Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 23


__ADS_3

Di sebuah bandara dengan penampilannya yang berbeda. Aqilla di antar Dito hingga menaiki Jet pribadinya. Dwi orang kepercayaaan Dito telah berada di dalam cabin pesawat, ia menunggu dengan sabar Aqilla dan Dito datang.


"Pergilah Qilla, percayalah semua akan baik-baik saja. Jangan pernah mencoba menghubungi seseorang selain diriku! Kau harus tak mempercayai orang lain selain aku, Dwi dan juga Tania." ucap Dito yang duduk bersimpuh di hadapan Aqilla.


"Mas, kenapa kau begitu baik pada ku?"


"Karena aku tulus mencintai mu, kau lah pengobat hati ku di saat hatiku terpuruk karena tak bisa bersatu dengan Angel karena sebuah perjodohan."


"Mas maafkan aku."


"Aku selalu memaafkan mu. Jaga dirimu baik-baik Qilla, aku pasti akan selalu merindukan mu." ucap Dito yang kemudian mencium pucuk kepala Aqilla dan beranjak pergi meninggalkan Aqilla.


Pesawat Jet pribadi milik Dito pun terbang lepas landas ketika Dito telah turun dari cabin pesawat.


"Bram, maafkan aku. Aku harus membawa istri mu pergi. Ini aku lakukan demi keselamatan wanita yang sama-sama kita cintai." gumam Dito, ketika melihat pesawat jet yang membawa Aqilla pergi ke kota New York, Amerika Serikat.


Kesepergian Aqilla, Dito pergi ke kantor seperti biasanya. Ia nampak jauh lebih tenang melewati harinya saat ini. Saat ia sedang asyik bekerja, tiba-tiba suara ponselnya kembali berdering. Ia lihat layar ponselnya, tertera panggilan dari apartemen Aqilla.

__ADS_1


"Pasti anak buah Tuan Yohannes sudah mengobrak-abrik apartemen Aqilla." tebak Dito sebelum mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, ada apa?" sapa Dito ketika mengangkat panggilan telepon dari resepsionis yang tadi menghubunginya.


"Tuan, maafkan kami.Unit apartemen Nona Aqilla di rusak dan di obrak-abrik orang tak di kenal." ucap Resepsionis itu dengan gugup dan rasa bersalah,karena telah lalai menjalankan perintah Dito. Padahal dai sellu mendapatkan tranferan uang dengan nominal yang tak sedikit dari Dito.


"APA? Bagaimana ini semua bisa terjadi?" pekik Dito yang sedang memainkan perannya. Ia pura-pura terkejut padahal ia sudah mengetahui semua ini.


"Maafkan kami Tuan, kejadiannya begitu cepat dan Tuan tenang saja, kami sudah laporkan hal ini pada pihak yang berwajib." ucap resepsionis itu yang berusaha menenangkan Dito yang nampak begitu khawatir menurutnya.


"Benarkah, kalau begitu saya akan memberi tahu Aqilla akan hal ini." ucap Dito masih dengan sandiwaranya.


"Apa?" Kembali Dito merespon dengan pura-pura terkejut.


"Tuan kami sudah mencoba menghubunginya tapi ----," Ucap resepsionis itu terputus karena Dito sudah mematikan panggilan teleponnya.


"Tak akan aku biarkan kau menyakiti wanita yang aku cintai Tuan Yohannes." Gumam Dito di dalam hatinya.

__ADS_1


Ia menggebrak meja kerjanya, meluapkan kekesalannya pada Tuan Yohannes yang kejam itu. Kaca meja Dito pun nampak retak karena gebrakan yang dilakukan Dito cukup keras.


Sementara itu di sebuah ruang rawat di rumah sakit, ada Bram yang tengah terbaring dengan luka di sekujur tubuhnya. Akibat dari sikapnya yang tetap mempertahankan perasaannya pada Aqilla.


Sandra yang datang menjenguk sepupunya itu hanya bisa menatap sedih keadaan sepupunya saat ini.


"Bram, dia telah pergi entah kemana. Sepertinya dia sudah meninggalkan kota ini atau meninggalkan negara ini untuk menyelematkan dirinya dari kekejaman Daddy mu."


Bram diam tak merespon dengan kata-kata, ia hanya kembali merespon dengan tetesan air mata yang jatuh membasahi rahag tegasnya.


"Maafkan aku Aqilla, aku tak bisa melindungi mu dan membiarkan dirimu pergi kembali dari sisi ku." Batin Bram yang begitu terpukul.


Waktu pun cepat berlalu Aqilla memulai kehidupannya yang baru bersama Dwi dan juga Tania. Sepupu Dito ini teryata juga seorang Dokter. Ia membantu Aqilla meneruskan pendidikannya menjadi Dokter spesial Jantung dan juga membantunya mendapatkan pekerjaan di rumah sakit ternama di kota New York.


Sementara itu baik Dito dan Bram tetap menjalani hari-hari mereka dengan keluarga kecil yang mereka miliki. Berbeda dengan Dito yang bermain peran meneruskan dendam Aqilla pada sang istri. Bram malah seperti seorang patung jika ia sudah berada bersama dengan keluarganya.


Dia mengabaikan mereka semua, raganya memang bersama dengan mereka namun hati dan jiwanya bersama Aqilla. Ia sama sekali tak mau menyahut panggilan seorang anak kecil yang terus memanggilnya dengan sebutan Papi.

__ADS_1


Meskipun Tuan Yohannes dan Nyonya Wina sudah mengetahui jika anak yang ada di dalam pernikahan putranya, bukanlah darah daging putra mereka. Mereka tetap menutupi kenyataan bahwa mereka sudah mengetahui kebohongan ini dari menantunya.


Bagaimana pun menantunya ini berasal dari keluarga yang terpandang dan cukup berpengaruh dalam dunia bisnis. Mereka tak ingin mengambil resiko yang akan membahayakan perusahaan mereka dan memilih mengabaikan perasaan Bram, putra semata wayang mereka sendiri.


__ADS_2