Dendam Aqila

Dendam Aqila
Bab 61


__ADS_3

Setelah Sandra menceritakan kisah cintanya bersama Jhopan semalam. Pagi ini Aqilla menemani Sandra ke pemakaman Jhopan. Jhopan tereksekusi oleh Bram dengan cara yang tak diketahui dan dicurigai oleh orang lain.


Ya. Jhopan meninggal dalam kecelakaan proyek pembangunan di sebuah gedung yang sedang ia kunjungi. Sandra melihat bagaimana Jhopan menghembuskan nafas terakhirnya dihadapannya. Dia juga mengatakan pada Jhopan yang dalam keadaan sekarat, jika ia tengah mengandung buah hati mereka.


Apa yang dikatakan Sandra seakan mempercepat kepergian Jhopan, terang saja dalam keadaan kesakitan yang luar biasa, ia terkejut dengan kenyataan jika kekasih yang ia selingkuhi tengah hamil buah cinta mereka.


Di area pemakaman yang sama dengan Dito dan Tita, Jhopan di makamkan. Hati Sandra tak sedih dengan kepergian Jhopan, dia hanya sedih melihat pengkhianatan Jhopan. Ia melihat jelas seorang wanita muda menangis sesenggukan melihat jenazah Jhopan di kebumikan.


"Wanita itulah yang dinikahi oleh Jhopan secara diam-diam Qilla. Dia tak merebut Jhopan dari ku, karena dia tak mengetahui hubunganku dengan Jhopan." Ucap Sandra yang memberitahukan Aqilla.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan untuknya? Apa kau akan membalas pengkhianat Jhopan juga padanya?" Tanya Aqilla yang menatap Sandra.


"Tidak. Aku tidak seperti dirimu Qilla. Aku biarkan dia yang mungkin juga tengah hamil anak Jhopan. Yang pasti apa yang telah Jhopan rebut dari Bram sudah kembali menjadi milik Bram. Bagaimana masa depannya nanti. Sudah menjadi urusan dia sendiri. Aku tak perduli." Jawab Sandra yang kemudian pergi meninggalkan area pemakaman itu.


Keluarga Jhopan yang melihat kehadiran Sandra tak berani mendekati Sandra karena merasa malu dan bersalah, membiarkan Jhopan menikahi wanita lain. Sandra melesat pergi meninggalkan area pemakaman meski prosesi pemakaman Jhopan belum usai.


Sedang Aqilla melangkahkan kakinya ke pemakaman Dito dan Aqilla dimana sudah ada Angel di sana.


"Angel," panggil Aqilla pada Angel yang terus mengelus batu nisan bertuliskan nama Dito dan juga Tita.


"Dia suami Lo, tapi dia adalah cinta gue Qilla. Lo mendapatkan raganya selama ini, tapi tak mendapatkan hatinya. Dia masih mencintai gue. Andai gue gak meninggalkan Tita, mungkin kisah kami tidak akan seperti ini Qilla. Dia tak akan membenci gue sedalam ini dan membalas luka hatinya karena buah hatinya bersama gue, gue tinggalkan begitu saja di rumah sakit." Ucap Angel dengan deraian air mata.


"Ngel..." Aqilla memeluk sahabatnya yang menangis tersedu-sedu di pusara Dito dan Tita.


"Dia pergi karena tak kuat harus hidup tanpa ada bagian dari diri gue yang tersisa. Dia sangat mencintai gue, Qilla. Perasaan dia sam lo tak lebih besar dari rasa cintanya sama gue." Ucap Angel lagi yang sama sekali tak menyakiti hati Aqilla.


"Ngel... sudah! Mereka sudah bahagia di sana. Lanjutkan hidup Lo dengan Dokter Danu dan anak-anak Lo yang masih ada di dunia ini. Mereka akan setia menunggu kehadiran lo di sana. Gue yakin mereka gak mau melihat lo bersedih seperti ini Ngel." Ucap Aqilla yang mencoba menenangkan tangis Angel.


Aqilla terus memeluk Angel hingga tangis Angel mereda. Setelah tangis Angel mereda. Angel segera merapikan dirinya dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata. Dan Aqilla hanya bisa melihat punggung Angel yang pergi meninggalkannya.


Ketika punggung Angel telah hilang dari pandangannya, Aqilla menatapi batu Nisan Dito dan Tita. Ia melihat ada sebuah surat di sana. Aqilla mengambil surat itu dan membacanya. Ternyata surat itu adalah surat dari Dito untuk Angel.


Di dalam surat itu, Dito menceritakan segala rahasia yang selama ini ia sembunyikan dengan rapat-rapat, mengenai perasaannya pada Angel, pernikahannya dengan Cella, tentang putri mereka Tita dan juga Aqilla.

__ADS_1


Tanpa membaca surat itupun Aqilla sudah mengetahui perasaan Dito pada Angel. Karena pada sesekali waktu, di saat mereka sedang melakukan penyatuan, bukan nama Aqilla-lah yang Dito sebut, melainkan nama Angel saat ia berada di titik puncak pelepasannya.Sakit hati, tentu saja Aqilla sakit hati pada saat itu, namun demi mencapai tujuannya, ia buang rasa sakit itu dan tetap menjadi patner ranjang Dito.


"Mas, berbahagialah di sana dengan Tita, buah hati mu bersama wanita yang kau cintai . Terima kasih atas kebaikan mu selama ini pada ku. Semoga Tuhan mengampuni dosa dan kesalahan kita selama ini." Ucap Aqilla yang kemudian pergi meninggalkan area pemakaman.


Hari ini ia kembali kerumah sakit, ia tak perduli dengan pembicaraan selentingan teman sejawatnya. Ia tetap fokus dengan pekerjaannya. Dan saat ia sudah selesai dengan pasien terakhirnya. Tania datang menghampiri Aqilla.


"Gue akan kembali ke New York, apa Lo ingin ikut bersama gue Qilla? Jujur gue gak sanggup mengingat semua tragedi ini, lebih baik gue kembali dan melupakan semua ini." Ucap Tania yang juga mengajak Aqilla kembali ke New York.


"Tidak Tania, gue akan tetap di sini, gue akan menemani sahabat gue yang terpuruk karena kepergian sepupu lo." Jawab Aqilla yang menolak ajakan Tania.


"Baiklah kalau begitu, gue akan kembali seorang diri. Jika lo nanti bertemu dengan Dwi katakan padanya jika gur sudah menganggap pernikahan ini selesai." Ucap Tania lagi yang kemudian pamit pergi meninggalkan Aqilla.


Jika kalian bertanya kemana Dwi. Dwi menghilang seperti di telan Bumi, ketika mengetahui ia tak akan bisa memiliki anak dari Tania. Karena Tania sudah tak memiliki rahim. Rahimnya sudah di angkat dua tahun yang lalu, karena penyakit yang ia derita.


Lima bulan kemudian, semua sudah kembali seperti biasanya, meski Aqilla masih suka menemani Angel ke makam Dito dan Tita. Tapi kesedihan Angel sudah tak seperti pertama kehilangan Tita dan Dito.


"Qilla, gak terasa ya, lima bulan sudah mereka berdua ninggalin kita di sini." Ucap Angel pada Aqilla.


"Ya, Ngel." Jawab Aqilla singkat.


"Gue akan kembali kalau kalian sudah baik-baik saja." Jawab Aqilla yang masih memikirkan Angel dan Sandra sahabat baiknya.


"Gue dan Sandra baik-baik saja Qilla. Pergilah! Sebelum terlambat! Sudah waktunya lo bahagia." Pinta Angel yang sedikit mendorong Aqilla pergi.


"Ngel kok dorong-dorong sih," protes Aqilla.


"Mas, izinkan istrimu ini mengejar cintanya ya? Tita izinkan Mami mu menikah lagi dengan Papi baru ya?" Ucap Angel pada batu nisan Tita dan Dito.


"Ngel..." panggil Aqilla dengan kegilaan Angel yang bicara dengan batu nisan Dito dan Tita.


"Mereka sudah merestui dan mengizinkan, sana cepat pergi!" Usir Angel lagi.


Aqilla pun pergi setelah diusir berkali-kali oleh Angel. Ia mengarahkan laju kendaraannya ke rumah yang digadang-gadang adalah rumah Aqilla dan Bram.

__ADS_1


Selama tiga jam Aqilla menyetir kendaraanya sendiri menuju rumah itu. Saat mobil Aqilla tiba di depan pintu pagar rumah, seorang penjaga langsung membukakan pintu pagar besar yang menjulang tinggi itu.


Ia masukkan kendaraannya ke dalam pekarangan rumahnya. Ia turun dan berlari masuk ke dalam mencari keberadaan Bram.


"Jangan berlari! Aku ada di sini." Ucap Bram yang duduk di sebuah sofa.


Aqilla menghentikan langkah kakinya dan berbalik arah. Ia melihat Bram yang tengah duduk menatapnya.


"Lama sekali, aku harus menunggu mu. Apa kamu sengaja menyiksa ku, Qilla?" Tanya Bram yang tak jawab oleh Aqilla. Namun Aqilla malah berlari dan naik dalam pangkuan Bram.


"Jangan sentuh aku, jika kamu tak mau menikah kembali dengan ku!" Tolak Bram saat Aqilla ingin menciumnya.


"Baiklah nikahi aku, akan ku serahkan hidupku sekarang hanya untuk mu." Balas Aqilla yang menunjukkan sayatan kecil di lengannya.


Ia menunjukkan pada Bram jika ia sudah melepaskan alat kontrasepsinya. Bram tersenyum melihatnya. Bram pun sudah melakukan operasi kecil pada juniornya. Keduanya sudah siap memiliki momongan saat ini.


"Baiklah aku akan menikahimu, kamu mau sebuah pesta atau sama seperti dulu?" Ucap Bram yang memberikan pilihan pada Aqilla.


"Aku tak mementingkan dan menginginkan sebuah pesta, yang penting aku menikah dengan mu dan hidup bahagia tanpa ada lagi yang mengusiknya." Jawab Aqilla yang membuat Bram tersenyum bahagia.


Kembali pernikahan mereka berlangsung di dalam rumah itu, dengan suasana yang begitu hikmat, dengan penghulu yang sama seperti dulu. Walaupun penghulunya sedikit bingung karena harus menikahkan mereka kembali.


Hari itu Bram meminta penghulunya mengurus pernikahan mereka kali ini hingga tercatat di catatan sipil, sehingga pernikahan mereka kali ini di akui oleh negara.


"Aku sangat mencintai mu Qilla," ucap Bram saat memeluk tubuh Aqilla yang kini sudah kembali menjadi istrinya.


"Aku juga mencintai mu Mas Bram, jangan tinggalkan aku lagi, di dunia ini aku hanya memiliki dirimu." Balas Aqilla yang mengeratkan pelukkannya.


"Ya, aku tak akan meninggalkan mu, dunia ini aku hanya memiliki dirimu dan Sandra. Kita akan membesarkan anak Sandra bersama-sama. Apa kau setuju?"


"Hemm... aku setuju saja, kali ini aku akan menjadi istri yang penurut untuk mu Mas," jawab Aqilla yang di hadiahkan kecupan di keningnya oleh Bram.


Keduanya akhirnya bisa hidup bahagia, begitu pula dengan Angel yang memulai hidupnya yang baru dengan suami yang sangat mencintainya. Tak akan lagi dia menyia-nyiakan orang yang sangat mencintainya. Ia tak mau lagi kejadian Dito dan Tita terulang kembali.

__ADS_1


Sedangkan Sandra dan Tania sudah bahagia dengan pilihan hidupnya sendiri. Dan Calista setelan bercerai dengan Bram, ia pun menikah kembali dengan sahabat yang mencintainya. Berbeda dengan Cella yang masih menata hidupnya sendiri.


>>>>>Tamat<<<<<


__ADS_2