Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 42


__ADS_3

Seorang wanita muda dengan penampilan berkelas mendatangi sebuah ruang praktik seorang Dokter spesialis jantung. Ya. Wanita muda itu adalah Calista. Ia datang didampingi dengan dua pengawalnya.


Ceklek [Pintu ruang praktik Aqiila terbuka].


Aqilla dan seorang suster perawat yang membantu dirinya saat praktik terlihat terkejut mendapati kedatangan Calista dan dua pengawalnya.


Terlihat jelas Suster perawat menampilkan wajah ketakutannya setelah raut wajah terkejutnya luntur. Bagaimana ia tak merasa takut. Pasalnya ia melihat kedua pengawal Calista tiba-tiba saja mengeluarkan pistol yang mereka sembunyikan di belakang pinggangnya.


Berbeda dengan Suster perawat, Aqilla malah tanpak tersenyum kecut melihat kedatangan Calista bersama kedua pengawalnya.


"Jika kau ingin bicara dengan ku, biarkan perawat dan kedua pengawal mu itu keluar. Aku tidak suka masalah privasi hidupku didengar oleh orang lain." ucap Aqilla yang melepaskan testoskop yang melingkar di lehernya. Ia baru saja menyelesaikan jam praktiknya.


Dengan menggerakkkan tangannya ke atas. Calista memerintah kedua pengawalnya yang mengeluarkan senjatanya itu untuk keluar. Melihat kedua pengawal Calista keluar. Suster perawat yang bernama Ema itu, segera meninggalkan ruang praktik Aqilla dengan terbirit-birit.


"Kau ingin bicara apa Nyonya Bram, hingga kau repot-repot mendatangi ku?" tanya Aqilla dengan santainya sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Apa begini cara mu menyambut tamu mu? Apa kau tak meminta dan mempersilahkan tamu mu untuk duduk Dokter Aqilla?" sahut Calista yang menyindir Aqilla yang tak memintanya untuk duduk.


Aqilla menyunggingkan senyum sinisnya mendengar sindiran Calista padanya.


"Aku kira tempat duduk ku ini terlalu kotor untuk mu Nyonya. Tapi jika kau ingin duduk dan lelah berdiri, aku persilahkan kau untyuk duduk bersama ku di sini," balas Aqilla dengan mempersilahkan Calista duduk dengan tangannya.


Kini Calista yang menyunggikan senyum sinisnya pada Aqilla, ia pun duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Aqilla. Setelah melihat Calista duduk. Aqilla langsung saja mempersilahkanCalista untuk mengungkapkan keperluan istri tua suaminya ini.

__ADS_1


"Silahkan Nyonya, ada keperluan apa Anda menemui ku, Anda ingin melakukan pemeriksaan atau ingin membicarakan sesuatu yang menurutku sudah tak penting lagi?" ucap aqilla yang membuat Calista menyeryitkan kedua alisnya.


"Dokter Aqilla, aku sudah tahu jika kau adalah maduku. Kau adalah istri kedua suamiku." ucap Calista dengan mimik wajah yang begitu serius.


Mendengar ucapan Calista, Aqilla kembali menyunggingkan senyum sinisnya.


"Lantas?" sahut Aqilla singkat.


"Aku juga tahu, selama ini kau diburu oleh Ayah mertua kita. Kau tahu kehadiran mu di keluarga besar Yohannes sangat tidak diinginkan." sambungnya lagi.


"Kau datang hanya ingin bicara masalah ini Nyonya?" tanya Aqilla yang terlihat santai di balik kursi meja kerjanya.


"Tentunya tidak hanya memberitahu mu, Dokter Aqilla. Tapi aku ingin kau kembali menghilang dari kehidupan kami. Tolong jangan persulit hidupku dengan kedatanganmu lagi di dalam kehidupan Bram suamiku." jawab Calista yang menatap tajam wajah santai Aqilla.


"Kau telah salah paham tentang kembalinya aku ke negri ini Nyonya. Perlu kau ketahui. Aku kembali bukan untuk merebut suamimu. Tapi kembali untuk meninggalkan suami mu. Jika saja anak pria yang ku cintai tidak sakit keras, aku tidak mungkin kembali ke negri ini Nyonya. Jika kau ingin menyingkirkan ku, sepertinya kita bisa saling bekerja sama. Tolong bantu aku agar suamimu mau menceraikan ku." Ucap Aqilla yang membuat Calista terdiam dan malu.


Melihat Calista terdiam Aqilla kembali berbicara mengutarakan isi hatinya pada kakak tirinya tersebut.


"Aku tahu kau adalah kakak tiriku. Kau adalah anak dari wanita yang sangat dicintai oleh Ayahku. Hidupmu jauh lebih beruntung dari diriku Nyonya. Kau tak dibuang oleh ibumu, meskipun kau tak diakui oleh Ayahku. Sedang aku, aku dibuang oleh keduanya. Aku harus berjuang hidup di dunia ini seorang diri. Sial bagiku, mencintai pria yang sama dengan kakak tiriku, hingga nasib naas harus menimpa diriku. Keegoisan mu dan kedua mertua mu membuat hidupku hampir saja hancur." Ucap Aqilla yang kali ini menatap wajah Calista dengan tatapan seriusnya.


"Andai aku memiliki waktu untuk menceritakan kisah hidup ku karena keegoisan kalian, mungkin tujuh hari tujuh malam kau harus menyisikan waktu selama itu untuk mendengarkan cerita hidupku. Namun sayangnya aku tak memiliki waktu banyak untuk berbagi cerita dengan Anda Nyonya." ucap Aqilla yang malah beranjak dari kursi kerjanya.


"Hidupku juga tak seberuntung yang kau kira Aqilla. Ibuku sudah meninggal dan aku harus menggantikan posisi ibuku, menjadi patner ranjang ayah tiriku hingga aku memiliki seorang putra darinya." ucap Calista dengan suara lirih.

__ADS_1


Ia tak lagi memanggil Aqilla dengan sebutan Dokter Aqilla. Pernyataan Calista ini sudah Aqilla ketahui, Aqilla menghentikan langkahnya karena mendengar suara lirih Calista yang ia dengar.


"Aku terus mengejar cinta Bram untuk memberiku perlindungan dari Ayah tiri ku, namun Bram sama sekali tak menggerakkan hatinya untukku." sambung Calista lagi yng kini malah menitikan air matanya.


"Berhentilah menjadi seorang pengemis cinta Nyonya. Mulailah hidup mu yang baru dengan putra mu. Untuk apa kau bertahan dan berjuang, jika orang yang kau perjuangkan sama sekali tak menoleh ke arah mu. Jangan bertindak bodoh terlalu jauh. Memaksakan sesuatu yang memang bukan milik mu. Aku rasa Bram bukanlah jodoh ku, juga bukan jodoh mu. Dia milik wanita lain di luar sana, yang entah siapa itu. Lepaskan dia agar hidup mu bahagia." Ucap Aqilla yang memberi saran lalu pergi keluar dari ruangannya.


Namun siapa sangka, saat dia membuka pintu untuk keluar dari ruangannya. Bram sudah berada di depan pintu. Ia tengah menguping apa yang dibicarakan kedua istrinya di dalam.


"Kau ingin aku menceraikan mu?" tanya Bram pada Aqilla yang juga didengar oleh Calista.


"Ya, aku ingin kau menceraikan ku." Jawab Aqill dengan tegas.


"Kenapa?" tanya Bram singkat dengan tatapan sendunya.


"Karena cinta yang kurasakan untuk mu selalu saja membuatku terluka. Izinkan aku bahagia Bram." jawab Aqilla yang membuat Bram tertawa dalam kesedihannya.


Hahahaha...[ Tawa Bram yang menggelegar, hingga menjadi pusat perhatian orang disekeliling mereka].


"Kau pikir hanya dirimu saja yang menderita Aqilla, aku pun menderita Aqilla." balas Bram ketika tawanya berakhir.


"Jika kau pun menderita, maka sudahi saja Bram. Kau ingin tetap bersama ku, tapi selama ini kau seakan tak pernah memperjuangkan ku. Jangan bilang kau lelah, karena aku tahu tak ada sedikitpun upaya mu untuk mencari keberadaan ku." ucap Aqilla yang kembali membuat Bram tersenyum getir.


"Au tak mencarimu demi keselamatan mu." Bram membela dirinya atas tuduhan Aqilla.

__ADS_1


"Lantas sekarang bagimana Bram? Pantaslah jika kau menceraikan aku demi keselamatan ku. Pastinya orang tua mu akan memiliki rencana jahat lain untukku nantinya. Tak kasihankah kau dengan wanita yang hidup sebatang kara ini?"


__ADS_2