
Di sisi lain. Di sebuah rumah mewah yang tak pernah Bram sambangi. Calista sedang merapikan barang-barang miliknya dan sang putra. Ia sudah membuat keputusan yang sangat berat untuk ia ambil, namun ia harus mengambil keputusan yang membuat perjuangannya mendapatkan cinta dan perhatian Bram sia-sia.
"Apa sudah semuanya Bi?" Tanya Caslita pada pembantunya dengan suara yang sangat serak.
Ya. Suaranya sangat serak karena ia terus saja menangis setelah pertemuannya dengan Aqilla kemarin. Di depan matanya Bram membawa Aqilla pergi. Pria yang sangat ia cintai tak terima wanita yang sangat dicintainya menuntut cerai darinya. Sedangkan dia wanita yang sama sekali tak dilirik Bram malah selalu mencoba mempertahankan dan memperjuangkan cinta yang hanya dianggap sebuah angin. Hanya berhembus tapi tak dapat diraih dan digenggam pemiliknya.
"Sudah Nyonya." Ucap pembantu Calista dengan wajah sedihnya.
"Saya pamit ya Bi. Terima kasih atas kebaikan Bibi selama ini pada saya dan Alex." ucap Calista yang memeluk tubuh tua Bi Narti.
"Ya Nyonya sama-sama. Semoga ini adalah keputusan yang terbaik untuk Nyonya." alas Bi Narti yang ikut sedih dengan keputusan yang diambil Calista. Pasalnya ia sangat mengetahui rumah tangga Tuan dan Nyonyanya hanya sebuah status, tak pernah ia lihat suami Tuannya medatangi rumah ini. Bahkan baju milik Tuannya yang berada di rumah ini masih baru dan belum pernah dipakai semenjak pernikahan mereka berlangsung.
Calista memutuskan untuk pergi menepikan dirinya kesebuah kota tempat kelahiran sang Bunda. Mengenai masalah perceraiannya dengan Bram. Calista sudah menyerahkan semuanya pada pengacara dan juga sahabatnya yang bernama Nugroho. Nugroho sangat mendukung keputusan Calista untuk meninggalkan Bram. Ia sangat mengetahui jika selama ini cinta sahabatnya hanya bertepuk sebelah tangan.
Dengan langkah berat Calista meninggalkan rumah pemberian mertuanya yang dulunya ia harap akan memberikan kebahagiaan padanya, namun harapan itu hanya tinggal harapan. Sudah selama ini dia perjuang dan bertahan. Tetap saja Bram tak mau melihatnya apalagi berjalan mengarah pada hatinya.
Mobil Calista melesat pergi meninggalkan kediamannya. Baram yang memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah yang selama ini ditinggali Calista dan putranya, melihat Calista yang telah pergi dengan koper besar bersama putranya.
"Akhirnya kau pergi dan menyerah juga Calista. Maafkan aku yang tak bisa menghargai dan membalas perasaan cinta mu pada ku." gumam Bram.
__ADS_1
Bram mendatangi rumah ini hanya untuk memastikan dengan apa yang dikatakan Nugroho, jika Calista memutuskan untuk meninggalkannya dan perceraian mereka telah di proses dipengadilan kemarin, saat Calista selesai menemui Aqilla dan bertemu dengannya.
"Tuhan, apakah semua yang terjadi saat ini, adalah jalan mu yang akan mengembalikan dia kembali pada ku dalam keadaan tanpa dendam dan mengmbalikan Aqilla ku yang dulu lagi. Jika iya, tolong beri aku kekuatan untuk menghadapi badai kehidupan ku selanjutnya." gumam Bram yang kembali meneteskan air matanya.
Sementara itu disebuah perusahaan yang tidak terlalu besar, Tuan Mahendra terlihat begitu frustrasi. Bagaimana tidak hanya dalam waktu semalam. Perusahaannya yang baik-baik saja dinyatakan bangkrut saat perusahaan milik Dito dengan seenaknya menarik sahamnya dan diikuti dengan perusahaan lainnya.
Tiba-tiba saja dada kiri Mahendra terasa sakit, seperti di tusuk belati. Ia jatuh tersungkur dilantai. Para karyawannya yang masih berada di dalam ruangannya segera melakukan pertolongan dengan membawa Tuan Mahendra ke rumah sakit.
"Qilla...Qilla... Daddy lo kena serangan jantung, dia sedang ditangani di ruang IGD." ucap Angel yang baru saja menghentikan langkahnya dengan nafas yang tersengal-sengal karena habis berlarian menuju ruangan Aqilla.
Aqilla yang diberitahu oleh Angel hanya memasang wajah datar dan terkesan tak perduli.
"Hei, Qilla. Ada apa dengan lo? Kenapa diam saja? Lo gak bantu mereka menyelamatkan nyawanya?" tanya Angel yang merasa aneh dengan sikap santai datar dan tak perduli yang Aqilla tunjukkan padanya.
Angel terduduk lemas di kursi yang ada di depan meja kerja Aqilla.
"Lo masih menyimpan dendam lo dengan baik Qilla."
"Tentu. Semua rasa sakit ini tak hanya gue yang harus merasakannya seorang diri, tapi mereka juga harus Ngel." balas Aqilla yang tak mau menatap wajah Angel.
__ADS_1
"Kalau lo dendam, kenapa lo mau melakukan operasi pemasangan ring pada Tuan Yohannnes sedang menolong Daddy lo, lo nampak gak sudi?" tanya Angel dengan mata yang masih menatap Aqilla.
"Karena bukan gue yang harus menyakiti dia secara langsung, seperti apa yang dilakukan dia sama gue. Menghancurkan hidup gue secara tidak lansung dengan menggunakan tangan kotor orang lain yang memang membenci gue dan iri dengan kehidupan gue." jawab Aqilla yang membuat Angel tertawa sinis.
Angel paham betul apa yang dimaksud dengan Aqilla, tangan kotor yang Aqilla maksud adalah Cella dan Bastian. Angel juga paham jika bukan dengan tangannya Aqilla akan menghancurkan Tuan Yohannes tapi melalui tangan pria yang masih bertahta di hati Angel, Dito.
"Jadi lo gunakan Mas Dito untuk menuntaskan dendam lo begitu, cantik permainan lo sangat cantik Qilla. Lo gunakan ketulusan cinta dia untuk obsesi balas dendam lo. Jangan peralat dia Qilla, dia sudah terlalu sakit berpisah dengan gue. Andai gue belum menikah dan punya anak. Mungkin gue akan menyalamatkan hatinya dari lo. Gue yakin cinta lo berikan sama Mas Dito hanya sebuah cinta semu. Jahat lo Qilla. Jahat!! Tidakkah semua ini cukup buat lo?" Tekan Angel yang kecewa dengan Aqilla.
"Kenapa gue yang seperti ini dianggap jahat oleh lo Ngel? Kenapa dengan mereka yang tak pernah berhenti menyakiti gue lo gak bilang jahat Ngel? Lo tahu meski kejadian pemerkosaan itu telah erlalu begitu lama. Tapi trauma ini masih membekas Ngel. Setiap hari gue harus minum obat penenang untuk melupakan bayang-bayang malam kelam gue. Apa menurut lo gue sudah baik-baik saja sekarang? Nggak Ngel." terang Aqilla yang menitikan air matanya.
"Qilla..."
"Gue hampir gila Ngel, gila dengan semua masalah hidup yang menerpa gue, Ngel. Gue sudah mau menghentikan misi balas dendam gue, saat Mas Bram menikahi gue. Tapi apa Ngel? Pernikahan gue harus kandas dan gue harus pergi meninggalkan suami gue dan mimpi-mimpi gue untuk bahagia. Karena Tuan Yohannes gak menerima gue sebagai menantunya. Apa gue gak berhak bahagia Ngel? Apa cinta gue sama Mas Bram gak boleh bersatu? Lihat Ngel demi membalaskan dendam pada merela gue harus bercerai dengan Mas Bram, karena Mas Dito tak setulus yang lo kira Ngel, ada take and give diantara kami." terang Aqilla lagi dengan deraian air mata.
"Qilla... maaf..." ucap Angel yang bangkit dari kursinya dan menghampiri Aqilla yang menangis dibalik meja kerjanya. Angel memeluk tubuh Aqilla yang tergoncang karena tangisnya.
"Semuanya baru di mulai Ngel, Mas Dito baru memulai semuanya setelah Mas Bram menceraikan gue." ucap Aqilla didalam pelukkan Angel.
"Gue akan tetap berada disamping lo, Qilla. Menemani lo hingga semua ini berakhir." balas Angel yang juga menitikan air mata.
__ADS_1
Ia paham betul dengan perasaan sahabat baiknya selama ini. Disaat mereka sedang menangis bersama tiba-tiba intercom di meja Aqilla berdering.
"Itu pasti panggilan dari IGD,datanglah Qilla. Berjiwa besarlah untuk sudi melihatnya meski lo datang bukan untuk menolongnya, walau bagaimnapun dia orang tua lo. yang membuat lo hadir ke dunia yang kejam ini." ucap Angel yang menasehati sekaligus membujuk Aqilla.