jalan ya," ujar Aqilla melirik kearah Dito yang duduk di belakang kemudinya.
"Kita tak hanya sekedar jalan-jalan kali ini. Karena sebelum kita pergi, kita akan menghalalkan hubungan kita." Jawab Dito dari balik kemudinya yang membuat Aqilla tersentak.
"Pergi? Menghalalkan?" Cicit Aqilla di dalam hatinya.
"Dia datang untuk menikahiku? Apa dia akan menikahi ku? Dia belum menjawab semua pertanyaanku, kenapa dia sudah mau menikahi ku? Kau sungguh misterius Mas." Gumam Aqilla di dalam hatinya.
Sementara itu di sebuah gedung pencakar langit Bram tengah melihat awan hitam yang menghiasi pagi ini.
"Pagi ini langit seakan mengerti akan perasaan ku San," ucap Bram pada Sandra yang sibuk dengan laptopnya.
"Tetap saja, hati ku sakit melihat wanita yang aku cintai menikah dengan pria lain. Aku takut Aqilla akan lebih mencintai dirinya dibanding diriku San." Balas Bram dengan rasa khawatirnya.
"Aku percaya pada cinta Aqilla pada mu. Dia tak akan meninggalkan mu, bahkan dia selalu mencari keberadaan mu dan terus menanyakan keberadaan mu pada ku pada Bi Ipad dan pada siapapun yang ia temui di rumah. Dia takut kehilangan mu Bram." Terang Sandra yang berjalan menghampiri Bram. Ia memeluk tubuh kakak sepupunya, seakan memberikan kekuatan pada hati sang kakak yang tengah rapuh hatinya.
"Dia akan kembali percayalah padaku. Sekarang pikirkan bagaimana cara mu menghempas pengkhianat yang menjadi duri di dalam daging perusahaan mu." Ucap Sandra yang malah menitikan air matanya.
"Jika aku singkirkan dia, bagaimana dengan perasaan mu padanya San?" Tanya Bram yang ingin membalikkan tubuhnya. Ia ingin menatap wajah Sandra namun Sandra menolaknya.
"Jangan pikirkan bagaimana aku! Aku sudah terbiasa sendiri, jika dengan dirimu saja dia tak setia apalagi dengan hubungan kami. Bisa saja selama ini dia main gila di belakang ku, hanya saja aku tak mencari tahunya." Jawab Sandra yang masih menitikan air matanya.
__ADS_1
"Aku terserah bagaimana kamu, jika kamu sanggup mengeksekusi dirinya. Lakukanlah! Tapi jika kamu mau memberikan kesempatan kedua untuknya maka berhati-hatilah. Aku tak mau mengabaikan bagaimana perasaan mu padanya San, biar bagaimana pun kau adalah saudara ku satu-satunya dan kau pun begitu. Di dunia ini hanya tinggal kita berdua. Kita harus saling menjaga satu sama lain." Balas Bram yang mengusap tangan Sandra yang memeluknya.
"Dia sudah menikah dengan wanita lain di belakang ku setelah menguras harta Om Yohannes. Hiks..." Ungkap Sandra dan tangisnya pun pecah.
Bram terkejut, ia mengepalkan kedua tangannya, hingga buku-buku jarinya putih memucat. "Kurang Ajar!" Umpat Bram.
"Beginilah jika memelihara tikus got macam dia." Tanpa melepaskan pelukan Sandra.
Bram mengambil ponselnya. Ia segera menghubungi anak buahnya yang tak pernah berhubungan dengan Jhopan.
"Eksekusi dia sekarang juga!" Ucap Bram singkat pada anak buahnya yang bernama Markus.
"Baik Tuan, segera." Jawab Markus dan Bram pun menutup panggilan teleponnya.
"Aaaa.....aaaa..." pekik Sandra yang meluapkan kesedihannya.
Ia tak menyangka tugas yang diberikan Bram pada kekasihnya Jhopan, malah membuat Jhopan kalap mata dengan nilai asset yang fantastis itu. Tak hanya berkhianat dengan Bram. Jhopan juga mengkhianati dirinya, dengan menikahi wanita lain padahal ia tengah mengandung buah hati mereka.
"Lebih baik anakku tak memiliki seorang ayah daripada ia harus sakit hati seperti diriku yang terabaikan." Gumam Sandra begitu lirih di dalam hatinya, sembari meremas perutnya yang masih rata.
Sementara itu, di rumah sakit Angel tengah menggila. Ia menghancurkan semua yang ada di mejanya dan berteriak-teriak. Ia tak menyangka jika Tita anak yang selama ini ia hindari adalah anak kandungnya sendiri bukan putri Dito dan Cella. Anak yang tak berdosa, yang sengaja ia tinggalkan, hanya arena tak ingin masa depannya hancur.
"Kamu jahat Dito, kamu tahu aku mencarinya tapi kamu biarkan aku seperti orang bodoh. Sekarang dia sakit separah ini tanpa aku tak pernah mau perduli. Ibu macam apa aku ini yang tak bisa membedakan anaknya sendiri yang sudah ada di depan matanya."
"Argghhhhh....." pekik Angel lagi.
__ADS_1
Sementara itu Danu yang ada di depan pintu ruang kerja istrinya hanya bisa meratapi kesedihannya sendiri. Dia tahu jika Tita adalah putri yang selama ini Angel cari, namun ia sengaja tak memberitahunya, karena takut kehilangan Angel, wanita yang sangat ia cintai. Ia tak mau Dito merebut Angel dari dirinya ataupun Angel yang meninggalkannya demi Tita dan Dito.
Egois. Hampir semua manusia di muka bumi ini selalu bersikap egois dan mau menang sendiri. Mereka tak perduli dengan perasaan orang lain, menderita ataupun senang orang lain, mana mereka perduli, mereka hanya memikirkan kebahagiaan kalian sendiri.