
Keesokan harinya, kembali sang fajar membangunkannya yang nampak begitu lelah. Semalam seperti malam yang kemarin. Aqilla tak tidur di unitnya. Ia kembali mendatangi unit apartemen Dito.
Semalam dengan menggunakan lingeri dia menghampiri Dito yang lelah, setelah seharian bekerja dan juga harus menjaga Tita di rumah sakit. Lelah dan penat hinggap dari diri Dito yangbpulang hingga tengah malam. Karena ia akan pulang setelah Tita masuk kedalam alam mimpinya.
Dito membaringkan tubuh lelahnya di sofa dalam ruangan yang sengaja ia buat gelap, karena ia tak menyalakan satu lampu pun. Ia pejamkan matanya yang sudah berat, jika hatus terjaga lagi ia mungkin tak akan sanggup.
Bip![Suara kunci pintu unit apartemen Dito berbunyi].
Ia mendengarnya, namun ia urungkan dirinya untuk melihat siapa orang yang mendatangi unit apartemennya di tengah malam seperti ini. Bukan karena ia tak perduli dengan penyusup yang datang ke apartemennya, hanya saja tubuhnya benar-benar sangat lelah. Derap langkah tanpa alas kaki makin terdengar dan di telinga Dito.
Klik [Suara saklar lampu dinyalakan]
Silau. Dito menutup matanyanya dengan lengan tangannya.
"Qilla matikan lampunya!" Perintah Dito dengan suara yang lemah, membuktikan bahwa ia benar-benar lelah.
Aqilla tak menggubris perintah Dito, ia malah berjalan menghampiri Dito yang berada di atas sofa. Ia naik dan duduk di atas junior Dito.
"Ughh..." Dito terkejut saat tubuh Aqilla naik di atas tubuhnya.
Sontak saja ia membuka mata dan ingin memegangi juniornya yang cukup terasa sakit karena ulah Aqilla. Mata Dito yang semula berat dan ingin cepat tidur, kini terbelalak mendapati Aqilla dengan riasan wajah dan lingeri yang ia kenakan malam ini.
"Kau cantik sekali malam ini Qilla," puji Dito yang kemudian meletakkan kedua tangannya di kedua paha Aqilla dan mengelusnya dengan lembut, hingga sensasi geli membuat tubuh Aqilla meremang.
"Mulai malam ini ku serahkan diri mu untuk mu Mas," ucap Aqilla yang menatap dalam manik mata Dito.
__ADS_1
"Kau serius?" Tanya Dito yang tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.
"Aku serius, mungkin ke depannya, aku akan sedikit berpaling dari mu dan sedikit menyakiti mu, tapi perlu kau tahu. Sepenuhnya aku adalah milik mu." Jawab Aqilla yang malah berbaring di dalam dada bidang Dito.
"Selesaikanlah apa yang ingin kau selesaikan, aku akan setia menunggu mu dan menahan rasa sakit itu, asal kau akhirnya akan kembali bersama ku," balas Dito yang mengusap punggung Aqilla.
Dito paham betul jika Aqilla kini tengah menitikan air matanya, makanya ia sengaja berbaring dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dito.
"Menangislah jika kau ingin menangis Qilla." Ucap Dito yang malah membuat Aqilla bangun.
"Sudah cukup air mata ku untuk mereka, saat ini aku ingin diri mu," balas Aqilla yang malah meraup bibir Dito dengan ganas.
Dito sungguh kewalahan menghadapi serangan tiba-tiba dari Aqilla yang penuh gairah. Meskipun lelah ia tetap membalas desapan dan lu.matan bibir Qilla yang bermain-main di bibirnya.
Seperti kucing garong yang diberi daging, tentu saja Dito tak akan menolak, ketika Aqilla terus menawarkan kehangatan ranjang yang selama tiga tahun menyiksa dirinya.
"Tentu saja, aku akan memimpin permainan kita malam ini, hingga kau puas dan dapat tidur dengan nyenyak sayang," balas Aqilla yang menyanggupi permintaan Dito.
Sontak kata sayang yang di dengar Dito membuatnya tersenyum bahagia. Tak sia-sia pengorbanannya selama ini, jika akhirnya wanita yang membuatnya jatuh hati, kembali dalam pelukkannya, bukan lagi menjadi seorang patner ranjangnya, tapi malah menyerahkan dirinya sebagai teman hidupnya. Meski ia masih sah menjadi milik Bram. Saminya yang hingga saat ini tak mengetahui jika istrinya sudah kembali ke negara ini.
"Augh...yes baby ughhhhh...." lenguh Dito yang menikmati setiap gerakan Aqilla yang begitu bersamangat di atas tubuhnya.
"Arghhh.... aku hampir sampai Mas..." ucap Aqilla untuk ke sekian kalinya.
"Bersama sayang... bergeraklah lebih cepat lagi!" Pinta Dito yang malah menepuk bokong Aqilla.
__ADS_1
Seperti kuda yang sedang di pecut Aqilla makin bergerak lebih cepat. Hingga akhirnya cairan hangat menyembur di dalam rahimnya.
"Lepaskan alat kontrasepsi mu sayang, aku ingin memiliki anak dari rahim mu." Pinta Dito dengan suara yang berbisik di telinga Aqilla yang sudah tumbang di atas tubunnya.
"Sudah sejak lama aku melepasnya," jawab Aqilla yang membuat Dito menyunggingkan senyum bahagia di bibirnya.
Sebenarnya saat memutuskan kembali ke negara ini, Aqilla memantapkan dirinya untuk kembali pada Dito. Orang yang selama ini selalu ada dalam keadaan susah, sedih, dan keterpurukan yang ia alami. Ia ingin mengakhiri pernikahannya dengan Bram. Ia lelah untuk terus berjuang, mendapatkan kebahagiaan yang ujungnya hanyalah sebuah kebahagiaan semu, yang mudah sekali untuk diruntuhkan oleh sebuah keegoisan dari seorang penguasa dan ketidak berdayaan Bram untuk melawannya.
"Pagi..." sapa Dito pada Aqilla yang mengeliat dalam tidurnya.
"Pagi sayang, kenapa sudah rapih? Memangnya jam berapa sekarang?" Balas Aqilla yang balik bertanya pada Dito.
Ia bangun tanpa menggunakan sehelai benang pun, untuk menutupi tubuhnya. Ia hampiri Dito yang sedang menggunakan dasi kerjanya.
"Menunduklah biar aku pasangkan!" Pinta Aqilla yang berdiri di depannya.
Dito sedikit menundukkan tubuhnya dan menatap wajah Aqilla yang serius memasangkan dasi untuknya. Seulas senyum lagi-lagi terbit di wajahnya pagi ini, melihat sosok Aqilla terus melayaninya sejak semalam.
"Aku sudah siapkan sarapan untuk mu, maaf jika aku tak bisa menemani mu sarapan, hari ini aku ada meeting penting dengan Mr. Hans. Sampai ketemu di rumah sakit ya." Ucap Dito saat ia ingin memgambil tas kerjanya.
"Ok, beri aku kecupan selamat pagi, sebelum kau berangkat ke kantor Mas," pinta Aqilla yang malah memeluk tubuh Dito dari belakang.
Dito membalikkan tubuhnya dan mendaratkan bibirnya di seluruh bagian wajah Aqilla.
"Jangan ikut keluar dengan keadaan mu seperti ini! Karena Bens asistenku sedang duduk menunggu ku di ruang tamu." Pinta Dito yang menahan Aqilla untuk tidak mengikutinya.
__ADS_1
"Tapi baju ku bagaimana ya Mas? Kalau kamu sudah berangkat duluan. Siapa yang ambilin dong Mas? Aku kok main oke-oke saja lagi hu-uemm...."
"Buka lemari pakaian ku, Bens datang sepagi ini karena menyiapkan pakaian untuk mu di lemari ku." Jawab Dito yang kemudian menutup pintu kamarnya. Ia tak mau Bens melihat tubuh Aqilla barang sedikit pun.