
"Bagaimana saksi Sah?" Tanya penghulu pada kedua orang yang sama sekali tak dikenali oleh Aqilla. Yang duduk di samping dirinya dan juga Dito.
"Sah." Jawab keduanya bersamaan. Kemudian penghulu itupun memanjatkan doa untuk mereka, sebelum menyelesaikan prosesi akad nikah mereka.
Lagi-lagi Aqila hanya di nikahi sirih oleh seorang pria, yang kali ini pria itu adalah Dito. Tak seperti pernikahannya bersama dengan Bram, kali ini Aqilla hanya mengenakan setelan baju kerjanya untuk menikah dengan Dito. Dito tidak seperti Bram yang menyiapkan gaun pengantin terbaik untuk Aqilla.
Sedih. Ya Aqilla merasa sangat sedih, karena dengan jelas Dito meminta kesediaan dirinya untuk menikah, hanya untuk satu tahun lamanya. Dito menikahi Aqilla bukan atas dasar perasaan cintanya terhadap Aqilla, tapi melainkan hanya karena ingin mewujudkan keinginan Tita menjadikan Aqilla sebagai ibu sambungnya.
Dito juga berjanji tak akan menyentuh Aqilla selama dalam pernikahannya. Aqilla sempat menolak, ia ingin menyudahi segalanya. Ia tak ingin meneruskan permainan ini. Baginya semua ini sudah cukup. Ia tak mau menambah luka hatinya dengan kenyataan-kenyataan yang tak terduga yang ia dapatkan, setelah Dito memulai semua ini.
Dito memaksa Aqilla untuk melakukan keinginannya ini. Akhirnya Aqilla menyetujui ajakan Dito untuk menikah dengan sebuah kesepakatan yang telah Dito tentukan sendiri. Aqilla menyetujui bukan karena tanpa alasan. Selain karena ia terlalu banyak hutang budi terhadap Dito, ia juga melakukan pernikahan ini demi Tita dan rasa bersalahnya yang tak memberitahu Angel tentang kebenaran mengenai Tita.
"Sekarang bole panggil Tante Qilla Mami dong ya Pih?" Tanya Tita yang sedang memeluk pinggang Dito.
"Tentu saja, Tante mu ini sekarang sudah jadi Mami mu. Apa Tita senang?" Jawab Dito yang melirik Aqilla dengan senyuman penuh arti.
"Senang banget Pih," jawab Tita yang mengurai pelukannya dan berpindah memeluk Aqilla.
__ADS_1
Aqilla membalas memeluk tubuh Tita dan merasa hatinya teriris perih. Merasa berdosa dan bersalh pada gadis kecil yang akan ia berikan kebahagian semu di sisa hidupnya.
Dua jam yang lalu, Aqilla dan Dito terlibat pembicaraan serius di depan sebuah rumah yang entah rumah milik siapa.
"Siap tidak siap, operasi itu harus dilakukan bukan? Tania sudah memberikan ku informasi mengenai kesehatan putriku." Ungkap Dito dengan menatap kesembarang arah, ia tak menatap Aqilla saat bicara dengannya.
"Ya. Jika kamu sudah mengetahuinya, maka aku tak perlu lagi menjelaskannya." Sahut Aqilla yang terus menatap wajah Dito.
"Ya kamu memang tak perlu menjelaskan apapun pada ku, hanya saja kamu harus melakukan sesuatu yang menjadi impian terakhir putri ku. Qilla." Balas Dito yag kini menatap Aqilla.
"Aku harus melakukan apa Mas untuk Tita?" Tanya Aqilla yang masih setia menatap wajah Dito.
"Menikahlah dengan ku Qila seperti yang aku katakan tadi didepan Tita. Aku akan menikahi mu demi Tita, bukan demi diriku ataupun dirimu. Kau bukan masa depan ku Qilla. Kau masa depan orang lain, aku tak yakin kau akan bahagia bersama diriku dan aku pun tak yakin bisa bahagia bersama mu nantinya." Ujar Dito dengan uraian kata yang menohok hati Aqilla.
Aqilla hanya diam dan menunggu Dito menyelesaikan pembicaraannya.
"Tiga bulan adalah waktu yang sangat cukup untukku berpikir tentang hubungan kita, dengan semuanya yang terjadi, dengan semuanya yang sudah terbongkar. Membuat ku dapat berpikir jernih. Jika aku tak benar-benar mencintai mu, Qilla. Separuh hatiku masih terpenjara dengan kisah cinta ku yang tak pernah berakhir. " Terang Dito yang kembali menusuk relung hati Aqilla.
__ADS_1
Meskipun Bram adalah pemilik hati Aqilla. Namun kebersamaan Aqilla dan Dito selama ini, tak dapat menutup kemungkinan jika dirinya memiliki sedikit perasaan terhadap Dito. Wajar jika ia merasa sakit hati dengan ungkapan hati Dito yang sebenarnya.
Salah. Memanglah salah jika Aqilla mencintai keduanya, meski rasa cintanya terhadap Bram lebih besar dari pada rasa cintanya terhadap Dito yang selalu ada disaat ia membutuhkan seseorang yang bisa dijadikan sandaran hidupnya.
Rasa ini hadir karena Aqilla terbiasa menggantungkan hidupnya pada Dito, dan Dito selalu berusaha menjadi superhero ataupun dewa penyelamat di kehidupan Aqilla, dengan maksud dan tujuannya sendiri.
Tak berbeda jauh dengan apa yang dirasakan Aqilla. Dihati Dito hanya ada Angel yang bertahta, namun seiring berjalannya waktu rasa itu memudar dan terganti oleh Aqilla.
Namun rasa kecewa dan benci Dito terhadap sikap Angel, malah membuatnya tak bisa melupakan Angel sepenuhnya dan mulai memanfaatkan Aqilla untuk menyakiti perasaan Angel. Dari mulai menjadikan Aqilla patner ranjangnya hingga berjuang mati-matian demi membalaskan dendam Aqilla yang belum tertuntaskan. Seakan dirinya benar-benar mencintai Aqilla di mata Angel.
"Hubungan kita selama ini tak lebih dari Simbiosis mutualisme, bukan? Mari mulai saat ini kita kembali menjalanin hubungan kita yang seperti ini dengan cara yang halal di mata Tita. Kita hanya menjalani hubungan yang seperti ini,hingga Tita sembuh ataupun tiada." Ucap Dito yang menatap Aqilla tanpa berkedip, namun air mata Dito berhasil terjun bebas dari kelopak mata tegasnya.
"Tidak Mas, sudah cukup. Jangan lagi aku mohon. Kita sudahi saja, jika akhirnya kita akan saling menyakiti. Aku sangat paham jika dirimu tak akan bisa melupakan Angel. Dia wanita yang sangat kau cintai begitu pula dengan Angel, sampai detik ini dia sangat mencintai mu." Tolak Aqilla yang membuat Dito meremas kedua lengan Aqilla.
"Qilla, aku selalu membantu mu selama ini, aku selalu ada disetiap kamu dalam kesulitan, kali ini tolong balaslah kebaikan yang telah aku berikan pada mu. Wujudkan keinginan terakhir putri ku dari Angel. Hanya dia yang aku bisa miliki dari diri Angel, hanya dia, Qilla. Aku bersalah selama ini pada dirinya, begitu pula dengan dirimu. Kau dan aku sama-sama menyembunyikan dirinya dari ibu kandungnya sendiri demi kepentingan kita masing-masing. Kali ini aku mohon padamu wujudkan impian Tita." Ucap Dito dengan air mata yang berderai, membasahi rahang tegasnya yang hampir tak pernah terlihat basah karena air mata.
Rapuh. Ya saat ini Aqilla sedang melihat sisi rapuh pada diri Dito. Meskipun Dito menangis sedih, Aqilla tak ikut menangis seperti saat Bram menangis dihadapannya.
__ADS_1
"Jawablah Qilla, dia sudah terlalu lama menunggu kita di luar!" Pinta Dito saat melihat Aqilla hanya diam dan menetapnya.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan pada ku Mas," jawab Aqilla yang mengalihkan pandangannya pada Tita yang sedang memakan es cream kesukaannya vanila coklat.